Pemimpin agama kerap jadi sasaran kritik, terutama menyangkut uang, etika, dan seksualitas. Kenapa kritik itu sampai terlontar?
Refleksi ini lahir, salah satunya karena muncul berita Boikot Trans 7. Tokoh Islam terutama dari kalangan santri, alumni, dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) marah karena sebuah segmen dari salah satu program Trans 7 dianggap menyinggung martabat Pondok Pesantren Lirboyo. Namun, isu Trans 7 hanya percikan api dari bara yang telah lama membuat saya gelisah.
Menurut saya, kasus boikot Trans 7 bukan barang baru. Jauh sebelum peristiwa ini, ada begitu banyak riak kritik yang ditujukan kepada para pemuka agama. Bukan hanya pemuka agama Islam, tetapi juga agama lain seperti Kristen Protestan, Hindu, Budha, bahkan dan terutama para klerus yakni pemimpin umat Katolik.
Baca Juga: Beberapa Pastor Lupa, Mereka Dipanggil Meneladani Santo Yosef di Masa Pandemi
Banyak di antara kritik tersebut disampaikan dengan tidak baik bahkan mengarah ke fitnah. Kasus boikot Trans 7 masuk dalam ranah ini, sekalipun berlindung di dalam jubah produk jurnalistik. Walau tujuannya baik, tetapi jika disampaikan dengan cara yang salah dan menggunakan cara yang tidak benar, maka tujuan tersebut tidak bisa diterima. Tujuan tidak pernah menghalalkan cara!
Lepas dari cara yang dipakai, saya punya pertanyaan besar, mengapa umat beragama berani melontarkan kritik kepada pemimpin agamanya? Saya punya asumsi, kritik tersebut sebagian besar disampaikan umat kepada pemimpinya, bukan lintas agama. Kok mereka berani!?! Lalu pertanyaan berikutnya, mengapa isu kritik yang dilontarkan sebagian besar soal pengelolaan uang, gaya hidup, dan perilaku seksualnya. Mereka fokus pada hal dunia, dan di sisi lain hampir tidak ada yang menyentuh bidang ajaran yang disampaikan pemimpin agamanya. Ada apa ini?
Dalam refleksi saya, riak bahkan gelombang kritik yang mengemuka senyatanya bentuk ekspresi umat terhadap mimpi mereka terhadap sosok pemimpin agama yang ideal. Nurani, logika, dan kemanusiaan mereka kerap tersenggol ketika pemimpin agamanya berlaku tidak sesuai dengan idealisme mereka. Sayangnya, banyak di antara mereka tidak sampai pada pengungkapan konkret apa yang mereka inginkan. Ekspresi yang muncul berupa kemarahan, kebencian, bahkan ada yang memilih meninggalkan kepercayaannya.
Pemimpin Ideal Kayak Apa Sih?
Lagi-lagi, isu Boikot Trans 7 menjadi momen baik bagi saya merefleksikan bagaimana sosok ideal pemimpin agama saya. Karena saya beragama Katolik, saya coba melihat dari sosok Yesus. Paus yang adalah pemimpin tertinggi umat Katolik adalah penerus Rasul Petrus. Murid Yesus itu mendapat perintah untuk memimpin, mengatur, dan menjaga ajaran Gereja agar tetap setia pada kehendak Sang Guru.
Apa yang Guru kehendaki? Mari kita lihat apa saja keteladanan Yesus yang harus dimiliki pemimpin umat Katolik. Pertama, pemimpin agama bukan soal status gagah-gagahan. Siapa yang berani menjadi pemimpin, dialah seorang pelayan bagi umat Allah. Pemimpin agama datang bukan untuk minta dilayani. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26-28).
Baca Juga: Moto Tahbisan Sudah Biasa, Tapi Kalau Moto Perkawinan?
Kedua, pemimpin agama menurut pedoman Yesus sangat jelas, harus berlandas kasih inklusif. Dalam bertindak, pemimpin agama tidak boleh terbelenggu oleh batas agama, sosial, suku, dan status. Semua dilayani dalam kasih Tuhan. Wong yang memusuhi aja harus dikasihi juga. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44)
Ketiga, pemimpin agama harus taat dan berserah pada kehendak Allah. Ini tidak mudah, karena memutuskan sesuatu kehendak Tuhan atau bukan, tidak sekadar mengikuti aturan plek ketiplek. Pemimpin agama Katolik sudah terlatih untuk melakukan discretio secara terus menerus. Istilah dari kata Latin tersebut sering diterjemahkan sebagai “kebijaksanaan rohani” atau “kemampuan membedakan mana kehendak Allah dan mana yang bukan.” Mari lihat salah satu landasan Alkitabnya, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10).
Keempat, pemimpin agama harus hidup sesuai dengan ajaran yang ia sampaikan. Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi juga melalui teladan hidup yang nyata. Dengan demikian, Firman yang diwartakan menjadi hidup dan tinggal di dalam setiap orang yang mendengarnya. “Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius 7:29).
Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (4): Katolik Garis Lucu Vs Kasus Pelecehan Seksual dalam Teropong Inkarnasi
Kelima, pemimpin agama harus punya prioritas kepada mereka yang terpinggirkan, tidak punya akses, menderita, dan pendosa. Keteladanan Yesus sangat jelas, saat Ia tanpa sungkan duduk makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. “Anak Manusia datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Markus 2:17).
Keenam, pemimpin agama harus punya keberanian untuk berkorban demi keselamatan umat. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” adalah kutipan populer dari Yohanes 10:11.Inilah poin strategis dari pemimpin umat Katolik, karena dari sinilah maka Gereja mewarisi banyak keteladanan dari para santo, santa, dan para martir. Jangan sampai ada pemimpin umat yang justru mengorbankan umatnya demi cari selamat sendiri atau kelompoknya!
Tiga Kaul
Keteladan Yesus untuk para pemimpin agama Katolik tentu lebih dari enam poin. Namun, semua poin tersebut saya melihat ada hubungan langsung terhadap tiga janji atau kaul yang diucapkan oleh pemimpin agama Katolik.
Dalam tiap ordo dan kongregasi, tiga kaul ini ada yang berbeda istilah atau sedikit modifikasi. Tetapi umumnya semua ordo dan kongregasi yang menaungi pemimpin agama Katolik terikat untuk hidup dalam 3 kaul, yakni ketaatan, kemiskinan dan kemurnian.
Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (9): Santo Santa Versus Artis Mualaf
Dengan hidup taat, pemimpin agama Katolik menyerahkan kehendak pribadinya untuk menaati kehendak Allah dan bimbingan Gereja. Lagi-lagi Yesus memberikan teladan, bagaimana dia yang adalah Tuhan punya ketaatan sempurna kepada kehendak Bapa-Nya. “Bapa, bukan kehendak-Ku yang jadi, melainkan kehendak-Mu” (Lukas 22:42). Praktik sederhananya, apa yang dilakukan dan pikirkan oleh pemimpin agama adalah hanya untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk mengejar ambisi pribadi, biar dipuji, diterima, dan seterusnya.
Taat kepada kehendak Tuhan berarti harus mau melepaskan keterikatan pada harta duniawi. Pemimpin agama tidak punya harta pribadi yang melekat pada dirinya. Mereka juga hidup sederhana agar lebih bebas melayani Tuhan dan sesama. “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20).
Seorang pemimpin agama Katolik yang mengucapkan kaul kemiskinan meneladani Yesus yang datang bukan untuk mencari harta, benda, kemewahan. Maka tidak masuk akal jika ada pemimpin agama Katolik yang koleksi jam mewah, punya harta atas nama pribadi, dan kemelekatan duniawi lainnya.
Baca Juga: Surat Terbuka untuk KWI Setelah Kematian Paus Fransiskus
Kesederhanaan akan membantu para pemimpin agama fokus pada pelayanan. Mereka akan makin mengarahkan hidup mereka pada panggilan Allah jika hati tidak terikat pada pernikahan duniawi. Di sinilah peran kaul kemurnian.
Seorang pemimpin agama Katolik menjadikan seluruh hidupnya sebagai persembahan bagi Allah dan umat, bukan untuk kepentingan pribadi. “Ada orang yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan Sorga” (Matius 19:12).
Kritik
Apakah pemimpin agama Katolik yang mengikuti teladan Yesus Kristus lepas dari kritik? Jelas tidak! Apalagi jika para pemimpin umat melenceng. Ada banyak kasus yang menjadi sasaran kritik seperti pemimpin yang menggelapkan dana, melakukan pelecehan seksual termasuk pada anak-anak, punya pasangan diam-diam bahkan sampai punya anak, sampai pelayanan yang pilih kasih.
Saya mengklaim, konsep pemimpin dalam Gereja Katolik sudah sangat baik dan mendekati harapan seluruh umat. Namun demikian, hal tersebut tidaklah sempurna karena dijalankan oleh manusia yang melekat dengan dunia. Menurut ajaran Gereja Katolik, manusia diciptakan baik dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:27), tetapi dosa asal telah merusak kesempurnaan itu.
Artinya apa? Artinya, setiap manusia termasuk para pemimpin agama Katolik, juga punya kecenderungan pada kelemahan dan dosa (concupiscentia). Itulah mengapa, dengan segala kerendahan hati, Gereja mengakui bahwa kita tidak akan pernah mampu mencapai keselamatan hanya dengan kekuatan sendiri.
Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (8): Agama Terbuka yang Menerima LGBT dan Tato
Mari kita baca Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Namun, ketidaksempurnaan manusia bukan untuk dicela, tetapi diakui! Dengan kesadaran itu, kita manusia termasuk para pemimpin agama sadar akan kebutuhan rahmat Allah.
Karena manusia tidak sempurna, Allah membuka jalan pertobatan sebagai sarana pemulihan. Kita sebagai manusia diminta untuk secara terbuka untuk mau dan bersedia berproses terus-menerus. “Panggilan Yesus kepada pertobatan tidak berhenti bergema dalam hidup orang Kristen. Pertobatan adalah tugas seumur hidup seluruh Gereja yang suci namun selalu membutuhkan penyucian” (Bdk. Katekimus Gereja Katolik 1428).
Salah satu wujud konkret pertobatan dalam Gereja Katolik adalah Sakramen Tobat. Melalui sakramen ini, umat mengakui ketidaksempurnaannya di hadapan Allah. Dalam sakramen ini, kita jugamenerima pengampunan dan kekuatan untuk memperbaiki diri.
Baca Juga: The Last Supper, Film Tentang Siapa Diri Kita
Kita punya pemimpin agama dengan garis keteladanan yang jelas, namun dalam praktiknya banyak ditemui ketidaksempurnaan. Mari kita kritik praktik yang tidak benar dengan cara yang benar, supaya kita sebagai umat Allah berjalan bersama menuju pada kesempurnaan.
Dalam pandangan Katolik, kesempurnaan bukan berarti tanpa dosa, tetapi kesetiaan untuk bangkit kembali setiap kali jatuh. Yesus memanggil orang berdosa, bukan orang sempurna. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat” (Lukas 5:32).
