Bulan Arwah 2019 Sangat Istimewa, Ini Penjelasan Lengkapnya

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

November 2019 adalah bulan arwah yang spesial. Dibuka tanggal 1 November, bertepatan dengan perayaan Jumat Pertama. Bacaan yang dipakai pun sangat mendukung untuk mengantar kita memasuki misteri kematian, puncak paradoks dalam iman kita.

Saat kita mengikuti Ekaristi Hari Raya Semua Orang Kudus, di awal bulan November 2019, kita akan diberi gambaran tentang dunia orang mati. Pertama-tama, kalau kita mengatakan November adalah bulan arwah, berarti yang kita bahas adalah alam baka. Setelah mati, kita akan masuk dalam komunitas baru yang dipimpin oleh Allah Bapa yang bertahta bersama Putera dan Roh Kudus.

Dalam bacaan pertama (Wahyu 7:2-4.9-14), Santo Yohanes memberikan kesaksian bahwa ia melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya, dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa. Mereka berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dengan suara nyaring mereka berseru, “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta, dan bagi Anak Domba!”

Gereja meyakini bahwa semua orang yang dibabtis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus diangkat menjadi anak Allah. Di dalam bacaan kedua, status kita kembali ditegaskan, “Saudara-saudara terkasih, lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah,” dan saat kita mati, “Kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya,” (Yoh 3:2).

Baca Juga: Menyikapi Ceramah UAS Dengan Keteladanan Bunda Maria

Tetapi, anugerah ini tidak didapat secara otomatis. Tidak serta merta kita pasti masuk surga hanya karena telah dibabtis. Dalam Injil disebut ragam syaratnya. Intinya adalah mengikuti perintah-Nya dan menjalankan apa yang telah diteladankan kepada kita semua. Salah satu syarat yang cukup menarik perhatian adalah, “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga,” (Mat 5:3).

Miskin di hadapan Allah, adalah orang yang hatinya kosong, tak punya apa-apa, miskin. Kalau kita pamrih dalam menolong orang, maka di hati kita ada catatan bahwa saya telah memberi dia/ mereka sesuatu. Kalau kita marah atau dendam pada seseorang, maka orang itu mengisi hati kita. Hati yang kosong adalah hati yang murni, tidak menyimpan budi, hutang, atau dendam. Hati yang kosong selalu haus diisi oleh kasih Allah.

Jika yang mengisi benar-benar kasih Allah, maka kasih itu tak akan tinggal lama di hati kita. Karena merasa dikasihi, kita akan terdorong untuk membagikan kasih itu kepada sesama, makluk hidup lain, dan semesta. Setelah dibagi, hati kosong lagi, miskin lagi, maka kita kembali berharap dan mengandalkan hidup dan kasih pada Allah semata.

Istimewanya, refleksi akan kasih Allah ini jatuh di hari Jumat Pertama. Tuhan Yesus saat menampakkan diri kepada St. Margaret Mary Alacoque, Ia meminta setiap hari Jumat pertama setiap bulan dikhususkan untuk devosi dan adorasi kepada Hati Kudus-Nya.

Baca Juga: Saat Iman Pada Yesus Menyinggung PLN Dan Sebatang Pohon

Devosi dan adorasi Hati Kudus Yesus ini dimaksudkan supaya kita membuat silih bagi segala luka yang diterima oleh Hati Kudus Yesus karena umat manusia yang tidak tahu terima kasih. Sudah ditebus dan diselamatkan tetapi masih senang berkubang dalam dosa, sehingga itu membuat Hati Yesus terluka.

Yesus ingin, di setiap Jumat Pertama, kita ingat untuk kembali ke Hati-Nya sehingga kita penuh sukacita, membalas kasihNya dengan berbuat kasih pada sesama, dan selalu mengarahkan hati kita kepada kehendak Hati-Nya. Kesempatan kita menatap Tuhan dari hati ke hati adalah saat adorasi, dalam hening kita menatap Dia yang bertahta di altar.

Gereja Berziarah

Dalam perspektif Katolik, dunia arwah terdiri dari para kudus dan umat beriman. Setidaknya kita merujuk pada Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November) dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman (2 November). Perbedaan keduanya tampak dari yang satu adalah golongan “mapan” yang dilambangkan Romo memakai kasula putih dan satunya golongan yang masih berjuang yang dilambangkan kasula ungu.

Romo Simon Petrus Bambang Ponco Santosa, SJ yang memimpin misa di Blok B pada 1 November 2019, mengatakan bahwa orang kudus dalam Gereja Katolik memiliki tingkatan. Dia bilang ada gradasi kesucian. Yang dimaksud Romo, orang tidak serta merta bergelar santo atau santa. Tahapannya sangat lama dan panjang dengan melibatkan banyak ahli yang berperan di berbagai sektor penyelidikan.

Secara singkat, tahapan tersebut dimulai dari tingkat keuskupan. Mereka yang diduga sebagai orang kudus dan lolos di tahap awal ini akan bergelar Servant of God (Hamba Allah). Tingkat berikutnya adalah Declaration ‘Non Cultus’ (Pernyataan tak ada tahyul). Tahap ini untuk memastikan tidak ada praktik tahyul/ pemujaan yang ditujukan pada sang pelayan Tuhan ini. Bahasa kita, jangan sampai ada tindakan yang mengarah musyrik.

Baca Juga: Teladan Sang Buddha, Bekal Hidup Berbangsa Menghadapi Tahun Politik

Ketiga adalah VenerableHeroic in Virtue (Yang Terhormat/ Heroik dalam kebajikan). Pada tahap ini dapat dicetak kartu doa yang baru saja diberi gelar Venerable, lalu dibagikan pada umat, sehingga umat dapat memohon doa perantaraan mereka.

Keempat, Blessed (Yang Terberkati). Mereka Yang Terberkati mendapat kelar Beato atau Beata. Pada tahap Beatifikasi ini, Gereja menyatakan bahwa kita dapat percaya bahwa sang pelayan Tuhan tersebut berada di surga.

Terakhir adalah Saint (Santo/ Santa). Tahap ini disebut Kanonisasi, di mana Gereja menyatakan bahwa Sang Santa/ Santo tersebut telah berada di Surga, dan memandang Allah dalam Beatific Vision. Pesta nama Santa/ Santo tersebut ditentukan, dan boleh dirayakan.

Dalam tradisi Katolik, para kudus ini hanya mati badannya, tetapi jiwanya telah disucikan, bahagia di surga, menatap wajah Allah, dan menjadi serupa denganNya. Para kudus ini, bersama dengan Sang Kepala sebagai mitra kerja, berdoa bagi kita semua yang masih berziarah. Baik kita yang masih hidup melainkan arwah orang beriman yang berada di api penyucian. Kita bersama mereka, termasuk arwah di api penyucian adalah satu Tubuh Gereja, dimana Allah menjadi kepalanya. Kita semua diikat oleh kasih yang sama yakni Kasih Allah. Satu sama lain saling mendukung dan mendoakan supaya semua memperoleh keselamatan.

Setelah merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, kita masuk Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Di hari ini kita memperingati semua orang beriman yang telah meninggal, khususnya dari kalangan saudara, teman, atau siapa saja yang ingin kita doakan. Kita percaya bahwa semua arwah orang beriman diselamatkan Allah, tetapi karena dosa yang diperbuat membuat mereka terhambat. Untuk melepaskan hambatan tersebut, mereka perlu didoakan, baik oleh kita yang masih hidup maupun oleh para kudus.

Baca Juga: 210 Tahun Gereja Jakarta, Ajakan Kembali Pada Pancasila

Jumat Pertama

Romo Simon di atas mengibaratkan, umat beriman yang telah meninggal itu seperti memiliki hutang. Untuk masuk surga dan bergabung dengan para kudus, sekalipun di level terbawah, maka utang tersebut perlu dilunasi. Tugas kitalah yang membantu melunasinya dengan doa-doa.

Bagi saya Bulan Arwah yang dibuka pada Jumat Pertama ini tidak ubahnya perayaan kasih dan sukacita, karena kita ditunjukkan dengan gamblang bagaimana Kasih Allah itu mengalir secara nyata dalam relasi antarnggota tubuh Gereja. Doa dan kasih saling bertautan dan berkumandang, mulai dari para kudus, arwah kaum beriman, sampai kita yang masih berjuang di dunia. Ini semua terjadi karena kepemimpinan Allah Bapa, keteladanan Sang Putera dan didorong oleh kekuatan Roh Kudus.

Selamat memasuki Bulan Arwah, semoga kita selalu diingatkan akan panggilan hidup kita supaya menjadi kudus dan sempurna sebagaimana telah diteladankan oleh para kudus yang kita rayakan, “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1Pet 1:15-16) dan, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).

Sumber Foto: d.ibtimes.co.u

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply