Sadar Atau Tidak, Marah Lebih Populer dari Mengampuni. Termasuk di Alkitab!

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Pertanyaan pada judul merupakan kesimpulan saya dalam sebuah pergumulan hidup. Orang lebih mudah marah daripada mengampuni. Psikolog setuju! Bahkan didukung oleh Alkitab. Kok bisa?

Pernahkan Anda dengar, “Ya wajarlah saya marah, coba bagaiaman dia memperlakukan saya!”

“Marah itu wajar. Manusiawi. Semua orang bisa marah.”

“Udahlah jangan gitu, kamu pengen tahu saya marah kayak apa?”

“Jangan buat saya marah, ya!”

“Hei Bro. Sudah. Jangan begitu sama dia. Kalau dia marah, bahaya kita.”

“Gak apa-apa, kok. Marah itu luapan emosi kita sebaga manusia normal.”

“Gue kalau udah disentuh soal ini, jangan ditanya!”

“Gue udah seperti ini dari dulu, mau ngapa?”

Bahkan saya pun pernah sesumbar, “Saya keliatannya sabar, cengeesan, suka canda. Tapi jangan liat saya marah!”

Baca Juga: Beberapa Pastor Lupa, Mereka Dipanggil Meneladani Santo Yosef Di Masa Pandemi

Marah menjadi hal biasa karena sudah terbiasa atau dibiasakan. Mungkin hampir dari kita sepakat dengan ragam ungkapan di atas. Tampaknya tidak ada yang aneh. Mari kita bandingkan dengan ungkapan berikut:

“Saya mah orangnya mudah mengampuni.”

“Orang itu hebat, dia bisa mengampuni orang yang jahat sama dia.”

“Saya dong, bisa mengampuni.”

Emmmm… apa lagi, ya? Mendadak susah mencari ungkapan serupa. Tidak seperti menulis ungkapan terkait ‘marah.’

Saya mau menulis, “Sudah sewajarnya orang itu mengampuni, karena sangat manusiawi.” Tetapi kok rasanya janggal. Tidak pernah rasanya saya mengucapkan hal itu. Mendengarnya pun alpa. Apalagi ditambah dengan kata manusiawi. Semakin janggal dan aneh.

Jika manusiawi, kenapa popularitas ‘mengampuni’ kalah telak dengan ‘marah.’ Apakah orang yang marah itu manusia, sedangkan yang bisa mengampuni berarti bukan atau setengah manusia? Padahal kedua kata sifat itu harus saling melengkapi.

Jika marah adalah api, maka mengampuni adalah pemadam api. Jika pemadam tidak berfungsi, maka yang terjadi adalah kebakaran. Efek dari kebakaran tidak dirasakan oleh yang marah, tetapi di sekitar orang tersebut juga akan merasakan panas, gerah, tidak betah, dan jauh dari rasa tentram.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (5): Apakah Baptis Bayi Melanggar HAM?

Popularitas Marah di Alkitab

Adu popularitas ‘marah’ dan mengampuni’ berlanjut ke Alkitab. Ini didorong oleh rasa penasaran, kepo, dan asumsi. Saya browsing Alkitab digital.

Di sana saya ketik kata ‘marah’ untuk melihat ada berapa kata yang muncul di Alkitab. Hasilnya tertulis demikian, “Ada 652 ayat untuk marah.”

Lalu saya lanjutkan mengetik kata “mengampuni.” Hasilnya ternyata, “386 ayat untuk mengampuni.” Kok sedikit sekali. Lalu saya ubah dengan kata lain yang menyerupai. Hasilnya, “45 ayat untuk memaafkan.”

Jika Anda kaget, itu juga yang saya rasakan. Namun, jika kita kembali berpikir bahwa Alkitab adalah tulisan manusia yang diilhami Roh Kudus, maka tidak perlu heran. Popularitas ‘marah’ unggul dibanding ‘mengampuni’ di kehidupan sehari-hari ternyata berbanding lurus dengan Alkitab karena yang mengalami sama-sama manusia.

Ohya, saya katakan ‘marah’ popular di Alkitab bukan berarti memaklumi kemarahan. Dari banyak ayat yang saya baca, penulis Alkitab menyadari bahwa marah adalah sifat manusiawi. Namun, ada bahaya nyata jika marah itu berlanjut. Maka para penulis menekankan untuk menjauhi marah.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak 1:19).

“Marah adalah sesuatu hal yang manusiawi. Marah adalah sesuatu yang normal sebagai bagian dari ekspresi emosi manusia yang merupakan insting dasar untuk mempertahankan diri (Bartholomew, dan Simpson, 2005).”

Dalam beberapa ayat, kemarahan begitu dikecam. “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh” (Pkh 7:9). Orang yang memendam marah disebut sebagai orang bodoh!

Bahkan yang menggelikan ditulis di dalam Amsal, “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah” (Ams 21:19).

Sebagai pengikut Yesus, rasanya popularitas marah dipertegas dengan pengalaman kemarahan Yesus di Bait Allah. Di satu ketika, Yesus menunjukkan kemarahannya kepada para penukar uang dan pedagang daging korban di Bait Allah (Mat 21:12-13; Mrk 11:15-18; Yoh 2:13:22).

Reaksi Yesus tersebut dimaklumi karena sebagai pembelaan dan cintaNya kepada Rumah Allah (Yoh2:17). Hal senada saat ia marah di sinagoga di Kapernaum. Ketika orang Farisi menolak untuk menjawab pertanyaan Yesus, “Dia dengan marah memandang sekeliling-Nya, begitu berdukacita atas kedegilan mereka” (Mrk 3:5).

Kemarahan Yesus sesaat. Tidak dipendam dan merusak fisik serta perasaan orang lain. Apalagi tujuan marahnya adalah mengembalikan kesakralan Rumah Tuhan. Setelah itu kembali mengajar dan menekankan pentinya hidup dalam perintah-perintah Tuhan.

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (4): Katolik Garis Lucu Vs Kasus Pelecehan Seksual Dalam Teropong Inkarnasi

Harusnya Mengampuni yang Populer

Kisah Yesus marah di Bait Allah sangat populer. Cerita ini ditulis 3 dari 4 penginjil. Mungkin, hampir semua orang Kristen tahu kisah ini. Bahkan mungkin bagi mereka yang tidak rajin membaca Alkitab.

Padahal, ada banyak kisah Yesus yang mengajarkan cinta kasih. Ada banyak perumpamaan yang menekankan bahwa mengampuni adalah bentuk kasih yang nyata. Saya sendiri tertarik dengan satu kisah seorang raja yang mengampuni budaknya (lih. Mat 18:21-35)

Kisah dimulai saat Petrus bertanya kepada Yesus, berapa kali sebaiknya kita mengampuni? Dia berkata, ”Tuan, kalau saudaraku berdosa kepadaku, berapa kali aku harus mengampuni dia? Sampai tujuh kali?”

Dalam sebuah tafsir saya baca, beberapa pemimpin agama mengajarkan bahwa seseorang perlu mengampuni sampai tiga kali. Jadi, Petrus mungkin merasa bahwa dia sudah sangat baik kalau dia mengampuni ”sampai tujuh kali”

Tapi, Yesus tidak ingin para pengikutnya menghitung kesalahan orang lain. Jadi Yesus mengoreksi Petrus, ”Aku katakan kepadamu, bukan sampai tujuh kali, tapi sampai 77 kali.” Maksudnya, pengampunan itu tidak ada batasnya.

Yesus kemudian memberikan sebuah perumpamaan untuk mengajarkan pentingnya mengampuni. Dikisahkan ada seorang raja sedang melakukan perhitungan dengan budak-budaknya. Sang raja memanggil seorang budak dengan hutang besar, yakni 10.000 talenta.

Budak tak mampu membayarnya. Maka raja meminta menjual dia beserta istri dan anak-anaknya untuk dapat melunasi hutang. Namun budak memohon, ”Sabarlah kepada saya. Saya akan melunasi semuanya.”​

Karena belas kasih, Sang Raja akhirnya melepas hutang budak tersebut.

Dengan rasa gembira, budak keluar dari rumah raja. Saat itu, dia bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepadanya. Dia menarik temannya itu dan mencekiknya sambil berkata, ”Bayar utangmu.”

Temannya itu sujud dan memohon, ”Sabarlah kepada saya. Saya akan lunasi utang saya.”

Alih-alih berbelas kasih seperti yang dilakukan raja terhadapnya, budak jahat tersebut justru memenjarakan temannya. Ia pun menanti temannya itu melunasi hutang yang nilainya tidak seberapa jika dibading hutangnya kepada sang raja. 

Melihat peristiwa tersebut, budak-budak lainnya melaporkan kepada raja apa yang dilakukan oleh budak jahat. Raja menjadi marah dan memanggil budak jahat, ”Budak yang jahat, saya menghapus semua utangmu saat kamu memohon-mohon kepada saya. Bukankah kamu seharusnya juga mengasihani sesama budak itu, seperti saya mengasihani kamu?” Raja itu lalu menjebloskan budak yang jahat itu ke penjara sampai dia bisa membayar utangnya.

Yesus menyimpulkan, ”Bapakku yang di surga juga akan memperlakukan kalian seperti itu kalau kalian masing-masing tidak mengampuni saudara kalian dari hati.”

Yesus sangat tegas dalam memilah bobot antara marah dan mengampuni. Di kisah tersebut, ada beberapa pihak marah. Tapi lihat, poin pentingnya adalah mengampuni. Semua orang marah, tapi tidak semua orang bisa mengampuni. Yang tidak bisa mengampuni, pada akhirnya dijebloskan ke penjara.

Di tempat lain Yesus dalam Khotbah di Gunung juga menekankan pentingnya mengampuni. Kembali menegaskan perumpaan raja dan budak tadi. Dia berkata, Allah Bapa akan mengampuni dosa kita jika kita sudah mengampuni orang lain (bdk. Mat 6:12).

“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni 1 orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:15).

Baca Juga: Bangga Menjadi Katolik (3): Bagaimana Menyikapi Artis Mualaf?

Kritik Orang Ateis

Marah dan mengampuni adalah sifat yang muncul dari sebuah relasi antarmanusia. Sebagai orang beragama, marah dan mengampuni diberi beban ‘neraka’ dan ‘surga.’ Artinya, agama membuat batasan bahwa kamu harus mengampuni supaya dapat ‘hadiah surga.’ Jika kamu marah berarti ganjaranmu ya neraka.

Namun apa yang terjadi? Tidak sedikit orang yang mengaku beragama justru susah mengampuni. Bahkan mereka yang aktif kegiatan menggereja, suka nonton dan membaca yang rohani-rohani, kerap mendengarkan lagu spiritual, tetapi lebih suka memendam kemarahan dalam dada.

Membiarkan rasa marah menguasai mereka. Sampai melupakan doa Bapa Kami yang tiap hari didoakan, bahkan disaat menyimpan marah, “Dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (Luk 11:4).

Inilah yang dikritik oleh kaum ateisme. Mereka menjunjung nilai-nilai kemanusiaan walau menyatakan diri tidak beragama dan menolak Tuhan. “Ngapain kalian beragama tetapi bermusuhan satu sama lain,” begitu mereka berargumen.

Kritik ada benarnya. Dan itu menjadi tamparan bagi kita yang mengaku beragama. Bahkan mengaku menjadi murid Yesus, yang adalah “Guru Cinta Kasih.”

Sebagai pengikutNya, pantas kita mengikuti jejak Tuhan, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8).

Akhirnya yang bisa saya simpulkan, jika disuruh memilih mana yang lebih penting, maka pilihlah yang lebih susah dilakukan. Dari awal saya katakan, orang lebih mudah pamer kemarahan daripada mengampuni, karena lebih mudah marah daripada mengampuni. Lebih banyak orang mengoleksi marah daripada mereka yang memiliki pengalaman mengampuni.

Artinya, walaupun marah itu manusiawi tetapi sifat ini tidak berharga. Apalagi dibandingkan dengan sifat mengampuni.

Sesuatu yang sulit dicapai, itu artinya sesuatu itu penting dan layak untuk diperjuangankan! Kalau mudah didapatkan, bisa jadi itu tidak penting. Maka tentukan pilihanmu, mau marah terus atau mengampuni.

Memilih Yesus artinya memilih salib sebagai jalan keselamatan. Dan itu bukan jalan yang mudah. Dalam Alkitab sudah sangat jelas tertulis, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan  bagi mereka yang akan binasa,   tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Kor 1:18).   

Lalu apa yang harus dilakukan jika sudah terlanjur marah? “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Ef 4:26).

Bagaimana kalau kita tidak salah, seharusnya marah, tapi justru dimarahi atau dimusuhi? Saya rasa, di sinilah ajaran Yesus bisa disebut sebagai “perintah gila.” Kalau kita ditampar pipi kanan, kasihkan pipi kirimu. Artinya, walau kita benar ya sudah, kita mesti mengalah. Kita yang mulai untuk memaafkan, alih-aling menunggu orang lain meminta maaf kepada kita.

Lagi-lagi, ini semakin menegaskan bagaimana amat berharganya ‘mengampuni’ daripada ‘marah.’ Walaupun marah lebih populer dan dimaklumi semua orang, tetapi senyatanya sifat ini dangkal, tidak penting, tidak layak untuk dipamerkan, ditonjolkan, diperjuangkan, apalagi dipertahankan.

Justru, kita harus memperjuangkan, mendekap, dan mempertahankan pengampunan. Sekalipun hal ini susah. “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kol 3:13).

Marilah kita bersama-sama untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah (bdk. Ef 4:31). Ganti semuanya dengan kerendahan hati untuk mengampuni. 

Jakarta, Hari Raya Semua Orang Kudus 

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
https://www.fransalchemist.com

Leave a Reply