Beberapa Pastor Lupa, Mereka Dipanggil Meneladani Santo Yosef di Masa Pandemi

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Tahun 2021 menjadi berkat. Di tengah krisis Pandemi Covid-19, Gereja mengajak kita semua untuk meneladani Santo Yosef, Suami Maria dan Ayah Yesus. Namun sayang, beberapa Pastor lupa bahwa mereka dipanggil meneladani Santo Yosef di tengah Pandemi ini.

Nyaris sepanjang tahun 2020 kita menghadapi virus Covid-19 yang membatasi semua ruang gerak kita. Bahkan kegiatan peribadatan pun harus dihentikan dan dibatasi secara ketat. Namun, ada beberapa kejadian yang membuat saya marah terhadap oknum pastor.

Pertama, teman saya mencari pastor untuk mendoakan temannya yang meninggal. Teman saya ini cukup banyak kenal pastor. Setelah sekian banyak pastor dihubungi, hasilnya tidak ada yang mau. Alasannya, masa pandemi! Akhirnya ada satu pastor di biara yang mengiyakan, setelah dia tahu tidak ada pastor di paroki yang bersedia.

Kedua, tetangga saya ada yang kritis karena kanker. Sudah tes PCR di rumah sakit, dan negatif. Dia saat itu di rumah, setelah beberapa waktu dirawat di Rumah Sakit. Lalu dipanggilah pastor paroki. Melalui sekretariat, ternyata tidak bisa. Lagi-lagi karena pandemi. Kawan di Lingkungan, mencoba japri ke oknum pastor. Jawabannya sama. Tapi dengan tambahan, “Bisa dengan syarat. Yang bersangkutan dan anggota keluarga, serta yang mendampingi doa harus swab dulu (tes PCR).”

Tetangga saya itu tinggal di gang sempit. Orang yang secara ekonomi lemah. Manalah bisa memenuhi persyaratan tersebut. Nah, di kesempatan yang bersamaan, ada lagi tetangga yang juga sakit kritis. Dia Protestan. Lalu keluarganya menghubungi pendeta untuk minta didoakan. Tidak lama kemudian, Sang Pendeta datang. Bagi saya, peristiwa ini pasti membuat perang batin warga di gang sempit padat penduduk.

Walau Pastor tidak mau datang, beberapa pengurus lingkungan tetap datang. Mereka berdoa bersama dengan penuh keyakinan. Mereka tidak mengerti teologi, tetapi sadar bahwa tetangga kami ini merindukan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, rindu didoakan, jiwanya rindu untuk dipeluk. Untuk yang tahu teologi, pastinya tahu apa yang semestinya dilakukan seorang pastor saat dihubungi ada umat yang memerlukan sakramen pengurapan orang sakit.

Tidak lama kemudian, sekitar seminggu, tetangga kami itu pun meninggal. “Mami percaya kok, walau tidak ada doa pastor, dia pasti masuk surga,” kata mertua saya dengan nada tinggi.

Di sisi lain, saya pun mendengar bahwa pelayanan sakramen tetap berjalan bagi orang tertentu. Yang satu karena pengurus Gereja, kaya raya, dan tentunya donatur. Di keuskupan lain, cerita serupa pun terdengar. Lagi-lagi karena donatur. Di tempat lain, juga ada. Kali ini karena yang bersangkutan punya keluarga pastor. Padahal, yang dilayani positif covid-19. Apa artinya semua ini???

Walau kejadian ini di tahun 2020, tetapi rasa kecewa saya masih ada. Logikanya sangat sederhana, Dokter dan Pastor adalah dua profesi yang mirip. Yang satu melayani fisik manusia dan yang satu lagi adalah dokter jiwa yakni pelayan rohani atau jiwa-jiwa. Keduanya adalah profesi, artinya, mereka dipanggil menjalani tugas mereka sebagai seorang profesional, sesuai dengan profesi mereka, menjadikan itu sebagai panggilan hidup, amanah, dan seterusnya. Artinya, walau mereka itu dosen, fotografer, selebgram, ketua yayasan, kepala sekolah, pengamat ini dan itu, budayawan, atau apapun itu, tetapi panggilan mereka adalah seorang Dokter dan Pastor. Titik!

Seseorang yang menjalani panggilan profesionalitasnya dengan dedikasi tinggi, tentu menuntut konsekuensi. Para dokter dan petugas kesehatan pontang-panting melayani pasien Covid-19 yang terus membludak. Tidak sedikit yang tidur di rumah sakit, ditolak pulang ke kosan, bahkan kalau pun pulang ke rumah harus jaga jarak secara ketat dengan anggota keluarga.

Bahkan, tidak sedikit tenaga kesehatan yang meninggal karena terpapar Covid-19. Berdasarkan data yang dirangkum oleh Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dari Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Jumlah 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat tersebut terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medik. Angka itu tertinggi di Asia dan masuk lima besar dunia.

Sedih, bangga, sekaligus salam hormat kepada mereka yang telah wafat dalam menjalankan profesionalitas mereka. Tanpa lelah mereka melayani manusia secara nyata. Bersentuhan dengan para pasien Covid-19 setiap hari, mengobati, memberikan semangat, memotivasi mereka yang kehilangan harapan, tanpa kita tahu pergolakan yang ada di fisik dan hati para tenaga kesehatan.

Bagaimana dengan profesionalitas pastor? Menurut saya, tidak masuk akal pelayanan sakramen yang menjadi inti profesionalitas pastor harus berhenti. Para pastor bisa mengenakan APD lengkap, mendatangi mereka yang membutuhkan pelayanan (supaya tidak ada kerumunan), terapkan protokol kesehatan, tidak berlama-lama. Pulang ke pastoran, kembali terapkan protokol kesehatan. Untuk urusan fisik, kiranya para pastor tidak berkekurangan untuk konsumsi makanan sehat dan fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (5): Apakah Baptis Bayi Melanggar HAM?

Tahun Santo Yosef

Catatan kritis saya ini sudah lama ingin saya ungkap dalam tulisan. Sayang saya hanya mampu bercerita ke beberapa teman dan dua orang pastor. Ternyata, tampaknya Tuhan menginginkan saya untuk mengaitkan pengalaman saya ini dengan keteladanan Santo Yosef.

Bapa Suci Paus Fransiskus mencanangkan “Tahun Santo Yosef” mulai 8 Desember 2020 hingga 8 Desember 2021. Hal tersebut dilakukan Paus untuk memperingati 150 tahun deklarasi Santo Yosef sebagai Pelindung Gereja Semesta oleh Beato Paus Pius IX, sekaligus mengeluarkan Surat Apostolik “Patris corde” (“Dengan Hati Seorang Bapa”).

Dalam surat apostoliknya tersebut, Paus Fransiskus menempatkan keutamaan Santo Yosef di tengah situasi pandemi Covid-19. Ia menginginkan kita semua meneladani Santo Yosef di dalam menghadapi situasi yang tidak mudah ini.

Santo Yosef oleh Paus digambarkan sebagai “orang yang kehadirannya sehari-hari tidak diperhatikan, bijaksana dan tersembunyi”, yang meskipun demikian memainkan “peran yang tak tertandingi dalam sejarah keselamatan.” Gambaran ini ada pada orang-orang di sekitar kita, orang-orang biasa dan tidak menonjol, namun melakukan sesuatu dalam diam untuk orang lain di tengah pandemi.

Hidup kita, Paus menuliskan, dijalin bersama dan ditopang oleh orang-orang biasa yang biasanya dilupakan, yang tidak muncul pada berita-berita, atau tampil di tempat pertujukkan, tetapi mereka ini tak diragukan lagi sedang menulis peristiwa-peristiwa sejarah yang menentukan kita saat ini. Mereka ini antara lain para dokter, perawat, penjaga toko dan pekerja supermarket, petugas kebersihan, pengasuh, pekerja transportasi, para penegak hukum, relawan, pastor, biarawan- biarawati, dan banyak lagi lainnya yang telah memahami bahwa tak seorang pun bisa diselamatkan sendirian.

Bahkan termasuk juga di antaranya, bapak, ibu, kakek-nenek, sampai para guru menunjukkan kepada anak-anak kita, melalui sikap-sikap kecil sehari-hari, bagaimana menghadapi krisis dan melewatinya dengan menyesuaikan kembali kebiasaan, mengusahakan dan mendorong praktik doa. Betapa banyak orang berdoa, berkorban, dan mendoakan demi kebaikan semua orang.

“Santo Yosef mengingatkan kita bahwa yang tampaknya tersembunyi atau di ‘barisan kedua’ memiliki peran tak tertandingi dalam sejarah keselamatan. Kata pengakuan dan penghargaan ditujukan kepada mereka semua,” ungkap Paus.

Secara ringkas, Paus menggambarkan Santo Yosef sebagai bapa yang lembut dan penuh kasih, bapa yang punya ketaatan, bapa yang menerima, bapa yang secara kreatif serta pemberani, serta bapa yang sedang bekerja dalam diam.

Paus menyebut ada banyak pihak dengan ragam profesi yang bisa menjadi Santo Yosef di tengah pandemi. Mereka bekerja dalam diam melayani orang lain dengan penuh kasih sesuai dengan panggilan hidup yang dijalani. Termasuk di dalamnya adalah profesi sebagai Pastor.

Menurut saya, profesi sebagai Pastor punya peran strategis dalam konteks menjalankan deklarasi “Tahun Santo Yosef” dengan landasan Surat Apostolik “Patris corde.” Mereka menjadi garda terdepan dalam mengejawantahkan apa yang telah digariskan oleh pemimpin tertinggi Gereja. Dan umat bisa merasakan secara nyata, bagaimana menjadi Santo Yosef di tengah pandemi, sehingga pada akhirnya tergerak untuk mengikuti keteladanan mereka.

Paus menulis secara tegas sifat Santo Yosef yang bisa menjadi landasan para Pastor untuk menjadi profesional di tengah pandemi.  Pertama, Santo Yosef adalah seorang bapa yang punya keutamaan ketaatan. Semua pastor berkaul dan berjanji untuk taat. Mestinya hal ini sudah tidak menjadi halangan lagi dalam menjalankan amanah mereka sebagai seorang Pastor.

Ketaatan Santo Yosef membuat dia secara konsekuen melindungi Maria dan Yesus serta mengajarkan Putra-Nya untuk “melakukan kehendak Bapa.” Dipanggil oleh Tuhan untuk melayani perutusan Yesus, ia “bekerjasama… dalam misteri agung Penebusan”, seperti yang dikatakan Santo Yohanes Paulus II, “dan benar-benar seorang pelayan keselamatan.”  

Ketaatan Santo Yosef bukanlah keterpaksaan. Ia “menerima Maria tanpa syarat,” maka dia juga kita sebut sebagai bapa yang menerima dengan tulus. Tugas yang ia emban dijalankan dengan sepenuh hati. Maka ia pun tidak segan mengesampingkan gagasan-gagasannya, pikirannya, hobinya, dan berdamai dengan amanah profesionalitasnya.

Bisa dikatakan, jalan spiritual Santo Yosef “bukan jalan yang menjelaskan, tetapi jalan menerima.” Lagi-lagi bukan pasrah, tetapi sebaliknya, ia “dengan berani dan tegas proaktif”, karena dengan “karunia ketabahan Roh Kudus”, dan penuh harapan, ia mampu “menerima hidup apa adanya, dengan segenap pertentangan, frustrasi dan kekecewaan”.

Ketika Santo Yosef menerima panggilannya, ia menjadi bapa yang bertanggungjawab. Artinya, dia mau bekerja, mengembangkan seluruh talenta, dan pantang menyerah untuk menghidupi keluarganya. Sebagai seorang tukang kayu, ia mengajari kita “nilai, martabat dan kegembiraan dari apa artinya makan roti yang merupakan buah dari kerja kerasnya sendiri.”

Bekerja, Bapa Suci mengatakan, “adalah sarana untuk ambil bagian dalam karya keselamatan, kesempatan untuk mempercepat kedatangan Kerajaan Allah, mengembangkan talenta dan kemampuan kita, dan menempatkannya dalam pelayanan masyarakat dan persekutuan persaudaraan.”

Melalui Santo Yosef, seolah-olah Allah mengulangi kepada kita: “Jangan takut!” karena “iman memberi makna pada setiap peristiwa, entah gembira maupun sedih.” Santo Yosef “tidak mencari jalan pintas tetapi menghadapi kenyataan dengan mata terbuka dan secara pribadi bertanggung jawab terhadap kenyataan tersebut.” Karena alasan ini, “ia mendorong kita untuk menerima dan menyambut orang lain apa adanya, tanpa kecuali, dan menunjukkan perhatian khusus kepada orang-orang yang lemah.”

Keutamaan berikutnya adalah “keberanian kreatif” yang dimiliki oleh Santo Yosef. “Sang tukang kayu dari Nazareth”, jelas Paus Fransiskus, mampu mengubah masalah menjadi kemungkinan dengan percaya akan pemeliharaan ilahi. Ia harus menghadapi “masalah nyata” yang dihadapi keluarganya, masalah yang dihadapi oleh keluarga lain di dunia. 

Pada akhirnya, semua keutamaan itu membuat Santo Yosef dimampukan untuk menjadi penjaga Gereja, penjaga keibuan Gereja, dan penjaga tubuh Kristus. “Akibatnya, setiap orang yang miskin, membutuhkan, menderita atau menghadapi ajal, setiap orang asing, setiap narapidana, setiap orang yang lemah adalah ‘anak’ yang terus dilindungi oleh Santo Yosef”. Dari Santo Yosef, tulis Paus Fransiskus, “kita harus belajar … mengasihi Gereja dan orang miskin.”

Bagi Paus Fransiskus, orang menjadi ayah bukan hanya karena status menikah dan memiliki anak. Semua orang menjadi ayah ketika memberikan hidupnya demi hidup orang lain. Dari Santo Yosef, kita belajar mengasihi dan melindungi “anak-anak” yakni sesama yang lemah – butuh pelayanan –  dengan hati seorang ayah. Dengan cara itu kita menjadi tanda kehadiran Bapa di sorga ‘yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar’ (Mat 5: 45).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (4): Katolik Garis Lucu Vs Kasus Pelecehan Seksual Dalam Teropong Inkarnasi

Keutamaan Santo Yosef Ada Pada Pastor

Sejujurnya, membaca keteladanan Santo Yosef di tengah pandemi membuat hati saya penuh harapan. Seandainya para Pastor berpegang pada hal ini dan menjalankannya tentu tidak perlu lagi umat merasakan kehilangan ayah di tengah pandemi.

Yang ada dalam benak saya, Para Pastor yang meneladani Santo Yosef di tengah pandemi adalah seorang bapa yang punya keutamaan ketaatan. Taat pada panggilan profesionalitasnya, menjadi dokter jiwa bagi semua orang. Tidak pilih-pilih! Ketaatan itu diterima dengan senang hati dan penuh tanggungjawab. Artinya, panggilan pelayanan dilakukan secara maksimal dan optimal melalui usaha yang keras, mengembangkan talenta, dan tidak mudah menyerah.

Ketika ada halangan, misalnya terkait dengan konsekuensi pandemi Covid-19, maka para Pastor akan berkata di dalam hati: “Jangan takut!” karena “iman memberi makna pada setiap peristiwa, entah gembira maupun sedih.”

Maka Para Pastor itu pun pada akhirnya punya keberanian kreatif. Mereka mampu mengubah masalah menjadi kemungkinan. Misalnya memodifikasi pelayanan sakramen dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Ada banyak sekali kemungkinan yang bisa dijalankan. Misalnya terkait dengan pemberian komuni untuk lansia, yang juga berhenti selama pandemi. Bisa saja, prodiakon atau pengurus lingkungan setempat menyiapkan mereka yang mau menerima komuni. Bisa juga melalui telepon. Intinya, para lansia ini diminta untuk mempersiapkan batin secara pribadi. Setelah semuanya siap, Pastor berkeliling ke rumah para lansia untuk doa sebentar dan memberikan komuni dengan protokol kesehatan. Dengan kesungguhan hati, berusaha, kreatif, berani, dan koordinasi yang baik, kiranya pelayanan ini bisa dilakukan. Juga untuk pelayanan lainnya.

Jika hal ideal ini bisa dijalankan, maka Para Pastor yang walau bekerja dalam senyap akan tetap menjadi penjaga Gereja di tengah krisis pandemi. Penjaga fisik ada dokter, ada uang untuk membeli obat dan segala makanan bergizi, tetapi untuk keperluan jiwa hanya Pastor yang diberi wewenang. Jangan sampai wewenang ini hanya disimpan di dalam kamar atau hanya untuk kalangan tertentu dan terbatas. Karena Bapa di sorga ‘yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar’ (Mat 5: 45).

Harapan saya semakin besar ketika Keuskupan Agung Jakarta menjadikan tahun 2021 ini sebagi “Tahun Refleksi.” Ketua Panitianya adalah Pastor Yustinus Agung Setiadi, OFM. Semoga Pastor yang bertugas di Paroki Hati Kudus Kramat ini benar-benar menjalankan amanah ini dengan baik.

Apalagi, “Tahun Refleksi” mendapatkan roh dari “Tahun Santo Yosef.” Itulah mengapa, temanya adalah “Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat.” Semoga, para Pastor di KAJ benar-benar menjalankan profesionalitasnya dengan penuh kasih, mau terlibat secara berani dan kreatif dalam memberikan pelayanan, sehingga pada akhirnya bisa menjadi berkat bagi banyak umat Allah.

Di akhir suratnya, Paus Fransiskus menambahkan doa kepada Santo Yosef. Dengan doa tersebut beliau mendorong kita semua untuk berdoa bersama:

Salam, Penjaga Sang Penebus,

Mempelai Santa Perawan Maria.

Kepadamu Allah mempercayakan Putra-Nya yang tunggal;

di dalam dirimu Maria menaruh kepercayaannya;

bersamamu Kristus menjadi manusia.

Santo Yosef, kepada kami juga,

perlihatkan dirimu seorang bapa

dan bimbing kami di jalan kehidupan.

Perolehkan bagi kami rahmat, belas kasih, dan keberanian,

serta lindungi kami dari setiap kejahatan. Amin.

Foto: www.mirifica.net

Sumber Bacaan:

Benedicta Fcl. 2020. “Paus Fransiskus Mencanangkan Tahun Santo Yosef https://www.dokpenkwi.org/2020/12/09/paus-fransiskus-mencanangkan-tahun-santo-yosef/. Diakses pada 25 Januari 2021.

 Veronica H. Angkatirta. 2016. “Santo Yosef, Teladan Iman dan Ketulisan Hati” https://www.sesawi.net/santo-yosef-teladan-iman-dan-ketulusan-hati/. Diakses pada 25 Januari 2021.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply