Nilai Kristiani dalam Prosesi Sangjit

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Kaum muda Tionghoa menjadikan tradisinya sebagai tren. Sangjit, salah satunya. Dalam konteks iman, prosesi sangjit punya makna kristiani.

Secara etimilogis kata sangjit diambil dari bahasa Hokkian sàng-ji̍t. Kata ini kependekan dari sàng-ji̍t-thâu yang berarti “memberi tahu keluarga mempelai wanita tentang hari pernikahan.” Kata sàng sendiri berarti “mengirim” sedangkan ji̍t-thâu punya makna “hari pernikahan.”

Sedangkan menurut KBBI, Sangjit berarti sebuah tradisi pertunangan dari budaya Tionghoa yang mana di acara tersebut pihak keluarga calon mempelai pria menyerahkan berbagai hantaran kepada pihak keluarga calon mempelai wanita.

Baca Juga: Moto Tahbisan Sudah Biasa, Tapi Kalau Moto Perkawinan?

Uniknya, istilah Sangjit hanya ada di Indonesia. Penyebutan Sangjit tidak dikenal di Tiongkok, sebagai asal budaya Tionghoa. Penyebutan Sangjit dipopulerkan oleh etnis Hokkian, yang adalah kelompok etnis Tionghoa terbesar di Indonesia.

Popularitas Sangjit patut diperhitungkan dunia karena Indonesia di tahun 2023 adalah negara dengan jumlah populasi Tionghoa terbanyak di dunia, di luar Tiongkok. Data ini dipublikasikan Goodstats, sebuah media massa yang fokus pada penyajian data. Total ada 11,15 juta penduduk Indonesia beretnis Tionghoa atau setara dengan 4% dari total populasi.

Negara ASEAN mendominasi peringkat atas untuk jumlah populasi Tionghoa di luar Tiongkok. Ada Thailand di urutan kedua dengan 9,7% dari total populasi. Kemudian, Malaysia di posisi ketiga (20,1% populasi). Dan Singapura menutup 5 besar (52,4% populasi).

Sari (kanan) menerima baki dari keluarga calon mempelai pria, disaksikan oleh orangtua calon mempelai wanita, Endra Halim dan Cynthia Iskandar.

Ada lima besar suku Tionghoa yang tinggal di Indonesia. Selain Hokkian, juga ada Haninan, Hakka, Tiochiu, dan Kanton. Suku Hokkian merupakan suku yang berasal dari Fujian yang letaknya di daerah tenggara-selatan Tiongkok. Di Indonesia, suku ini banyak tersebar di Sumatera Utara, Pekanbaru, Padang, Palembang, Jambi, Bengkulu, Bali, Kalimantan khususnya Kutai dan Banjarmasin, Jawa, Sulawesi (Makassar, Manado, dan Kendari), dan Ambon.

Kedua, suku Hainan yang berasal dari kepulauan kecil di Tiongkok bagian selatan. Suku ini banyak tinggal di Pekanbaru, Batam, dan Manado.

Ketiga, suku Hakka yang di Indonesia biasa dikenal dengan bahasa Khek. Suku Hakka yang ada di Indonesia biasanya tersebar di daerah Jakarta, Aceh, Batam, Sumatera Utara, Bangka-Belitung, Palembang, Lampung, Jawa, Kalimantan yakni di Pontianak dan Banjarmasin, Manado, Makassar, Jayapura, dan, Ambon.

Baca Juga: Contoh Buku Misa Perkawinan Katolik

Keempat, suku Tiochiu yang bahasanya termasuk dalam rumpun bahasa Sino-Tibet atau mirip dengan bahasa Hokkian. Mereka berasal dari sebelah utara Provinsi Guangdong dan dekat dengan perbatasan Provinsi Fujian. Suku Tiochiu yang ada di Indonesia tersebar di daerah Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat yakni Pontianak dan Ketapang.

Terakhir adalah suku Kanton yang berasal dari Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong. Di Indonesia, bahasa Kanton sering disebut sebagai bahasa Kongh. Suku Kanton yang ada di Indonesia tersebar di daerah Jakarta, Medan, Makassar, dan Manado.

Latar Sejarah

Karena komunitas Tionghoa sangat besar di Indonesia, baik jika kita sama-sama lihat latar sejarah Sangjit. Saya yang tidak tahu sama sekali, secara mandiri mencari info dengan bantuan teknologi. Sumber yang saya ambil adalah Chinese Text Project.

Website tersebut adalah perpustakaan digital daring yang aksesnya terbuka bagi siapapun termasuk peneliti di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat teks-teks Tiongkok pra-modern. Dengan lebih dari tiga puluh ribu judul dan lebih dari lima miliar karakter, Chinese Text Project ini merupakan basis data teks Tiongkok pra-modern terbesar yang ada.

Sangjit yang kita kenal di Indonesia berasal dari tradisi tradisional Tiongkok yang disebut Guo Da Li (過大禮). Guo Da Li berarti “upacara pertunangan” atau “upacara tukar kado.” Tradisi ini sudah ada sejak Dinasti Zhou.

Dinasti Zhou (1046-256 SM) adalah dinasti yang paling lama bertahan (790 tahun) dalam sejarah Tiongkok dan meletakkan dasar-dasar budaya Tiongkok sampai hari ini. Dinasti ini terbagi menjadi dua periode: Zhou Barat (1046-771 SM) dan Zhou Timur (771-256 SM). Dinasti ini muncul setelah Dinasti Shang (sekitar 1600-1046 SM), dan mendahului Dinasti Qin (221-206 SM, diucapkan “chin”) yang menjadi asal nama Tiongkok.

Wawan (kanan) menerima baki dari keluarga calon mempelai pria, disaksikan oleh orangtua calon mempelai wanita, Endra Halim dan Cynthia Iskandar.

Di antara konsep-konsep Shang yang dikembangkan oleh Zhou adalah Mandat Langit yakni kepercayaan bahwa raja dan keluarga penguasa merupakan mandat yang diberikan oleh Tuhan. Konsep ini memengaruhi politik Tiongkok selama berabad-abad setelahnya dan yang digunakan oleh Keluarga Zhou untuk menggulingkan dan menggantikannya dengan Dinasti Shang.

Dinasti Zhou memberikan kontribusi budaya yang signifikan terhadap pertanian, pendidikan, organisasi militer, sastra Tiongkok, musik, mazhab filsafat, stratifikasi sosial, serta inovasi politik dan agama. Budaya yang mereka bangun dan pelihara selama hampir 800 tahun memungkinkan perkembangan seni dan metalurgi. Beberapa tokoh paling terkenal dalam filsafat Tiongkok muncul di periode ini, di antaranya Konfusius, Mencius, Mo Ti, Lao Tzu, dan Sun Tzu.

Pada masa Dinasti Zhou ini pula ritual pernikahan mendapat bentuk formalnya. Rincian ritual dijabarkan dalam “Book of Rites” (禮記). Secara singkat, setiap calon mempelai yang akan menikah harus melakukan enam ritual pernikahan (六禮 / liù lǐ). Dan, Guo Da Li adalah salah satu dari enam ritual tersebut. Artinya, ritual Sangjit yang kita kenal dewasa ini sudah berusia lebih dari 3.000 tahun.

Book of Rites adalah salah satu dari Lima Kitab Klasik Konfusianisme, yang disusun pada masa Dinasti Zhou. Buku ini dibakukan sekitar abad ke-5 hingga ke-3 SM. Ritual perkawinan menjadi hal penting karena masyarakat di era Dinasti Zhou sangat menekankan keteraturan sosial dan kesakralan dalam setiap hubungan keluarga. Pernikahan tidak sekadar urusan pribadi, tetapi ritual sosial dan politik karena menyatukan dua keluarga dengan tata krama dan simbol moral.

Berikut adalah 6 ritual perkawinan dalam tradisi Tiongkok sebagaimana tercantum di dalam Book of Rites:

No Ritual Istilah Penjelasan
1 Lamaran 納采 (Nà cǎi) Pihak keluarga pria mengirim utusan membawa hadiah untuk menyatakan niat menikah. Biasanya berupa persembahan simbolik seperti teh, sirih, atau hadiah kecil.
2 Menanyakan nama dan tanggal lahir 問名 (Wèn míng) Keluarga pria menanyakan nama dan tanggal lahir calon pengantin perempuan untuk ramalan kecocokan (八字). Tujuannya untuk memastikan harmoni nasib antara kedua pihak.
3 Memastikan Kecocokan (Nà jí) Setelah hasil ramalan dengan metode feng shui/ astrologi menunjukkan kecocokan, keluarga pria mengirimkan “pemberitahuan kabar baik” kepada keluarga perempuan, menandakan hubungan resmi. Kata “吉” berarti keberuntungan.
4 Pemberian Hadian 納徵 / 納幣 (Nà zhēng / Nà bì) Tahap ini yang kita bahas, yakni disebut juga dengan Guo Da Li (過大禮). Ritual ditandai dengan penyerahan dan upacara pertunangan resmi. Hadiah ini mewakili rasa hormat dan komitmen keluarga pria.
5 Menentukan Tanggal Perkawinan 請期 (Qǐng qī) Kedua keluarga menentukan tanggal pernikahan berdasarkan perhitungan feng shui atau kalender lunar agar membawa keberuntungan dan keharmonisan.
6 Upacara Penjemputan Pengantin 親迎 (Qīn yíng) Hari pernikahan menjadi ritual terakhir. Di sini, mempelai pria datang menjemput mempelai wanita secara resmi ke rumahnya. Disertai ritual penghormatan kepada leluhur, sujud hormat antar-pasangan, dan jamuan pernikahan.

Enam ritual pernikahan (六禮 / liù lǐ) ini bukan sekadar formalitas, tetapi cerminan beberapa nilai, yakni: 禮 (Lǐ) (tata krama, penghormatan, dan keteraturan sosial); 孝 (Xiào) (bakti kepada orang tua, karena restu mereka menjadi pusat); 信 (Xìn) (kejujuran dan kesetiaan antar dua keluarga); 和 (Hé) (harmoni antara langit, bumi, dan manusia). Dengan mengikuti keenam ritual tersebut maka pernikahan dianggap diberkati oleh langit (天) dan diterima secara sosial.

Menurut tradisi Tiongkok di atas, Sangjit atau Guo Da Li dilakukan setelah lamaran (Nà cǎi). Namun dalam praktiknya di Indonesia, Sangjit sering dihapuskan atau dikombinasikan dengan lamaran. Sangjit biasanya diadakan antara 1 bulan hingga 1 minggu sebelum resepsi pernikahan dan berlangsung antara 11.00 dan 13.00 dan ditutup dengan makan siang bersama. Jika dilihat makna dari tradisi aslinya, baik jika calon pengantin dapat mengikuti semua ritual secara utuh.

Pety dan Andri (tengah) berfoto bersama keluarga masing-masing.

Sangjit Pety dan Andri

Tulisan ini muncul karena tersentil oleh prosesi Sangjit keponakan yang bernama Patricia Andriani Halim alias Pety. Dia akan dipersunting oleh kekasihnya Andrian Lukito Gandawijaya alias Andri. Mereka mengadakan Sangjit pada hari Sabtu 18 Oktober 2025 di Restoran Bungarampai, Jakarta Pusat.

Prosesi Sangjit ini menjadi sangat istimewa, setidaknya bagi saya. Makin istimewa, ternyata tidak semua dari keluarga melakukan Sangjit dan paham prosesi ini. Itulah mengapa saya mencoba mencari literatur terkait Sangjit dan merefleksikan dalam iman Katolik.  

Saya akan sedikit menjelaskan siapa saja yang terlibat di dalam prosesi dan sedikit gambaran jalannya prosesi. Seperti telah disebut di awal, bintang di acara ini adalah Patricia Andriani Halim dan Andrian Lukito Gandawijaya.

Orangtua Pety adalah Endra Halim dan Cynthia Iskandar. Sedangkan orangtua Andri adalah Alm. Soenoto Oentong dan Lanni Sandra Winata. Ada beberapa pihak keluarga yang dilibatkan untuk membantu memperlancar prosesi Sangjit.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (5): Apakah Baptis Bayi Melanggar HAM?

Ada Gandi Sulistiyanto yang hadir sebagai perwakilan keluarga mempelai pria untuk Tradisi Ketuk Pintu, yang menandai prosesi pengiriman hantaran seserahan dari pihak pria kepada pihak wanita. Gandi juga menjadi perwakilan keluarga mempelai pria untuk memberikan kata sambutan.  

Sedangkan perwakilan keluarga mempelai wanita yang akan menerima keluarga pria adalah Karnadi. Sedangkan perwakilan keluarga mempelai wanita untuk menyampaikan kata sambutan Endra Halim, ayah Pety. Dan Anggraini Winata dipercaya untuk memimpin doa makan.

Salah satu tahapan penting dalam Sangjit adalah serah terima hantaran. Di dalam Sangjit Pety dan Andrian ini juga terdapat hantaran yang dibalut dalam 8 baki dan 2 keranjang.  Berikut adalah daftarnya:

Baki 1 terdiri dari perhiasan (kalung, anting, cincin, gelang), uang susu, dan uang pesta; Baki 2 (2 botol sparkling wine dan 2 pasang lilin sangjit); Baki 3 (kalengan buah & kalengan babi @6/8 pcs); Baki 4 (kue khas sangjit terdiri 3- 5 jenis @8/12/16 pcs); Baki 5 (misua @ 12/16 pcs); Baki 6 (perlengkapan calon mempelai wanita); Baki 7 (perlengkapan kecantikan calon mempelai wanita); Baki 8 (kue basah seperti lapis legit/ kue mangkok/ bakpao); Keranjang apel 12/16 pcs; Keranjang jeruk 12/16 pcs.

Mereka yang dipercaya untuk membawa baki adalah Windi, Fajar, Ncek Cun, Tante Yuni, Ncek Can, Tante Eva, Tuwaku, Tuwakim, Guntoro, dan Sikoh Meilie. Sedangkan mereka yang menerima adalah Hilda, Agus Wawan (saya sendiri), Sari, Denny, Jenny, Hetty, dan Winata. Untuk keranjang kembali diterima oleh Hilda dan Sari.

Sanjit yang Kristiani

Seserahan dalam Sangjit menunjukkan keseriusan keluarga pria. Ia menandakan bahwa pernikahan bukan hubungan main-main, tetapi komitmen dua keluarga. Dalam budaya Tionghoa kuno, perempuan meninggalkan keluarganya setelah menikah. Maka seserahan adalah bentuk terima kasih dan penghargaan kepada keluarga yang telah membesarkannya.

Tiap item seserahan membawa makna keberuntungan (吉祥 / jíxiáng): panjang umur, rezeki, kesuburan, dan keharmonisan. Ketika keluarga perempuan mengembalikan sebagian hadiah (回禮 / huí lǐ), itu melambangkan keseimbangan dan saling menghormati, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Berikut adalah isi seserahan dengan maknanya. Ada teh sebagai simbol penghormatan dan kesopanan. Teh ini kelak dipakai juga dalam upacara minum teh saat pernikahan. Kue manis melambangkan kehidupan manis dan kebahagiaan yang utuh. Arak atau anggur simbol perayaan, sukacita, dan kesetiaan abadi. Buah jeruk melambangkan keberuntungan, apel simbol damai, dan delima lambang kesuburan.

Uang dan materi dalam seserahan tidak dimaksudkan berapa banyak, tetapi tanda tanggung jawab dan komitmen dari pihak pria. Kain atau pakaian adalah simbol penyatuan dan kemakmuran rumah tangga baru. Sedangkan lilin merah menjadi wujud mengundang restu leluhur dan keberkahan dari Tuhan.

Baca Juga: To Love Another Person, is To See The Face of God

Dengan demikian, makna seserahan dalam Sangjit atau Guo Da Li adalah “Persembahan hormat, kesungguhan cinta, dan ikatan dua keluarga yang direstui leluhur dan diberkati oleh Tuhan.”

Dari begitu banyak simbol dalam Sangjit, seserahan atau penyerahan hadiah bisa mendapat makna spiritual dalam terang iman Katolik. Seserahan dari pihak pria menunjukkan persembahan diri secara utuh kepada calon pasangannya. Persembahan itu tidak sebatas materi, tetapi dirinya sendiri yang diserahkan sebagai bentuk cinta dan komitmen. Persembahan itu pun diterima dan ditanggapi dengan penyerahan kembali sebagian oleh pihak wanita.

Prosesi seserahan itu mencerminkan kurban Kristus kepada Gereja secara utuh. Kristus menggenapi penyerahan diri-Nya sebagai sebuah komitmen akan cinta yang tulus kepada umat manusia. Sedangkan kita umat-Nya, menanggapi komitmen itu dengan penuh cinta dalam iman dan rasa syukur.  

Dalam terang iman Katolik, kita bisa memaknai prosesi seserahan sebagai bentuk ikatan perjanjian cinta antara Allah dan manusia. Inilah momen kontemplatif untuk memaknai kasih Allah yang menyatukan dan memberkati sebagaimana terwujud nyata dalam jalinan kasih Pety dan Andrian. “Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:14).

Keluarga besar Pety berfoto bersama setelah prosesi sangjit selesai dilakukan.
Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply