Bahan Refleksi Bagi Kita yang Misa Online Selama Pekan Suci

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Bersama Romo Juliwan Maslim, SCJ, kita menghayati kehadiran Tuhan yang mengagumkan

Tidak semua orang Katolik pergi ke Gereja pada hari Minggu. Tetapi, hampir pasti mereka yang masuk golongan ini akan datang saat Perayaan Natal dan Paskah. Sehingga ada sebutan Katolik Napas, orang katolik yang ke gereja pada natal dan paskah.

Namun, apa daya untuk Perayaan Paskah saat ini kita diminta untuk misa online di rumah. Sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan. Pun bagi mereka yang Katolik Napas, rasa-rasanya mereka akan kecewa berat. Apa yang bisa kita buat dalam situasi seperti ini?  

Hal yang tak boleh kita lupakan, saat ini tetaplah Masa Prapaskah yang juga kerap disebut Retret Agung ini. Selama 40 hari kita tetap dipanggil untuk menjalani ‘doa-puasa-derma’. Inilah tiga pilar dalam mewujudkan kerinduan kita untuk bertobat dan mengalami lagi kasih Allah yang begitu besar di dalam kehidupan kita.

Olah batin kita selama 40 hari ini harus tetap berjalan demi merayakan puncak iman kita, yakni Kebangkitan Yesus Kristus pada Hari Raya Paskah. Kita semua diundang untuk masuk lebih dalam lagi sehingga iman kita semakin diteguhkan dan dimantapkan dalam mengikuti Yesus untuk selamanya.

Baca Juga: Begini Panduan Sikap Kita Saat Misa Online

Baca Juga: Apakah Boleh Orang Katolik Ikutan Panic Buying?

Baca Juga: Melihat Corona Dari Perspektif Iman Katolik

Covid-19 tak boleh menjadi alasan untuk jauh dariNya. Justru kita yang berjarak dengan gereja, menimbulkan rasa rindu yang mendalam terhadap Gereja. Kita yang merayakan di rumah masing-masing, semakin merasakan bagian dari Gereja semesta, solidaritas yang semakin tinggi, belarasa yang semakin sensitif terutama terhadap mereka yang menjadi korban dan para tenaga medis, dan akhirnya semakin merasakan kehadiran Tuhan Yesus dalam diri kita.

Inilah kiranya harapan bagi kita semua yang merayakan Misa Online sepanjang pandemik covid-19. Harapan yang sama juga hadir saat kita memasuki Pekan Suci, yang saat ini dibuka dengan Minggu Palma. Marilah kita memasuki Pekan Suci dengan iman bukan hanya kekecewaan karena tidak bisa ke gereja untuk merayakan ibadat dan Ekaristi.

Misteri Pekan Suci

Bagian akhir dan sekaligus menjadi bagian puncak dalam Masa Retret Agung Prapaskah ini adalah Pekan Suci. Selama satu minggu kita diajak untuk masuk ke dalam misteri Allah-Manusia dalam diri Yesus Kristus yang mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Tentu saja fokus kita bukan pada sengsaranya, namun pada Pribadi Yesus Kristus yang mengalami kesengsaraan itu, yang disebabkan oleh dosa manusia. Maka kesengsaraan ini berkaitan dengan dosa manusia dan bagi keselamatan manusia. Dalam hal inilah kita secara khusus diundang untuk masuk dalam perjalanan akhir hidup Yesus di dunia dan bagaimana pergolakanNya sebagai manusia bagi kita semua.

Selama Pekan Suci kita akan mengikuti secara lebih dekat hidup dan pemberian diri Yesus dengan membaca Kitab Suci, sesuai dengan Liturgi Gereja.

Untuk itu kita bisa mempersiapkan dan melihatnya dari berbgai media sosial yang sudah memuatnya. Dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci, khususnya bagian khusus di Pekan Suci ini, kita akan masuk lebih dalam lagi untuk mengenal Tuhan Yesus dan diri kita. Ambillah kesempatan pribadi untuk merenungkannya dan membawanya di dalam doa. Selain itu kita juga dapat membagikannya di dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing. Inilah saat doa dan saat bersama Tuhan secara lebih intim.

Kesempatan yang baik sekarang ini, kita dapat ikut merayakan Ekaristi harian secara online, silakan disiapkan sarananya dan pilihan Misa yang kita inginkan. Perayaan Ekaristi akan menambah kekayaan rohani pribadi kita, karena kita juga ikut menghadirkan Tuhan di dalam rumah kita masing-masing. Kehadiran Tuhan inilah yang menambah kekuatan dan kekayaan iman kita secara pribadi. Selama tiga hari (Senin, Selasa dan Rabu), kita mengikuti secara seksama proses perjalanan akhir hidup Yesus. Inilah saat istimewa bagi perjalanan iman kita, maka kita ingin sungguh merenungkannya melalui sarana yang ada pada kita.

Pujian dan Penghinaan (Perayaan Minggu Palma)

Pekan Suci diawali dengan Perayaan Minggu Palma, yang selalu kita rayakan secara meriah. Kita diajak masuk bersama Yesus ke kota Yerusalem, yang menjadi pusat peribadatan orang Yahudi karena di sanalah Kenisah Allah terletak.

Sebuah gambaran yang indah, karena hal ini juga mau mengingatkan kepada kita semua bahwa kita pun akan menuju kota Yerusalem, yakni yang abadi di Surga. Daun palma dan hamparan pakaian menjadi bagian penyambutan kedatangan Yesus yang menunggangi seekor keledai. Suasana sukacita dan kegembiraan seperti menyambut seorang raja. Tentu saja suasana ini, yang biasa kita lakukan, sekarang tidak akan terjadi, namun tetap kita rayakan.

Dengan merayakannya dari rumah, kita bisa menyiapkan daun palma. Bisa dipegang atau ditaruh di meja. Dengan daun palma, kita ikut serta menyambut Yesus yang memasuki Yerusalem, memasuki rumah dan keluarga kita masing-masing. Selanjutnya kita membuka hati untuk mendengarkan dan merenungkan bacaan Kitab Suci yang disajikan pada hari ini.

Secara khusus kita akan mendengarkan Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus. Inilah saat untuk masuk dalam misteri Tuhan Yesus yang disambut dan kemudian dihina serta disalibkan. Sebuah perubahan drastis terjadi.

Bawalah permenungan ini ke dalam kehidupan kita, di saat kita memuji dan memuliakan Tuhan dan ketika kita menjauh serta menyakiti Tuhan. Dengan kesadaran ini pula kita merayakan Ekaristi Minggu Palma ini seraya membawa sikap tobat dan penyesalan diri di seluruh perjalanan Pekan Suci ini.

Jika tidak ada daun palma, tidak mengapa. Bayangkan daun palma adalah sebagai sesuatu yang ada pada kita, yang ingin kita persembahkan kepada Tuhan.

Misteri Paskah (Trihari Suci)

Sekarang kita masuk ke dalam bagian inti dari seluruh rangkaian Pekan Suci ini, yakni Trihari Suci. Disebut Trihari Suci, karena masa khusus ini terdiri dari tiga hari, yaitu Kamis – Jumat – Sabtu. Ketiganya menjadi satu rangkaian yang tidak terpisahkan yakni Misteri Paskah, di mana kita mengyahati Sengsara – Wafat – Kebangkitan Yesus Kristus. Oleh sebab itulah kita selalu merayakannya, ketiganya dan bukan hanya salah satu saja.  

Memasuki Trihari Suci menjadikan kita semakin memahami dan mensyukuri karya keselamatan Tuhan bagi kita semua. Selain itu kita pun semakin mengenal Pribadi Yesus Kristus, yang selama ini menjadi pusat dan sumber iman kita. Oleh sebab itulah, kita dapat menjadikan Trihari Suci ini sebagai kesempatan kita untuk masuk ke dalam masa ‘Triduum’, yakni tiga hari untuk merefleksikan secara khusus puncak penebusan kita semua.

Jadikanlah tiga hari ini sebagai hari hening supaya semakin mampu membawa seluruh permenungan Misteri Paskah ini ke dalam hidup pribadi kita sehingga membawa sebuah pembaharuan hidup.

Baik kiranya kita membawa keprihatinan dunia terhadap covid-19 ke dalam doa dan permenungan selama Trihari Suci, sehingga seluruh dunia ikut serta dalam permenungan kita.

Marilah kita siapkan diri kita dan semua yang dibutuhkan untuk ikut serta dalam Perayaan Trihari Suci secara online ini. Walaupun kita mengikuti perayaan dari rumah, namun hati dan seluruh diri kita bersatu dengan seluruh Gereja yang sedang merayakan semua perayaan iman ini.

Oleh sebab itulah semua persiapan juga perlu dilakukan seperti jika kita akan merayakannya di gereja. Inilah kesempatan yang dapat kita gunakan bagi permenungan pribadi lebih mendalam.                                

Perintah Kasih yang Diwariskan (Kamis Putih)

Perayaan Kamis Putih pada hari ini menghantar kita masuk ke dalam Perayaan Misteri Paskah yang menjadi puncak serta sumber iman kita. Pada hari ini, tepatnya malam hari ini kita bersama merayakan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para rasulNya. Dan kita pun ingin ikut serta di dalamnya sebagai para rasul Yesus di jaman sekarang.

Maka mari kita hadirkan diri kita di dalam Perjamuan Yesus ini. Dari Perjamuan Malam Terakhir Yesus inilah lahir Perayaan Ekaristi, yang kita rayakan sampai hari ini. Berawal dari Perjamuan Paskah Yahudi dan diubah oleh Yesus menjadi Perayaan Paskah Baru dengan Tuhan Yesus sendiri sebagai Domba Paskah yang dikorbankan bagi keselamatan kita semua.

Dalam Perjamuan inilah Tuhan Yesus mengambil roti dan anggur, dan Ia menjadikan dan merubahnya menjadi Tubuh dan DarahNya yang diberikan bagi keselamatan semua manusia. Kita semua menerima makanan kehidupan saat kita menerima Tuhan Yesus di dalam hidup kita.

Pada Kamis Putih, Tuhan Yesus berpesan kepada para rasulNya untuk melakukan dan meneruskan Perayaan Perjamuan. Maka lahirlah pula Sakramen Imamat. Para imam hadir di dalam kehidupan kita untuk meneruskan amanat Yesus ini hingga hari ini. Maka baiklah juga, pada kesempatan ini kita juga mendoakan para imam.

Disebut ‘putih’, karena pada Malam Perjamuan ini lahir Hukum Kasih. Hal itu tampak dari pemberian diri Yesus pada umat manusia. Kedua tampak dari tindakan Yesus sebagai pelayan yang membasuh kaki para rasulNya. Kasih Tuhan Yesus itulah yang menjadi pusat permenungan kita pada malam ini.

Jika memungkinkan, dalam Perayaan ini, baiklah di rumah dan keluarga masing-masing, kita saling membasuh kaki. Kita ingin menghadirkan kembali Kasih Tuhan secara nyata di tengah keluarga kita. Inilah saat terindah bagi kita. Walau dunia resah melawan pandemik covid-19, tapi kita mampu hadir penuh harap karena merasakan kasih Allah yang nyata hadir di tengah keluarga. 

Perayaan Perjamuan Tuhan ini, kita akhiri dengan keheningan dan doa pribadi sambil merenungkan Tuhan Yesus yang berdoa di Taman Getsemani dalam sakrat mautNya.

Cinta dan Pengorbanan (Jumat Agung)

Hari ini adalah hari pantang dan puasa bagi kita semua. Fokus kita pada perayaan ini adalah Yesus yang tersalib, Yesus yang menderita sebagai pemberian total hidupNya kepada Bapa dan demi keselamatan semua manusia.

Pemberian diriNya dalam Perjamuan Malam terakhir di hari Kamis Putih lalu, sekarang disempurnakanNya dengan pemberian diriNya secara total dengan kematianNya. Kaitan yang erat antara kematian Yesus dengan ketaatan serta kesetiaanNya kepada Bapa demi keselamatan manusia.

Kisah Sengsara pada hari ini menjadi bagian pokok permenungan kita untuk masuk lebih dalam dan menyadari cinta dan pengorbanan Yesus. Hari ini kita juga membawa semua doa dan harapan  dalam Doa Umat khusus. Bersamaan dengan itu pula, kita membawa doa-doa kita secara pribadi kepada Yesus yang membuka hatiNya bagi kita semua.

Salib menjadi bagian perhatian kita pada hari ini, maka ketika prosesi dan penghormatan Salib, kita pun ikut serta di dalamnya. Sebaiknya pada hari ini, kita semua menyiapkan salib yang ada di rumah kita dan membersihkannya.

Tentu saja bukan bendanya yang menjadi perhatian, namun melalu sarana ini, kita ingin sungguh menyatukan hati dengan Yesus yang telah mempersembahkan hidupNya bagi kita semua. Salib ini menjadi tanda kehadiran Tuhan di dalam kehidupan kita.

Jadikanlah hari ini hari yang hening, hari permenungan pribadi. Masuklah ke dalam diri kita masing-masing dalam doa, refleksi dan dengan merenungkan Kitab Suci juga Renungan 7 Sabda Yesus di Salib, yang bisa disiapkan.

Keheningan dan Kemenangan (Sabtu Suci – Vigili Paskah)

Dalam suasana sunyi dan sepi kita memasuki hari ini, inilah Sabtu Sepi karena Yesus telah wafat dan dimakamkan. Hal ini mau membawa kita pada kesadaran akan kesunyian makam dan Yesus dibaringkan sendiri di sana.

Inilah saat kita masuk ke dalam diri kita sendiri sambil menemani Yesus yang terbaring di makam. Suasana redup menjadikan kita lebih menyadari apa artinya kematian Yesus bagi kita. Walaupun sudah terjadi lama, namun hari ini hadir kembali di dalam hidup kita. Inilah yang menjadi bagian permenungan kita sepanjang pagi hingga sore hari.

Sore dan menjelang malam, kita masuk dalam Vigili Paskah atau malam berjaga menyambut Kebangkitan Tuhan Yesus. Perayaan malam ini akan menutup rangkaian Trihari Suci kita dengan perayaan meriah.

Sebaiknya kita dengan sepenuh hati mengikutinya dari rumah masing-masing. Siapkan juga “lilin paskah” selain lilin yang ada di “meja altar” kita di rumah. Kita ingin menghayati Malam Paskah, walaupun di tempat terpisah, kita dapat mengikuti dan melakukannya sendiri dengan penuh khidmat.

Malam Paskah dibuka dengan Perayaan Cahaya. Cahaya dari api yang diberkati dan selanjutnya menjadi api bagi Lilin Paskah, menjadi tanda Kristus yang bangkit mulia. Kebangkitan itulah yang bercahaya dan menembus kegelapan malam dan makam, yang perlahan-lahan akan menerangi seluruh kegelapan hidup kita serta menghancurkan dosa kita semua.

Lilin bernyala menjadi tanda kehadiran Tuhan Yesus yang mulia di dalam kehidupan kita dan sekarang di tengah keluarga kita. Bersamaan dengan dinyalakan lilin umat, nyalakan pula lilin kita masing-masing dan setelah Pujian Kemuliaan, kita nyalakan lilin di ‘altar’ kita masing-masing.

Liturgi Sabda menampilkan serangkaian bacaan dari Perjanjian Lama yang menggambarkan sejarah keselamatan manusia yang telah berlangsung sejak dahulu. Selanjutnya masuk dalam Perjanjian Baru dengan puncaknya Kisah Kebangkitan Tuhan Yesus. Baiklah dengan seksama kita mendengarkan dan meresapkan semua bacaan yang didengarkan. Jika mungkin kita juga dapat membacanya sendiri dan merenungkannya sebelum misa online berlangsung.

Pada malam ini juga kita akan membaharui Janji Baptis kita secara khusus sebagai tanda pembaharuan hidup kita di hadapan Tuhan. Maka baiklah sebelum merayakan Pekan Suci dan Trihari Suci ini, kita telah mempersiapkan diri dengan pertobatan pribadi walaupun Sakramen Tobat belum bisa kita terima secara personal.

Perbaruilah Janji Baptis sambil meresapkan setiap pertanyaan yang disampaikan Imam dalam Perayaan ini. Secara rohani, kita semua akan menerima berkat khusus menjadi manusia baru dalam terang Kebangkitan Tuhan Yesus.

Masuklah ke dalam Perjamuan Paskah malam ini dan terimalah Berkat Paskah yang akan diberikan di akhir perayaan. Kita masuk ke dalam sukacita Kebangkitan Yesus dengan bersama berseru atau menyanyikan Alleluia, yang selama Masa Prapaskah tidak terdengar.

Terimalah kembali Tubuh Kristus secara rohani dan sadari kehadiranNya di dalam hati dan diri kita masing-masing pada saat ini. Walaupun keadaan dunia sedang sakit, namun Yesus tetap berada dan menjaga hidup dan jiwa kita semua dari serangan yang jahat.

Kita akhiri perayaan ini dengan memberikan salam Paskah dan berbagi Berkat Kebangkitan Tuhan dengan yang ada bersama kita pada malam ini, dalam keluarga kita.

Kumandang Sukacita Ilahi – Perayaan Paskah

Pekan Suci ini sempurnakan dengan Perayaan Minggu Paskah, sebagai perayaan Kebangkitan Yesus dan pewartaan akan kebangkitanNya. Mari kita rayakan Kebangkitan Tuhan ini dengan ucapan syukur, baik pribadi maupun bersama, karena karya Tuhan yang begitu besar di dalam kehidupan kita. Tentu saja bukan pertama-tama secara fisik, namun secara jiwa dan rohani. Bawalah diri kita masing-masing di hadapan Tuhan yang telah menjaga kita dengan makanan rohani setiap hari selain makanan jasmani yang kita terima dari alam ciptaan ini.

Kita rayakan Ekaristi ini dengan penuh sukacita sekaligus kesederhanaan dengan menyadari penyertaan Tuhan bagi kita semua. Bawalah ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memungkinkan kita semua merayakan Pekan Suci ini secara khusus dan khusuk bersama keluarga dan seluruh Gereja Umat Allah.

“Selamat Paskah – Alleluia”

“Tuhan Ada di Sini”

Perayaan Pekan Suci yang kita rayakan bersama ini sungguh menyadarkan kita bahwa Tuhan hadir di sini, di mana pun kita berada, di rumah dan keluarga kita. Inilah yang semakin menguatkan dan meneguhkan iman kita sehingga keadaan dunia kita sekarang ini bisa kita hadapi dengan tenang.

Tetap kuat dalam doa dan menjadikan diri kita sebagai Bait Tuhan yang indah, tempat Tuhan tinggal dan menyertai kita selalu. Tuhan memberkati, berkah dalem.

Facebooktwitterby feather
Johanes Juliwan SCJ
Biarawan-imam di Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Masuk pendidikan calon imam pada 1980, ditahbiskan 25 November 1993, melanjutkan studi di Institute Catholique de Paris (1996-2000). Lama berkarya sebagai formator calon biarawan dan/imam SCJ, kini sejak 3 Oktober 2014 melayani UKI (Umat Katolik Indonesia) di Canada.

Leave a Reply