Trauma masa kecil, sederet kemalangan, dilecehkan, dan ditolak keluarga karena memeluk Katolik justru menguatkan peran Allah.
Sekitar 3 tahun yang lalu saya kali pertama mengenal Aurelia Istinah, melalui email dan WhatsApp. Cukup kaget, walau orang Indonesia tetapi menetap di Montreal, Kanada. Lebih terkejut lagi ketika dia ingin mengajak saya dalam proyek bukunya.
Lemparan kepercayaan yang cepat saya sambut. Posisi yang ia tawarkan kepada saya adalah editor untuk sebuah naskah autobiografi. Dia menulis perjalanan hidupnya, dari awal sampai dia memulai biduk rumah tangga.
Baca Juga: Buku Kartun Sebagai Alat Kampanye Kreatif Berkelanjutan
Selesai membaca naskahnya, kesan yang saya dapat seperti membaca novel. Kisah hidup yang sepertinya hanya ada di dunia maya, tetapi ini nyata dalam diri Aurelia. Hidup yang mungkin tidak semua orang bisa memaknainya. Hidup kelam yang tidak semua mampu bangkit dan memberi asa bagi banyak orang. Tapi Aurelia dimampukan untuk bisa bersaksi melalui kisah hidupnya.
Berikut adalah kesan dan catatan yang saya buat di buku setelah menyelesaikan proyek buku ini. Bagi kebanyakan orang, hidup yang tenang dan nyaman menjadi dambaan. Walau hal itu dicapai dengan menerima keadaan. Memilih jalan lain, belum tentu membuat hidup menjadi lebih baik. Biarlah, apa yang ada dijalani saja. Sikap ini semakin membuat kita enggan beranjak dari zona nyaman. Hati dan pikiran selalu diyakinkan bagaimana pahitnya menerima kegagalan. Bayang kekecewaan semakin menciutkan nyali.
Rasanya, inilah yang dialami oleh para murid saat kapal mereka bergelora oleh angin kencang (lih. Yohanes 6:16-21). Mereka sedang dalam perjalanan ke Kapernaum. Mereka pergi sampai hari gelap, yang menggambarkan bagaimana mereka sedang meninggalkan kenyamanan. Saat angin kencang datang, mereka takut. Ketakutan itu menetap sekali pun mereka berjumpa dengan Yesus. Lihat bagaimana susahnya kita meninggalkan zona nyaman. Tapi Yesus tetap datang. Ia berjalan di atas air dan menghampiri mereka.
Baca Juga: Buku Jawa Timur Menyongsong 2045
“Aku ini, jangan takut!” kata Yesus. Dan seketika tujuan para murid sudah sampai. Perjalanan para murid yang dikisahkan Yohanes ini menggambarkan perjalanan hidup kita. Hidup yang terkadang penuh keraguan, ketakutan, namun sekaligus ada harapan.
Sikap ragu dan takut kerap membuat kita bertanya, “Sampai kapan hidupku berubah? Kapan janji-Mu terpenuhi? Mengapa semua ini bisa terjadi?” Rasanya tujuan hidup kita tidak sampai-sampai.
Jika kita bertekun seperti para murid, pada satu saat Tuhan akan datang. Dia menghampiri kita, mendamaikan hati kita, membukakan jalan, dan akhirnya menuntun kita pada tujuan hidup yang sesungguhnya.
Saya merasa, Aurelia Istinah adalah salah satu murid Yesus yang ada di kapal tersebut. Sejak kecil dia sudah ingin melakukan perjalanan. Ia bertekad mencari kebenaran, baik hidup ragawi maupun rohani. Konsekuensinya jelas, ia harus meninggalkan kenyamanan.
Baca Juga: Buku Melayani dalam Sunyi. Refleksi Hidup Seorang Pelayan
Keputusannya untuk berlayar, membuatnya berkali-kali dihantam ombak. Bahkan di beberapa kesempatan ia harus menambal layarnya. Di lain hari, mau tidak mau ia menambal sisi kapal yang menganga.
Satu keyakinan yang selalu ia pegang, “Aku sudah memilih Tuhan Yesus, pasti Ia akan memberi jalan” (bdk. Yoh 14:6; Yoh 14:14).
Jatuh bangun hidup Aurelia tidak dibiarkan begitu saja. Secara sadar, ia merefleksikan semua hidupnya dalam terang Allah. Selalu ada kehendak-Nya di setiap peristiwa yang dia alami. Keyakinan itulah yang membuatnya ada seperti saat ini.
Hidup bersama Tuhan dimaknai sebagai deep learning. Ada banyak faktor yang mendukung pembelajaran tersebut. Pertama, jelas soal motivasi yang besar dari Aurelia. Berikutnya faktor determinasi yang tinggi dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Dan yang terakhir adalah tujuan hidup yang jelas.
Isi pergulatan Aurelia hanya satu. Yaitu, melimpahnya kasih Tuhan. Sampai satu titik, Aurelia berpikir untuk membagikan kasih Tuhan itu kepada orang lain. Caranya adalah dengan menulis autobiografi.
Baca Juga: Buku Lemhanas: Indonesia Menuju 2045
Tidak seperti autobiografi lainnya, buku ini menyisipkan beberapa hal soal pembelaan iman. Perjalanan hidup Aurelia diwarnai benturan iman oleh mereka yang berbeda keyakinan. Keputusannya pindah agama menjadi Katolik membuat benturan itu makin kencang. Maka, di dalam buku ini ada bagian Aurelia menjelaskan tentang imannya.
Dalam ajaran iman Katolik, pembelaan iman ini disebut dengan apologetik. Secara umum, apologetik adalah cara seseorang untuk memahami, menjelaskan, dan mempertahankan iman Katolik dengan menyampaikan argumentasi secara rasional terhadap pernyataan yang bernada menyerang keyakinan iman Katolik. Contoh pernyataan itu misalnya, “Orang Katolik kafir karena mereka menyembah tiga tuhan!”
Tak heran buku ini tampak seperti buku spiritual. Tidak salah, memang. Namun ada sisi lain yang juga diungkap Aurelia, yakni sisi psikologinya. Aurelia tak sungkan mengungkap kondisi mental dan emosinya di setiap jenjang kehidupan. Khususnya di masa anak-anak.
Baca Juga: Buku Trans Papua: Tak Sekadar Mengaspal tetapi Membangun Konektivitas Budaya
Tak mudah bagi Aurelia kecil untuk bisa menyelami kehidupan. Wajah ceria anak-anak dan senyum kehangatan di tengah keluarga tak ia dapatkan seperti anak-anak lainnya. Namun dia mampu melewatinya, bahkan menjadikan pengalaman masa kecil sebagai pondasi hidupnya. Itulah mengapa dalam tata letak buku ini ada desain bunga kertas, yang menjadi mercusuar perjalanan hidup Aurelia selanjutnya.
Akhirnya, kami berharap buku ini dapat memberikan inspirasi hidup dan spiritual. Bagi Aurelia sendiri, buku ini menjadi pengingat akan besarnya kasih Tuhan dalam hidupnya. Kasih Tuhan yang melahirkan tanggung jawab untuk selalu berjalan dalam terang-Nya.
Tentang Buku:
Judul: Aku yang Dipanggil Cenil. Jatuh Bangun Seorang Baptisan Dewasa.
Halaman: 288 hlm.
Penerbit: Kanisius
Tahun Terbit: 2025
Harga Cetak: Rp150.000,00
Harga E-book: Kanisius, Gramedia, Google
