Mungkinkah Freelancer Investasi Apartemen Idaman?

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Investasi kerap menjadi diksi ekonomi yang seolah mengandung strata menengah ke atas. Padahal, siapa saja bisa kok melakukan investasi. Sama seperti semua orang, dengan gaji berapapun juga bisa menabung. Lalu bagaimana dengan para pekerja freelance?

“Berapapun gaji kita pasti bisa berinvestasi dan menabung,” kata Ghita Argasasmita, Founder & Financial Adivisor Integrita, dalam talkshow Investasi Mudah untuk Pasangan Muda di Marketing Gallery Apartemen Mahata Margonda, Depok, Jawa Barat, 30 November 2019.

Kuncinya, sambung Ghita, menyadari uang kita. Dari kesadaran itulah lahir sikap bagaimana kita menghargai uang yang kita miliki. Uang tidak datang dengan sendirinya, tetapi hasil dari kerja keras. Jadi ke mana uang kita alokasikan harus disadari supaya kita tidak kaget sendiri, belum akhir bulan uang sudah habis dan kita tidak punya apa-apa.

Langkah konkret bagaimana menyadari uang kita miliki adalah buat pencatatan pengeluaran. Uang yang kita pakai, berapapun, dicatat. Terserah mau pake buku, note di HP atau aplikasi yang kini udah banyak. Nah, di akhir bulan liat catatan kita, renungankan, dan evaluasi. Bisa jadi kita akan bertanya-tanya, “Loh, kok bisa-bisanya beli ini, beli itu. Kan gak ada gunanya.” Atau, “Pantes aja selalu kurang, gara-gara ini toh.” Dan seterusnya…

Baca Juga: Dulu Takut, Sekarang Saya Ketagihan Berutang

Kontrol diri terhadap uang adalah kunci sukses hakiki untuk memulai investasi. Sebagus apapun perencanaan yang kita buat, dengan konsultan terhebat pun, kalau tidak punya kesadaran akan uang dan kontrol diri, gone! Pengalaman saya, tidak mudah melakukan pencatatan, sampai saya harus dipaksa oleh pihak luar. Tapi setelah setahun, kalau menurut Ghita 3-6 bulan, saya bisa berjalan tanpa pencatatan. “Sekitar 80 persen yang menentukan perencanaan keuangan kita adalah kontrol diri.”

Mengapa Perlu Investasi?

Mengapa perlu investasi dan berpayah-payah membuat catatan keuangan? Menurut Ghita yang mendapat sertifikat perencana keuangan tahun 2012 di IARFC dan memperoleh gelar RFA (Registered Financial Advisor), kita perlu investasi karena kita punya banyak keinginan tetapi budget terbatas. Saya akui, walau gaji tidak banyak tetapi ingin jalan-jalan rutin ke luar negeri, rumah sudah lunas, kendaraan bisa roda dua dan empat, gadget terkini dan kalau bisa flagship, kalau sakit tidak perlu berpikir panjang untuk ke rumah sakit swasta, dan seterusnya. Dalam waktu singkat, Anda semua sepakat, ini adalah contoh nyata dari besar pasak daripada tiang.  

Investasi menjadi pilihan untuk memenuhi keingingan kita, karena tidak cukup hanya dengan menabung. Uang yang kita tabungkan tidak sejalan dengan laju inflasi yang seringkali menggulung nilai tabungan kita.

Sebelum melakukan investasi, satu hal yang harus dilakukan adalah menetapkan tujuan investasi kita untuk apa? “Investasi itu harus ada tujuannya,” tegas Ghita yang menjadi narasumber acara Family Fest yang diadakan oleh Perum Perumnas ini.

Tentukan, misalnya kita investasi untuk liburan musim dingin di Eropa, punya rumah, atau bahkan menikah. Lalu tentukan, berapa lama tujuan itu harus tercapai, 3 tahun, 5 tahun atau 20 tahun? Setelah itu, baru tentukan pilih instrumen investasi apa yang kita pilih.

Baca Juga: Tips Membuat Cashback Bisa Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan

Instrumen investasi jangka pendek kisarannya adalah 1-3 tahun. Instrumen di periode ini memiliki risiko yang rendah dengan tingkat keuntungan yang juga tidak tinggi. Contohnya adalah reksadana pasar uang, obligasi negara ritel (ORI), atau sukuk.

Lalu kalau tujuan investasi kita agak panjang, maka bisa masuk ke jangka menengah yakni 3-5 tahun. Di sini risiko lebih tinggi, tapi peningkatan nilainya juga lebih besar. Maka instrumen yang dipilih lebih agresif, seperti reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran.

Berikutnya adalah investasi untuk jangka panjang, yakni di atas 5 tahun. Nilai manfaatnya paling besar tetapi jangka waktunya lama. Oleh karena itu, jenis investasi ini paling cocok untuk kita yang masa pensiunnya masih panjang. Pendapatan masih nyaman, badan sehat, jika sudah berkeluarga masih belum banyak pengeluaran, maka berinvestasilah sedini mungkin. Saat pensiun, investasi kita akan memberikan manfaat banyak. Instrumennya yakni reksadana saham, logam mulai (bukan perhiasan), dan yang paling populer adalah properti.

Rumus Perencanaan Keuangan

Inti dari jabaran di atas adalah, siapapun dengan pendapatan berapapun bisa investasi. Kedua, berapapun budgetnya, mulailah investasi dari sekarang. Ketiga, tidak boleh menaruh semua dana investasi pada satu instrumen. Ibaratnya, tutur Ghita, jangan taruh 100 telur dalam satu keranjang, tetapi sebarlah telur itu di keranjang yang lain. Karena jika 1 keranjang jatuh dan membuat semua telur pecah, masih ada telur di keranjang yang lain.

Keempat, sebelum melakukan investasi harus punya dana darurat! Ini hukumnya wajib. Besaran dana darurat ini minimal 3 kali gaji dan disimpan di instrumen yang aman. Misalnya di rekening yang berbeda dari yang sudah ada, atau bisa juga dalam bentuk deposito, dan juga kalau pengalaman saya ditabung di rekening yang sengaja tidak memakai ATM atau akses mobile banking sehingga relatif lebih aman dari “godaan.”

Bagaimana caranya kita mengumpulkan dana darurat? Sekali lagi, berapapun gaji atau pendapatan kita, bisa investasi dan menabung. Kalau sudah punya kontrol diri maka mulai kita memakai rumusan mengatur aliran uang atau cashflow.

Tiap kali menerima gaji, langsung lakukan pembagian. Untuk kebutuhan pokok dan sehari-hari jatahnya 40% dari gaji. Punya cicilan atau ingin nyicil boleh, tetapi besarannya tidak boleh melebihi 30%. Berikutnya, sisihkan 20% untuk investasi dan menabung. Baru sisanya 10% untuk jajan ala-ala milenial. Pada praktiknya, kebutuhan hedon ini bisa ditekan kurang dari 10% dengan memanfaatkan promo dan cashback yang menjadi tren era kekinian.

Saya menggunakan kata “pendapatan” mendampingi “gaji” karena ada banyak teman saya yang statusnya pekerja freelance. Saya pun pernah mengalaminya selama 1 tahun. Kami tidak makan gaji, tetapi pendapatan yang umumnya tidak tentu jumlahnya berapa di setiap bulan. Nah, bagaimana cara mengatur pendapatan bagi pekerja freelance?

Masih menurut Ghita, catat berapa penghasilan total yang didapat freelancer bersangkutan selama 1 tahun. Catat berapa penghasilan tertinggi dan terendah dalam 1 bulan. Kemudian, hitung rata-rata berapa pendapatan yang didapat selama 1 bulan. Lalu liat, beda antara pendapatan rata-rata per bulan dengan pendapatan terendah dalam 1 bulan, jauh tidak? “Kalau tidak pake yang paling rendah. Jadi mindset kita, kalau yang paling rendah misalnya 5 juta, saat mendapat 10 juta, kita tetap hidup (dari) 5 juta. Tetapi kalau bedanya jauh, ambil yang tengah.”

Bagi para freelancer, dengan hidup dari pendapatan terendah, kita akan terus merasa aman walau suatu saat dapat uang lebih. Ada selisih pendapatan yang bisa ditabung, investasikan, atau disimpan sebagai dana darurat. Jika ingin mengambil cicilan pun, harus menggunakan instrumen pendapatan terendah. Karena para freelancer harus bersiap diri dengan potensi tidak memperoleh pendapatan.

“Terus bentuk dana darurat segera. Karena freelance ini harus punya gaji plus satunya,” ujar Ghita. Gaji plus satu itu sebagai antisipasi kalau tidak memperoleh pendatapan, kita tidak kelabakan. Kita bisa ambil dari dana darurat tersebut. Besarannya 3 kali dari penghasilan rata-rata yang tadi telah dihitung.  

Investasi Paling Populer

Sampai di sini semakin jelas, siapapun dengan gaji dan pendapatan berapun bisa mulai investasi. Bahkan bagi kita yang bekerja freelance juga sangat memungkinkan berinvestasi. Lalu mau investasi apa?

Instrumen investasi telah dijelaskan. Satu yang paling populer untuk orang Indonesia adalah investasi properti. Nilainya besar tetapi risikonya juga besar, itulah mengapa ditaruh dalam kategori investasi jangka panjang.

Menurut Ghita, kalau memilih investasi properti yang harus dicatat adalah jangan sampai aset yang kita beli menjadi beban. Kalau tidak ditempati, properti harus produktif, jangan membebani kita. Maka kunci dari investasi properti adalah lokasinya harus strategis, cek pengembangnya siapa, dan jika mau disewakan apakah marketnya ada?

Jika merujuk dari pendapat Ghita, contoh investasi properti bisa jadi mengarah pada proyek Mahata Margonda Apartment. Keunggulan apartemen ini adalah hunian yang memiliki konsep Transit Oriented Development (TOD), atau terintegrasi dengan transportasi umum yang dalam hal ini menyatu dengan Stasiun Pondok Cina, Depok, Jawa Barat.

Habibie (depan) berkomunikasi dengan luwes, baik kepada anak-anak, narasumber dan audiens, sehingg Mahata Margonda Family Fest di Marketing Gallery Mahata Margonda Apartment, Depok 30 November 2019, berjalan seru.

Letaknya sangat strategis karena berada di depan Universitas Indonesia, di sampingnya ada Mall Margo City dan Universitas Gunadarma, lalu di depannya tidak jauh dari Pintu Tol Margonda yang terhubung dengan Tol Jagorawi dan menjadi bagian dari Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2. Jika ingin disewakan, ada sekitar 175.000 mahasiswa tiap tahun di Depok. 

Siapa pengembang dari apartemen yang beralamat di Jalan Margonda Raya No. 347 Depok? Tidak lain adalah Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas), yang merupakan BUMN dengan bidang usaha perumahan dan permukiman. Sejak tahun 1974, perusahaan plat merah ini teruji dalam menyediakan perumahan dan permukiman di seluruh Indonesia dengan total sekitar 500.000 unit rumah.

Melihat umurnya, bisa dimengeri bahwa Perum Perumnas memilih pendekatan edukatif dalam memasarkan produknya. Termasuk untuk Mahata Margonda Apartment ini. Tampaknya mereka tidak hanya ingin produknya laris, tetapi turut membangun kesadaran arti penting memulai investasi sedini mungkin. Itulah mengapa diadakan kegiatan “Mahata Margonda Family Fest.”

Selain diisi dengan talkshow persama Ghita Argasasmita, juga diadakan lomba mewarnai untuk anak-anak, demo memasak bersama celebrity chef Karen Carlotta, dan hiburan band. Semua kalangan dirangkul. Anak-anak diberi ruang berekspresi, orangtua yang mengantar mendapat pengetahuan seputar investasi dan resep memasak, dan semua yang hadir bisa terhibur oleh permainan musik yang menawan.  

Semoga, semakin banyak orang yang menyadari arti penting memulai investasi sedini mungkin. Termasuk bagi para pekerja freelance. Jadi, kapan lagi kita mulai investasi kalau tidak dari sekarang?!

Tak ketinggalan, Mahata Margonda Family Fest diisi dengan penampilan band yang memeriahkan suasana. Acara tersebut berlangsung di Marketing Gallery Mahata Margonda Apartment, Depok 30 November 2019.
Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply