Pertanyaan itu mengusik saya, kapan saat kami kaum berjubah ambil bagian dalam penderitaan Yesus, yakni stigmata Kristus?
Ada ungkapan yang ambigu alias multitafsir yang bisa membuat kita kehilangan orientasi, “Jika menjadi biarawan/wati tidak bergembira atau bahagia, artinya tidak cocok dengan pilihan hidupnya, maka, sebaiknya ia keluar saja?”
Tidak semudah itu! Emangnya biarawan/wati adalah panggilan menjadi badut yang suka melawak dalam komunitas atau menjadi clowns’ community? Apakah hidup memakai jubah maunya happy-happy dengan semangat kharismatik lengkap dengan jingkrak-jingkraknya?
Apakah juga panggilan ini mereduksir spiritualitas wafat dan kebangkitan Kristus menjadi humanisme psikologis ala tingkatan realisasi diri model Abraham Maslow? Atau mudah meletupkan kepribadian kita dengan “gemoy & gimmick” di atas penderitaan khalayak tanpa empati?
Sejatinya, kita tidak mungkin stabil dalam keadaan konsolasi tanpa naik-turun. Tidak akan pernah hidup tanpa pengalaman desolasi. Di sinilah peran pengalaman mistik nan misteri saat Yesus yang adalah Kristus membagikan stigmataNya pada Fransiskus, Padre Pio, dan menurut saya kepada Umat Allah yang didiskriminasi.
Spiritualitas Kristiani ditandai oleh pengalaman memasuki misteri wafat dan kebangkitan Yesus menjadi Kristus. Sakramen-sakramen yang kita hidupi, bahkan berformakan assertif dogmatis anamnese, “Dia telah wafat, Dia telah bangkit/Dia sekarang hidup, dan Dia akan kembali!” Hidup Yesus tidak mulus saja, ada bahagia, sakit fisik dan psikis karena ditinggalkan, bahkan derita sampai mati. Namun, hidup-Nya juga memberikan sebuah harapan akan kehidupan kekal di surga bersama Dia.
Hal ini berbeda dengan realitas hidup modern saat ini. Banyak konten yang diviralkan melalui media sosial dengan feedback “like” (tanpa “dislike”) menambah ambiguitas pesan-pesan yang hendak disampaikan. Apalagi ada “monetisasi” yang tidak disarankan oleh pewartaan tentang Kerajaan Allah.
Makna “retret” pun dikacaukan oleh pemaknaan yang serampangan “Dalam lnjil, Yesus berulang kali pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa demi mencari persekutuan dengan Allah, memberikan teladan bagi orang percaya untuk menjalin hubungan dengan Tuhan di tengah kesibukan dunia.
Contoh-contoh spesifik termasuk Markus 1 :35, di mana la berdoa setelah melayani di Galilea, dan Matius 26:36, yang mencatat doa-Nya di Taman Getsemani sebelum ditangkap.” Dia tidak pergi ke psikiater untuk menenangkan batin-Nya. Dia berkenosis, mengosongkan diri-Nya, agar cuma kehendak Allah Bapa yang terjadi, tanpa “like” dari para murid-Nya. Dan inilah kiranya sumber sukacita yang sejati.
P. Haweyau SCJ
Kotabatak Riau, 3 Oktober 2025
*Tulisan Hadrianus Wardjito SCJ, imam Dehonian yang tertarik dalam bidang inkulturasi, pendidikan, dan aspek sosial-kultural Gereja.
