Homili pastor yang tak menarik kerap dijadikan alasan untuk malas ke gereja. Tantangan pastor makin berat dengan hadirnya brain rot.
Dalam konteks liturgi Katolik, diksi homili adalah yang benar, bukan kotbah. Homili merupakan bagian integral dari liturgi yang isinya penjelasan dari Kitab Suci yang dibacakan di dalam Liturgi Sabda. Maka, homili hanya bisa disampaikan oleh Pastor atau Diakon. Sedangkan kotbah bisa disampaikan oleh siapa saja di luar liturgi.
Tiap kali membicarakan liturgi Katolik, homili kerap menjadi topik hangat. Sepulang misa kita berharap ada oleh-oleh yang dibawa, berupa pesan Tuhan untuk kita yang disampaikan melalui homili. Namun, beberapa Pastor homilinya tidak jelas, panjang bertele-tele jauh dari konteks hidup sehari-hari, bahkan membuat mengantuk. Jika pun lucu, hanya humornya saja yang dibawa pulang.
Baca Juga: Moto Tahbisan Sudah Biasa, Tapi Kalau Moto Perkawinan?
Homili memang tidak mudah. Salah satu alasan mengapa pendidikan Pastor sangat lama juga ada faktor homili di sana. Bahkan ada Seminari Menengah atau setingkat SMA, sudah memboyong pendidikan public speaking sebagai bekal homili. Sulit, karena homili seorang Pastor harus mengandung 3 hal:
- Menafsirkan Sabda Allah. Di sinilah Pastor secara reflektif mengolah bacaan hari itu dalam konteks teologis sekaligus pastoral.
- Kontekstual. Firman Allah yang coba direfleksikan Pastor dalam homilinya harus konkret. Konteks bacaan sekitar 2000 tahun yang lalu harus mengena dengan kehidupan nyata umat di keluarga, pekerjaan, sosial, politik, bahkan isu terhangat yang menjadi menu utama berita.
- Menguatkan Iman. Sehebat apapun Pastor menggali bacaan dan membawakannya, homili harus bisa menguatkan iman umat. Dari keseluruhan homili, isinya harus bisa membangun harapan, mendorong pada pertobatan, dan semangat dalam menghidupi iman kristiani di setiap pergumulan hidup.
- Menarik. Katanya 3, mengapa ada poin keempat? Karena faktor ini dianggap tidak masuk hitungan, maka tak heran banyak Pastor meninggalkannya. Namun bagi saya, jika Pastor mampu menafsirkan dengan baik, memberi konteks di zaman sekarang, dan menguatkan iman umat tapi tidak mampu membawakannya dengan menarik, maka tidak semua bisa tersampaikan dengan baik. Sisi menarik bukan soal lucu, tapi bagaimana menggunakan intonasi yang enak, pengucapan yang jelas, ucapannya berdaya/ penuh energi, atau bahkan dibantu oleh alat peraga. Jika ada Pastor yang punya selera humor tinggi, itu bonus. Untuk menjadi menarik tidak boleh memaksakan diri seperti orang lain.
Mengapa saya angkat soal homili? Saya mengamati di media sosial, ada Pastor yang membela kekakuan liturgi Katolik termasuk homili yang kaku, njlimet dan di awang-awang. Katanya, kekakuan itu hanya luarnya, tetapi senyatanya punya makna yang mendalam. Walau homili kerap dikeluhkan, tapi isinya teologis biblis, dst. Argumentasi itu tidak salah dan punya argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi, jika sibuk membela diri, kita bisa kecolongan dengan bahaya laten yang mengintai.
Apa itu Brain Rot dan Bahayanya?
Bahaya itu adalah brain rot. Kompas mencatat, brain rot dipakai generasi Z dan generasi alfa untuk menyebut konten guyonan receh, seperti video ”Skibidi Toilet” atau meme instan hasil buatan akal imitasi (artificial intelligence), seperti ”Tralalero Tralala” atau ”Tung Tung Tung Sahur”. Sampai pada akhirnya brain rot ditahbiskan menjadi Oxford Word of the Year 2024.
Menurut Oxford University Press, penerbit Oxford Dictionary, istilah brain rot mengacu pada dampak negatif konsumsi media sosial berlebih, terutama pada anak dan remaja. Mengapa saya tarik brain rot dalam konteks homili, simak penjelasannya secara perlahan.
Baca Juga: Surat Terbuka untuk KWI Setelah Kematian Paus Fransiskus
Brain rot punya dampak kecanduan yang bahayanya tidak lebih baik dari mereka yang ketergantungan pada rokok, pornografi, bahkan narkoba. Bahkan, brain rot lebih berbahaya karena sumber kecanduannya legal dan beredar luas. Rokok, pornografi, dan narkoba bisa dengan jelas terlihat penyebabnya, bisa diatur, bahkan punya Undang-undangnya.
Posisi brain rot yang seperti itu, memantik Harian Kompas wawancarai para ahli. Mereka terdiri dari 17 pakar lintas disiplin guna menelusuri fenomena brain rot dari berbagai sudut pandang. Mereka berasal dari bidang psikiatri, psikologi, pendidikan, sosiologi, antropologi, ilmu komunikasi, dan filsafat, termasuk praktisi serta pengamat media sosial, ahli algoritma, dan kreator konten. Setiap narasumber mendapat set pertanyaan yang sama, seputar potensi dampak adiksi dan paparan media sosial yang berlebihan.
Wawancara tersebut dianalisis dan ditulis oleh Satrio Pangarso Wisanggeni, Ratna Sri Widyastuti, dan Sri Rejeki. Hasilnya diterbitkan di Kompas.id pada Sabtu, 28 Juni 2025. Berikut ringkasannya, dari wawancara yang digelar pada pertengahan April 2025 ini, sebanyak 81,8 persen pakar sepakat bahwa brain rot atau otak yang mengalami kebusukan merupakan istilah populer yang menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital singkat yang cepat dan dangkal secara berlebihan.
Konten digital yang dimaksud mengarah pada video pendek (TikTok, Reels), meme, scrolling media sosial tanpa henti, atau konten hiburan yang tidak menantang kognitif. Ciri kontennya adalah receh, cepat, berulang, dan dikonsumsi terus menerus. Jika dibiakan maka seseorang akan mengalami penurunan kemampuan berpikir mendalam, ketergantungan terhadap konten instan (seperti TikTok, reels, meme, atau scrolling medsos terus-menerus) bahkan ke kamar mandi pun tak bisa lepas dari HP, mengalami sensasi “kosong”, mudah bosan, dan susah fokus pada sesuatu yang tidak instan/ menghindari sesuatu yang butuh proses.
Baca Juga: The Last Supper, Film Tentang Siapa Diri Kita
Paparan konten ini dinilai para pakar dapat memicu sekresi dopamin atau zat rasa senang pada otak secara berlebihan dan dapat bermuara pada adiksi. ”Tidak hanya dari segi durasi, jenis kontennya juga. Konsumsi konten semacam ini bisa mencederai cara kita berpikir. Istilah formalnya intellectual deficiency atau penurunan intelektual,” kata Jati Ariati, psikolog yang juga Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.
Dari berbagai dampak yang ditimbulkan dari paparan media sosial, saya akan fokus pada kondisi brain rot terhadap konsentrasi dan kemampuan mendengarkan/ memperhatikan. Setidaknya ada 5 poin:
- Penurunan Rentang Perhatian atau Attention Span. Konten cepat membuat otak terbiasa dengan dopamin hit instan. Akibatnya, otak jadi kesulitan bertahan pada aktivitas yang membutuhkan perhatian panjang, seperti mendengarkan ceramah termasuk homili, membaca buku, atau berdiskusi serius.
- Bosan pada Informasi Mendalam. Otak yang terbiasa dengan konten singkat dan receh membuat otak lelah dan bosan saat mencerna sesuatu yang lambat dan dalam/ memerlukan pemikiran serius. Lihat bagaimana orang dengan cepat memberi komentar tanpa tahu permasalahan yang terjadi. Kita menjadi sukar mengikuti penjelasan yang runtut, logis, dan mendalam.
- Salfok (Salah Fokus) atau Gafok (Gagal Fokus). Otak yang busuk terbiasa dengan multitasking ringan (ganti-ganti aplikasi, notifikasi terus-menerus, bahkan mudah berganti channel TV) membuat kita susah fokus/ bertahan pada satu topik bahasan. Ini membuat proses mendengarkan menjadi tidak efektif karena pikiran mudah melantur ke hal lain.
- Kelelahan Mental. Meski kelihatan sepele, konsumsi konten digital berlebih membuat otak kelelahan dan akhirnya sulit berkonsentrasi, apalagi pada hal-hal yang menuntut pemrosesan informasi kompleks.
- Penurunan Memori Jangka Pendek. Brain rot juga dapat melemahkan kapasitas kerja memori jangka pendek (working memory). Padahal ini penting untuk menyusun dan memahami informasi selama mendengarkan atau memperhatikan.
Pengaruh buruk media sosial memang tidak instan sehingga sulit dideteksi sejak dini. Maka daftar berikut bisa menjadi koreksi diri, apakah kita sudah mulai terpapar brain rot sehingga mengakibatkan gangguan konsentrasi. Mari kita simak bersama:
- Apakah saya mulai susah menyelesaikan satu bacaan panjang tanpa terdistraksi?
- Apakah saya mulai tidak bertahan menyelesaikan 1 film atau bahkan satu episode drama dan memilih untuk ganti tayangan lain?
- Apakah saya mulai terganggu untuk mendengarkan pembicaraan lebih dari 5 menit tanpa ingin melihat HP? Misalnya saat mengikuti misa/ibadah, seminar, atau lain sejenisnya.
- Apakah saya merasa cemas atau kosong jika tidak ada konten visual atau suara yang diputar?
- Apakah saya sulit menangkap inti pembicaraan meskipun mendengar secara fisik?
Ancaman brain rot makin membuat berdebar tatkala kita disajikan data internet. We Are Social melalui laporan Digital 2025 Global Overview Report mengungkapkan analisis Kepios bahwa jumlah pengguna internet Indonesia meningkat 17 juta atau ada pertumbuhan 8,7 persen di awal 2025 dari periode yang sama periode yang sama tahun lalu. Jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 212 juta dari populasi sebanyak 285 juta jiwa pada bulan Januari 2025. Angka ini menunjukkan tingkat penetrasi internet Indonesia menyentuh 74,6 persen.
Dalam laporan ini juga GSMA Intelligence menunjukkan terdapat 365 juta pengguna telepon seluler. Itu artinya, satu orang mempunyai lebih dari satu perangkat seluler dalam berkomunikasi, seperti memisahkan untuk kebutuhan kerja dan penggunaan pribadi.
Baca Juga: Film Conclave: Sebuah Syiar Iman Katolik Sambut Prapaskah
Besarnya jumlah pengguna internet Indonesia itu berbanding lurus dengan kepemilikan akun media sosial. Indonesia menjadi tuan rumah bagi 143 juta identitas pengguna media sosial pada Januari 2025, yakni setara dengan 50,2 persen dari total populasi. Dari segi gender, 46 persen pengguna media sosial Indonesia ini adalah kaum perempuan. Sementara, 54 persen merupakan laki-laki.
Kompas menyadari fenomena yang sudah sangat nyata dirasakan di Indonesia. Jajak pendapat Litbang Kompas pada 21–24 April 2025 terhadap 510 responden di 54 kota menunjukkan, 13,6 persen warga mengaku telah mengalami gangguan psikis akibat penggunaan gawai berlebihan, seperti sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, kecemasan, dan stres.
Sebanyak 5,17 persen bahkan mengaku menjadi enggan bersosialisasi. Selain itu, 39,6 persen responden melaporkan gangguan fisik, seperti gangguan pola makan, gangguan mata, dan kecenderungan hidup sedenter.
Sebanyak 84 persen pakar juga menyebut generasi Z dan generasi alfa sebagai kelompok paling terdampak. Secara sosial ekonomi, fenomena ini menjangkiti semua lapisan yang dampaknya lebih parah pada kelas menengah ke bawah karena rendahnya literasi digital, terbatasnya alternatif hiburan di luar media sosial.
”Yang paling rentan adalah generasi muda dari kelas menengah ke bawah,” kata Firman Kurniawan, pakar budaya digital dari Universitas Indonesia.
Jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan, generasi Z (13 hingga 28 tahun atau 12-27 di tahun 2024) merupakan kelompok paling banyak mengalami gangguan psikis akibat penggunaan gawai berlebihan (25,5 persen), gen Y madya usia 36-45 tahun (21,02 persen), gen Y muda usia 28-35 tahun (11,2 persen), gen X (4,63 persen), dan baby boomer (3,07 persen).

Sebanyak 71,09 persen responden dari generasi Z dan 51,34 persen dari generasi Y Madya pernah mengalami gangguan akibat melihat gawai terlalu lama, seperti gangguan fisik, psikis, hingga malas bersosialisasi.
Data ini saya coba padankan dengan data umat Katolik di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengetahui, ketika Pastor homili sebenarnya umat yang seperti apa yang mereka hadapi? Asumsi saya adalah, setiap kali Pastor menyampaikan homili sebenarnya umat yang tampaknya mendengarkan itu jiwanya tidak ada di sana sebagai imbas dari dampak brain rot. Apakah asumsi ini benar?
Menukil dari website Bimas Katolik diketahui jumlah total umat Katolik di Indonesia berjumlah 8,667,619 jiwa. Data ini merupakan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Juli 2024. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,343,701 jiwa adalah laki-laki dan 4,323,918 jiwa merupakan perempuan. Mereka dibagi dalam rentang umur, mulai dari lahir sampai di atas 75 tahun. Berikut rinciannya:
Data Umat Katolik di Indonesia Berdasarkan Dukcapil Juli 2024
| Usia | Jumlah Umat Laki-laki | Jumlah Umat Perempuan | Total Umat |
| 00-04 | 210,256 | 194,571 | 404,827 |
| 05-09 | 363,557 | 340,485 | 704,042 |
| 10-14 | 406,038 | 381,176 | 787,214 |
| 15-19 | 381,591 | 361,012 | 742,603 |
| 20-24 | 424,671 | 399,658 | 824,329 |
| 25-29 | 386,120 | 363,581 | 749,701 |
| 30-34 | 338,300 | 324,950 | 663,250 |
| 35-39 | 321,343 | 318,445 | 639,788 |
| 40-44 | 309,992 | 314,096 | 624,088 |
| 45-49 | 276,465 | 288,939 | 565,404 |
| 50-54 | 243,327 | 255,849 | 499,176 |
| 55-59 | 210,580 | 228,714 | 439,294 |
| 60-64 | 165,791 | 185,928 | 351,719 |
| 65-69 | 123,303 | 143,077 | 266,380 |
| 70-74 | 86,988 | 103,132 | 190,120 |
| 75+ | 95,379 | 120,305 | 215,684 |
| 4,343,701 | 4,323,918 | 8,667,619 |
Secara umum manusia dibagi dalam beberapa generasi, yakni Generasi Baby Boomer (Lahir 1946-1964 yan saat ini berumur 61-79 tahun); Generasi X (46-60 tahun); Generasi Y (31-45 tahun); Generasi Z (16-30 tahun); Dan Generasi Alpha (1-15 tahun). Namun dalam penelitiannya, Kompas membuat rentang generasinya menjadi Baby Boomer (tidak disebut); Generasi X (tidak disebut); Generasi Y dibagi Y Madya (36-45 tahun) dan Y Muda (28-35 tahun); Dan Generasi Z (13-28 tahun).
Jika kita menerapkan acuan Kompas pada data Dukcapil di atas, maka pengelompokkan generasi di data Dukcapil ditambah 1 tahun. Dengan demikian, pembagiannya menjadi: Jumlah Generasi Z (warna kuning) sebanyak 3,103,547 jiwa atau 36 persen; Sedangkan jumlah Generasi Y Madya (warna hijau) ada 1,927,126 jiwa atau 22 persen. Jika kedua kelompok ini digabungkan menjadi mayoritas, yakni 58 persen.
Baca Juga: Tradisi Lilin yang Menyatukan Liturgi Katolik dan Perayaan Imlek
Jumlah mayoritas Generasi Z dan Generasi Y Madya pada populasi umat Katolik se-Indonesia berbanding lurus dengan kelompok paling banyak mengalami gangguan psikis akibat penggunaan gawai berlebihan yang diungkap Kompas. Kelompok yang dimaksud adalah mereka yang berusia 13-45 tahun di 2025 yang jumlahnya mencapai 57,72 persen. Artinya, kemungkinan besar umat yang dihadapi Pastor yang sedang homili adalah mereka yang senyatanya sedang mengalami gangguan akibat penggunaan gawai berlebihan. Jenis gangguannya seperti apa butuh penelitian lebih lanjut.
Salah satu gangguan yang patut disorot adalah gangguan psikis. Bentuknya adalah susah konsentrasi dan kemampuan dalam mendengarkan atau memperhatikan. Bisa dibayangkan, jika umatnya saja mengalami hal ini bagaimana bisa kita berharap mereka dapat menerima bahkan mencerna isi homili yang kontennya tidak menarik, berbelit-belit, tidak kontekstual, ditambah jika disampaikan dengan cara yang kurang menarik.
Cara Hadapi Brain Rot
Ada begitu banyak dampak yang diakibatkan brain rot. Supaya tidak muluk-muluk saya menawarkan bagaimana melatih diri supaya terhindar dari salah satu dampak brain rot, yakni menurunnya rentang perhatian atau attention span. Jika kita mengalami ini, dampaknya cukup luas karena attention span bisa menyebabkan beredarkan berita bohong atau hoax, dan berita bohong itu di banyak kasus menghadirkan kerusuhan dan pengerusakan.
Cara menghadapi brain rot saya coba pakai dengan pemicu brain rot, yakni media sosial. Saya cari caranya melalui ChatGPT, untuk membuktikkan bahwa media sosial bisa sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar dan bijaksana.
Satu kalimat afirmasi yang disampaikan ChatGPT adalah, “Attention span tentu bisa pulih. Tapi, butuh latihan.” Ada 5 langkah yang ditawarkan:
- Kurangi konsumsi konten cepat: Buat aturan: max 30 menit/hari untuk TikTok, Reels, dll.
- Latih otak dengan kegiatan fokus: Membaca buku, menulis jurnal, mendengarkan podcast panjang tanpa gangguan.
- Praktik mindfulness: Latih hadir secara utuh saat mengerjakan satu hal, misalnya saat makan, membaca, atau berbicara dengan orang lain.
- Gunakan teknik Pomodoro: Fokus 25 menit, istirahat 5 menit. Ulangi 3–4 kali sehari.
- Digital detox mingguan: Luangkan minimal 1 hari tanpa konsumsi media sosial atau layar hiburan.

Jika terasa kurang konkret, ChatGPT menawarkan rencana 7 hari pemulihan attention span. Apa saja yang bisa kita lakukan mulai dari hari pertama sampai hari ketujuh.
- Hari 1: Sadar dan Detoks Ringan
- Tujuan: Menyadari seberapa besar pengaruh konten instan.
- Tugas: Batasi media sosial/video pendek maksimal 60 menit hari ini; Saat makan, mandi, atau naik kendaraan: tidak boleh sambil scrolling HP; Ambil 10 menit membaca artikel atau buku cetak. Fokus penuh.
- Hari 2: Fokus Sadar
- Tujuan: Melatih perhatian ke satu aktivitas.
- Tugas: Lakukan satu aktivitas tanpa gangguan (misal: makan, menyapu, mencuci piring) tanpa musik atau HP; Baca 2 halaman buku (boleh non-fiksi atau cerita pendek); Catat: “Bagaimana rasanya memaksa diri fokus? Gampang atau sulit?”
- Hari 3: Latihan Pomodoro Pertama
- Tujuan: Membangun stamina fokus dengan teknik Pomodoro.
- Tugas: Siapkan tugas sederhana (membaca, belajar, kerja ringan); Gunakan timer: 25 menit kerja fokus, 5 menit istirahat. Ulangi 2x; Setelah selesai, tulis: “Apa yang membuatku terdistraksi tadi?”
- Hari 4: Detoks Visual
- Tujuan: Memberi otak ruang tanpa rangsangan visual.
- Tugas: Puasa video pendek selama 24 jam; Dengarkan podcast panjang atau audiobook selama 15 menit; Jalan kaki tanpa musik/HP, cukup amati sekitar (10–15 menit).
- Hari 5: Pelatihan Tahan Baca
- Tujuan: Melatih mata dan pikiran membaca utuh.
- Tugas: Baca 5–7 halaman dari buku/majalah/artikel cetak atau PDF panjang; Fokus: Tidak berhenti atau buka HP sampai selesai; Refleksi: “Apa inti yang saya baca hari ini?”
- Hari 6: Fokus Sosial
- Tujuan: Hadir penuh dalam interaksi sosial.
- Tugas: Ajak ngobrol 1 orang tanpa sambil pegang HP (5–10 menit); Dengarkan dengan sungguh, jangan memotong; Tulis: “Apa yang saya pelajari dari orang itu hari ini?”
- Hari 7: Evaluasi & Perpanjangan
- Tujuan: Refleksi & rencana ke depan.
- Tugas: Evaluasi: Hari mana yang paling menantang? Mana yang paling menyenangkan?; Tulis: “Apa satu hal kecil yang mau saya lanjutkan minggu depan?”; Hadiahkan diri (boleh 15 menit scrolling, tapi sadar waktunya).
Artikel ini juga tayang di Kompasiana
