Apakah Boleh Orang Katolik Ikutan Panic Buying?

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Memasuki tahun 2020, Gereja Katolik Keuskupan Jakarta resmi mendedikasikan tahun ini sebagai Tahun Keadilan. Sesuai dengan Pancasila, sila ketiga. Namun, nyaris 2 bulan kemudian semangat keadilan ini mendapat tantangan dari fenomena panic buying. Ngenes!

Pada hari Senin 2 Maret 2020, selang beberapa jam Presiden Joko Widodo mengumumkan ada  dua WNI positif covid-19, supermarket dan apotik diserbu masyarakat. Saya yang pada hari itu di Kelapa Gading, melihat sendiri bagaimana orang berbondong-bondong memborong kebutuhan pokok.

Apa yang saya alami ternyata menjadi fenomena di banyak tempat di Tanah Air karena masuk berita online dan televisi. Tak ketinggalan laman media sosial semakin memacu orang yang awalnya nyantai jadi ikutan panik memborong apa saja, khususnya masker, hand sanitizer hingga bahan baku jamu. Sampai yang menurut saya tidak masuk akal, ada orang yang beli minyak goreng sampai 1 kardus besar. Gilaaak!!!

Apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, harga-harga meroket. Bahkan di pasar tradisional. Yang paling ngenes adalah kebutuhan masker, hand sanitizer, sampai thermometer infrared jadi langka. Kalau pun ada, harganya mencekik. Padahal itu “senjata” bagi masyarakat luas untuk mencegah penyebaran virus covid-19 semakin meluas di Tanah Air.

Efek panic buying ini masih terjadi sampai sekarang, khususnya untuk kebutuhan kesehatan. Ternyata, panic buying terkait virus corona juga terjadi di luar negeri. Di negara maju seperti Amerika Serikat juga masyarakatnya menyerbu pusat-pusat perbelanjaan.

Bersikap Adil

Kondisi panic buying sangat disayangkan. Apalagi jika itu dilakukan oleh orang Katolik di Jakarta, yang mana sedang menghidupi Tahun Keadilan. Uskup Kardinal Ignatius Suharyo mengajak seluruh umat di Keuskupan Agung Jakarta untuk mendalami, menghayati, dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam sila kelima: Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Tema yang diambil tahun ini adalah “Amalkan Pancasila. Kita Adil, Bangsa Sejahtera.” Tema ini merupakan tahun kelima dari rangkaian tema Tahun Pastoral 2016-2020 yakni, “Amalkan Pancasila.”

Kardinal pada saat Misa Pembukaan Tahun Keadilan Sosial 2020 di Jakarta (4/1/2020) mengatakan bahwa sebagai umat Tuhan kita semua diutus untuk melibatkan diri dalam setiap usaha untuk mewujudkan kebaikan bersama, dengan memberi perhatian lebih kepada yang kurang beruntung.

Wujud perhatian terhadap yang kurang beruntung melalui berbagai langkah kreatif yang mendorong adanya pembaharuan iman menjadi semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbelarasa.

Baca Juga: Melihat Corona Dari Perspektif Iman Katolik

Ketika seseorang mengaku dirinya beriman, pasti salah satu buahnya yang paling jelas adalah persaudaraan. Kalau sesama kita dipandanga sebagai saudara dengan demikian rasa bela rasa itu akan muncul. Hati kita tergerak untuk memberikan belas kasih saat saudara kita mengalami kesusahan. Inilah yang dimaksud dengan “semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa.”

Bersikap adil dan berbela rasa tidak bisa dipisahkan. Mengaku adil tetapi tidak berbuat kasih, itu omong kosong. Mengaku berbela rasa tetapi tidak bisa adil, juga sama bodongnya. Maka kedua hal ini harus diasah secara bersama untuk mewujudkan iman yang hidup di tengah bermasyarakat.

Apa hubunganya dengan iman? Yesus pernah bersabda di Matius 25:40, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Maka ketika kita semakin adil, ketika bangsa kita semakin sejahtera, pastilah wajah Allah yang mahabaik dan mahamurah juga akan semakin tampak. Gampangnya, orang akan merasakan kehadiran Tuhan saat dia merasa diperlakukan adil dan menerima belas kasih dari sesamanya. Begitu juga sebaliknya, kita akan merasakan kehadiran Tuhan dari senyum bahagia orang yang kita kasihi.

Supaya mudah menghayati bagaimana bersikap adil itu dan bagaimana menghadirkan wajah Allah pada sesame, maka KAJ meresmikan Patung Yesus Tunawisma. Patung ini sebagai sarana untuk menghayati Injil tadi. Setiap kali melihat patung ini kita diingatkan untuk bersikap adil dan kasih kepada sesame di sekitar kita.

Harapannya, kita bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kalau itu benar berjumpa dengan Dia, maka indikatornya hidup kita akan berubah. Bertemu dengan Tuhan sama saja bertemu dengan kasih. Maka orang yang dipenuhi oleh kasih akan terdorong untuk membalas kasih itu dengan membagikan kasih kepada sesama.

Beranikah Bersikap Adil?

Apa yang Kardinal katakan pastinya bukan omong kosong. Landasannya jelas, yakni 1 Yohanes 4:19, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Jadi, kalau kita diminta untuk “semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa,” dalam rangka mewujudkan keadilan maka itu adalah panggilan hidup kita.

Menurut saya, tindakan panic buying bertolak belakang dengan semangat “Amalkan Pancasila. Kita Adil, Bangsa Sejahtera.” Panic buying dilakukan oleh mereka yang berduit. Tindakan mereka akan memicu kenaikan harga. Kembali, mereka yang bisa beli barang dengan harga tinggi adalah mereka yang berduit. Padahal, ada banyak masyarakat kita yang jauh lebih butuh tetapi tidak bisa membeli. Apakah ini bisa dikatakan dengan adil? Apakah ini bisa membuat bangsa sejahtera?

Kalau kita ingin melihat dampaknya lebih jauh, panic buying bisa memicu kerusuhan. Sebagian masyarakat yang didesak oleh kebutuhan tetapi tidak punya kemampuan finansial, mereka bisa nekat. Mereka bisa saja menjarah toko atau supermarket. Jika di tempat itu sudah tidak ada, sasaran berikutnya bukan tidak mungkin adalah merangsek ke pemukiman orang kaya. Gerakan ini jika dikasih bumbu SARA maka akan menyulut kerusuhan yang semakin menjauhkan kita dari cita-cita bangsa yang sejahtera merata.

Saat ini dunia sedang cemas. Virus corona membuat ekonomi yang sulit semakin sulit. Di tingkat bawah, akses kepada kebutuhan pokok dan alat kesehatan juga masih sulit. Maka pertanyaannya, beranikah kita sebagai murid Yesus menjadi nabi cinta kasih dan persaudaraan?

Sumber: Keuskupan Agung Jakarta

Menjadi nabi zaman sekarang bukan hal mustahil. Menurut saya, sosok seperti Susanna Indriyani (57), pemilik toko sembako di Jalan K Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara adalah nabi kekinian yang menumbuhkan harapan akan cita-kita “Tahun Keadilan.”

Pemilik Toko Erwin itu menolak warga yang ingin memborong sembakonya. Ia membatasi jumlah sembako yang bisa dibeli oleh tiap orang. Harga yang ia tetapkan pun normal. Menurutnya, hal ini ia lakukan supaya warung-warung kecil langganannya, yang berjumlah 20-30 warung, bisa tetap berjualan.

Tak heran, apa yang dilakukan Susanna berserta suaminya banjir pujian. Bahkan tidak sedikit memberikan penghargaan, salah satunya dari Polres Jakarta Utara.

Contoh lain adalah Presiden Jokowi yang mengangkat isu panic buying dalam bentuk komik bercerita di Instagramnya. Di sana ditekankan bahwa tindakan panic baying merupakan tindakan yang tidak adil terhadap mereka yang miskin dan lebih membutuhkan.

Bagi saya, tindakan Jokowi ini sangat injili dan secara konkret mengaplikasikan Tahun Keadilan yang diluncurkan oleh KAJ.

Jadi, kita sebagai murid Yesus, terlebih yang tinggal dalam Keuskupan Agung Jakarta, beranikah bersikap adil? Beranikah kita mempraktikkan semangat semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa. Karena sekali lagi, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” (Matius 25:40).

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply