Bangga Menjadi Katolik (5): Apakah Baptis Bayi Melanggar HAM?

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Sudah lama menjadi isu bahwa baptisan bayi dalam Gereja Katolik dituduh mempraktikkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Di era milenial, ternyata orang muda Katolik tak lepas dari hal ini. Yuks kita ulas bersama.

Isi baptisan bayi kembali muncul ketika saya membaca Majalah HIDUP No. 27 Tahun Ke-74 Tanggal 5 Juli 2020 dengan Headline “Orang Muda Berkatekese di Dunia Digital.” Di salah satu bagian, disebutkan bahwa salah satu orang muda Katolik yang berkatekese di dunia digital mendapat tanggapan dari netizen soal baptisan bayi yang dianggap melanggar HAM. Alih-alih dia mencoba menjawab, orang muda tersebut malah memilih untuk banyak bersabar dan berdoa di jalan ketekese ini.

Salah satu tantangan berkatekese adalah mempertanggungjawabkan iman. Termasuk dalam katekese digital dengan memanfaatkan media sosial. Caranya adalah mampu menjelaskan apa yang kita yakini benar, termasuk kepada mereka yang memberi feedback. Sekali lagi itulah mengapa sangat penting memahami apa yang kita imani, beragama dengan mengikutsertakan nalar, seimbang antara hati dan nalar, atau istilahnya fides quaerens intellectum.

Apa itu Sakramen dan Sakramen Baptis

Sakramen berasal dari kata Yunani “mysterion” dan Latin “sacramentum,” yang adalah tanda dan sarana keselamatan yang kasat mata dari misteri Allah yang tak kelihatan, dinyatakan dalam Gereja oleh kuasa Roh Kudus (bdk. KGK 774).

Tanda di sini bukan hanya simbol yang mewakili keselamatan, tetapi benar-benar menghadirkan keselamatan itu sendiri secara nyata, di sini dan saat ini. Sakramen yang dilembagakan oleh Yesus Kristus dan dipercayakan kepada Gereja menjadi sarana penyaluran berkat keselamatan kepada kita.

Bahasa sederhananya, sakramen bukan mengenang peristiwa keselamatan yang terjadi 2 ribu tahun lalu. Tetapi, melalui sakramen kita mengimani rahmat keselamatan hadir dan kita terima, sama dengan yang diterima 2 ribu tahun lalu sebagaimana tercantum di dalam Kitab Suci.

Sakramen bukan album foto, tetapi menghadirkan secara nyata orang yang ada di album foto di sini dan saat ini. Hal tersebut dimungkinkan dapat terjadi berkat karya Roh Kudus. Sehingga Gereja mengajarkan bahwa dengan mengambil bagian di dalam sakramen, kita diselamatkan, karena melalui Kristus, kita dipersatukan dengan Allah sendiri. (lih. KGK 1129).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (1): Tanda Salib

Lalu, apa itu Sakramen Baptis? Menurut Emanuel Martasudjita, Pr., sakramen baptis adalah jalan masuk atau sebagai sakramen pertama yang harus diterima seseorang untuk bergabung dengan Gereja dan bisa menerima sakramen-sakramen Gereja yang lain. Dengan sakramen baptis seseorang dimasukkan ke dalam Gereja dan dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah. Bersama Ekaristi, sakramen baptis disebut sacramenta maiora atau sakramen yang dianggap paling besar/ penting.

Sakramen baptis dan Ekaristi punya kedudukan istimewa karena secara eksplisit disebut di dalam Kitab Suci. Itulah juga mengapa, kedua sakramen ini menjadi jembatan eukumenis karena juga diakui oleh Gereja Reformasi yang mengutamakan tradisi eksplisit dalam Kitab Suci.   

Selain ada sacramenta maiora kita juga mempunyai sacramenta minora, atau sakramen-sakramen kecil yang meliputi sakramen krisma, tobat, pengurapan orang sakit, perkawinan dan imamat. Yang pada kesempatan berikutnya akan kita bahas.

Keistimewaan lain dari sakraman baptis adalah bersama dengan sakraman ekaristi dan sakramen penguatan juga disebut sebagai sakramen inisiasi. Artinya, dengan menerima ketiga sakramen tersebut maka seseorang menjadi umat beriman dan warga Gereja yang penuh dan berhak merayakan Ekaristi dengan seluruh peran sertanya yang aktif.

Dengan menerima sakramen baptis, kita akan dibebaskan dari dosa asal, dosa pribadi dan dari hukuman akibat dosa-dosa tersebut. Dengan dibaptis kita mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui “rahmat yang menguduskan” (rahmat pembenaran yang mempersatukan pribadi kita dengan Kristus dan GerejaNya), mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komunio (persekutuan) antar semua orang Kristen sehingga kita menjadi bagian tubuh dari Tubuh Mistik Kristus, dan dimeteraikan secara kekal dalam sebuah meterai rohani yang tak terhapuskan. Materai itu akan tetap ada pada kita walaupun pada suatu ketika kita memilih untuk pindah agama.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (2): Konsep Tritunggal Yang Bikin Repot!

Dosa Asal

Lalu mengapa kita perlu dibaptis? Salah satunya supaya kita menerima keselamatan. Nah, kalau kita dibaptis bayi, masak kita perlu kesemalatan? Kan kita belum berdosa?!

Katekismus Gereja Katolik, 1257 menyebutkan: “Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (bdk. Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (bdk. Mrk 16:16). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh.” Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.”

Dari kutipan di atas, satu kalimat penting yang perlu jadi landasan kita adalah, “Gereja tidak mengenal sarana lain selain baptisan untuk menjamin seseorang masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Namun demikian, baptisan bukanlah tiket terusan untuk masuk ke surga. Baptis tidak berarti otomatis masuk surge. Bukan juga keselamatan bisa direngkuh asal orang percaya atau mengakui ke-Tuhan-an Yesus. Karena pengakuan itupun dilakukan juga oleh setan kepada Yesus, “(setan berkata pada Yesus) “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah,” (Mrk 1:24).

Sakramen baptis adalah gerbang untuk menerima keselamatan. Untuk menggenapinya, orang tersebut harus hidup kudus dengan jalan melakukan semua perintah Tuhan Yesus. 

Gerbang keselamatan karena dengan baptis kita menerima rahmat pembebasan dari dosa asal dan dosa pribadi. Dosa asal ada sejak kita lahir yang merupakan keadaan di mana kodrat kita sebagai manusia lemah, tidak kudus, dan cenderung berbuat dosa sebagai konsekuensi dari dosa manusia pertama Adam dan Hawa.

Di dalam KGK 377 disebutkan bahwa saat awal mula manusia pertama diciptakan Allah, manusia bebas dari kecenderungan jahat yang membuatnya terikat pada kenikmatan inderawi; Saat itu seluruh kodratnya utuh dan teratur. Namun manusia pertama, Adam dan Hawa, oleh karena dosa mereka menurunkan kodrat manusiawi yang terluka — yang mengalami kekurangan keadilan dan kekudusan asal yang diterima dari Tuhan — kepada semua manusia keturunan mereka. Kekurangan tersebut dinamakan “dosa asal” (KGK 416-417).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (3): Bagaimana Menyikapi Artis Mualaf?

Dosa asal tersebut mengakibatkan kodrat manusia menjadi lemah dan dilukai kekuatan alaminya, tetapi kodratnya tidak sepenuhnya rusak (KGK 405). Dosa asal yang dilakukan manusia pertama (Kej 3:1-6) mengakibatkan manusia kehilangan: Rahmat kekudusan dan 4 berkat preternatural, yang terdiri dari keabadian (immortality), tidak adanya penderitaan, pengetahuan akan Tuhan (infused knowledge), keutuhan (integrity), yaitu harmoni antara nafsu kedagingan dan akal budi.

Hilangnya berkat keutuhan menyebabkan manusia kesulitan menundukkan keinginan dagingnya pada akal budinya. Sehingga manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, atau konkupisensi (KGK 405-418).

Nah, baptis bayi adalah anugerah terbesar dari Tuhan kepada kita manusia supaya sesegera mungkin masuk dalam keadaan berahmat, lepas dari dosa asal. Pembaptisan membuat bayi dilahirkan kembali, menjadi ciptaan baru, dan diangkat menjadi anak Allah.

Itulah mengapa di dalam Kitab Hukum Kanonik 867 disebutkan, “Para orangtua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama; segera sesudah kelahiran anaknya, bahkan juga sebelum itu, hendaknya menghadap pastor paroki untuk memintakan sakramen bagi anaknya serta dipersiapkan dengan semestinya untuk itu.”

Kanon ini semakin menegaskan bahwa ada unsur sesegera mungkin seorang bayi untuk menerima keselamatan Allah. Semakin dipertegas dengan kalimat, “Bila bayi berada dalam bahaya maut, hendaknya dibaptis tanpa menunda-nunda (867),” dan “Janin keguguran, jika hidup, sedapat mungkin hendaknya dibaptis (871).”

Sakramen baptis bayi adalah “tugas pertama” bagi orang tua katolik, yang telah menerima sakramen inisasi, dalam menjalankan kewajibannya dalam memberi pendidikan kristiani. Setelah dibaptis, anak dididik sesuai acaran kristiani. Tujuan dari pendidikan kristiani tersebut tidak hanya untuk mendewasakan kepribadian seseorang, tetapi juga untuk mengajak mereka semakin mendalami misteri keselamatan dan semakin menyadari kurnia iman yang telah diterimanya. Dengan demikian, mereka bisa semakin mampu memuji dan meluhurkan Allah dalam hidup mereka sehari-hari.

“Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, orang tua terikat kewajiban amat serius untuk mendidik anak-anak mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak- anak mereka” ((Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis 3, lihat juga KGK 1653 dan Familiaris Consortio 36)).

Dengan demikian, orang tua harus menyediakan waktu bagi anak- anak untuk membentuk mereka menjadi pribadi- pribadi yang mengenal dan mengasihi Allah. Kewajiban dan hak orang tua untuk mendidik anak- anak mereka tidak dapat seluruhnya digantikan ataupun dialihkan kepada orang lain ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio 36, 40)).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (4): Katolik Garis Lucu Vs Kasus Pelecehan Seksual Dalam Teropong Inkarnasi

Baptis Bayi Langgar HAM Anak?

Dari uraian di atas jelaslah bahwa baptisan bayi tidak melanggar HAM anak. Sebagai orang katolik kita percaya bahwa baptis memberikan kita penghapusan dosa, terutama dosa asal bagi bayi. Baptis memberikan rahmat keselamatan bagi bayi. Inilah rahmat istimewa yang Tuhan berikan kepada kita.

Kemudian sebagai orang tua, kita tentu punya kecenderungan untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang kita cintai. Bayi dari hasil perkawinan katolik adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada orang tua yang telah berkomitmen di depan altar. Dan sakramen baptis adalah hadiah terbaik dari orang tua kepada bayinya, karena memberikan keselamatan, diangkat menjadi anak Allah, dan dipersatukan dalam Tubuh Mistik Kristus yang mana Tuhan Yesus sendiri menjadi Kepala.

Setelah dibaptis, orang tua tidak akan berhenti memberikan yang terbaik. Cintanya yang berasal dari cinta Allah akan terus mengalir. Itulah mengapa, bayi akan dididik secara Katolik karena itulah keyakinan terbaik yang (diharapkan) telah menjadi milik orang tuanya. Entah itu dididik dalam nilai-nilai katolik di rumah, disekolahkan di sekolah Katolik, diajarkan moral dan normal sehingga mampu menjadi garam dan terang dunia.

Kita harusnya tidak susah memahami baptisan bayi, dan tidak perlu mempertentangannya dengan pelanggaran HAM.

Jika kita benar-benar mencintai Tuhan Yesus, anak dan keluarga kita, tentunya kita tidak akan kesulitan untuk memahami bahwa baptisan bayi adalah anugerah terindah dari Tuhan!

*) Bangga Menjadi Katolik adalah tulisan berseri yang mengungkapkan sharing pribadi saya, atas keprihatinan banyak OMK yang tidak mengenal agamanya. Kalau tidak kenal bagaimana mau bangga dan memberikan kesaksian. Bagi saya, mau mengenal Katolisitas adalah bentuk hijrah yang paling nyata, sederhana, mudah, dan memberikan dampak signifikan.

Bahan Bacaan: Katolisitas.org, Majalah Hidup, dan Diktat Kuliah Fakultas Teologi Wedhabakti

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply