Anak Tes Bakat Minat Sebelum Pilih Jurusan, Emang Ngaruh?

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Anak adalah aset berharga bagi orang tua bahkan untuk bangsa Indonesia. Sayangnya, sistem pendidikan kita pada umumnya tidak mendukung tumbuh kembang anak, sehingga kemampuannya tidak berkembang maksimal dan optimal. Kini ada alat bantu tes untuk mengetahui bakatnya, minat, serta kepribadiannya. Hal ini sejalan dengan program merdeka belajar yang tengah digalakkan oleh pemerintah.

Ada beberapa studi yang menunjukkan perlunya perubahan sistem pendidikan kita. Pertama, studi Kementerian Kesehatan menyebut 15,3 persen pelajar di Indonesia memiliki kemungkinan hambatan belajar dan kebutuhan edukasi khusus. Data lain yang mirip, 10 – 15 % dari seluruh siswa SD dan SMP memiliki hambatan perkembangan belajar. Studi ini dilakukan Depdiknas tahun 2003. Masalah seperti ini juga terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat, namun jumlahnya hanya 5 %.

Data lain dipaparkan Ari Kunwidodo, CEO PT. Melintas Cakrawala Indonesia (MCI). Menurutnya, mengutip hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017, sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia mengakui jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. 

Rangkaian data ini perlu disikapi karena Indonesia sedang menuju bonus demografi yang ditunjukkan dengan jumlah pelajar yang sangat banyak. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan ada 9,981,216 siswa SMP dan 4,845,068 siswa SMA pada tahun ajaran 2018/2019 seluruh Indonesia. Kalau tidak ditangani dengan baik, akan banyak anak yang “tersesat” sehingga tidak mampu mengoptimalkan kemampuannya dan berpengaruh pada kualitas SDM bangsa kita saat bonus demografi itu datang.

Menurut Abi Jabar, Direktur Research & Development PT. MCI,  kemampuan anak saat pertama masuk sekolah sangat bervariatif. Namun, kemampuan itu tidak berkembang karena banyak sekolah menerapkan program yang tidak menstimulus proses kongnitif yang baik. Sehingga anak tidak mampu mengembangkan daya kreatif, kritis, inovatif, dan terpola pada satu pola pikir saja.

Sekolah yang baik, yang di dalamnya ada unsur guru dan orang tua, akan membimbing anak didiknya mencapai optimal learning point. Di mana anak mampu mengoptimalkan kemampuan kognitifnya, menemukan bakatnya dan mengembangkannya dengan minat/ kepribadian yang kuat. Itulah mengapa  jika ada anak yang nilai ujiannya tidak bagus, jangan langsung dimarahi atau dicap sebagai anak bodoh. Mungkin anak tersebut sedang “tersesat,” sehingga tidak mampu mengembangkan potensi dalam dirinya.

Hal ini dialami Pipit Anggy, salah seorang konsumen PT. MCI yang mengeluarkan produk Tes Bakat Minat AJT. Dia punya anak perempuan berumur 14 tahun yang pernah “tersesat.” Ia menggambarkan anaknya sebagai anak yang menurut kalau disuruh belajar, tetapi kalau dilihat di kamar anaknya sedang menggambar. Kejadian ini terus berulang. Memang anaknya bisa mengikuti pelajaran, tetapi hasilnya biasa saja. Saat akan masuk SMA, dia pun mengaku bingung mau menentukan masuk IPA atau IPS.

Pipit memutuskan untuk membawa anaknya untuk Tes Bakat Minat AJT. Hasilnya, ternyata anaknya itu memiliki kecenderungan visual. Ia lebih cepat menangkap pelajaran jika dalam bentuk gambar atau video. Hasil tes lainnya, kemampuan kognitifnya cukup tinggi, jadi anaknya masih bisa meningkatkan hasil belajarnya. “Jadi kalau saya ngajari anak saya matematika, lebih cepat dalam bentuk gambar. Les yang online interaktif, juga cepat menangkap.”

CTO dan Direktur Research & Development PT Melintas Cakrawala Indonesia, Abi Jabar (kiri); Sulian Susanto dan Pipit Anggy (orang tua murid); CEO PT Melintas Cakrawala Indonesia, Ari Kunwidodo dalam acara peluncuran Tes Bakat Minat AJT oleh PT Melintas Cakrawala Indonesia yang berlangsung di Jakarta, 5 Februari 2020.

Habis Tes Menjamin Langsung Pintar?

Pada saat meluncurkan Tes Bakat Minat AJT di Jakarta 5 Februari 2020, Abi menjelaskan bahwa, tes bakat minat adalah rangkaian tes dan analisa yang menggambarkan kemampuan kognitif, karakteristik minat serta kepribadian siswa terhadap suatu bidang atau jurusan tertentu. Jika dilakukan pada anak SMP, maka tes ini berguna untuk membantu menentukan pilihan masuk IPS atau IPA. Sedangkan jika untuk anak SMA/ sederajat, dapat membantu memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya.

Dinamakan tes bakat minat, karena kemampuan kognitif yang melekat pada bakat berbeda dengan karakteristik minat. Bakat cenderung tidak berubah, sedangkan minat bisa berubah dalam perkembangan waktu. “Bakat dan minat seperti 2 sisi koin. Kognitif itu saya mampu tidak, kalau minat saya mau atau tidak,” terang Abi.

Membicarakan bakat terkait dengan kemampuan seseorang (can), sedangkan minat soal orang tersebut mau atau tidak mengembangkan bakatnya (will).

Seseorang mampu dalam satu bidang, tetapi belum tentu mau menjalaninya; atau tidak mampu dan tidak punya kehendak kuat untuk melakukannya; atau karena dipaksa seseorang tidak mampu dan juga tidak berminat. Sedangkan yang ideal, “(melalui alat tes ini dapat dilihat) Anak ini mampunya di mana, mau (mengembangkannya), dan secara kepribadian cocok. Namun kenyataannya ini adalah proses,” ungkap Abi.

Dalam hal ini, lanjut Abi, tes bakat minat AJT tidak hanya membantu anak tetapi orang tuanya juga. Orang tua dapat melihat bakat bawaan dan beragam faktor eksternal yang mempengaruhi talenta anak. Pada kesempatan yang sama, Sulian Susanto, seorang ibu yang menggunakan jasa tes ini menuturkan bahwa dirinya diyakinkan setelah hasil tes anaknya keluar. “Setelah mengikuti tes, ternyata apa yang dipilih anak benar, keraguan saya tidak benar,” kata Sulian.

Pada kesempatan yang sama, Sulian menceritakan bahwa dirinya berperan besar dalam memilihkan jurusan untuk anaknya yang akan masuk kuliah. Sebenarnya anak sudah memilih jurusan, tapi Sulian merasa tidak srek. Ia merasa pilihan anaknya tidak sejalan dengan pribadi anaknya sehari-hari. “Jadi tes ini, buat saya firm dengan pilihan anak,” tutupnya.

Pertanyaannya, setelah mengikuti tes bakat minat AJT ini apakah akan ada perubahan dalam proses belajar mengajar? Atau apakah anak menjadi lebih pintar? Menjawab pertanyaan ini, Abi mengilustrasikan hasil tes ini seperti orang mengambil foto anak-anak di dalam satu kelas. Hasil tes adalah hasil foto, yang berhasil meng-capture anak-anak di kelas. Tentunya tidak ada yang berubah. Namun, jika ada salah satu anak bilang, kok saya duduknya kurang sopan ya, sambil menunjukkan foto dirinya di foto. Dari situ, dia mulai merubah kebiasaan duduknya. Untuk kasus anak ini, hasil foto mendorong dia berubah, dan akhirnya dia mengalami transformasi ke arah yang lebih baik.

Hasil tes memberikan gambaran atau profile anak. Hal ini akan membantu orang tua dan guru atau pihak sekolah dalam menghadapi anak secara tepat. Memilih jurusan bukan berdasarkan suka atau tidak suka, juga bukan mempertimbangkan bahwa jurusan tertentu lebih mudah mencari kerjanya, atau pertimbangan lain yang hanya mengandalkan perasaan tanpa mempertimbangkan kondisi anak sebagai subyek yang menjalani.

Baca Juga: Gigih Lawan Human Trafficking, Pastor Paschal Diganjar Penghargaan LPSK

Inilah yang senyatanya juga dicita-citakan oleh pemerintah melalui program merdeka belajar. Pada satu kesempatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menuturkan bahwa program merdeka belajar bertujuan menciptakan SDM unggul, baik dari segi kreativitas, inovasi, kritis, dapat berkolaborasi dengan baik, dapat berlogika dengan baik, serta penuh dengan empati.

Merdeka belajar artinya para siswa merasa lepas, bahagia, dan menemukan jati dirinya saat belajar. Hal ini bisa terjadi jika anak telah dibantu untuk menemukan bakatnya di mana, punya minat yang besar untuk mengembangkannya dan cocok dengan kepribadiannya. Sehingga, anak bisa mencapai optimal learning point dalam proses belajar mengajar.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply