Pandemi COVID-19 Paksa Kita Kembali Pada Kodrat. Sebuah Tinjauan Filsafat dan Teologi

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Dunia masih diselimuti pandemi COVID-19. Bagi Indonesia, sudah 16 bulan kita berjuang keluar dari himpitan virus mematikan ini. Bukannya makin membaik, gelombang serangan justru semakin masif dan mematikan.

Saya pun bertanya, apa yang Tuhan kehendaki dengan ini semua?

Saat tulisan ini disusun, jumlah kasus aktif COVID-19 di Indonesia pada Jumat, 23 Juli 2021 tercatat ada 569.901 orang. Di hari itu ada penambahan kasus sampai 8.517. Dengan demikian, total kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 3.082.410 orang. Sedangkan untuk kematian, ada penambahan 1.566 kasus.

Yang menjadi perhatian, penambahan kasus kematian harian ini merupakan yang tertinggi selama pandemi di Tanah Air. Pecah rekor ini hanya selang sehari, karena angka tertinggi terjadi pada Kamis, 22 Juli 2021 dengan 1.449 kasus. Maka total pasien COVID-19 meninggal dunia menjadi 80.598 orang.

Pandemi membuka mata kita akan ragam cara pandang masyarakat. Ada yang bilang ini konspirasi. Sebagian melihat COVID-19 hanya isapan jempol. Ada yang menjadikannya bahan gorengan untuk isu politik. Tidak sedikit juga yang cuek. Yang paling menjengkelkan, ada yang sengaja memperkeruh keadaan dengan menyebar hoaks.

Namun harus diakui, tidak sedikit yang serius dan mempraktikkan anjuran ahli kesehatan dan pemerintah. Tiap keluar rumah selalu memakai masker, rajin mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, dan menjaga jarak di banyak kesempatan. Tidak segan pula mengikuti anjuran untuk menjaga mobilitas dan tidak terpikat untuk berkerumun.

Baca Juga: Memaknai Paskah Pasca Bom Bunuh Diri Katedral Makassar

Berbagai sikap menghadapi pandemi ini bukan hanya milik warga Merah-Putih saja. Banyak negara lain, bahkan di negara-negara maju juga punya sikap yang bhineka. Jika di negara kita ada yang menolak pembatasan sosial – ekonomi, di luar negeri juga ada. Bahkan mereka menggelar demo yang berisiko membentuk klaster baru penyebaran COVID-19.

Bumi kita satu. Penyakit yang kita hadapi juga satu. Makhluk yang paling terdampak pandemi satu juga, tiada lain manusia. Reaksi warga dunia terhadap COVID-19, walaupun berbeda tetapi menunjukkan hal yang mirip.  Maka pantas kita bertanya diri, pandemi ini mau membawa kita semua ke mana? Masa depan seperti apa yang Tuhan bisikan pada kita melalui pandemi ini?

Paus Fransiskus menyampaikan pesan Untuk Kota dan Dunia atau Urbi et Orbi, Minggu, 12 April 2020, setelah Misa Minggu Paskah di dalam Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Kacamata Filsafat untuk Melihat Kodrat Manusia  

Karena subyeknya adalah manusia, mari kita lihat siapakah manusia itu? Manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bersekutu dengan manusia lain. Pepatah kuno mengatakan, “Manusia tidak mungkin hidup sendirian, ‘no man is an island.’”

Aristoteles (384-322 SM), filsuf Yunani kuno, dalam salah satu ajarannya menyebutkan bahwa manusia adalah zoon politicon. Secara harafiah, ‘zoon’ adalah hewan, dan ‘politicon’ adalah bermasyarakat. Maka dalam bahasa Yunani dua kata tersebut artinya hewan yang bermasyarakat.

Melalui ungkapan ini, murid Plato (428–427 SM) tersebut menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berelasi satu sama lain. Relasi manusia ini dalam rangka mewujudkan visi misi bersama yang telah disepakati.

Jean-Paul Sartre (1905-1980), seorang filsuf kontemporer dari Prancis, berpendapat, kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia. Dalam bukunya Being and Nothingness, an Essay on Phenomenological Ontology (1956), mengatakan, “Kita hanyalah kita karena hubungan dengan orang lain untuk mengerti sepenuhnya struktur dan cara kita berada terhadap orang lain.” Dengan kata lain, manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai manusia, hanya dengan mengalami relasi dengan manusia lain.

Menurut Sudiarja, terdapat dua medium perjumpaan manusia untuk menjalin relasi. Pertama, medium tubuh/ dunia fisik. Tanpa tubuh, manusia tidak mungkin berjumpa dan berkomunikasi dengan manusia lain. Namun tubuh itu dapat diperluas menjadi dunia, yakni kondisi-kondisi fisik di sekitar dan yang ada dalam jangkuan manusia. Dalam pengertian ini sosialitas manusia tidak terpisahkan dari kerangka dunia atau alamnya di mana manusia hidup dan bergaul.

Medium kedua adalah Yang Transenden. Keterbatasan hubungan dengan mereka yang terlihat, membuat manusia merasakan adanya “sesuatu” yang merangkum dunia ini, sebagai “Yang Lebih Besar” dari dunia. Ada “Yang Transenden.” Kerangka ini menempatkan manusia dalam kekecilan dan keterbatasan. Sebagai orang beriman, kita menyebutnya Tuhan. Relasi dengan Dia umumnya terjadi di dalam doa. Bisa juga melalui karya sebagai hasil reflektif relasi kita dengan Tuhan.

Baca Juga: Beberapa Pastor Lupa, Mereka Dipanggil Meneladani Santo Yosef Di Masa Pandemi

Selama lebih dari setahun pandemi COVID-19, ada begitu banyak relasi yang dialami oleh warga dunia. Melalui medium fisik, kita bersatu untuk membantu yang sakit, bekerja menemukan vaksin, bergerak untuk memakamkan, sampai ke hal negatif seperti mencemooh orang lain yang memakai masker. Medium fisik juga terarah kepada alam semesta dengan mulai merawat bumi, supaya tidak kembali marah dan menyebarkan wabah.

Tak sampai di situ, warga dunia tidak pernah putus berdoa. Baik di tempat ibadah maupun di rumah, baik orang saleh maupun kurang, anak-anak sampai lansia, semua memohon supaya Dia menghentikan pandemi ini. Caranya ada yang tanda salib, sholat, atau berdoa dalam banyak agama dan kepercayaan.

Saya melihat, pandemi menuntun kita untuk melihat hubungan erat antara zoon politicon dan kodrat kita sebagai makluk ciptaan Tuhan. Refleksi kodrat kita itu lahir dari medium transenden kita kepada Sang Pencipta.

Zoon politicon mengajak kita untuk kembali pada visi-misi kita sebagai warga dunia. Menghadapi pandemi ini kita mau apa supaya ke depan kita bisa hidup lebih baik? Ada begitu banyak jawaban, tetapi jawaban sebagai makhluk ciptaan adalah, kita mau mengikuti yang Tuhan inginkan. Apa itu?

Sari menerima vaksin kedua di Sentra Vaksin KADIN di Jakarta, 11 Juni 2021

Tinjauan Teologis Akan Kodrat Manusia

Rasul Yohanes dengan gamblang menulis, “Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah Kasih” (1Yoh.4:7,8).

Allah adalah Kasih sekaligus sumber kasih yang tak terputus. Kita yang diciptakan Allah yang adalah Kasih, juga terlahir dengan kodrat kasih itu. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:26-27).

Pandangan filsafat zoon politicon yang dipadukan pandangan teologis membuahkan keyakinan reflektif bahwa di tengah pandemi, warga dunia menyatukan visi-misi untuk bumi yang lebih baik. Caranya dengan relasi kasih satu sama lain. Kasih bukan hal asing bagi kita, karena kita berasal dari Kasih, oleh karena itu sudah menjadi kodrat kita untuk mengasihi. Lagi-lagi, kita melakukan hal itu karena kita adalah makhluk sosial, zoon politicon.

Bagi orang Kristen, keyakinan reflektif ini bukan anjuran. Mengasihi adalah sebuah perintah Tuhan Yesus. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12), “Dengan begitu, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi,” (Yoh 13:35).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (5): Apakah Baptis Bayi Melanggar HAM?

Paus Fransiskus pun mengajak seluruh umat Katolik untuk menebar cinta kasih di tengah berbagai upaya memerangi pandemi global COVID-19. Ia mengibaratkan situasi warga dunia seperti yang dialami oleh para murid saat dilanda angin ribut saat berperahu bersama Yesus. (Baca kisah Yesus meredakan angin ribut di Matius 8:18,23-27; Markus 4:35-41; Lukas 8:22-25).

Melalui kisah tersebut, Paus mengatakan bahwa Tuhan meminta umat beriman “untuk membangun kembali dan mempraktikkan solidaritas juga harapan yang mampu memberikan kekuatan, dukungan, dan makna pada waktu-waktu seperti ini ketika semuanya tampak tak berdaya.”

“Karena ini adalah kekuatan Tuhan, baik itu semua hal baik yang terjadi pada kita, bahkan hal-hal buruk. Dia membawa ketenangan ke dalam badai kita, karena hanya dengan Tuhan, hidup tidak akan pernah mati,” katanya dikutip Kompas.com, Sabtu, 28 Maret 2021.

Senada dengan Paus, Ignatius Kardinal Suharyo meluncurkan Tahun Refleksi di awal tahun 2021. Suharyo mengajak seluruh umat untuk meneladani Santo Yusuf dalam menghadapi pandemi. Ada 3 keutamaan yang patut kita miliki, yakni Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat. “Semakin mengasihi, semakin terlibat, semakin menjadi berkat, adalah jalan kita semua, jalan umat KAJ, untuk menjalankan perutusan kenabian untuk tahun 2021,” katanya dalam kotbah Misa Pembukaan Tahun Refleksi 2021 Keuskupan Agung Jakarta, Sabtu 9 Januari 2021.

Tak lupa Suharyo juga menyampaikan doa untuk bangsa kita agar bisa melewati pandemi ini. “Tumbuhkanlah di dalam diri seluruh warga bangsa kami semangat kesatuan, persaudaraan sejati dan kerelaan untuk berbagi khususnya bagi saudara-saudari kami yang paling terdampak oleh wabah ini. Bebaskanlah kami dari nafsu hanya memikirkan diri sendiri, yang tidak sesuai dengan watak bangsa kami. Sebaiknya kobarkanlah semangat kesetiakawanan yang telah Kau tanamkan di dalam hati kami sebagai keutamaan bangsa kami,” penggalan doanya pada Senin, 12 Juli 2021.

Berfoto ceria dulu setelah menerima vaksin pertama di Sentra Vaksinasi Serviam, Jakarta, 8 Mei 2021.

Saatnya Kita Kembali Pada Kodrat

Ajakan Paus Fransiskus dan Kardinal Suharyo untuk membangun kembali dan mempraktikkan solidaritas adalah bentuk konkrit zoon politicon. Kata “kembali” mengisyaratkan untuk menyadari kodrat kita sebagai makhluk kasih yang dipanggil untuk mengasihi. Artinya, pandemi ini mengajak kita semua untuk kembali ke kodrat kita.

Pandemi terjadi karena kita egois. Alam dirusak dengan berbagai dalih. Keputusan bisnis dan politik kerap mengabaikan kepentingan pihak lain atau negara lain. Dengan pandemi, kita dipaksa melihat apa yang telah kita lakukan selama ini. Berserta akibat yang ditumbulkan.

Pandemi mengajarkan kita untuk kembali untuk melihat orang lain dalam kaca mata kasih. Pandemi bisa diputus, caranya dengan pakai masker. Kalau kita pakai masker, itu berarti kita mengasihi orang lain. Bukan hanya supaya kita tidak tertular, tetapi juga menjaga orang lain.

Tidak berhenti di situ. Pandemi juga menuntut kita untuk taat mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas. Semua dilakukan karena kita melihat ada orang lain di sekitar kita yang perlu kita lindungi.

Pandemi bisa berhenti kalau kita rela mendonorkan plasma konvalesen dan dengan suka rela divaksin. Tindakan kita ini, tentu tidak semata-mata untuk diri sendiri. Manfaat jauh lebih besarnya adalah untuk menyelamatkan nyawa banyak orang.

Satu tren positif selama ini adalah pandemi mendorong banyak orang untuk mewujudkan solidaritas membantu orang lain. Ada yang menyediakan tempat isolasi, makanan, obat dan vitamin, dana, bahkan dengan memberikan doanya yang tulus. Inilah kodrat kita!

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (4): Katolik Garis Lucu Vs Kasus Pelecehan Seksual Dalam Teropong Inkarnasi

Pandemi mendorong kita untuk hijrah dari pola hidup egois menuju cara hidup kasih. Tidak lagi mementingkan diri sendiri, kelompok politik, atau golongan SARA dalam tiap pengambilan keputusan. Semua diputuskan demi kemaslahatan orang banyak dan lingkungan.

Kasih tidak pernah berdiri sendiri atau berdiam diri. Kasih itu bergerak keluar, terlibat, dan memberikan diri untuk orang lain, tanpa embel-embel. Yesus sendiri memberikan teladannya. Kalau Dia egois, tidak akan terjadi keselamatan umat manusia. Karena bisa saja, Yesus menolak menderita dan mati hina di kayu Salib. Jauh ditarik ke belakang, keselamatan kita tidak akan pernah ada jika Allah Bapa dan Roh Kudus tidak berkenan.

“Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Tujuan Yesus hidup adalah untuk orang lain, sekalipun harus memberikan nyawa-Nya.

Tuhan menciptakan dan menyelamatkan kita karena ada Relasi Kasih yang Abadi antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Maka kita sebagai ciptaan dan muridNya, dipanggil di tengah pandemi ini untuk mengasihi. Terlibat dan memberikan diri untuk orang lain.

Mulai dari yang sederhana, “pakai masker dan menerima vaksin.”

Keterangan Foto: Ignatius Jonan (mantan birokrat, pengusaha, aktivis Gereja) selalu berbagi pada sesama khususnya di masa pandemi COVID-19 sebagaimana tampak dari unggahan media sosialnya. Inilah contoh konkrit dan teladan bagi kita semua untuk kembali ke kodrat kita sebagai makhluk ciptaan.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply