Awal tahun 2016, sistem kontrak konstruksi maupun pemeliharaan rutin jalan menggunakan kontrak berbasis long segment. PPK Karawang-Purwakarta-Pamanukan menganggap sistem baru ini bagus dan sejauh ini telah dilakukan. Hanya, pihak kontraktor yang perlu penyesuaian dengan sistem ini.
“Long segment menurut saya bagus, tidak masalah,” kata Ben. Hutabarat, Kepala Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Karawang-Purwakarta-Pamanukan saat ditemui Media Jalan Jakarta di kantornya.
Menurut Ben, ada 2 jenis pekerjaan di wilayahnya: pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan serta pemeliaraan rutin jalan dan jembatan. Dulu, pekerjaan itu sebagian besar dikerjakan oleh PPK. Dengan berlakunya kontrak berbasis long segment, maka semua pekerjaan itu diserahkan kepada pihak ketiga.
Ben menilai, sistem baru ini tidak menimbulkan kerancuan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hanya saja, pihak kontraktor tidak terbiasa dengan pekerjaan rutin. Selama ini mereka terpola dengan pekerjaan konstruksi, sehingga merasa agak canggung ketika harus melakukan pemeliharaan jalan yang dilakukan setiap hari. “Sedangkan posisi kami sekarang lebih sebagai pengawas.”
Pengawasan ini sangat penting untuk memastikan apa yang kontraktor lakukan sudah sesuai atau tidak. Parameternya adalah jalan dalam kondisi mantap, tidak ada lubang, dan masyarakat sebagai end users merasa puas. “Oleh karena itu, sampai saat ini kami masih gaji dan fungsikan para penilik jalan. Mereka setiap hari keliling untuk mengecek ke lapangan.”
Salah satu cara untuk membuat para kontraktor terbiasa dengan pekerjaan pemeliharaan rutin adalah menawarkan kepada mereka untuk merekrut tenaga kerja yang selama ini bekerja kepada PPK untuk pemeliharaan rutin. “Solusinya para pekerja tersebut kami tawarkan pada kontraktor untuk mereka pakai karena mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan rutin,” tutur Ben.
Ada banyak yang bisa dilakukan dalam pekerjaan rutin. Misalnya terkait dengan perkerasan jalan, bisa saja jalan berlobang, bergelombang/ keriting, retak buaya, retak garis, atau yang lain. Pada bahu jalan mungkin saja ditemukan lubang atau berbagai macam keretakan. Begitu pula dengan kondisi di trotoar. “Pokoknya semua menjadi tanggung jawab kontraktor. Termasuk soal patok kilometer dan hektometer, membabat rumput atau tumbuhan liar yang menghalangi fungsi jalan beserta kelengkapannya, menangani rambu-rambu jalan dan lainnya,” ungkap Ben.
Secara khusus, Ben meminta kepada para kontraktor yang bekerja di PPK-nya cepat beradaptasi. Kalau tidak, maka masyarakat yang akan menjadi korbannya. Terlebih saat memasuki arus mudik dan balik Lebaran tahun 2016. “Saya minta semua pekerjaan rekon dan rutin sudah siap di saat masuk musim mudik. Apalagi rambu, itu harus sudah siap jangan sampai ada rambu yang letaknya berubah, kotor, tertutup/coretan, rusak, dirusak, terbentur benda keras atau bahkan hilang.”
Jika pun ada pekerjaan menjelang arus mudik, tambah Ben, tidak perlu khawatir. Karena pihaknya telah memiliki traffic management yang bagus. Para pengguna jalan diatur untuk bisa lewat secara bergantian. Diharapkan masyarakat di sekitar perbaikan jalan turun mendukungnya. “Kami harapkan pekerjaan jalan atau jembatan selesai pada H-14, atau jika belum ada dihentikan hari tersebut untuk memperlancar arus mudik.”
Perhatian juga diberikan kepada jembatan. Ada dua jembatan di Cilamaya dan Cipangaritan yang saat ini memasuki tahap kontrak. Diharapkan bisa dipakai saat arus mudik datang, sekalipun belum selesai 100 persen. “Perbaikan jembatan terkait dengan dampak banjir 2014. Rusak karena tanah di sekitar jembatan sudah terkonsolidasi, mungkin karena pemadatan jalannya kurang. Targetnya tahun ini selesai.”
Kembali ke long segment, Ben berpendapat apa pun sistem yang dipakai tujuannya tetap sama yakni menciptakan ruas jalan yang mantap sesuai yang diharapkan semua pihak, khususnya masyarakat luas. Supaya tujuan ini tercapai, diharapkan tahun depan dapat dimulai pada awal tahun, sehingga pekerjaan pemeliharaan rutin bisa langsung dikerjakan.
Kalau sistem ini tidak segera dimulai maka akan ada banyak jalan yang rusak tanpa bisa segera dibetulkan. Mengingat dengan kontrak long segment, bukan PPK lagi yang melakukan pekerjaan rutin. “Kasus di tahun ini, pekerjaan baru mulai kira-kira bulan Februari 2015, akibatnya banyak masyarakat yang complain dengan kami karena banyak jalan yang rusak, apalagi di awal tahun umumnya memasuki musim hujan.”
Tantangan
Ruas jalan di PPK Karawang-Purwakarta-Pamanukan totalnya 102 km. Sepanjang 5,1 km dilakukan pekerjaan rekonstruksi, sisanya pekerjaan preventif atau pemeliharaan. PPK yang dulu bernama PPK Karawang-Cikampek-Pamanukan wilayahnya dari barat mulai batas Karawang Bekasi sampai Cikampek, lalu ke selatan menuju Kota Purwakarta, sedangkan ke arah barat sampai ke Pamanukan.
Tantangan terbesar di ruas ini, Ben menambahkan, adalah kondisi jalan yang cenderung tidak stabil. Hal ini diakibatkan oleh lokasi PPK yang menjorok ke pesisir pantai utara Jawa (pantura).
Sejak ada Tol Cipali yang diresmikan pada Juni 2015 memang mobil yang melintas di ruas Pantura berkurang secara kuantitatif. Namun secara kualitas, jalan masih menanggung beban yang berat. “Hal ini dikarenakan truk bermuatan berat lebih memilih melewati pantura daripada masuk tol. Yang lewat tol ada mobil kecil atau mobil pribadi,” kata Ben.
Jalan mendapat tambahan beban di saat beberapa sopir truk memakirkan kendaraanya di bahu jalan. Hal ini membuat jalan tidak rata, cekung, dan bergelombang. Jika hujan turun, air akan tergenang di cekungan tersebut. Tidak bisa mengalir. Sehingga akan merusak jalan. “Tidak benar kalau di pantura disebut proyek abadi. Ada banyak persoalan di sini, dan kami setiap hari bekerja serius memberi pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Ben serius.
*) Salah satu tulisan di Buletin Media Jalan Jakarta Vol. 2. 2016. Buletin milik BBPJN IV dibuat oleh saya dalam tim PT. Media Artha Pratama

