Pentakosta: Ultah Gereja, Pandemi Corona, dan Takut Meminta Roh Kudus

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Berbicara Roh Kudus tak lepas dengan “bahasa roh.” Yang merasa bisa berbahasa roh punya godaan sombong, sedangkan yang tidak bisa merasa minder. Ada lagi yang nyinyir dengan kelompok doa yang diklaim melakukan puja puji menggunakan bahasa roh. Emang apa sih Bahasa Roh itu?

Roh Kudus jadi pembicaraan menarik hari ini. Setelah 50 hari sejak Paskah Kebangkitan Yesus Kristus, kita merayakan Pentakosta, yakni pencurahan Roh Kudus kepada Para Rasul. Ketika peristiwa itu terjadi, Gereja lahir dan mulai bertumbuh dan berkembang. Jadi kalau ditanya kapan Gereja lahir, jawabannya adalah pada saat Pentakosta.

Para Rasul yang adalah Gereja Perdana telah diberi mandat oleh Sang Guru untuk mewartakan Kabar Gembira ke segala makhluk di seluruh penjuru dunia, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Untuk tugas tersebut Yesus memberi bekal, yakni Roh Kudus,

“Maka, kata Yesus sekali lagi, ‘Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’ Dan sesudah berkata demikian, Yesus menghembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada’” (Yoh 20:21).

Tugas ini tidak mudah. Apalagi ketika Para Rasul tahu bahwa Yesus bukanlah raja duniawi yang mereka bayangkan, yang diutus untuk membebaskan Bangsa Yahudi dari penjajahan Romawi. Mereka lari, bersembunyi, dan mengkeret di dalam rumah. Namun mereka dikuatkan perlahan-lahan melalui penampakan Yesus yang perpuncak pada hari ini, saat mereka dicurahi Roh Kudus.

Saat menerima Roh Kudus, hati Para Rasul berkobar, semangat mereka meletup, dan pada akhirnya mereka tergerak dan bergegas melaksanakan tugas yang telah diembankan oleh Yesus. Roh Kudus membimbing mereka untuk mewartakan Injil ke segala makhluk di seluruh dunia.

Itulah mengapa, pada hari Pentakosta, secara resmi Gereja lahir!

Nah pertanyaannya, kok Roh Kudus baru ada saat Pentakosta? Katanya sejak awal mula Allah Tritunggal sudah ada dan berkarya bersama? Apakah sebelumnya Roh Kudus belum berkarya di dunia? Dalam Dominum et Vivificantem, ensiklik kelima yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II pada 18 Mei 1986, dituliskan, “Roh Kudus sudah bekerja di dunia sebe­lum Kristus dimuliakan. Pada hari Pentakosta, Dia turun atas para rasul untuk tinggal dalam diri mereka sela­manya. Pada hari itu, Gereja secara publik dinyatakan, dan Injil diwartakan kepada bangsa-bangsa.” (Dominum et Vivificantem 25).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (3): Bagaimana Menyikapi Artis Mualaf?

Gereja di Tengah Pandemi

Gereja lahir pada hari ini, saat Pantekosta. Lalu apa yang dimaksud dengan gereja? Benar, jika kita berpikir gereja adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah umat Kristen. Benar jika pengertiannya mengarah pada konteks pemerintah menghimbau supaya gereja ditutup selama pandemi covid-19. Tapi pengertian gereja lebih dari itu.

Kata gereja dengan huruf kecil memiliki arti tempat ibadah, tetapi Gereja dengan huruf besar memiliki arti persekutuan umat Allah yang beriman di mana Yesus sebagai Kepala dan kita adalah anggota tubuhNya. “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat.  Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1:18-19).

Dengan demikian, Gereja tidak akan mati walau gereja ditutup karena covid-19. Gereja pun tidak akan musnah walau gereja dibakar, didemo, atau tidak mendapatkan IMB. Bahkan, kelahiran Gereja di Pantakosta ini sungguh amat real di tengah pandemi virus corona.

Selama pandemi covid-19, kita semua beribadah di rumah dengan misa online. Ini menunjukkan secara nyata bahwa Gereja bukanlah gedung, bukan bangunan fisik. Gereja yang lahir pada hari ini hadir dalam Keluarga Kristiani yang bersekutu di dalam doa kepada Tuhan Yesus, dinaungi kuasa Bapa, dan menjadi tempat bersemayam Roh Kudus.

Gereja bukan saja kita yang ada di dunia. Gereja yang adalah persekutuan umat yang percaya pada Yesus sebagai kepala, juga mencakup mereka yang ada di api penyucian dan yang telah bahagia bersama Bapa di surga. Kita semua dipersatukan oleh Roh Kudus dan berkatNyalah kita semua digerakkan dari dalam menuju kesempurnaan. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (2): Konsep Tritunggal Yang Bikin Repot!

Tidak Bisa Berbahasa Roh = Tidak Menerima Roh Kudus?

Bacaan pertama hari ini penting kita catat, “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang yang percaya akan Yesus berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk. Lalu tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus (Kis 2:1-4).

Hal pertama yang harus kita ingat adalah, kita semua mendapat Roh Kudus. Tuhan memberikan kepada kita RohNya kepada kita, masing-masing, Ingat, masing-masing!!!

Kedua, Para Rasul yang menerima Roh Kudus seketika berkata dengan bahasa mereka masing-masing tetapi mereka saling mengerti. Walau mereka menggunakan bahasa yang berbeda-beda tetapi mereka bisa saling berkomunikasi (bdk. Kis 2:1-13).

Ketiga, fenomena pencurahan Roh Kudus ini membuat banyak orang heran. Terkesan. Kagum. Tetapi juga ada di antara mereka yang nyinyir, “Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (Kis 2:13).

Terus terang refleksi tentang “bahasa roh” menarik perhatian saya. Ditambah saya juga ngerasa tidak bisa berbahasa roh. Namun, satu hal yang saya pegang tiap kali bergumul soal “bahasa roh” adalah bacaan Kis 2:1-4, khususnya bagian di mana

Para Rasul berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri, tetapi mereka dan orang yang mendengar bisa mengerti. Kuncinya adalah mau berbahasa apa saja tetapi satu sama lain mengerti.

Lalu pertanyaannya, bahasa apa yang Tuhan sendiri ajarkan yang dimengerti semua orang? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah bahasa Kasih. Saya tidak mengerti bahasa Italia, tetapi jika saya pergi ke sana lalu bertemu orang lalu dia tersenyum, maka saya tahu dia mengasihi saya. Saya tahu dia baik dan saya diterima. Itulah bahasa kasih!

Romo Hani Rudi Hartoko SJ dalam kotbahnya (30/5/2020) dengan tegas mengatakan, “Boleh Anda bisa berbahasa macem-macem, tetapi Anda sebagai orang Kristiani tidak bisa berbahasa kasih repot. Anda tidak bisa berbahasa Roh gak apa-apa, tidak bisa berbahasa Jepang ya gak apa-apa, tetapi jika orang Kristiani tidak bisa berbahasa kasih maka dipertanyakan jati diri kita sebagai murid-murid Kristus.”

Jati diri kita adalah kasih, melakukan kasih, dan menyembah Allah yang adalah Kasih. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dan perintahNya pun tegas, “Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Jika perintah itu kita lakukan maka, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi (Yoh 13:35).

Baca Juga: Melihat Corona Dari Perspektif Iman Katolik

Ada banyak keutamaan dalam hidup kristiani, tetapi hanya satu yang terbesar yakni kasih. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13). Maka “hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef 4:32).

Maka marilah kita di hari ulang tahun Gereja ini, kita sekali lagi mohon Roh Kudus untuk menggerakkan kita berbuat kasih, yang menjadi bekal kita memasuki masa biasa. Saya kira benar kalau Novena Roh Kudus adalah Novena Terbesar dan Terpenting dibandingkan sederet novena lainnya. Memang Novena Roh Kudus tidak popular dan menurut Romo Hani, novena ini yang paling tidak laku.

Kenapa? Karena menurut refleksi saya, novena lain cenderung membuat kita meminta. Salah satu indikasinya adalah ucapan syukur di gereja karena apa yang kita minta dikabulkan berkat novena ini atau novena itu. Tetapi, jika kita meminta Roh Kudus kita hanya bisa memberi. Mungkin itulah yang membuat orang enggan meminta Roh Kudus.

Jika sudah dipenuhi oleh Roh Kudus maka kita mau tidak mau akan tergerak untuk memberi dan memberi dan memberi. Karena esensi dari kasih adalah memberi.

Selamat Ulang Tahun Gereja, Tuhan memberkati. Berkah dalem.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply