Bangga Menjadi Katolik (1): Tanda Salib

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Salib adalah tanda kekristenan yang sejak awal mula menjadi paradoks. Awalnya salib adalah tanda kehinaan, menjadi tanda kemenangan karena kebangkitan Yesus. Kini setelah kita hayati sebagai tanda kemenangan malah jadi bahan ejekan bagi orang lain. Alhasil, salib jadi aib yang tidak layak dibanggakan, ditunjukkan, diperkenalkan, bagi orang kristen yang tak tahan oleh ejekan.

Banyak kisah di mana salib dinista dan ditentang. Saya pernah membahasnya saat ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) yang menyebut salib sebagai tempat bersemayamnya jin kafir. Keributan kembali terjadi saat sebagian orang melihat mosaik Jalan Depan Balkot Solo mirip dengan salib. Bahkan ada pula yang menduga desain dan beberapa ornamen Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari punya bentuk salib.

Baca Juga: Menyikapi Ceramah UAS Dengan Keteladanan Bunda Maria

Salib kembali menjadi perdebatan dan pertentangan saat masuk ke ranah profesi, jabatan, dan lingkungan bermasyarakat. Tidak sedikit kisah yang mana seseorang tidak akan bisa mendapat promosi lantaran salib melekat pada dirinya. Kecuali yang bersangkutan menggadai salibnya. Sekali lagi, fenomena ini nyata dan membuat kita “maklum” kalau beberapa di antara kita tak bangga memanggul salibnya.

Saat mengikuti misa online malam paskah ada sharing menarik dari Romo Ismartono SJ. Di dalam homilinya, Romo Is menunjukkan bahwa tanda salib yang dibuat orang Katolik sungguh indah. Saat membuat tanda salib, tangan kita menyentuh bagian-bagian tubuh yang vital.

Dalam nama Bapa (menyentuh kepala), dan Putera (hati), dan Roh Kudus (kedua tangan). Kepala adalah pusat pengetahuan, di mana kita mengetahui suatu kebenaran. Hati adalah pusat batin  di mana kita bisa mengetahui kebaikan. Sebagai manusia, kita tidak cukup mengetahui suatu itu benar dan baik, tetapi kita butuh menggerakkan kedua tangan kita untuk berbuat sesuatu apa yang diyakini sebagai kebenaran dan kebaikan.

Membuat tanda salib dengan 5 jari juga punya makna mendalam, yakni menunjuk pada 5 luka Yesus waktu disalib. Luka Yesus yang juga disebut stigmata itu adalah di tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri dan yang terutama adalah di lambung. St Thomas Aquinas mengatakan kelima luka ini memproklamasikan kemuliaan dan kemenangan Kristus yang telah wafat di salib dan bangkit kembali dengan mulia. Selain itu untuk meneguhkan para muridNya dalam iman dan harapan akan kebangkitan, dan memberi mereka keberanian untuk menderita demi namaNya.

Sharing refleksi ini semakin menguatkan saya bahwa salib adalah warisan berharga dari agama saya yang patut dibanggakan. Saya akui, awalnya tidak mudah membuat tanda salib di depan umum. Tetapi lama-lama saya dimampukan seiring dengan kebanggaan yang meningkat terhadap salib. Biasanya, saya membuat tanda salib saat makan dan sebelum berkendara, entah motor maupun mobil.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa salib bukan hanya sesuatu yang dekoratif untuk digantung di dinding atau dipakai, itu adalah tanda penting dari kepercayaan kita. “Injil hari Ini mengundang kita untuk mengalihkan pandangan kita ke salib, yang bukan benda hias atau aksesori pakaian – terkadang disalahgunakan! – tetapi suatu tanda keagamaan untuk direnungkan dan dipahami. Gambar Yesus yang disalibkan mengungkapkan misteri kematian Anak Allah sebagai tindakan kasih tertinggi, sumber kehidupan dan keselamatan bagi umat manusia sepanjang masa. Dalam luka-lukanya kita telah disembuhkan,” kata Paus Fransiskus, 18 Maret 2018. Sumber: cruxnow.com

Sejarah Salib dan Makna Teologisnya

Dari bacaan website sarapan pagi, diketahui ada beberapa makna salib secara teologis. Pertama, saat kita membuat tanda salib menunjukkan kemanunggalan dari Allah Tritunggal, Bapa – Putera – Roh Kudus. Soal Tritunggal akan kita bahas kemudian.

Kedua, salib menjadi bukti Allah yang Mahaadil. Dosa manusia membuat kita tidak bisa selamat. Konsekuensi dosa pun berakibat pada kerusakan ciptaan Allah yang lain. Sehingga Allah sendiri yang menebusnya dengan wafat-Nya di salib itu,”Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Gal 3:13).

Ketiga, salib menunjukkan kasih Allah yang terbesar. Benarlah kita meyakini Dia sebagai Tuhan yang Mahakasih. Para nabi telah diutus untuk membuat kita bertobat, tetapi tidak didengar. Akhirnya, karena cintaNya yang begitu besar pada kita, Ia mengutus PuteraNya untuk menebus dosa kita. Walau akhirnya Sang Putera pun harus meregang nyawa di kayu salib, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Semua itu rela dijalani Yesus agar kita dapat diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Sumber: examiner.org.hk

Keempat, salib adalah tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen. Sebelum Yesus, salib adalah tanda kehinaan karena salib adalah bentuk hukuman paling keji dan memalukan. Namun karena kebangkitan Yesus di salib, kini salib menjadi tanda keselamatan dan kemenangan dari dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab, “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu  orang dan di dahi mereka tertulis namaNya dan nama BapaNya” (Why 14:1; bdk Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4).

Kelima, salib adalah pegangan hidup. Teladan dalam hal ini adalah Santo Paulus, “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6:14). Sebagai orang Kristen, kita telah mati dan bangkit bersama Kristus, sehingga dunia tidak dapat lagi memperbudak kita.

Bermegah dalam daging dan bermegah dalam salib adalah dua pilihan yang saling terpisah. Kita harus memilih hanya satu setiap hari, pilih salib atau jabatan, pilih menjalankan amanah atau korupsi, mau pilih salib atau pacar, dst.  

Cara membuat tanda salib mengalami perkembangan. Sejarah Gereja Perdana menyebutkan bahwa pada awalnya tanda salib hanya dibuat di dahi saja. Lalu tanda salib tidak hanya di dahi tetapi di mulut dan hati. Sampai pada akhirnya seperti saat ini, yakni membuat tanda salib di dahi, hati dan kedua tangan..

Masih menurut sumber website sarapan pagi, tradisi membuat tanda salib sudah berakar lama dan memiliki dasar dalam Alkitab. Itulah mengapa para Bapa Gereja mengajarkan makna tanda salib. Misalnya Tertullian pada abad kedua mengajarkan dalam De cor Mil, iii: “Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.”

Lalu ada St. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36) mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”

Kemudian St. Ephrem dari Syria (373) mengatakan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar dari pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembok yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”

Hal senada juga ditekankan St. Yohanes Damaskus (676-749), “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.”

Tanda salib seperti yang kita kenal sekarang diajarkan oleh Paus Innocentius III (1198–1216), “Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).”

Ada juga yang membuat tanda salib, gerakannya dari kiri ke kanan. Mereka yang melakukan ini meyakini bahwa dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus.

Saat misa kita juga membuat tanda salib kecil di dahi, bibir dan dada. Kita melakukan itu sesaat sebelum Injil dibacakan. Ingatlah, saat kita membuat tanda salib itu kita berdoa, “Semoga Sabda Kristus berdiam dalam pikiran (buat tanda salib di dahi), bibir (buat tanda salib di bibir), dan hatiku (buat tanda salib di dada.”

Mari kita meneladan Santo Paulus yang menjadikan salib sebagai jalan hidup. Ia bangga dan hanya bermegah atas salib Yesus yang dia panggul. Semoga kita dimampukan untuk setiap membuat tanda salib, dikuatkan untuk memilih salib dalam tiap pilihan yang dihadapkan oleh dunia, dan diteguhkan dalam iman bahwa salib yang kita pilih membawa pada kehidupan serta kebangkitan mulia di surga.

Jadi, masih ragukah dengan iman kita? Masihkah kalian tidak bangga? Kenali dulu iman kita baru bisa bangga. Kalau gak kenal, bagaimana mau sayang. Jangan pergi dulu ya, sebelum kenal dengan imanmu. Yuks, kita hijrah ala-ala kita sendiri.  

*) Bangga Menjadi Katolik adalah tulisan berseri yang mengungkapkan sharing pribadi saya, atas keprihatinan banyak OMK yang tidak mengenal agamanya. Kalau tidak kenal bagaimana mau bangga dan memberikan kesaksian. Bagi saya, mau mengenal Katolisitas adalah bentuk hijrah yang paling nyata, sederhana, mudah, dan memberikan dampak signifikan.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply