Bangga Menjadi Katolik (10): Agama yang Paling Kekinian!

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Salah satu kritik tajam untuk Gereja Katolik adalah agama yang kaku dan feodal. Padahal, Katolik adalah agama paling terbuka dan kekinian!

Dua kalimat di atas saling bertentangan. Gereja Katolik yang dianggap kaku justru sangat terbuka pada perkembangan zaman. Jika kritik seperti itu masih ada sampai saat ini, tentu tidak ada yang salah. Yang salah adalah belum tersebarnya informasi yang benar dan menyeluruh tentang Gereja Katolik.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (9): Santo Santa Versus Artis Mualaf

Di salah satu homili, seorang Romo di Katedral Bogor mengungkap istilah“Ecclesia Semper Reformanda.” Saya sendiri lupa konteksnya apa. Namun, frasa bahasa Latin itu menarik sehingga saya mencatatnya di telepon genggam saya.

Sesampai di rumah saya riset perkataan Romo di atas. Hasilnya cukup mencengangkan. Ecclesia semper reformanda berarti “Gereja harus selalu diperbarui” atau “Gereja selalu membutuhkan reformasi.”

Istilah yang menarik karena agama secara umum kerap alergi dengan perubahan. Agama yang menyeret Tuhan dalam kehidupannya, menjadi insitusi yang “suci,” tak tersentuh, anti kritik, dan menyandang status quo. Tapi, ini ada istilah yang mendorong Gereja untuk selalu berubah!

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (8): Agama Terbuka yang Menerima LGBT dan Tato

Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh kita semua adalah Gereja memang komunitas kudus, tetapi Gereja tetaplah perkumpulan manusia yang rentan terhadap penyimpangan spiritual dan struktural duniawi. Untuk itu, Gereja harus secara terbuka pada bimbingan Roh Kudus untuk selalu mengoreksi diri agar tetap setia kepada Injil.

Maka, ungkapan ecclesia semper reformandapada akhirnya mengarah pada ecclesia reformata semper reformanda secundum verbum Dei, yang artinya Gereja yang telah direformasi harus selalu diperbarui menurut Firman Allah.” Di sinilah terungkap bahwa kekudusan Gereja terletak saat Gereja bersekutu dengan Allah, berjalan sesuai dengan Firman-Nya.

Muncul dari Teolog Protestan

Ecclesia semper reformanda punya banyak ungkapan di sepanjang sejarah Gereja. Namun, istilah ini menjadi begitu populer di abad ke-16 ketika muncul gejolak di dalam Gereja. Ada begitu banyak penyelewengan yang dilakukan Gereja di abad pertengahan, sehingga membuat gelombang protes, pergerakan, sampai akhirnya lahir agama baru yakni Kristen Protestan.

Tokoh reformis di era itu adalah Martin Luther (1483–1546) di Jerman sebagai tokoh sentral reformis Protestan. Kemudian ada Huldrych Zwingli (1484–1531) di Swiss, John Calvin (1509–1564) di Prancis dan Jenewa, dan Philipp Melanchthon (1497–1560). Reformasi yang terbilang radikal ada Menno Simons (1496–1561) dan Thomas Müntzer (1489–1525).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (7): Kedatangan Paus Seperti Sedang Menerapkan Pancasila

Mereka aktor utama yang mendorong gelombang reformasi di dalam Gereja. Tak mengherankan jika unkapan ecclesia semper reformanda kali pertama diperkenalkan oleh teolog Gereja Reformed Belanda pada abad ke-17. Tokoh yang paling sering dikaitkan dengan asal istilah ini adalah Johannes (Jodocus) van Lodenstein (1620–1677).

Seorang penyair dan pietis Reformed Belanda itu, dalam bukunya “Klaaghte over den Gebreeken in de Christelijke Kerk” (1674), menulis, “Reformation is not a one-time act; the church must always be reformed.”

Pembaruan atau reformasi Gereja terus menguat dan melembaga di era selanjutnya. Gereja-gereja Reformasi terus tumbuh dan berkembang sampai ke seluruh dunia. Di periode ini, satu teolog besar dari kalangan Protestan menarik perhatian. Dia adalah Karl Barth (1886-1968). Banyak sarjana menyebutnya sebagai teolog Protestan terbesar sejak Martin Luther karena dampak pemikirannya yang sangat luas pada teologi, Gereja, dan etika modern.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (6): Memaknai Hijrah dalam Gereja Katolik!

Dalam konteks reformasi Gereja, dia menekankan bahwa Gereja harus terus dinilai dan dikoreksi oleh Firman Allah, bukan oleh budaya atau politik. Barth menegaskan tiga bentuk Firman: Yesus Kristus sebagai Firman sejati dan utama; Alkitab yang berisi kesaksian tertulis; Pemberitaan Firman yang tak lain adalah khotbah pendeta saat ibadah. Baginya, patokan ecclesia semper reformanda adalah kembali pada Firman Allah.

Gagasan Bart tidak hanya dianut teolog Protestan, tetapi juga mewarnai gagasan dan teologi dalam Gereja Katolik. Beberapa teolog Katolik yang pandangannya berjalan di era Bart adalah Hans Urs von Balthasar (1905-1988), Karl Rahner (1904-1984) yang sangat kritis terhadap Bart, dan Joseph Aloisius Ratzinger (1927-2022) alias Paus Benediktus XVI. Mereka bertiga ini dianggap sebagai tiga pilar besar teologi Katolik abad ke-20.

Polemik Istilah Reformasi

Sampai sini ada kesan yang sangat kuat kalau reformasi Gereja dimulai oleh kaum reformis Protestan, seperti Martin Luther dkk. Namun apakah benar reformasi Gereja baru muncul di abad ke-16? Di mana posisi Gereja Katolik terkait reformasi, apakah benar-benar kaku sehingga tidak membarui diri sampai sekarang?

Sebelum masuk lebih dalam, mari kita lihat arti reformasi. Kata reformasi diambil dari kata Latin re-formare yang artinya membentuk kembali, memulihkan ke bentuk yang benar. Jika konteksnya adalah reformasi Gereja maka artinya gerakan untuk membentuk kembali Gereja yang benar sesuai dengan kehendak Allah. Atau bisa dikatakan Gereja yang sudah berdosa melakukan pertobatan.

Re-formare tidak pernah dimaksudkan untuk menciptakan hal baru, melainkan mengembalikan sesuatu ke bentuk aslinya. Dari segi bahasa, reformasi untuk konteks reformasi Gereja sudah benar. Namun, makna reformasi menjadi ambigu ketika diletakkan ke dalam konteks reformasi abad ke-16 oleh Martin Luther dkk., yang pada akhirnya tidak mengembalikan ke bentuk semula tetapi berujung pada perpecahan Gereja Barat. Apakah kaum reformis, mereka yang mendorong reformasi, setuju bahwa gerakan mereka berujung pada perpecahan?

Saya tidak akan masuk ke dalam pandangan Protestan. Mari kita fokus bagaimana Gereja Katolik melihat reformasi, apakah seperti sebagian orang yang mengkritik Gereja Katolik kaku dan anti reformasi?

Bagi Gereja Katolik, reformasi adalah bagian integral di dalam Gereja sebagai kesatuan tubuh. Reformasi adalah konsekuensi logis ketika Gereja terbentuk sebagai sebuah komunitas dan institusi. Walau istilah ecclesia semper reformanda lahir dari gerakan reformasi abad ke-16, tapi Gereja Katolik sudah menghayatinya sejak Gereja lahir! Yang menjadi perhatian Gereja Katolik adalah bagaimana reformasi itu dijalankan. Tujuan yang baik, harus dilakukan dengan jalan yang baik pula!

Sejarah Reformasi Gereja

Di sini kata Gereja merujuk pada Gereja Katolik. Konsili Vatikan II (1962–1965) memang dianggap sebagai tonggak reformasi Gereja karena untuk kali pertama Gereja secara sadar dan kolegial melakukan pembaruan menyeluruh dari dalam, tanpa memutus kesinambungan iman dan tradisi. Namun, secara historis gagasan reformasi dalam Gereja telah berjalan jauh sebelum Konsili Vatikan II.

Gereja sudah mempraktikkan reformasi atau koreksi internal sejak era Kisah Para Rasul. Bahkan hal ini tertulis jelas di dalam Alkitab.

Misalnya saat Paulus menegur Petrus sebagaimana ada di Galatia 2:11–14. Di sana dikisahkan, Kefas atau Petrus awalnya makan bersama orang Kristen non-Yahudi di Antiokhia. Tak lama, datanglah beberapa orang “dari pihak Yakobus” atau kelompok Kristen Yahudi yang ketat. Seketika, Petrus menarik diri karena ia takut dikritik. Paulus menilai ada yang salah dengan sikap Petrus, dan menegurnya secara terbuka.

Petrus bukan disorot soal sopan santun makan, melainkan inti Injil apakah keselamatan datang melalui iman kepada Kristus atau masih harus melalui Hukum Taurat Yahudi? Dengan sikapnya, Petrus dinilai menyiratkan bahwa orang non-Yahudi belum sepenuhnya setara, sehingga menciptakan dua kelas Kristen.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (5): Apakah Baptis Bayi Melanggar HAM?

Apakah teguran ini membuat Gereja pecah? Tidak! Otoritas Petrus tidak berubah, dia tetap rasul utama, tetap sebagai Paus pertama, pengganti Yesus Kristus di dunia. Paulus menegur tindakannya, bukan jabatan Petrus. Terlebih Petrus tidak membantah ajaran iman.

Kisah serupa Galatia 2:11–14 juga bisa disandingkan dengan Kis 15:1–29 tentang Konsili Yerusalem atau 1 Korintus 1–14 yang mengungkap bagaimana Paulus mengkritik praktik Gereja Korintus. Kisah-kisah reformasi tersebut nuansanya internal dan tidak pernah berusaha untuk memisahkan diri dari Gereja. Setia pada masalah, pendekatannya adalah kolegial, melalui dialog dan otoritas sah. Mereka yang berkonflik sepaham bahwa inti dari pembahasan harus Kristosentris yakni setia pada Injil, tunduk pada bimbingan Roh Kudus, sehingga akhir yang dituju adalah kesatuan bukan skisma. 

Para Bapa Gereja yang kita ikuti tradisinya juga telah melakukan beberapa kali reformasi di dalam tubuh Gereja. Secara singkat kita sebut yang pertama, Santo Ignatius dari Antiokhia († c. 110). Dia menegaskan struktur Gereja yang terdiri dari diakon – imam – uskup untuk melawan ajaran sesat dengan kesatuan Gereja lokal. Tindakannya untuk menarik kesetiaan Gereja pada tradisi Para Rasul, hal bisa dilihat dalam Kis 14:23; 1Tim 3.

Santo Ireneus dari Lyon († c. 202) melawan gnostisisme, aliran yang berkembang di abad ke-2 hingga ke-3 Masehi, yang menekankan bahwa keselamatan diperoleh melalui gnosis (pengetahuan rohani yang mendalam dan rahasia), bukan melalui iman, moralitas, atau institusi keagamaan. Jelas, gnostisisme melenceng dari ajaran Kristen, maka Ireneus mengembalikan ajaran yang benar kepada Kitab Suci dan Tradisi Apostolik. Konteksnya bisa dilihat dalam 2 Tes 2:15.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (4): Katolik Garis Lucu Vs Kasus Pelecehan Seksual dalam Teropong Inkarnasi

Reformasi kembali ditunjukkan oleh Santo Athanasius († 373) yang melawan ajaran arianisme. Arianisme adalah ajaran teologis Kristen awal (abad ke-4 M), yang dipelopori Arius seorang imam di Aleksandria (±256–336 M), yang mengajarkan bahwa Yesus yang adalah Anak Allah, bukan Allah sejati seperti Bapa, melainkan makhluk ciptaan tertinggi yang diciptakan oleh Allah.  Athanasius menentang ajaran ini karena tidak sesuai iman dan tradisi Para Rasul, walau langkahnya ditentang mayoritas uskup. Pandangan Athanasius berlatar pada Yoh 1:1 dan Flp 2:6.

Reformasi Gereja juga menyentuh bidang liturgi dan hidup monastik. Tokoh di abad awal adalah Santo Basilius Agung († 379). Dalam hidup membiara, ia menetapkan keseimbangan antara doa, kerja, dan pelyananan. Di dalam liturgi, Basilius Agung menegaskan peran Roh Kudus yang berkarya. Hal ini bisa dilihat dalamKis 2:42 dan Rm 8.

Reformasi pun masuk ke ranah moral dan pastoral yang digawangi Santo Agustinus dari Hippo († 430). Ia melawan aliran yang meyakini keabsahan sakramen bergantung pada kekudusan moral pelayannya. Aliran ini muncul abad ke-4-5 M dan berkembang di Afrika Utara, atau Aljazair dan Tunisia sekarang. Agustinus menentang ajaran ini karena kekudusan sakramen berasal dari Yesus Kristus, tidak tergantung dari moral pelayan. Bisa dilihat dalam Mat 13:24–30. Di sini kita mulai makin terang soal Gereja sebagai komunitas orang kudus sekaligus pendosa.

Gereja terus tumbuh dan berkembang di tengah dinamika dunia. Tak lelah untuk menjadi berkat dan perwakilan Tuhan di dunia. Konsekuensinya, Gereja terbuka untuk reformasi, perbaikan, menuju arah yang lebih baik. Bahkan, di abad pertengahan Gereja terjerumus dalam banyak dosa.

Beberapa pemimpin Gereja jatuh dalam 3 dosa besar, yang harusnya mereka hindari ketika mengikat diri pada Tuhan Yesus. Dosa pertama adalah simoni, yakni praktik jual beli jabatan gerejawi yang melibatkan imam dan uskup. Dosa kedua, beberapa selibater diam-diam atau secara terbuka menikah dan punya keterunan. Ketiga adalah dosa investitur sekular, praktik pengangkatan uskup oleh raja atau bangsawan demi kepentingan politik. Dosa-dosa ini membuat Gereja menjadi alat kekuasaan.

Reformasi Gregorius

Gereja melakukan reformasi internal yang dipimpin oleh Paus Gregorius VII yang menjabat pada 1073-1085. Sebelum menjadi Paus, dia sudah berjuang untuk memurnikan moral klerus, membebaskan Gereja dari kontrol penguasa sekuler, dan kembali menegaskan otoritas rohani kepausan.

Reformasi Gregorius bisa dibilang cukup serius dan berdampak luas di eranya. Ketegangan Gereja dan politik berlangsung bertahan-tahun, apalagi ini menyangkut hawa nafsu paling dasar: napsu birahi, harta benda, dan kekuasaan. Ketiga hal harusnya dijahui klerus, justru masuk ke sumsum struktur Gereja. Salah satu pernyataan Gregorius yang terkenal adalah jabatan gerejawi adalah karunia rohani, diberikan Allah melalui Roh Kudus, bukan komoditas. “No cleric may accept a church from the hand of a layman.”

Reformasi Gregorius menurut saya menjadi model awal reformasi internal Gereja Katolik, jauh sebelum Reformasi Protestan.

Untuk mengingatkan, tokoh awal reformasi Protestan adalah Martin Luther yang hidup tahun 1483–1546. Reformasi Gereja terus berlanjut di tahun 1215 saat diadakan Konsili Lateran IV. Konsili ini diadakan untuk memperbaiki Gereja dalam hal pembaruan liturgi, disiplin imam, dan hidup sakramental. Reformasi ini juga masih sama, yakni perbaikan ke dalam bukan reaksi dari luar Gereja.

Sejarah reformasi Gereja mendapat perhatian luas ketika diuji oleh Reformasi Protestan. Gereja kembali membuka diri terhadap masukan bertubi-tubi dari kaum reformis dengan mengadakan Konsili Trente (1545-1563).

Konsili arahnya ke luar yakni sebagai reaksi terhadap Reformasi Protestan, tetapi juga ke dalam dengan melakukan reformasi internal.

Keseriusan Gereja melakukan reformasi ditunjukkan dengan lamanya Konsili Trente, yang terbagi dalam 3 periode dalam rentang tahun 1545–1563. Ada tiga Paus yang terlibat, yakni Paulus III (13 Oktober 1534 – 10 November 1549), Julius III (7 Februari 1550 – 23 Maret 1555), dan Pius IV (25 Desember 1559 – 9 Desember 1565).

Bagi Gereja, Konsili Trente menunjukkan bahwa Gereja Katolik mampu mereformasi diri dari dalam, tanpa perpecahan seperti yang dilakukan para Bapa-bapa Gereja. Konsili ini berhasil menjadi dasar wajah Gereja Katolik selama ±400 tahun sekaligus contoh nyata prinsip pemurnian dan pembaruan Gereja (ecclesia semper purificanda). Konsili Trente adalah jawaban Katolik terhadap krisis iman dan moral, dengan menegaskan ajaran sekaligus membersihkan praktik Gereja dari berbagai penyelewengan.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (3): Bagaimana Menyikapi Artis Mualaf?

Apakah Gereja berhenti membarui diri? Keterbukaan Gereja terus berlanjut saat memasuki abad ke-20. Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja melakukan perbaikan dalam bidang liturgi dengan tokohnya adalah Dom Lambert Beauduin, OSB (1873-1960). Imam Benediktin asal Belgia itu mengembalikan liturgi sebagai pusat hidup Gereja dan mendorong partisipasi aktif umat dalam Misa dan ibadat. “Liturgi bukan tontonan imam, tetapi doa seluruh umat Allah,” katanya.

Dalam bidang Kitab Suci muncul Divino Afflante Spiritu, yakni ensiklik Paus Pius XII tentang studi Kitab Suci, yang diterbitkan pada 30 September 1943. Sebelum ensiklik ini muncul, Gereja cenderung sangat berhati-hati terhadap metode kritik modern. Namun, setelahnya Studi Alkitab Katolik mengalami kebangkitan besar dan terjadi dialog yang lebih terbuka dengan dunia akademik. Dokumen ini menjadi fondasi langsung bagi ajaran Konsili Vatikan II tentang Kitab Suci, khususnya Dei Verbum (1965).

Bidang teologi juga mendapat sentuhan dengan lahirnya teologi ressourcement yang berarti pendekatan teologi yang kembali ke “sumber-sumber asli” iman Kristen untuk memperbarui pemahaman dan kehidupan Gereja masa kini. Teolog besar yang berperan di sini adalah Henri de Lubac, Yves Congar, sampai Hans Urs von Balthasar. Mereka membaharui teologi modern supaya terhindar dari ajaran kaku tetapi menampilkan iman Kristen yang hidup, historis, dan pastoral aplikatif.

Reformasi Katolik

Titik balik terbesar dari reformasi Gereja adalah Konsili Vatikan II (1962-1965).  Konsili ini bukan reformasi dalam arti memutus ajaran lama, melainkan apa yang oleh Joseph Ratzinger disebut reform in continuity atau “reformasi dalam kesinambungan.” Artinya, doktrin pokok tidak diubah. Tetapi cara Gereja memahami diri, berbicara, dan bertindak selalu diperbarui mengikuti perkembangan zaman. Dan inilah ciri khas reformasi Gereja Katolik.

Salah satu dokumen Konsili Vatikan II yakni Lumen Gentium mengatakan, “Gereja, yang mencakup manusia berdosa, selalu membutuhkan penyucian; maka ia terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan.” Ini adalah formulasi resmi Gereja Katolik yang paling dekat dengan frasa ecclesia semper reformanda, yang dipopulerkan Reformis Protestan.

Dokumen tersebut menyebut sancta simul et semper purificanda yang artinya (Gereja adalah) kudus sekaligus selalu membutuhkan pemurnian. Kalimat ini sebuah pengakuan bahwa Gereja selalu perlu mereformasi diri. Dan reformasi tersebut adalah bagian dari kesetiaan, bukan pengkhianatan.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (2): Konsep Tritunggal yang Bikin Repot!

Konsili Vatikan II menolak dua ekstrim. Pertama menolak pandangan bahwa Gereja anti reformasi, yang artinyamenolak perubahan apa pun. Kedua, Gereja juga menolak reformasi revolusioner, yakni gerakan pembaruan diri yang memutus tradisi. Reformasi Katolik menurut Konsili Vatikan II adalah: Pembaruan dalam kesetiaan; Koreksi diri dalam persekutuan; Dan pertobatan struktural yang lahir dari iman.

Para pemimpin Gereja pasca Konsili Vatikan II terus membuka diri. Secara singkat, Paus Paulus VI (21 Juni 1963 – 6 Agustus 1978) melakukan reformasi struktural. Paus Yohones Paulus II (16 Oktober 1978 – 2 April 2005) mendukung pembaruan moral dan pastoral. Paus Benediktus XVI (19 April 2005 – 28 Februari 2013) melakukan hermeneutika reformasi dalam kesinambungan. Dan Paus Fransiskus (13 Maret 2013 – 21 April 2025) setia dalam reformasi pastoral dan struktural. Paus Fransiskus dalam banyak kesempatan sering mengatakan, “Gereja harus terus-menerus memperbarui dirinya.”

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (1): Tanda Salib

Pada akhirnya, pendapat yang menunjuk Gereja Katolik bersifat kaku sungguh tidak berdasar. Garis sejarah justru menunjukkan bahwa Gereja Katolik hidup dari dinamika pembaruan yang terus-menerus tanpa terjerabut dari akar tradisi. Gerak reformasi sejak Rasul Paulus sampai Reformasi Gregorius hingga Konsili Vatikan II, kita melihat pembaruan Gereja selalu bergerak di antara kesetiaan dan keberanian. Gereja teguh pada iman apostolik, sekaligus berani mengoreksi diri.

Dalam terang ini, setiap kali mereformasi diri Gereja semakin berakar pada iman dan tradisi. Justru karena berakar itulah, Gereja senyatanya mampu bertumbuh dan menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

*) Bangga Menjadi Katolik adalah tulisan berseri yang mengungkapkan sharing pribadi saya, atas keprihatinan banyak OMK yang tidak mengenal agamanya. Kalau tidak kenal bagaimana mau bangga dan memberikan kesaksian. Bagi saya, mau mengenal Katolisitas adalah bentuk hijrah yang paling nyata, sederhana, mudah, dan memberikan dampak signifikan.

Sumber bacaan:

  1. Jodocus van Lodenstein, Klaaghte over den Gebreeken in de Christelijke Kerk (1674).
  2. Karl Barth, Church Dogmatics, Vol. I–IV.
  3. Theological Declaration of Barmen (1934).
  4. Lumen Gentium, khususnya pasal 8 – Konsili Vatikan II.
  5. John H. Leith, Creeds of the Churches  
  6. G.C. Berkouwer, The Church — analisis mendalam tentang ecclesia semper reformanda.
  7. Michael Horton, People and Place: A Covenant Ecclesiology
  8. Alister McGrath, Historical Theology: An Introduction to the History of Christian Thought.
  9. Kevin DeYoung, “Semper Reformanda: What It Really Means”  
  10. WARC (World Alliance of Reformed Churches), dokumen-dokumen eklesiologi.
  11. H.E.J. Cowdrey, Pope Gregory VII, 1073–1085
  12. R.I. Moore, The First European Revolution
  13. Norman Tanner, The Councils of the Church
  14. Yves Congar, True and False Reform in the Church (1950)  
  15. Henri de Lubac, Catholicism dan The Splendor of the Church.
  16. Joseph Ratzinger (Benediktus XVI), Principles of Catholic Theology  
  17. Evangelii Nuntiandi (Paulus VI)
  18. Novo Millennio Ineunte (Yohanes Paulus II)
  19. Evangelii Gaudium (Fransiskus)
  20. Ignatius of Antioch, Letters
  21. Irenaeus, Adversus Haereses
  22. Athanasius, Orations Against the Arians
  23. Augustine, Contra Donatistas
  24. John Chrysostom, Homilies
Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply