Di era digital saat ini, informasi menjadi sangat terbuka. Orang dengan mudah membagikan ilmu pengetahuannya, dan orang banyak pun bisa mengaksesnya secara bebas. Dalam konteks hidup menggereja, belakangan ini makin banyak awam Katolik tertarik mengenal dan mendalami teologi.
Ilmu teologi yang dulu hanya bergaung di dalam tembok-tembok biara, saat ini mulai masuk ke ranah publik. Ilmu tentang sejarah Gereja, Kitab Suci, berbagai ajaran Gereja, sampai moral dan etika jadi topik hangat di kalangan awam. Mereka tidak hanya mengakses ilmu tersebut di paroki, kanal daring, tetapi tidak sedikit dari mereka duduk di bangku kuliah, baik di strata 1 atau bahkan sampai tingkat lanjut.
Baca Juga: Sudah Saatnya Pastor Memperhitungkan Bahaya Brain Rot Saat Homili
Salah satu implikasi yang dirasakan adalah cukup banyak awam yang punya ilmu di bidang teologi. Belum ditambah dengan awam yang sebelumnya berstatus sebagai “kaum berjubah,” yakni mereka yang mendalami teologi dan filsafat untuk menjadi seorang biarawan/ biarawati atau pastor sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur.
Di sisi lain, saat kita memutuskan untuk membuka mata secara obyektif, ada saja kasus skandal yang melibatkan kaum berjubah. Entah itu biarawan, biarawati, pastor, bahkan juga ada uskup yang terlibat skandal. Mulai dari skandal keuangan, penyalahgunaan kekuasaan/ jabatan, bahkan skandal seksual.
Situasi di atas, paling tidak membuat saya berpikir. Satu sisi, ada banyak awam memberi perhatian lebih pada isu teologis, yang beberapa di antaranya bahkan punya keahlian. Di sisi lain, kita (atau setidaknya saya) melihat beberapa oknum kaum berjubah tersandung skandal. Maka tersajilah dua fakta yang tidak saling terhubung: awam yang menguasai teologi vs kaum berjubah terlibat skandal.
Baca Juga: Beberapa Pastor Lupa, Mereka Dipanggil Meneladani Santo Yosef di Masa Pandemi
Walau tidak ada hubungannya, namun fakta tersebut memantik pertanyaan kritis, “Jika awam menggandrungi teologi, apa istimewanya kaum berjubah yang pada saat bersamaan justru jatuh dalam skandal?”
Sebuah pertanyaan yang mengantar saya pada refleksi profesionalitas seorang pastor. Refleksi ini bukan berlandas pada rasa sakit hati seorang mantan kaum berjubah, juga bukan karena dendam atau iri hati, tetapi bentuk cinta pada pemimpin agama saya. Refleksi ini semakin bernyawa setelah saya membaca postingan Romo Santoso SCJ alias Mosan di akun Instagramnya.
Berikut saya kutipkan:
Ada yang menyebut, “Ada Romo yang sombong?” Ada apa ya? Mungkin, romonya lagi merasa “paling hebat”. Lupa ya. Bahwa seorang Romo itu seorang gembala. Seorang pelayan. Seorang hamba. Seorang “Alter Christi”.
Ada yang bilang, “Ada Romo yang banyak gaya?” Lho, ada apa? Mungkin mau berakting jadi “selebritis”. Lupa ya. Bahwa seorang Romo itu ya tampil saja yang sederhana. Bergaul dengan biasa. Bisa menerima siapa saja. Tidak pilih-pilih dalam bergaul.
Ini yang lebih menggelitik. “Hmmm, ada Romo yang tidak jelas githu?” Lha, apanya yang tidak jelas? Hidupnya. Lupa ya. Bahwa seorang Romo harus bisa menjaga kesuciannya. Terus menjaga persembahan hidupnya. Hidupnya koneksinya tidak terputus dengan Tuhan.
Karena, aku yang mendengar, dan aku seorang Romo juga, yach … Aku harus bisa mendengarkan kritikan supaya hidupku tidak memberikan kesan yang “tidak-tidak”.
Aku sebagai Romo, berterimakasih ketika diberi masukan, bahkan dikritik. Membuat hidupku jadi lebih baik.
Dua kata ini, “Introspeksi Diri”. Penting!
Macau, 11 Oktober 2026
Rm. Petrus Santoso SCJ
Profesionalitas Kaum Berjubah
Kita kerap mendengar dan menggunakan kata ”profesi” dan “profesional” dalam bincang harian. “Bapakmu profesinya, apa?” atau kita memberi komentar, “Hasil kerjanya memang profesional.”
Menurut KBBI, profesi merupakan bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu. Ada banyak bidang pekerjaan, misalnya guru, perawat, bidan, dokter, pengacara, arsitek, bahkan presiden dan wakil presiden itu masuk dalam profesi jika dilandasi oleh keahlian yang mendukung.
Dari sumber yang sama, kata “profesional” terkait dengan profesi. Seseorang bisa dikatakan profesional pada profesinya jika yang bersangkutan menguasai bidang kerjanya baik berdasar pada latar belakang pendidikan, pengalamannya, dan juga sikap dalam bekerja. Atas profesionalitasnya, orang tersebut berhak mendapat bayaran yang sesuai, hal yang tidak bisa disamakan dengan orang amatir.
Kita ambil contoh, seorang guru bisa disebut profesional jika dia punya ilmu dan kemampuan dalam mengajar, bertanggung jawab, mampu memberikan contoh dan teladan dalam kedisiplinan, integritas, serta etika. Makin profesional, seorang guru harusnya mendapat penghargaan yang tinggi.
Baca Juga: Terang dan Kemuliaan Bapa, Pergulatan Seorang Pastor Menghadapi Covid-19
Jika kembali ke bahasan awal, apakah pastor itu profesi? Saya pribadi menganggap pastor adalah salah satu profesi yang dipilih oleh seseorang. Jika benar pastor adalah profesi, bagaimana kita menilai seseorang pastor profesional atau amatir (tidak profesional)?
Profesi pastor, khususnya dalam Gereja Katolik, tentu berbeda dengan profesi duniawi pada umumnya. Menjadi seorang pastor terkait erat dengan panggilan Ilahi, karena itu profesionalitas pastor tidak sebatas soal keterampilan tetapi integritas hidup dan spiritualitas. Tetapi, sebagai awam, kacamata apa yang bisa kita pakai untuk melihat apakah seorang pastor profesional?
Kacamata paling valid adalah Alkitab, landasan iman yang sama untuk semua umat beriman, apapun profesinya. Saya coba rincikan poin profesionalitas pastor beserta landasan Alkitabnya.
- Setia pada panggilan dan spiritualitas
Seorang pastor setia pada panggilan dan mewujudkan relasi intimnya dengan Tuhan ke dalam pelayanan kepada umat. Kesetiaan tidak berarti tanpa cela, tetapi tak henti membarui jawaban atas panggilan Tuhan. Bagaimana wujud kesetiaan itu?
a. Relasi yang dalam bersama Tuhan.
Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu… barangsiapa tinggal di dalam Aku, ia berbuah banyak” (Yohanes 15:4–5).
b. Tak henti berdoa dengan tulus.
“Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu… maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya” (Matius 6:6).
c. Hati yang selalu mau diubah Allah.
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Matius 15:8).
d. Selalu rindu pada Allah.
“Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup” (Mazmur 42:2).
e. Dipimpin oleh Roh, bukan keinginan daging.
“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Galatia 5:16).
f. Akar yang kuat dalam Kristus.
“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia” (Kolose 2:7).
g. Mengenal Allah secara pribadi, bukan soal intelektualitas.
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau…” (Yohanes 17:3)
2. Kompeten dalam Pelayanan Sakramental dan Pastoral
Pastor yang demikian adalah mereka yang memiliki pengetahuan teologis yang memadai. Itulah mengapa mereka yang ditahbiskan bisa dipastikan sudah memenuhi syarat minimal pendidikan formal. Namun, hal tersebut tidak cukup apalagi di era sekarang banyak awam yang lebih mumpuni dalam hal teologi. Maka, seorang pastor dituntut punya keterampilan dan kesiapan rohani untuk melayani sakramen kepada seluruh umat Allah. Berikut rinciannya:
a. Melayani dengan sungguh dan sepenuh hati
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).
b. Setia dalam perkara kecil.
Pastor mesti teliti, detail dalam pelayanan, bertanggung jawab, dan arif, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar” (Lukas 16:10).
c. Mengembangkan talenta tanpa henti.
Bisa baca dan renungkan “perumpamaan tentang talenta” pada Matius 25:14–30.
d. Mempersiapkan diri untuk pelayanan.
Pelayanan bukan sekadar siap sedia dan bermodal niat baik, tetapi memerlukan latihan terus menerus supaya sikap melayani menjadi milik, “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan…” (Efesus 4:12).
e. Mampu mengajar dengan baik dan benar.
Terkait dengan pemahaman teologi yang baik, benar, dan menyeluruh. Maka, seorang pastor dan sebaiknya seluruh kaum berjubah senantiasa belajar untuk menjadi layak di hadapan Tuhan, secara intektual, rohani, maupun tindak tanduk. “Seorang penilik jemaat harus… cakap mengajar” (1 Timotius 3:2).
f. Diterangi Roh Kudus dan memiliki kebijaksanaan rohani.
Pelayanan butuh kemampuan mengambil keputusan yang tepat, terutama menghadapi dinamika umat di tengah kompleksitas masalah dunia. Maka peganglah ayat ini, “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah…” (Yakobus 1:5 dan bandingkan Kisah Para Rasul 6:3).
Baca Juga: Gigih Lawan Human Trafficking, Pastor Paschal Diganjar Penghargaan LPSK
3. Berintegritas dan Beretika
Integritas dan etika adalah dua hal yang menurut saya wajib dimiliki oleh semua orang. Untuk bisa sukses menjadi manusia, seseorang tidak cukup hanya modal cerdas secara intelektual. Sudah banyak orang Indonesia yang cerdas dan pintar, tapi banyak di antara mereka juga yang melakukan korupsi, bersikap arogan, dan menerabas norma masyarakat karena nir integritas dan etika. Seorang pastor tentu punya tuntutan lebih tinggi untuk memiliki integritas dan etika dibandingkan awam, atau masyarakat pada umumnya. Apakah Yesus meminta dua hal itu untuk dimiliki seorang pastor?
a. Setia dalam perkara kecil.
Mulai dari hal yang sederhana, yakni setia pada hal-hal kecil dan sederhana, seperti tersenyum pada semua orang atau mencatat pengeluaran sekalipun hanya Rp1000. “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar…” (Lukas 16:10).
b. Kejujuran dalam segala hal.
Apa yang dikotbahkan harus selaras dengan laku hidup nyata. Integritas menuntut kita untuk tidak bersikap manipulatif atau berbelit-belit. “Hendaklah ‘ya’ diartikan ‘ya’, dan ‘tidak’ diartikan ‘tidak’…” (Matius 5:37).
c. Dapat dipercaya sebagai pengelola.
Pastor secaca khusus, dan kita umat Katolik dipanggil untuk menjadi pelayan layaknya Yesus sang junjungan kita. Sebagai pelayan Tuhan, kita punya kriteria khusus yakni dapat dipercaya. Tuhan menuntut kita memiliki akuntabilitas. “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Korintus 4:2).
d. Hidup jujur di hapadan Tuhan dan sesama.
Poin ini mirip dengan (b), karena pastor yang asumsinya lebih sering berdoa, dituntut untuk memiliki sikap yang selaras dengan hidup rohaninya. Kepercayaan tidak tampak dari dalam, tetapi harus terlihat dan transparan secara publik. “Kami berusaha melakukan apa yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia” (2 Korintus 8:21).
e. Reputasi yang baik.
Orang yang dapat dipercaya memiliki kesaksian hidup yang konsisten, baik di dalam komunitas maupun di luar. “Haruslah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat…” (1 Timotius 3:7).
f. Menjauhi tipu daya dan ketidakjujuran.
Berintegritas berarti hidup apa adanya, tidak berkelit dalam kebohongan, dan berani menjadi pribadi terang. “Kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan…” (2 Korintus 4:2).
g. Hidup integral dengan Yesus
Kesetiaan tidak hadir tiba-tiba, perlu latihan rohani sejak usia dini, sejak kali pertama menyatakan komitmen menjadi murid Yesus. Maka, teladan utama dalam kesetiaan adalah Yesus sendiri, Dia yang setia mengikuti kehendak Bapa sekalipun harus menderita dan wafat di atas kayu salib. Dan pada akhirnya, kesetiaan yang kita miliki merupakan buah Roh yang dianugerahkan Tuhan sendiri. “Buah Roh ialah… kesetiaan…” (Galatia 5:22).
Baca Juga: Pemimpin Agama Versi Yesus dalam Terang Iman Katolik
4. Memiliki Kemampuan Berelasi (Human Skill)
Pastor secara sosial memang punya kedudukan. Jika dibandingkan dengan pemimpin agama lain, harus kita akui mereka memang layak disebut pejabat. Namun tidak demikian dengan pastor. Mereka adalah gembala, pelayan, seseorang yang jauh dari kesan negatif yang kerap kita sematkan pada para pejabat. Bagaimana seharusnya pastor yang punya human skill?
a. Ikut teladan menjadi gembala yang baik.
Yesus yang adalah Tuhan tidak hadir ke dunia sebagai pejabat. Dengan penuh kesadaran Ia menyapa kita semua dalam rupa sebagai seorang gembala. Bukan sembarang gembala tetapi gembala yang rela menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan kawanan domba-Nya. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11).
b. Mengenal dan dikenal oleh umat.
Pastor harus keluar dari sakristi dan bertemu serta menyapa semua umatnya. “Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yohanes 10:14).
c. Menggembalakan dengan sukarela.
Menjadi pastor bukan profesi untuk mencari keuntungan, uang, dan kekuasaan. Ini adalah profesi yang dijalankan secara sukarela dan ketulusan hati. “Gembalakanlah kawanan domba Allah… jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela… jangan karena mau mencari keuntungan” (1 Petrus 5:2–3).
d. Teladan bukan penguasa.
Pemimpin keluarga atau perusahaan saja dituntut menjadi teladan supaya komunitas bisa berjalan sesuai harapan. Apalagi seorang pastor yang adalah pemimpin rohani, keteladanan menjadi sebuah keutamaan yang tidak bisa ditawar. “…janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1 Petrus 5:3).
e. Penuh belas kasih.
Pastor harus punya kepekaan, belas kasih, kepedulian dan bersikap solutif terhadap persoalan umatnya, terutama mereka yang lemah, menderita, dan tersingkir. “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan…” (Matius 9:36).
f. Mencari yang hilang.
Sebagai gembala, ada saja domba yang hilang atau tersesat. Pastor tidak hanya kerja administratif, menjaga domba yang rajin ke gereja, donatur, atau umat yang sungguh perhatian dengan gembalanya. Pastor harusnya fokus dan secara aktif mencari domba yang tersesat atau mulai menjauh dari Gereja (bdk. Perumpaan domba yang hilang – Lukas 15:4-7). Bahkan di Perjanjian Lama, Yehezkiel mengkritik pemimpin agama yang tidak menjalankan perannya, “Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati…” (Yehezkiel 34:4).
g. Melayani, bukan dilayani.
Saya pikir ini bukan hal aneh untuk didengar. Semua orang Katolik sudah begitu biasa mendengarnya. Masalah utamanya adalah menjalankannya, karena inilah model kepemimpinan Kristiani, yakni pelayanan (servant leadership). “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…” (Markus 10:45).
Baca Juga: Buku Melayani dalam Sunyi. Refleksi Hidup Seorang Pelayan
5. Bertanggung Jawab dan Disiplin
Seorang pastor memang disiapkan menjadi pemimpin. Sejak pendidikan menengah, seorang calon pastor dibekali soft skill yang diperlukan sebagai pemimpin. Saya melihat, Gereja sejak awal sudah menyadari bahwa pelayanan juga harus dikelola dengan rapi, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan.
a. Tuhan berkenan pada keteraturan.
Tata kelola yang rapi, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan adalah cerminan dari sifat Allah sendiri. Pastor yang adalah perpanjangan tangan Tuhan di dunia, tidak bisa menghindari hidup yang tertib, jelas, terarah dan terukur, serta bertanggung jawab. Mari kita baca, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33) dan “Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14:40).
b. Pembagian tugas.
Tata kelola yang rapi tidak mengandaikan sistem pastorsentris. Justru sebuah organisasi yang sehat harus memiliki pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, baik di antara gembala, gembala dengan umat, dan antarumat. Dan ini lagi-lagi adalah kehendak Tuhan. Mari kita baca dan renungkan kisah Musa dan nasihat Yitro dalam Keluaran 18:17–23.
c. Pemilihan pelayan.
Pelayanan di sebuah paroki akan berjalan baik dan menjangkau ke banyak lapisan jika gembala memilih pelayan-pelayan umat secara tepat. Sistem “the right man on the right place” juga berlaku di dalam Gereja, jangan ada memilih prodiakon berdasarkan KKN, rasa tidak enak, tekanan, jumlah sumbangan, dan lainnya. Coba kita baca bagaimana pemilihan 7 diaken dalam Kisah Para Rasul 6:1-6. Juga ayat ini juga harus menjadi pertimbangan, “Seorang penilik jemaat harus… seorang kepala keluarga yang baik, yang disegani dan dihormati…” (1 Timotius 3:4–5).
d. Perencanaan.
Sebelum melayani, pastor mesti punya perencanaan supaya semua bisa berjalan dengan baik. Juga termasuk di dalam hal ini adalah memilih para pelayan umat dan mau bekerja sama dengan umat. “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya?” (Lukas 14:28) dan “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak” (Amsal 15:22).
e. UANG
Dengan penuh kesadaran saya bold bagian ini. Ketidaktaatan pada uang akan mengarahkan seseorang pada ketidaksetiaan, penyalahgunaan kekuasaan, skandal kemurnian, ketidaktaatan pada pemimpin, dan pada akhirnya mengorbankan pelayanan umat Allah. Ayat ini sangat pas, “Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.” 2 Korintus 8:21.
Rasul Paulus menulis ayat ini dalam konteks pengumpulan bantuan dana bagi jemaat yang miskin di Yerusalem. Ia menjaga agar pelayanan keuangan tersebut dilakukan secara jujur dan terbuka supaya tidak ada kecurigaan dari orang lain.
Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang pelayanan akan susah berjalan. Namun, uang juga sangat sensitif, bisa membuat orang atau bahkan komunitas hancur berantakan. Maka Rasul Paulus meminta supaya pengelolaan uang harus diawasi, di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.
Di hadapan Tuhan: Menyadari bahwa Allah melihat setiap motivasi, niat, dan isi hati yang tersembunyi. Di hadapan manusia: Menjaga tindakan lahiriah agar baik, terhormat, dan dapat dipertanggungjawabkan di mata sesama agar tidak menjadi batu sandungan.
Baca Juga: Pokoknya, I Don’t Know Lah…
6. Mau terus belajar
Dunia dengan dinamikanya terus berubah. Era digital membuat dunia dengan cepat berputar. Untuk menjadi profesional, seorang pastor harus mau belajar dan belajar, sehingga pelayanannya bisa menyentuh kebutuhan umatnya secara nyata.
a. Terus menumbuhkan iman.
“Sampai kita semua telah mencapai… kedewasaan penuh…” (Efesus 4:13) dan “Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan…” (2 Petrus 3:18). Ayat ini mengajak kita semua, termasuk para pastor, untuk tidak berhenti untuk mengembangkan iman dan hidup rohani, supaya tidak goyah dengan dinamika dunia yang terus berubah. Fenomena ini harus dibaca pastor sejak merencakanan pelayanan kepada umatnya.
b. Teladan Yesus Kristus.
Yesus lagi-lagi menjadi teladan dalam hal mau maju, mau berubah dengan terus belajar. Hal ini tampak dari ayat, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Lukas 2:52). Di sana terangkum bagaimana Yesus yang mengakhiri masa kanak-kanaknya, terbuka untuk pertumbuhan fisik, intelektual, relasi sosial, hidup rohani dan terus menjalin relasi dengan Allah Bapa. Yesus menunjukkan bahwa pertumbuhan adalah bagian dari kehidupan.
c. Jadilah sempurna.
Di ayat lainnya, Yesus ingin para pastor tidak sekadar tumbuh tapi mengarahkan hidupnya pada kesempurnaan. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” (Matius 5:48). Kata “Bapa” di sini berasal dari kata Yunani “teleios” yang berarti kedewasaan, kelengkapan, utuh, atau mencapai tujuan sesuai standar Allah, tetapi bukan berarti manusia bisa tanpa dosa secara mutlak. Manusia tetap memiliki kelemahan dan membutuhkan penebusan, tetapi dipanggil untuk hidup dengan hati yang penuh kasih, tidak pilih kasih, serta terus bertumbuh dalam kedewasaan rohani.
Baca Juga: Sadar Atau Tidak, Marah Lebih Populer dari Mengampuni. Termasuk di Alkitab!
7. Semangat Melayani.
Bagian terakhir ini menjadi gong untuk semua penjabaran di atas. Bukan untuk mengulangi, tetapi mau kembali menegaskan bahwa kepemimpinan Kristiani adalah MELAYANI.
Gereja Katolik mengenal ungkapan “hamba dari segala hamba Allah” (dalam bahasa Latin: Servus servorum Dei), yang menjadi salah satu gelar resmi dan gelar kehormatan yang disandang oleh Sri Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Frasa ini menegaskan bahwa kedudukan tertinggi di dalam Gereja bukanlah untuk dilayani atau berkuasa secara diktator, melainkan untuk melayani umat dengan kerendahan hati mengikuti teladan Yesus Kristus. Jelaskan?!?!
Karena sudah jelas, saya akan rincikan secara singkat saja yang termasuk dalam poin ketujuh ini:
a. Melayani dengan kasih.
“Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih” (1 Korintus 16:14) dan “Berbahagialah orang yang suci hatinya…” (Matius 5:8).
b. Kasih yang tidak pura-pura.
“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!” (Roma 12:9).
c. Memberi dengan hati yang rela.
“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).
d. Tidak mencari kehormatan diri.
“Jangan melakukan sesuatu dengan maksud mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia…” (Filipi 2:3).
e. Meneladani Hati Yesus.
“Ia telah mengosongkan diri-Nya… dan mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2:7, bdk. Matius 11:29).
f. Melayani dan melayani.
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…” (Markus 10:45) dan “Layanilah seorang akan yang lain… sebagai orang-orang yang melayani Allah” (1 Petrus 4:10–11).
Baca Juga: Ramai Isu Sertifikasi Pemuka Agama, Bagaimana dengan Gereja Katolik?
Saya tidak enak hati menjabarkan profesionalitas pastor sampai 10 halaman. Apakah ini bentuk ketidakmampuan saya karena gagal ditahbiskan? Ataukah ini upaya mengalihkan beban yang seharusnya saya pikul di masa lalu? Bisa jadi dan mungkin begitu adanya. Tetapi, kalau kita dengan rendah hati mau melihat sisi lain, maka poin-poin di atas secara obyektif harus diakui benar. Pastor yang kita harapkan, yang profesional, harusnya punya semua nilai tersebut.
Seorang pastor yang profesional adalah pastor yang kompeten, berintegritas, dan berakar kuat dalam spiritualitas, sehingga pelayanannya sungguh menjadi tanda kasih Allah bagi umat. Profesionalitas seorang pastor beda dengan profesi pada umumnya yang merujuk pada standar kerja. Profesionalitas pastor lahir dari sebuah proses pajang dan terus menerus dari seorang pastor yang mengarahkan hatinya untuk mau dipersatukan dengan Hati Yesus Yang Mahakudus.
