Buku Jejak Lensa Pembangunan Perhubungan Pulau Sulawesi

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Presiden Joko Widodo menaruh perhatian utama pada pembangunan sektor transportasi. Hal ini tidak terlepas dari sumbangan sektor transportasi sebesar 5,18% terhadap PDB dan pertumbuhan sektor transportasi per tahun rata-rata di atas 7% lebih besar dari pertumbuhan PDB secara total pada tahun 2016.

Baca Juga: Buku Maju Bersama Dalam Harapan Dan Kasih

Demi meningkatkan peran transportasi, mau tidak mau pemerintah harus mengatasi ketimpangan geografis antara Indonesia bagian barat dan timur, antara Jawa dan luar Jawa, dan antara kota dan desa. Ketimpangan ini bukan omong kosong, bayangkan kontribusi PDB dari Indonesia bagian barat sebesar 92 persen, sedangkan bagian timur “hanya” 8 persen.

Realitas ini membuat pemerintah mencanangkan Program Nawacita khususnya poin ketiga, yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan menguatkan daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Dengan membangun kawasan terluar dan perbatasan, diharapkan ketimpangan pusat-pinggiran dapat dikurangi seiring meningkatnya kesejahteraan masyarakat di wilayah-wilayah tersebut.

Kesejahteraan yang merata menjadi kata kunci menuju peningkatan daya saing Indonesia, yang pada saat ini masih terseok jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Untuk itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara serius membangun sektor transportasi untuk mendukung Indonesia sebagai daerah tujuan investasi maupun Indonesia sebagai daerah tujuan pariwisata.

Terkait dengan daya saing investasi, Kemenhub membangun sistem dan jaringan transportasi yang mendukung Kawasan Industri, Kawasan Ekonomi Khusus, dan kawasan strategis lainnya. Untuk kali ini kita akan mengangkat beragam kawasan strategis di Pulau Sulawesi yang terhubung oleh sistem transportasi. 

Sulawesi

“Nenek moyangku seorang pelaut.

 Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa.”

Kita mungkin sangat mengenal petikan lagu di atas. Sedari kecil kita kita diperkenalkan bahwa negara kita adalah negara maritim yang tangguh. Salah satu buktinya adalah Kapal Kayu Pinisi, sebuah kapal tradisional Sulawesi yang mampu mengarungi samudera antarbenua.

Sulawesi  adalah sebuah pulau dalam wilayah Indonesia yang memiliki luas wilayah 174.600 km² dan menjadi pulau terbesar ke-11 di dunia. Nama Sulawesi diperkirakan berasal dari kata setempat “sula” yang berarti nusa (pulau) dan kata “mesi” yang berarti besi (logam), yang mungkin merujuk pada praktik perdagangan bijih besi hasil produksi tambang-tambang yang terdapat di sekitar Danau Matano, dekat Sorowako, Luwu Timur. Sedangkan bangsa Portugis yang datang sekitar abad 14-15 masehi adalah bangsa asing pertama yang menggunakan nama Celebes untuk menyebut pulau Sulawesi secara keseluruhan.

Bangsa Eropa menjelajah sampai ke Sulawesi menggunakan kapal sebagai sarana transportasi. Pada saat itu, orang Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan juga memiliki pinisi sebagai kapal tangguh untuk transportasi.  Diperkirakan kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Baca Juga: Pokoknya, I Don’t Know Lah…

Konon, nama Pinisi ini diambil dari nama seseorang yang bernama Pinisi itu sendiri. Suatu ketika dia berlayar melewati pesisir pantai Bira. Dia melihat rentetan kapal sekitar laut sana, dia kemudian menegur salah seorang nahkoda kapal tersebut bahwasanya layar yang digunakannya masih perlu diperbaiki. Sejak saat itu orang Bira berpikir dan mendesain layar sedemikian rupa dan akhirnya berbentuk layar Pinisi yang seperti sekarang ini. Atas teguran orang tersebut maka orang-orang Bira memberi layar itu dengan nama Pinisi.

Kapal Pinisi masih ada sampai sekarang dan masih diproduksi. Transportasi andalan Suku Bugis ini menjadi salah satu daya tarik pariwisata. Tentu masih ada banyak tempat-tempat wisata lain yang tidak kalah menariknya di Sulawesi Selatan. Tahun ini, dinas pariwisata menargetkan kunjungan wisatawan Nusantara ke Sulawesi Selatan mencapai 6 juta dan wisatawan mancanegara 220.000 orang.

Target ini tidak muluk-muluk karena ada banyak tempat wisata yang menarik di Sulawesi Selatan dan Pulau Sulawesi sendiri secara umum. Menjejak kaki di Sulawesi kita ditawarkan beragam wisata kuliner, pantai, gunung maupun wisata sejarah. Untuk menjangkau semua destinasi wisata tersebut, transportasi menjadi tulang punggungnya.

* Saya menjadi Penulis di buku yang berjudul “Jejak Lensa Pembangunan Perhubungan Sulawesi” (2017).

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply