Melihat Corona dari Perspektif Iman Katolik

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Virus corona sudah masuk ke Indonesia. Makin hari mereka yang terjangkit semakin banyak. Gereja sudah bersikap dengan mengeluarkan beberapa kebijakan. Bagaimana kita sebagai orang katolik menyikapi hal ini?

Teman saya mencoba merunut wabah yang pernah ada di dunia. Mulai dari wabah pes di Perancis di tahun 1720 yang menewaskan sedikitnya 100.000 orang. Kemudian ada wabah kolera yang menyebar di Thailand, Indonesia dan Filipina. Wabah di tahun 1820 ini menewaskan 100.000 orang.

Kembali ke Eropa, pada periode 1918-1920 terjadi wabah flu Spanyol (H1N1 influenza virus). Menurut catatan sejarah, flu ini menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia atau sekitar sepertiga dari populasi dunia. Ada sekitar 20 juta hingga 50 juta korban jiwa, termasuk sekitar 675.000 orang Amerika.

Dan kini dunia digemparkan oleh kasus corona yang diberi nama resmi Covid-19. Menurut Johns Hopkins CSSE yang dikutip CNBC Indonesia, per hari ini, Rabu 11 Maret 2020 pagi, jumlah total korban terinfeksi corona mencapai 118.582 di seluruh dunia, dengan korban meninggal sebanyak 4.262 orang. Dari total itu, sekitar 81.000 kasus terpusat di China. Negara kita sendiri sudah terjangkit Covid-19. Sejauh ini sudah ada 27 orang positif terinfeksi.

Baca Juga: Bulan Arwah 2019 Sangat Istimewa, Ini Penjelasan Lengkapnya

Melihat rentetan wabah ini, teman saya mengambil kesimpulan pribadi. Menurutnya, (mungkin) secara periodik, alam menciptakan wabah untuk menekan jumlah populasi dunia dan mengatur keseimbangannya. Apakah benar kesimpulan teman saya ini?

Sebelum saya jawab, mari kita kaji Alkitab yang ternyata juga memuat beberapa peristiwa wabah atau kejadian yang banyak memakan korban jiwa. Tapi apakah ini juga bertujuan seperti teman saya sebut sebagai “upaya” mengurangi dan menyeimbangkan populasi dunia?

Di dalam Kitab Kejadian saja setidaknya memuat 3 peristiwa yang cukup dahsyat. Pertama peristiwa air bah di zaman Nabi Nuh (Kej 7-8). Melihat kejadian ini pasti kita semua ingat akan Bahtera Nuh yang banyak dibuat film. Bencana mengerikan ini terjadi setelah Tuhan melihat “bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kej 6:5).

“Keganasan” Tuhan kembali tampak dari peristiwa kehancuran Sodom dan Gomora (Kej 19). Dikarenakan oleh dosa-dosa penduduk Sodom dan Gomora, “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit. Dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah” (Kej 19:24-25).

Berikutnya yang juga menghebohkan adalah 10 tulah dari Tuhan yang menimpa Mesir (Kel 7-12). Tulah itu adalah sungai dan semua sumber air berubah menjadi darah hingga menewaskan ikan-ikan dan semua kehidupan air lainnya; Binatang-binatang amfibi yang kemungkinan adalah kodok; Nyamuk; Lalat pikat; Penyakit (sampar) pada ternak; Barah yang tidak dapat disembuhkan; Hujan es bercampur api; Belalang; Kegelapan: Kematian anak-anak sulung dari semua keluarga Mesir.  

Wabah yang terekam dalam Alkitab dan zaman modern sama-sama mengerikan. Tapi, peristiwa dalam Kitab Suci tidak bisa diterima begitu saja sebagai sebuah fakta sejarah, karena Alkitab adalah hasil refleksi iman para penulis kitab.

Setiap wabah atau bencana datang, refleksi yang muncul adalah Tuhan menghendaki hal itu terjadi karena dosa manusia. Semua berawal dari ketidaktaatan dan ketidaksetiaan manusia terhadap perintah Tuhan. Dari sanalah muncul wabah, bencana, kejahatan, ketidakadilan, pertikaian, perpecahan, peperangan, dan lain sebagainya.

Dosa kesombongan, keangkuhan, dan keserakahan manusia sejak Adam dan Hawa membawa harmoni alam rusak. Padahal sejak awal mula kita telah diserahkan alam semesta beserta isinya untuk kita kelola dengan baik (bdk. Kej 1:28-30).

Perikopa lain yang pantas untuk kita rujuk adalah Mazmur 104:1-35 tentang kebesaran Tuhan dalam segala ciptaan-Nya. “Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah (Mazmur 104:14).

Panggilan Kembali Menjadi Kudus

Kalau dilihat fenomena wabah atau bencana, baik yang diungkap teman saya maupun tertulis dalam Alkitab, subyeknya adalah kita manusia. Kita yang berdosa, kita yang berbuat, kita yang adalah ciptaan mulia maka kita harus berani tanggung jawab.

Jangan kita yang berbuat tetapi ketika ada wabah dan bencana malah lempar ke pihak lain, misalnya mengatakan bahwa ini adalah Tuhan marah, atau ngeles ini nasib/ takdir, atau malah mengatakan ini adalah cara alam untuk menyeimbangkan jumlah penduduk. Sekali lagi, kalau premis awalnya adalah manusia maka ketika masuk pada kesimpulan, manusianya jangan lari.

Kalau menilik kembali Alkitab, para Bapa Gereja merefleksikan bahwa segala wabah, bencana, atau fenomena alam tidak lazim untuk menunjukkan eksistensi Tuhan. Menurut mereka, manusia diingatkan kembali bahwa Dialah Tuhan (Kel. 7:4-5; ;12:12; 18:11), Dialah satu-satunya Allah (Kel. 9:14) maka jangan menyembah pada dewa atau mendewakan orang/ benda; Karena Tuhan menginginkan hubungan yang eksklusif dengan manusia, tak mau diduakan (Kel. 10:1-12; 11:7); Dan untuk menunjukkan ciri khas naturNya, keunikanNya, imanensiNya, kekuatan dan kuasaNya (Kel. 8:6, 16; 9:14, 29).

Tuhan yang Mahakuasa ingin hubungan kita denganNya eksklusif. Kita akan diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian kalau kita hanya menyembah Dia dan tunduk pada perintahNya. Relasi seperti ini, mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk ciptaan yang mulia dan diciptakan sungguh amat baik (Kej 1:31). Bahkan sebagai murid Yesus, status kita adalah anak Allah yang kudus karena segala dosa kita telah ditebus oleh Sang Putera.

Oleh karena itu, wabah dan bencana membawa kita pada kesadaran dipanggil untuk kembali menjadi kudus, kembali ke eksistensi kita sebagai makhluk ciptaan yang tunduk pada Dia (bdk. Imamat 19:2; 1 Petrus 1:15).

Kudus itu bisa bermakna lahir dan batin. Kita dipanggil untuk menjaga kebersihan diri kita, baik itu kebersihan fisik maupun bersih hati karena menjauhkan diri dari perbuatan dosa. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor 6:19-20; bdk. Ul 23:14; 1 Kor 3:17; Ef 5:29; 3 Yoh 1:2; Roma 12:1).

Langkah Konkret

Wabah Covid-19 sudah terjadi dan ada di depan kita, lalu kita bisa apa? Pertama jangan lempar masalah ini pada Tuhan, menyalahkan kelelawar, dianggap takdir atau malah menuding alam sebagai penyebab. Sekali lagi saya tegaskan, kita adalah makhluk yang diciptakan beda karena secitra denganNya dan sungguh amat baik, maka harus berani tanggung jawab.

Gereja melalui Paus Fransiskus mengajak kita untuk merefleksikan atas apa yang terjadi pada alam dengan panduan Ensiklik Laudato Si. Ensiklik yang dipublikasikan pada 18 Juni 2015, berisi tentang kepedulian memelihara alam ciptaan sebagai rumah umat manusia.

Laudato Si (bahasa Italia) diadopsi dari nyanyian Santo Fransiskus dari Asisi, yang versi panjangnya Laudato Si, mi’ Signore; artinya Terpujilah Engkau Tuhanku. Melalui ensiklik ini, Paus menyerukan pentingnya mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan hidup.

Menurutnya, kerusakan yang terus-menerus dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan sebagai satu tanda kecil dari krisis etika, budaya dan spiritual modernitas.“Bumi, rumah kita, semakin menyerupai tumpukan sampah. Di berbagai wilayah bumi, daerah yang semula cantik telah tertutupi dengan sampah,” katanya seperti dikutip VOA, Jumat (19/6/2015).

Di dalam ensiklik kedua setelah Lumen Fidei (Terang Iman), Paus mengingatkan bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk merawat bumi yang adalah milik Allah dengan cara memanfaatkan akal budi untuk menyeimbangkan hukum alam. “Tanggung jawab terhadap bumi milik Allah ini menyiratkan bahwa manusia yang diberkati dengan akal budi, menghormati hukum alam dan keseimbangan yang lembut di antara makhluk-makhluk di dunia ini.” (Laudati Si, nomor 48).

Baca Juga: Menyikapi Ceramah UAS Dengan Keteladanan Bunda Maria

Saya merasa yakin, wabah Covid-19 dan juga wabah atau bencana lainnya, terjadi karena ada keseimbangan alam yang terganggu. Paling gampang bencana alam, terjadi karena kita serakah memanfaatkan alam dengan menebang pohon tanpa menanam kembali, membuang sampah di sungai dan laut, serta perbuatan lainnya.

Terkait dengan Covid-19 yang konon ditularkan oleh hewan, bisa jadi karena hasil mutasi virus sebagai imbas polusi atau pemanfaatan bahan kimia yang berlebih. Atau jika terkait dengan alam, ada ketidakseimbangan rantai makanan di alam karena perbuatan manusia yang memburu hewan tertentu secara berlebihan atau merusak ekosistem tempat hidup hewan.

Laudato Si menyadari bahwa manusia bebas menerapkan kecerdasannya bagi perkembangan positif, tetapi juga dapat menjadi sumber penyakit baru, penyebab baru penderitaan dan kemunduran nyata. Inilah yang membuat sejarah manusia menjadi menarik dan dramatis, di mana kebebasan, pertumbuhan, keselamatan dan cinta dapat berkembang, sekaligus juga dapat terjadi pembusukan dan penghancuran satu sama lain.

Oleh karena itu, maka dalam hal ini Gereja tidak hanya berusaha untuk mengingatkan akan tugas perawatan alam, tetapi sekaligus “terutama ia harus melindungi umat manusia dari penghancuran diri” (Laudato Si, nomor 79).

Jadi kapan kita mulai melakukan perubahan dan kembali menjadi kudus? Yuks mulai dari hal kecil, seperti diet plastik, mumpung masih dalam masa prapaskah, masa pertobatan.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply