Memaknai Paskah Pasca Bom Bunuh Diri Katedral Makassar

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Di Minggu Palma Yesus dielu-elukan. Namun berakhir di kisah sengsara. Umat pulang misa dengan peneguhan, bahwa Salib adalah jalan menuju kebangkitan. Derita karena mengikuti Yesus adalah konsekuensinya. Dan benar, baru beberapa langkah keluar pintu gereja, bom meledak. Tepat jam 10.28 WITA.

Beberapa umat yang masih di lingkungan Gereja Katedral Hati Yesus Yang Mahakudus histeris sambil berteriak “Bom..bom…bommm.”

Benar saja, sepasang suami isteri yang mengendarai motor meledakkan dirinya di depan pintu masuk gereja tertua di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara itu. Mereka pun tewan mengenaskan.

Indonesia dan dunia berduka atas kejadian tersebut. Banyak pihak mengutuk, tapi tidak sedikit juga yang memberikan doa. Paus Fransiskus pun mengirimkan doanya atas tragedi di gereja yang didirikan pada 1898 itu.

Saya melihat peristiwa ini sebagai caraNya menunjukkan bagaimana kita memaknai Paskah 2021. Rangkaian minggu Prapaskah merupakan jalan yang mengantar kita untuk memaknai bom bunuh diri ini. Mari bersama kita renungkan bersama-sama.

Baca Juga: Beberapa Pastor Lupa, Mereka Dipanggil Meneladani Santo Yosef Di Masa Pandemi

Minggu Pertama Prapaskah kita diajak berziarah ke padang gurun bersama Yesus. Di dalam Injil yang dibacakan hari itu, Mrk 1:12-15, secara singkat dikisahkan bagaimana Yesus dicobai di padang gurun. Lalu bagaimana ia mengumumkan sudah datangnya Kerajaan Allah.

Pengalaman Yesus ini menunjukkan bagaimana kita juga kerap mengalami pengalaman padang gurun. Suatu pangalaman di mana kita kering dalam hidup, mencoba mencari oase, mencari Tuhan, mencari apa yang Tuhan kehendaki untuk saya lakukan dalam hidup ini. Dalam mencari jawaban, Yesus berpuasa. Di sanalah Dia digoda.

Minggu Kedua Prapaskah datang dengan petunjuk bahwa Tuhan ditemukan di gunung. Dikisahkan dalam Mrk 9:2-10, Yesus yang mengajak tiga orang muridnya, yakni Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di sana mereka melihat sisi lain dari pribadi Yesus. Ia “berubah rupa dan pakaiannya pun bersinar putih berkilauan”. Tampak juga kepada mereka Elia dan Musa yang sedang berbicara dengan Yesus.

Gunung kerap dipakai oleh penulis Alkitab untuk menggambarkan tempat Allah bersemanyam. Coba lihat, di puncak Sinai turunlah Sabda Tuhan dan loh batu kepada Musa (Kel 24: 12-18). Juga nabi Elia berjalan 40 hari 40 malam sampai ke gunung Horeb dan di sana ia menerima penugasan dari Allah untuk menunjukkan kewibawaan-Nya kepada raja Israel (1Raj 19:8-18).

Bersama ketiga murid Yesus, mari kita menuju gunung untuk bertemu Dia. Di mana? Gunung adalah suasana hangat dan intim bersama Dia di dalam doa. Bisa doa di gereja, bersama keluarga, atau doa pribadi. Kebersamaan dengan Dia dalam doa membuat batin kita penuh, berkobar, bahagia, seakan-akan surga sudah begitu dekat. Apalagi di saat kita sedang rekoleksi atau retret.

Namun di dalam Injil, Yesus mengingatkan setelah bertemu Tuhan di atas Gunung, Ia mengajak turun. Pengalaman batin yang begitu mempesona harus diimplementasikan ke dalam hidup sehari-hari. Jangan lupa, bahwa kita masih menapak tanah, mengirup udara, dan masih makan nasi. Perjumpaan dengan Dia harus mendorong kita untuk bekerja dengan lebih giat, melayani keluarga dengan lebih tulus, dan berkeras dalam menjalani perintah-perintahNya.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (5): Apakah Baptis Bayi Melanggar HAM?

Kemudian kita memasuki Minggu Prapaskah Ketiga. Injil hari ini tampak kontroversial. Yesus mengobrak-abrik pelataran Bait Allah karena dijadikan tempat berdagang dan kotor. Hal itu tergambar jelas dalam Yoh 2:13-22.

“Enyahlah, jangan bikin rumah Bapaku ini jadi pasar! (ay. 16),” seru Yesus sambil mengayunkan cambuk.

Ya, cambuk menjadi penting di sini. Kenapa cambuk? Di dalam Injil dikisahkan Yesus membuat cambuk dari tali untuk mengusir para pedagang dari Bait Suci. Tindakan ini adalah simbolis untuk mengingatkan kita apa yang dilakukan Yeremia (Yer 13:1-11).

Yeremia memperagakan tindakan menyembunyikan ikat pinggang di celah batu di pinggir sungai Efrat. Setelah beberapa waktu diambilnya kembali ikat pinggang itu, tapi sudah lapuk. Lalu ia bernubuat bahwa orang Israel kini lapuk seperti ikat pinggang itu.

Artinya, Yesus ingin mengatakan bahwa Bait Allah kini hanya dapat menjadi ibadat luar belaka dan orang bahkan lebih sibuk dengan mana hewan kurban yang mulus dan mana mata uang yang cocok. Yesus mengajak orang mencari Bait yang membuat batin plong. Bait Allah yang bisa membuat kita bertemu dengan Allah sendiri. Dan Bait Allah itu adalah Yesus sendiri.

Kekosongan hidup yang kita alami, mungkin saja karena kita terlalu sibuk mengurusi hal duniawi. Lupa bahwa dengan babtis, hati kita menjadi Bait Allah. Tempat di mana kita diminta untuk kembali ke dalam diri, berjumpa dengan Allah di dalam keheningan. Allah ditemukan bukan di luaran, tetapi Dia telah bersemayam di dalam hati kita. Tinggal bagaimana kita menyadarinya atau tidak.

Memang tidak mudah untuk merasakan kehadiran Tuhan. Banyak orang masih terus melakukan pencarian, salah satunya Nikodemus dalam Yoh 3:14-21 di Minggu Prapaskah Keempat. Di awal bacaan dituliskan, “Yesus berkata kepada Nikodemus yang datang kepada-Nya pada waktu malam…”

Malam adalah saat kegelapan dan kuasanya terasa mencengkam. Pembaca diajak Yohanes mengingat bahwa yang kini ditemui Nikodemus ialah Terang yang diwartakannya pada awal Injilnya. Terang datang ke dunia untuk menyingkirkan kegelapan. Kebenaran yang dicari Nikodemus tidak lain adalah Yesus sendiri Sang Terang. 

Bapa mengutus Yesus untuk membawa Terang ke dunia, membawa keselamatan. Cara yang ditempuh adalah dengan mati disalib untuk menebus dosa kita semua. Kenapa salib? Karena di sanalah Anak Manusia “ditinggikan” supaya semua orang melihat dan percaya bahwa Yesus adalah mesias. Ini nyambung dengan Minggu Prapaskah Kedua, di mana kemuliaan Tuhan itu selalu dinyatakan di tempat yang tinggi.

Sekarang kita memasuki Minggu Prapaskah Kelima. Di sini dikisahkan beberapa orang Yunani ingin bertemu Yesus. Di kala itu, orang Yunani dikenal sebagai pencinta kebijaksanaan. Ketika bertemu Yesus, mereka menemukan konsep kebijaksanaan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Bagi Yesus dan kita para muridnya, Salib adalah kebijaksanaan. Namun bagi orang Yahudi adalah batu sandungan dan bagi orang Yunani adalah kebodohan. Di dalam Injil, Yesus menyatakan bagaimana Ia akan mati. Dan bagi yang percaya, mati bersama Yesus di atas salib merupakan jalan keselamatan, merupakan kebijaksanaan sejati.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (4): Katolik Garis Lucu Vs Kasus Pelecehan Seksual Dalam Teropong Inkarnasi

Sampailah kita di Minggu Palma, perayaan dengan paradoks yang kental. Bacaan perarakan Mrk 11:1-10 mengisahkan bagaimana Yesus disambut meriah oleh orang banyak ketika memasuki kota Yerusalem. Namun saat Bacaan Injil disampaikan Kisah Sengsara Yesus dari Mrk 14:1-15:47. Yesus yang mulanya disambut bak raja lalu dibunuh dengan hina disalib.

Menarik memperhatikan catatan ahli Alkitab yang mengatakan bahwa Kisah Sengsara dalam Injil bukanlah laporan pandangan mata, melainkan sebuah narasi kesaksian orang-orang yang paham serta percaya bahwa sengsara dan kematian Yesus terjadi dalam rangka pengabdiannya untuk membangun kembali hubungan baik antara manusia dan Allah.

Kisah sengsaranya memperlihatkan betapa merosotnya kemanusiaan yang menolak kehadiran Yang Ilahi. Namun di kisah ini juga, Allah menegaskan tidak akan meninggalkan manusia dalam dosa. Semua orang dipanggil untuk masuk Kerajaan Surga. Inilah kabar baik bagi semua orang.

Namun kabar baik yang menjadi pesan dari perayaan Minggu Palma harus dibayar dengan peristiwa bom bunuh diri di Ketedral Makassar. Meledak di hari Minggu Palma. Apa bis akita melihat kabar bai dari peristiwa yang menuai banyak kutuk ini?

Mari kita telusuri lagi dari Minggu Prapaskah Pertama. Memasuki Prapaskah, kita diajak untuk berziarah bersama Yesus. Dimulai dengan jalan-jalan di padang gurun, merasakan kekeringan hidup rohani dalam mencari Tuhan, mencari KehendakNya, mencari Kebijaksanaan.

Pencarian dilakukan dalam laku pantang dan puasa. Minggu demi minggu kita bersama Yesus menemukan jawabannya. Tuhan ditemukan di gunung saat kita berdoa dan berpuasa, di Bait Allah yaitu di dalam hati kita, di dalam Terang yakni di dalam ajaran-ajaranNya, dan akhirnya Tuhan hanya bisa ditemukan saat kita mau memanggul salib dan turut disalib. 

Apakah berhenti sampai di situ? Tidak!!! Tuhan menjanjikan kebangkitan bagi siapa saja yang setia pada jalan salib. Dan itulah Paskah bagi kita semua. Lalu apa relevansi dengan peristiwa bom bunuh diri?

Bom bunuh diri yang terjadi pada Minggu Palma mengingatkan kita akan jalan salib yang harus kita selesaikan. Menjadi muridNya berarti mau sengsara untuk mendapatkan keselamatan. Tidak ada jalan pintas, tidak ada cara instan, tidak ada sogok-menyogok untuk mendapatkan tiket surga.

Pertemuan dengan Tuhan di dalam doa, dalam Misa, dalam hati kita, harus menjadi Terang di dalam perilaku kita sehari-hari. Tidak mudah!!!

Setelah pertemuan mengembirakan itu, kita harus turun gunung. Di saat itulah, kita akan pengalaman yang menantang iman seperti ledakan bom, ditawarin amplop yang tampaknya menjamin masa depan, dihadapkan isteri/ suami yang menjengkelkan atau anak yang tidak menurut, sampai tetangga yang kerap memancing keributan.

Saat itulah kita dipanggil untuk menjadi terang, sebagaimana Yesus sendiri diutus Bapa untuk menjadi Terang di dunia. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:23-24).

Bacaan: unio-indonesia.org

Foto: Liputan6.com

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply