Tea Pai: Sejarah, Makna, dan Iman Katolik

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Tea pai kembali populer di kalangan kaum muda Tionghoa. Sebuah penghormatan tradisi yang patut diacungi jempol, namun tahukah sejarahnya?

Pengalaman tea pai tidak saya lewatkan ketika Patricia dan Andrian mempraktikkan tradisi ini dalam rangkaian pernikahan mereka. Apalagi istilah yang dipakai tea pai bukan coffee pai.

“Bisa gak kalau nanti ada pilihan, teh atau kopi?” seloroh saya pada Patricia. Maklum, saya penggemar berat kopi.

Prosesi tea pai Patricia dan Andrian berlangsung pada hari Sabtu, 22 November 2025 sore di Hotel Mercure Jakarta Batavia. Tea Pai dilakukan setelah Sakramen Perkawinan di paginya di Gereja Santo Yakobus Kelapa Gading, Jakarta. Dan menjelang resepsi perkawinan di tempat yang sama, mulai jam 18.00

Sakramen Perkawinan Patricia dan Andrian di Gereja Santo Yakobus Kelapa Gading, Jakarta, 22 November 2025, jam 10.00

Salah satu bagian prosesi tea pai adalah memberi kado untuk pengantin. Jauh sebelum hari H, mungkin 2 bulan, kami – Sari dan saya – sudah memikirkan mau memberi apa. Saat hari H pun, kami begitu antusias mengikutinya. Sesaat saya berpikir, sayang jika momen ini berlalu begitu saja. Sama seperti sangjit, saya ingin pengalaman ini punya makna lebih bagi siapa saja yang menjalani prosesi tea pai.

Sejarah Tea Pai

Secara umum “tea pai” berarti upacara minum teh untuk menghormati orang tua dan keluarga. Dalam bahasa Mandarin, tea pai merujuk pada beberapa istilah yang punya makna berbeda tergantung konteksnya.

Ada 奉茶 (fèng chá) yang berarti menyajikan teh kepada yang dihormati. Lalu 茶礼 (chá lǐ) yakni ritual atau etiket teh. Dan 敬茶仪式 (jìng chá yíshì), merujuk upacara pemberian teh, misalnya dalam pernikahan. Dari 3 istilah itu, tea pai paling tepat diterjemahkan sebagai 敬茶 (jing cha).

Baca Juga: Nilai Kristiani dalam Prosesi Sangjit

Secara singkat 敬茶 berarti menyajikan teh dengan hormat. Ritual ini dianggap penting dan sakral dalam budaya Tionghoa. Konteksnya tidak hanya dalam rangkaian perkawinan, yakni bentuk penghormatan pengantin kepada orang tua dan keluarga senior. 

Dalam sejarah Tiongkok, dicatat tradisi jing cha atau tea pai sudah ada sejak Dinasti Tang (618-907). Hal tersebut diungkap oleh penulis Tiongkok bernama Lu Yu dalam bukunya The Classic of Tea. Buku tertua dan paling penting tentang teh itu bukan hanya membahas cara pembuatan teh, tetapi juga pentingnya teh sebagai objek ritual, penghormatan, dan kesopanan dalam interaksi sosial.

Tea pai Patricia – Andrian dengan Lanni Sandra Winata, ibu Andrian

Pada masa Tang, teh mulai digunakan sebagai hadiah yang bermakna penghormatan kepada pejabat atau orang tua. Teh juga sudah menjadi bagian dari upacara di istana. Selain itu, teh menjadi bentuk etiket atau nilai kesopanan saat menerima tamu. Dengan kata lain, teh menjadi simbol penghormatan. 

Budaya minum teh berkembang pesat di era Dinasti Song (960-1279). Bahkan disebut sebagai zaman keemasan seni teh. Zhu Xi, seorang cendekiawan Neo-Konfusianisme terkemuka, memandang teh bukan sekadar minuman, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan nilai-nilai filosofis utama.

Filsuf yang hidup pada 1130–1200 M itu berpendapat bahwa menikmati dan mempraktikkan budaya teh dengan tepat dapat membantu seseorang memahami dan mewujudkan prinsip-prinsip Konfusianisme dan Taoisme. 

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (9): Santo Santa Versus Artis Mualaf

Konfusianisme adalah ajaran yang menekankan pembentukan karakter moral, hubungan manusia yang harmonis, dan tatanan sosial yang tertib melalui kebajikan, etika, dan pendidikan. Sedangkan Taoisme berpusat pada Dao atau Jalan Alam Semesta. Dao adalah sumber segala sesuatu, pola alami alam semesta, dan ‘jalan’ yang mengatur segala sesuatu tanpa paksaan. Taoisme mengajarkan hidup selaras dengan Dao melalui kealamian, keseimbangan, kesederhanaan, dan tindakan tanpa paksaan. Bisa dibayangkan, bagaimana sakralnya budaya minum teh dalam masyarakat Tiongkok.

Memasuki Dinasti Ming dan Qing (1368–1912), budaya minum teh mendapat makna baru. Di era inilah, teh diformalisasikan ke dalam prosesi pernikahan. Jing cha dalam pernikahan menjadi tanda resmi penerimaan mempelai ke dalam keluarga sekaligus ekspresi rasa syukur dan bakti (xiao). Juga punya arti simbol bagi mempelai memasuki fase kehidupan baru.

Tea pai Patricia – Andrian dengan Endra Halim dan Cynthia Iskandar, orang tua Patricia.

Penguatan budaya minum teh dalam kultur sosial kemasyarakatan ini tak lepas dari faktor ekonomi. Di era Dinasti Ming dan Qing, teh menjadi komoditas penting dalam masyarakat Tiongkok. Permintaan teh sangat besar dan luas selama berabad-abad. Kala itu ada istilah ‘Jalur Kuda Teh’ kuno, sebuah rute perdagangan yang menghubungkan Tiongkok dengan India dan Tibet. Teh juga secara bertahap menjadi komoditas penting untuk diekspor ke Eropa.

Jing cha terus dipertahankan sampai saat ini dalam prosesi pernikahan masyarakat Tiongkok. Bahkan, jing cha atau upacara minum teh merupakan acara terpenting dalam pernikahan Tionghoa modern karena saat itu pengantin wanita secara resmi diperkenalkan kepada keluarga pengantin pria. Upacara ini biasanya berlangsung pada hari pernikahan ketika sebagian besar anggota keluarga hadir.

Baca Juga: Moto Tahbisan Sudah Biasa, Tapi Kalau Moto Perkawinan?

Teh manis apa pun, yang melambangkan kemanisan dalam ikatan pernikahan baru, cocok untuk upacara minum teh pernikahan Tionghoa. Teh yang digunakan biasanya teh merah manis yang melambangkan kesederhanaan. Beberapa teh manis tradisional Tionghoa menjadi rekomendasi untuk jing cha karena punya makna mendalam. 

Teh yang dimaksud adalah teh biji teratai dan kurma merah. Kedua teh ini melambangkan doa supaya pasangan baru yang tengah berbahagia akan memiliki anak dengan cepat dan berkesinambungan.

Selain itu juga bisa dipilih teh kelengkeng dan kurma merah. Buah kelengkeng, dalam budaya Tiongkok, melambangkan “naga.” Artinya, ada doa dan harapan bahwa pasangan baru akan dikarunia anak laki-laki.  

Negara Ikut Campur Soal Jing Cha

David Faure dalam bukunya Emperor and Ancestor: State and Lineage in South China (2007), pada masa Dinasti Ming dan Qing, Konfusianisme dijadikan dasar negara sekaligus standar perilaku moral rakyat.

Para kaisar di era ini sadar, untuk membentuk negara yang kuat harus dibangun dari keluarga-keluarga yang kuat juga. Keluarga dipandang sebagai unit dasar negara. Hierarki dalam keluarga harus dijaga dengan baik, bagaimana hubungan orang tua dan anak, suami dan istri, senior dan yunior. Ragam ritual (li, 礼) yang dipraktikkan di masa ini salah satu arahnya adalah untuk menjaga ketertiban dan harmoni sosial.

Baca Juga: Tradisi Lilin yang Menyatukan Liturgi Katolik dan Perayaan Imlek

Salah satu ritual yang turut dijaga adalah pernikahan. Maka tak heran jika ritual pernikahan, yang di dalamnya juga ada jing cha, diformalisasi di era ini. Pernikahan dibagukan karena dipandang sebagai fondasi penting untuk terwujudnya sebuah keluarga harmonis sesuai etika Konfusianis. Keluarga yang seperti ini tentu turut memberi sumbangan dalam memperkuat negara.  

Tea pai Patricia – Andrian dengan Leony dan Robby, oma dan opa Patricia.

Tujuan khusus mengapa negara memformalisasi pernikahan supaya mencegah klaim bahwa pernikahan tidak sah, sengketa status istri suami, sampai potensi masalah pertengkaran antar keluarga klan.

Dalam doktrin Konfusianisme, seseorang dikatakan bermoral salah satunya jika dia mememiliki keluarga yang tertib, rukun, dan harmonis. Standar lain tentang moralitas adalah pendidikan dan laku ritual yang benar. Makin jelaslah bagaimana posisi ritual pernikahan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena pernikahan yang benar mengajarkan bakti kepada orang tua, hormat kepada senior, dan keselarasan dalam berkeluarga.

Dari Jing Cha ke Tea Pai

Tradisi minum teh dalam prosesi perkawinan turut dibawa diaspora Tiongkok Asia Tenggara, Amerika, dan Eropa. Khususnya mulai awal abad ke-20. Tradisi ini kemudian disesuaikan dengan budaya lokal.

Di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, jing cha dipertahankan dalam upacara sangjit, upacara pernikahan adat Tionghoa, dan masuk ke dalam ritual keluarga saat momen khusus seperti imlek.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (8): Agama Terbuka yang Menerima LGBT dan Tato

Istilah jing cha tidak umum di masyarakat Tionghoa Indonesia. Istilah yang dipakai adalah tea pai, yang rasanya cukup jauh dibandingkan jing cha. Tea pai lahir dari hasil percampuran bahasa dialek Tionghoa dengan adaptasi masyarakat lokal, khususnya dari komunitas Hokkian, Kanton, dan peranakan. Perubahan nama ini terjadi secara alami karena migrasi dan penyesuaian bahasa.

Dalam komunitas Kanton istilah yang lebih lazim untuk menyebut upacara teh pernikahan bukan hanya jing cha, tapi juga 茶礼 (cha lai) yang artinya ritual teh; 茶拜 (cha bai) sujud/ berbakti dengan teh; 拜茶 (bai cha) membayar hormat dengan teh.

Tea pai Patricia – Andrian dengan Sally Iskandar, tante Patricia.

Kata 拜 (bài) memiliki arti bersujud, memberi hormat, menghormat secara ritual. Ketika dialek Kanton mulai berbaur dengan bahasa Melayu dan Hokkian di Nusantara, 茶拜 (cha bai) berubah pelafalan menjadicha paidan akhirnya tea pai.Ini sama dengan perubahan umum bunyi “b” menjadi “p” dalam penyerapan dialek ke Melayu-Peranakan. Ada proses penyerapan fonetik dari cha bai menjadi tea pai.

Mengapa menggunakan ‘tea’ yang adalah bahasa Inggris?Pada zaman kolonial, orang-orang Tionghoa Peranakan di kota-kota besar (Batavia, Surabaya, Semarang, Medan) terbiasa mencampur bahasa dengan kosa kata dari Melayu Peranakan, Hokkian/ Kanton, sampai Belanda/ Inggris.

Istilah ‘tea’ jadi kata umum karena bahasa Inggris kerap dipakai dalam perdagangan, yang mana masyarakat Tionghoa terlibat aktif. Alhasil, kata ‘tea’ diserap ke dalam ungkapan tea pai yang adalah salah satu ritual dalam pernikahan masyarakat Tionghoa.

Tea Pai Saat Ini

Tradisi tea pai atau di Tiongkok disebut 敬茶 (jing cha) telah berkembang selama lebih dari 1.200 tahun.

Sebuah tradisi yang sudah sangat lama dan berakar kuat. Bermula dari etiket minum teh pada Dinasti Tang, dipadukan dengan nilai Konfusianisme tentang bakti dan hormat, lalu menjadi ritual resmi keluarga, pernikahan, dan hubungan guru–murid pada Dinasti Ming–Qing.

Tradisi ini mampu bertahan sampai sekarang. Sebuah ritual yang juga dipandang sebagai simbol penghormatan dalam pernikahan dan kehidupan keluarga Tionghoa modern di seluruh dunia. Khusus Indonesia, tea pai mendapat tempat istimewa di kalangan anak-anak muda Tionghoa. Ada harapan besar untuk mewujudkan cita-cita keluarga harmonis ketika generasi muda mengangkat tradisi leluhur yang memiliki makna mendalam.

Baca Juga: Alasan Orang Bercerai Menurut Alkitab

Pasangan Patricia dan Andrian, ponakan kami, melakukan tradisi tea pai yang dihadiri keluarga besar masing-masing.  Di dalam salah satu ruangan di Mercure Jakarta Batavia, mereka menyiapkan teh manis. Saat tea pai berlangsung, mereka menyajikan teh kepada orang tua dan keluarga senior secara bergantian. Prosesi ini sebagai bentuk bakti (孝) dan ucapan terima kasih kedua mempelai yang baru saja saling menerima Sakramen Perkawinan.

Tea pai Patricia – Andrian dengan Reza dan Sri, om dan tante Patricia.

Saat teh habis diminum. Orang tua, baik dari Patricia dan Andrian, memberikan restu mereka sekaligus menyerahkan hadiah. Hal serupa juga dilakukan oleh semua anggota keluarga yang hadir. Ada yang memberikan angpau, emas, maupun perhiasan emas.

Ketika tea pai berakhir, Patricia dan Andrian dianggap diterima sebagai bagian dari keluarga. Maka, di era modern ini tea pai dipandang sebagai penyatuan dua keluarga besar. Tradisi ini pula menjadi simbol kesopanan. Masing-masing anggota keluarga diterima dengan suka cita dan disambut dengan minum teh bersama. Dan di situ juga tampak keharmonisan yang terjalin. Ada gelak tawa dan aura kebahagiaan memancar seluruh sudut ruangan.

Tea Pai dan Iman Katolik

Tea pai Patricia dan Andrian berlangsung sesaat setelah Misa Perkawinan. Sebagai sama-sama beriman Katolik, bagaimana mereka memaknai tradisi tea pai yang bukan berasal dari tradisi kekristenan?

Kalau kita pahami bersama, ritual tea pai berfokus pada tindakan hormat kepada orang tua, para senior melalui minum teh sebagai simbol ungkapan syukur, kepatuhan, penerimaan, dan penyatuan dua keluarga. Ada unsur 孝(xiao) atau filial piety, inti dari ajaran Konfusianisme yang berarti bakti, hormat, dan kewajiban anak kepada orang tua dan leluhur. Konsep ini menekankan pentingnya anak merawat, menghormati, dan menjaga nama baik orang tua, baik saat mereka masih hidup maupun setelah meninggal.  

Baca Juga: Sadar Atau Tidak, Marah Lebih Populer dari Mengampuni. Termasuk di Alkitab!

Filial piety atau beda arti tetapi maknanya selaras dengan hukum ke-4 dalam 10 perintah Allah yang ada dalam tradisi kekristenan, yakni“hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel 20:12).  Dalam tradisi Yahudi-Kristiani, perintah ini dipandang sebagai perintah pertama yang menyangkut relasi antar-manusia. Karena hubungan dengan orang tua adalah relasi manusiawi pertama yang membentuk cara seseorang memahami kasih, otoritas, dan identitasnya. Perintah keempat bukan hanya mengatur hubungan keluarga, tetapi menjadi dasar seluruh moral sosial dalam Gereja Katolik.

Dalam tradisi Katolik, berkat dari orang tua sebelum pernikahan adalah hal yang sangat dihargai.
Ritual seperti tea pai menjadi media untuk menerima berkat itu secara simbolik—bukan sakramental, tetapi tetap bernilai rohani.

Gereja Katolik menekankan bahwa keluarga adalah Gereja domestik (domestic church), tempat anak belajar iman, pengorbanan, dan kasih.

Prosesi “Pok pok angpao” dalam tea pai berarti seruan pemberian berkat, simbol restu, penerimaan, dan pemanggil keberuntungan bagi pengantin, sekaligus bagian dari nuansa ceria khas tradisi Tionghoa Indonesia.
Patricia dan Andrian memberi angpao kepada Francisco, adik Patricia yang belum menikah. Hal ini sebagai tanda kasih, doa agar cepat menyusul menikah, simbol kelimpahan, serta peneguhan harmoni keluarga. Berkat mengalir ke bawah sama pentingnya dengan berkat yang mengalir ke atas.

Sumber:

  1. Benn, James. Tea in China: A Religious and Cultural History (University of Hawaii Press, 2015).
  2. Mair, Victor H. & Hoh, Erling. The True History of Tea (Thames & Hudson, 2009).
  3. Tan Chee Beng. Chinese Religion in Malaysia: Temples and Rituals – menjelaskan perkembangan ritual teh di Asia Tenggara.
  4. David Faure. Emperor and Ancestor: State and Lineage in South China — membahas ritual keluarga termasuk jing cha.
Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply