Bangga Menjadi Katolik (2): Konsep Tritunggal yang Bikin Repot!

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Allah Tritunggal menjadi paradoks untuk orang Kristen. Satu sisi menjadi inti iman, tapi di sisi lain menjadi sumber perdepatan bahkan akar masalah. Tidak hanya untuk agama lain, tetapi konsep Tritunggal ini jadi bahan pembahasan tak berujung di kalangan orang Kristen sendiri.

Sampai detik ini, saya masih mendengar dari umat agama lain kalau saya ini kafir. Kenapa? Salah satunya karena punya 3 Tuhan: Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Tuhan Roh. Juga masih saya dengar, “Tuhan kok punya anak atau bisa beranak?” Dan banyak ungkapan sejenis lain.

“Serangan” lain ada yang lebih berbobot. Golongan tertentu dari suatu agama percaya akan Yesus, tetapi sebagai nabi bukan Tuhan. Menurut mereka, orang Kristen itu disesatkan oleh ajaran Santo Paulus. “Yang betul itu Tuhan nya Yesus, bukan Yesus Tuhan. Baca awal sejarah ajaran trinitas, itu hanya bualan Paulus/ Saulus dari Tarsus sang penyesat yang ingin dijadikan Rosul. Tapi ditolak oleh murid-murid Yesus, terutama Filipi, hingga Paulus melarikan diri dan bersembunyi, dst…” begitu lebih kurang argumennya.

Saya sangat maklum konsep Tritunggal menjadi perdebatan. Wong saat di kampus, calon-calon Pastor aja dibuat “botak” saat membahas Tritunggal. Bagi yang kepinteran menerima konsep ini dengan brilian, tapi hanya dia sendiri yang mudeng. Kalu yang kemampuannya pas-pas-an, menerima konsep ini dengan sederhana. Sisanya, membayangkan nanti pulang makan apa ya, hahaha…

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (1): Tanda Salib

Menerima Tritunggal sederhana ini maksudnya begini. Ada yang bilang, Tritunggal itu kayak campuran air, gula, kopi. Kita bisa membedakan rasa ketiganya secara berbeda: air – gula – dan kopi. Tapi mereka telah jadi satu kesatuan.

Di tataran para kudus, ada Santo Patrick (390-461) yang mencoba menerangkan dasar iman Kristen itu pada orang Irlandia yang baru ia babtis. Konon dia memetik setangkai daun shamrock, daun yang terdiri dari tiga helai daun kecil yang berbentuk oval. Daun yang juga menjadi lambang negara Irlandia itu dipakai untuk menjelaskan Tritunggal, satu daun tapi punya 3 bagian yang tak terpisah.

Cepet ya kita mudeng kalu disodorkan perumpaan seperti itu? Tapi apakah ini bener dan dapat dipertanggungjawabkan? Kalau kita ditanya, “Hei, di agamamu kan ada Tritunggal tu, gimana sih maksudnya???”

Tuhan itu Esa. Titik.

Sejujurnya, dari 3 kelompok mahasiswa yang belajar Tritunggal di atas, saya masuk di kategori yang sedang berpikir, “Siang ini lauknya apa, ya?” kwkwkwkw… Makanya cukup lama saya bisa mencerna dengan baik, bagaimana memahami Allah yang katanya bisa tiga dan beranak itu.

Sebelum mulai memahami Tritunggal, refleksi saya ini akan dimulai dengan silogisme sederhana berikut, “Tidak mungkin saya beriman pada 2 konsep sekaligus.” Jika saya beriman pada Tuhan yang satu maka tidak mungkin saya pada saat yang sama mengimani politeisme atau lebih dari 1 tuhan. Begitu sebaliknya, jika saya mengimani beberapa tuhan, maka tidak mungkin pada saat bersamaan saya juga mengimani monoteisme.

Agama Katolik, sejak awal mulai mengimani Tuhan yang Esa. Hal itu bersumber dalam Alkitab, tradisi Gereja Perdana, dan Katekismus Gereja Katolik.

Di dalam Alkitab sangat jelas bahwa kita sepakat dengan agama Islam soal monoteisme. Allah yang kita sembah adalah Allah Maha Esa karena hanya ada satu Tuhan dan tidak ada yang lain. Di dalam Perjanjian Lama sangat jelas dikatakan, “Dengarlah, hai orang Israel TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ul. 6:4). Hal senada juga dikatakan tegas dalam Perjanjian Baru, yakni Markus 12:29. Dikatakan, “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa,” atau terjemahan lainnya mengatakan, “Yesus menjawab, “Dengarlah, hai orang-orang Israel! Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu satu.”

Berikutnya ada banyak Bapa-bapa Gereja Perdana meneguhkan iman umat dengan kepercayaan pada Tuhan yang satu. Salah satunya adalah Santo Athanasius (296-373), Uskup Alexandria. Di salah satu pengakuan imannya, ia mengatakan, “Barangsiapa hendak diselamatkan, maka ia harus memiliki iman yang saya, yaitu iman yang jikalau tidak dijaga kemurniannya, pastilah orang tersebut binasa. Dan iman yang sama itu adalah ini: bahwa kita menyembang Allah yang esa di dalam ketigaan, dan ketigaan di dalam keesaan, tanpa percampuran pribadi maupun pemisahan substansi.”

Di dalam Katekismus Gereja Katolik, yang adalah ringkasan keyakinan iman Katolik, ada bagian khusus yang menegaskan keesaan Tuhan yang disembah oleh umat Katolik. Bagian yang khusus membahasnya adalah di bagian IV yang membahas “Arti Iman akan Allah yang Esa.”

Berikut beberapa kutipannya  “Beriman akan Allah yang Esa dan mencintai-Nya dengan seluruh kepribadian kita, mempunyai akibat-akibat yang tidak dapat diduga untuk seluruh kehidupan kita” (222), “Kita mempergunakan benda tercipta secara wajar: Iman akan Allah yang Esa mengajar kita mempergunakan segala sesuatu yang bukan Allah, sejauh hal itu mendekatkan kita kepada Allah, dan melepaskannya, sejauh ia menjauhkan kita dari Dia” (226).

Pada bagian 226 ingin menjelaskan posisi patung-patung yang banyak dipakai dalam sarana berdoa orang katolik. Patung-patung ini juga kerap menjadi batu sandungan yang menganggap orang katolik itu menyembah berhala, kafir, dan lain sebagainya. Tentu bagian ini nantinya akan saya bahas tersendiri.

Kesimpulannya adalah, saya katolik beriman pada Tuhan yang esa, maka tidak mungkin pada saat bersamaan saya pun mengimani tuhan lainnya.

Karena Tuhan yang esa itu adalah Tuhan yang pencemburu, “Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu,” (Kel 20:5; bdk. Ul 29:20). Cemburu karena Ia tak mau diduakan oleh manusia yang pada bersamaan menyembah Dia sekaligus minta pada dewa-dewa berhala, “Mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka” (Mzm 78:58). Ia perlu menyatakan diri-Nya pencemburu supaya tak ada lagi manusia berlaku musyrik, “Cemburu-Ku timbul untuk mempertahankan nama-Ku yang kudus” (Yeh 39:25). 

Jangan Sok Berlagak Jadi Tuhan

Sudah jelas dengan konsep Tritunggal, ya sudah sampai sini aja bacanya. Tapi apakah ada yang merasa masih ragu, tambah ragu, atau justru penasaran dan kok makin menarik (mulai GeEr), boleh melanjutkan membaca. Saya gak bilang, “Ada yang mulai pusing?” lohhhh…karena saya PeDe bahwa penjelasan tadi sangat jelas kwkwkwkw

Memahami Tuhan, apalagi yang kita sebut Tritunggal jangan pernah bertitik tolak pada diri kita. Sebisa mungkin kita berdiri di posisi Tuhan, bukannya sibuk menilai Tuhan seperti yang kita inginkan.

Kalau kita ingin merasakan dan memahami kesedihan teman kita, maka posisikanlah diri kita pada teman yang sedang bersedih itu. Walau tidak persis sama apa yang ia rasakan, tetapi kita mampu berempati dan teman kita pun dapat merasakan ketulusan kita. Intinya setiap kali memahami pribadi, subyeknya selalu pribadi yang ingin kita pahami, bukan melihat dari sudut pandang kita. “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rom 12:15).

Itulah mengapa, pendekatan saya untuk memahami Allah Tritunggal adalah bertolak dari sifat-sifat Tuhan. Yang sudah saya jabarkan, sifat yang saya pakai adalah Tuhan yang Maha Esa. Berikutnya yang saya pakai adalah Tuhan yang Maha Kuasa.

Sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, Dia adalah entitas yang tidak terbatas. Semua umat beragama rasanya setuju dengan premis ini. Oleh karena itu, Tuhan tidak bisa didefinisikan seperti apa. Apalagi yang mencoba untuk mendefiniskan adalah kita, manusia ciptaan yang terbatas.

Di sinilah pokok persoalan kita dalam memahami Tuhan, yaitu keterbatasan manusia berhadapan dengan ketakterbatasan Tuhan. Bagaimanapun sesuatu yang terbatas tidak akan pernah mampu memahamis secara penuh sesuatu yang tak terbatas. Sebaliknya, yang tak terbatas sudah pasti mampu memahami yang terbatas.

Walau berbeda kasta, keduanya bisa terjalin sebuah relasi. Nah, relasi itu hanya bisa terjadi atas prakarsa dari yang tak terbatas. Ia mau datang dan menyapa manusia sebagai ciptaan yang terbatas. Hal ini tidak bisa kita balik dengan mengatakan kita mampu dari kita sendiri berelasi dengan Tuhan. Gambaran sederhananya, ada orang yang sangat kaya dan sangat miskin. Secara normal, kita berpikir akan mustahil kedua orang ini akan bertemu apalagi berelasi. Namun hal itu bisa saja terjadi jika orang yang sangat kaya itu berinisiatif mendatangi si miskin dan mengajaknya berkomunikasi.

Pendekatan Tuhan sebagai yang tak terbatas ini pernah diungkapkan oleh Santo Anselmus dari Canterbury (1033-1109). Ia mengatakan, “Id quo maius cogitari nequit” atau “sesuatu yang lebih besar dari padanya tidak dapat kita pikirkan dan sekaligus sebagai sesuatu yang lebih besar dari apa yang dapat kita pikirkan.” 

Apakah kita mampu mengenali Allah? Tentu bisa, walau tidak mampu mengenali Dia secara penuh. Cara pengenalannya bagaimana? Dalam filsafat ada rumusan, “Yang sama mengenal yang sama.” Untuk mengenal Allah kita harus menggunakan sesuatu yang ada di dalam diri kita yang juga ada di dalam diri Allah, yakni akal budi (bdk. Kej 1:27). Inilah yang membuat kita berstatus sebagai ciptaan yang sungguh amat baik, berbeda dengan ciptaan lain (bdk. Kej 1:311).

Pengenalan akan Allah masih mungkin walau hanya sedikit karena keterbatasan kita. Dengan akal budi memungkinkan kita terhubung dengan realitas ilahi. Santo Anselmus Canterbury menyebut dengan istilah, “fides quaerens intellectum” yang berarti “iman mencari pemahaman.” Bapa Gereja lain, Santo Agustinus (354-430) juga mengatakan bahwa melalui akal budi, Allah memberi penerangan untuk menuntun kita agar dapat mengenal-Nya. Lagi-lagi, kita mampu mengenali-Nya pertama-tama karena Tuhan sendiri yang menginginkannya. Dialah yang meletakkan akal budi dalam diri kita.

Jadi, apakah kita bisa mengetahui Allah? Apakah kita bisa menjelaskan Allah Tritunggal? Tegas saya katakan, TIDAK!!! Jika Allah dapat dengan terang benderang kita jelaskan, berarti Ia bukan Allah. Ia tidak cocok dengan premis pertama di mana kita sama-sama percaya bahwa Allah itu Mahakuasa, tak terbatas.

Dengan demikian, menggambarkan Allah Tritunggal seperti kopi atau daun shamrock tidak benar. Membantu kita untuk mengerti sedikit itu tidak salah, tetapi Allah tidak seperti itu.

Kita tidak dapat mengetahui Allah sebagaimana Ia persisnya ada, hanya mendekati sejauh kita bisa. Allah tidak bisa disepertiapakan dengan cara apapun!

Jika ada pemeluk agama lain sok-sok menjelaskan Allah Tritunggal sampai pada memberikan kesimpulan bahwa Tuhan kita itu begini atau begitu, diemin aja. Doakan yang baik untuk dia/ mereka. Jangan lupa kasih senyum, ya hahaha..

Lukisan karya Sir Peter Paul Rubens (1577 – 1640). Seniman beraliran baroque yang lahir di Siegen Jerman melukis Allah Tritunggal dengan judul, “The Trinity Adored By The Duke of Mantua And His Family” (1604 – 1606). Sumber: Wikiart.org

Misteri Tritunggal adalah Misteri Kasih

Sekali lagi saya katakan bahwa Allah Tritunggal adalah inti iman kepercayaan umat Kristen. Setelah melalui penjelasan di atas, saya mau tambahkan menjadi “misteri” Allah Tritunggal, yang memang kita sebagai ciptaan terbatas tak mampu mengerti secara penuh dari kemakuasaan Tuhan.

Disebutkan inti iman, karena salah satu faktornya adalah jika ada seorang masuk dalam Gereja Katolik maka ia akan dibaptis dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus (bdk. Mat 28:19). Konsili Vatikan II bahkan memaknai Gereja sebagai “Umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus”, (LG 4).

Konsep Allah Tritunggal ada dalam Alkitab. Bahkan jejaknya sudah ada sejak dalam Perjanjian Lama. Ajaran Tritunggal Mahakudus tersirat pada Kitab Kejadian 1:1-3, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.”

Patritius Arifin, SX dalam papernya menjabarkan kutipan itu dengan mengatakan bahwa ayat-ayat ini mengungkapkan hakikat Allah yang Tritunggal itu: Allah (Bapa), Roh Allah (Roh Kudus), dan Firman Allah (Yesus) muncul sebagai satu kesatuan. “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh. 1:1).

Dalam Kitab Kejadian 1:26 tertulis demikian, “…Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi…” Di sini dijelaskan dengan terang bahwa sudah sejak semula Allah menunjukkan diri-Nya sebagai kesatuan komuniter (Kasih). Allah, Roh yang melayang-layang, firman yang bersama-sama dengan Bapa, ketiganya satu sejak semula.

Lebih lanjut, Allah Tritunggal dalam tradisi iman Katolik ini menjadi dasar bagi sifat Tuhan yang lain, yakni Allah yang Mahakasih. Kita tahu bersama bahwa “kasih” adalah ajarah pertama dan utama yang dibawa Yesus. Pesan Yesus untuk kita para murid-Nya pun sangat jelas, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).

Bahkan tertulis dalam Alkitab, “Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8). Kasih itu gak pernah pada dirinya sendiri tunggal. Kasih selalu menunjuk pada hubungan relasional, ada sifat komuniter, dan tidak pernah bisa berdiri dalam kesendirian. Relasi Kasih Allah tentu meninggalkan misteri sebagaimana misteri Tritunggal.

Allah Tritunggal adalah Tuhan yang satu kodrat dengan 3 pribadi yang berbeda. Kondrat menunjukkan “apa” Dia, sedangkan pribadi adalah “siapa” Dia. Relasi Kasih Allah Tritunggal adalah relasi kasih ilahi yang berlangsung secara sempurna antara Bapa – Putera – Roh Kudus. Bapa mengasihi Putera dalam Roh Kudus, Putera mengasihi Bapa dengan perantaraan Roh Kudus, dan Roh Kudus mencintai Bapa dan Putera dalam satu kesatuan sempurna yang tak terpisahkan.

Saya merefleksikan, kasih itu menggerakkan. Maka relasi kasih Allah yang begitu sempurna itu menggerakkan dirinya untuk menciptakan manusia dengan seluruh alam semesta. Itulah yang dilakukan oleh Bapa. Lalu Allah tergerak oleh kasih-Nya untuk menyelamatkan seluruh manusia dari dosa, dan itu yang dilakukan oleh Putera. Dan Allah pun ingin karya keselamatan Allah itu terus berlangsung sampai akhir zaman, dan itulah yang dilakukan oleh Roh Kudus. Apa yang dilakukan Allah Bapa – Putera – Roh Kudus selalu dalam satu kesatuan yang tak terpisah.

Bagi saya, adanya kita saat ini dengan seluruh alam semesta adalah hasil dari luberan kasih Allah yang begitu besar dan sempurna. “Allah, Juru Selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan dan kebenaran (1Tim 2:4).” ; “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16); “Kristus mengutus Roh Kudus dari Bapa (AG 4).”

Dalam keyakinan iman kita, karya penyelamatan Allah berasal dari Bapa, dilaksanakan oleh Putera yang diutus ke dunia, kemudian dijaga keberlangsungannya oleh Roh Kudus. Kesatuan antara ketiga pribadi itu sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidak berubah. Bapa, Putera dan Roh Kudus ialah tiga pribadi dari Allah yang satu.

Merayakan Tritinas berarti merayakan Allah yang terus berkarya karena dan dalam kasih. Kita yang berasal dari kasih (kasih Allah yang menyelamatkan dan kasih orang tua) harusnya juga tergerak untuk meneruskan kasih itu kepada sesama dan ciptaan. Saat kita sedang jatuh cinta adalah saat di mana kita dipenuhi kasih. Kasih ini terus mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk yang kita kasihi, sampai-sampai kita terkadang sulit tidur. Kita menginginkan orang yang kita kasihi selamat, bahagia, dan juga dipenuhi kasih. Inilah misteri Tritunggal, misteri kasih.

Maka tidak ada kata lain bagi kita selain bersama-sama dengan Allah yang Esa untuk terus berkarya yang digerakkan oleh kasih. Cirinya sebagaimana ditulis di web Katedral Jakarta adalah,

“Bukan melihat, tetapi terlibat. Bukan memandang, tetapi menyandang. Bukan penikmat (consummers) tetapi produktif berkarya (entrepreneur). FAITH with our Minds, LOVE with our Hearts, SERVICE with our Hands. Beriman dengan nalar sehat. Mengasihi dengan sepenuh hati. Melayani dengan tangan terulur.”

Jadi, masih ragukah dengan iman kita? Masihkah kalian tidak bangga? Kenali dulu iman kita baru bisa bangga. Kalau gak kenal, bagaimana mau sayang. Jangan pergi dulu ya, sebelum kenal dengan imanmu. Yuks, kita hijrah ala-ala kita sendiri.  

*) Bangga Menjadi Katolik adalah tulisan berseri yang mengungkapkan sharing pribadi saya, atas keprihatinan banyak OMK yang tidak mengenal agamanya. Kalau tidak kenal bagaimana mau bangga dan memberikan kesaksian. Bagi saya, mau mengenal Katolisitas adalah bentuk hijrah yang paling nyata, sederhana, mudah, dan memberikan dampak signifikan.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply