Kisah Tari Topeng, dari Tarian Kerajaan sampai Ditarikan oleh Narapidana

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Nyaris 1 tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di Indramayu, Jawa Barat. Namun, kenangan daerah yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa itu begitu lekat. Masih jelas terbayang, lekuk tubuh penari topeng luwes mengikuti alunan gamelan. Mulai dari anak kecil, remaja, sampai dewasa memberi secercah harapan bagi kesenian tradisonal ini.

Jam menunjukkan pukul 14.00. Tempat yang dituju adalah Sanggar Tari Mimi Rasinah. Dari dalam mobil, AC tak begitu berasa. Benar saja, saat pintu dibuka, hembusan angin pun terasa hangat di pipi. Bukan main cuaca di pantai utara Jawa ini. Terbayang bagaimana cuaca turut menggambarkan kerasnya perjuangan masyarakat Indramayu, khususnya keluarga Aerli Rasinah (34) dalam melestarikan Tari Topeng.

Bersama rombongan yang difasilitasi Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kompasiana, saya mendapat kesempatan menyaksikkan Tari Topeng yang melegenda, langsung dari pewarisnya. Aerli adalah cucu sekaligus penerus sang maestro Tari Topeng, Mimi Rasinah, yang berasal dari Indramayu. 

Aerli Rasinah, cucu sekaligus penerus sang maestro Tari Topeng, Mimi Rasinah

Menurut cerita Aerli, keluarganya memang digariskan memiliki darah seni yang kental. Khusus untuk tarian, ada 2 jenis tarian di kala itu yang populer, Tari Topeng yang ditarikan oleh para pria dan Tari Ronggeng untuk kaum perempuan. Namun, karena gerakan Tari Ronggeng kerap dipersepsikan erotis, maka Mimi Rasinah diajarkan Tari Topeng oleh ayahnya.

Disangka Mata-mata

Menurut sejarahnya, Tari Topeng menjadi kesenian penghibur keluarga kerajaan, khususnya Kerajaan Cirebon, beserta tetamu yang datang. Maka tidak mengherankan, seniman Tari Topeng bisa dikatakan sejahtera karena mendapat bayaran dari kerajaan.

Namun keadaan berubah saat penjajah datang. Di zaman Belanda, pihak kerajaan tak sanggup lagi membiayai hidup seniman Tari Topeng karena pengeluaran diatur oleh penjajah. Demi idealisme dan tuntutan ekonomi, para seniman ini, penari dan pemain gamelan, terpaksa ngamen keliling kampung.

Pada periode ini, Tari Topeng yang hanya dikenal oleh para bangsawan, kini menjadi pertunjukan populer. Ada banyak kelompok tari bermunculan di desa-desa. Kelompok ini tidak jarang berkeliling dari satu desa ke desa lainnya untuk menghibur warga sekaligus mempertahankan kebudayaan dan memenuhi kebutuhan ekonomi.

Baca Juga: Lelah Macet Wisata Ke Puncak, Coba Ke Sini Aja!

Keadaan kembali berubah saat Jepang masuk ke Bumi Nusantara. Jepang menilai, rombongan Tari Topeng pimpinan ayah Mimi Rasinah tidak hanya berkesenian tetapi sekaligus menjadi mata-mata. Akibatnya, sebagian topeng dengan segala perlengkapannya dirampas dan dihancurkan. Untungnya masih ada beberapa topeng yang berhasil diselamatkan dan disimpan sampai sekarang. Sebagian usia topeng itu mungkin sudah lebih dari 100 tahun.

Nasib penari topeng ternyata tidak serta merta membaik ketika memasuki masa kemerdekaan. Mereka terpaksa menanggalkan selendang dan topeng karena kegiatan mereka dianggap dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra identik dengan PKI karena didirikan atas inisiatif D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta. Lembaga ini mendorong seniman dan penulis untuk mengikuti doktrin realisme sosialis.

Tarian Tari Topeng yang diselingi dengan lawak di Sanggar Tari Mimi Rasinah

Menurut catatan National Geographic Indonesia, selama bertahun-tahun Mimi Rasinah hanya bermain gamelan mengiringi pertunjukan sandiwara suaminya. Sampai pada 1994, aura Tari Topeng menyihir dosen STSI Bandung. Sejak saat itu, Rasinah bangkit dan kembali mengalungkan selendang serta mengenakan topengnya.

Rasinah tidak sendiri. Dia menggandeng cucunya, Aerli untuk meneruskan warisan keluarga sekaligus budaya nusantara ini. Mulai sekitar tahun 2004, Rasinah bersama Aerli sudah keliling dunia untuk menampilkan Tari Topeng dalam pertunjukan maupun workshop.

Baca Juga: Batik Tiga Negeri: Pewarnaan Dari 3 Kota, Seharga 2 Sapi, Sampai Merah Darah Ayam

Baca Juga: Tragis! Catatan Sejarah Klenteng Tertua Di Jawa Justru Ada Di Belanda

Puncaknya, di tahun 2008, Aerli secara resmi menjadi penerus Tari Topeng dari Mimi Rasinah. Energi Sang Maestro tampak telah merasukinya saat tampil di panggung. Enerjik, berwibawa, dan menyihir setiap mata yang menatap pesona dari tiap gerak tubuhnya. Bahkan kini, Nufus (13) dan Elga (14) yang adalah cicit Mimi Rasinah telah berani menampilkan Tari Topeng di hadapan kami.

Masuk ke Penjara

Kini Sanggar Tari Mimi Rasinah yang dibangun dari bantuan PT Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field, telah menjadi komunitas besar. Di dalamnya, orang tidak hanya belajar Tari Topeng, tetapi juga belajar gamelan, membuat topeng, sampai membatik untuk selendang tari. Satu sama lain saling mendukung. Bahkan kini telah ada toko suvenir yang menjual beragam topeng dengan ukuran berbeda, batik, selendang, sampai makanan ringan hasil karya ibu-ibu di sekitar sanggar.

Satu hal yang tak boleh dilupakan, setiap kali bicara kesenian tradisional masalah yang selalu mengemuka adalah soal regenerasi. Hal ini kadang membuat gelisah, apalagi mengingat bagaimana generasi sebelumnya telah berdarah-darah mempertahankan kekayaan budaya nusantara. Aerli pun menyadarinya.

Kano (39), menuturkan bahwa membuat topeng perlu keahlian khusus. Hanya ada 3 orang termasuk dirinya yang bisa dibilang mahir dan masih sanggup berkarya.

Oleh karena itu, Aerli beberapa tahun ini mengajarkan Tari Topeng ke sekolah-sekolah. Namun ia tidak menganjurkan orang tua murid untuk mendorong-dorong anaknya  belajar di sanggar tari. Aerli tidak mau terlalu banyak berharap dari apa yang ia lakukan. “Yang penting kita memperkenalkan terlebih dahulu, yang dulunya tidak tahu jadi tahu,” ucapnya.

Masalah regenerasi juga melanda mereka yang membuat topeng. Salah satu pembuat topeng yang saya temui, Kano (39), menuturkan bahwa membuat topeng perlu keahlian khusus. Hanya ada 3 orang termasuk dirinya yang bisa dibilang mahir dan masih sanggup berkarya. Dia sendiri baru menekuni dunia ini sejak 2009. Sebelumnya ia adalah pemain gamelan yang mengiringi Tari Topeng.

Baca Juga: Jejak Kemasyuran Indonesia Di Fort San Pedro Filipina

Sebagai pembuat topeng, ia berharap ada banyak generasi muda mengikuti jejaknya. Menurutnya ada banyak yang tertarik, tetapi tidak memiliki alat. Untuk itu ia berharap ada pihak yang mau membantunya menyediakan perlengkapan membuat topeng sehingga warisan budaya ini tetap terjaga. “Ini soal ekonomi. Saya tidak sanggup. Kerja seperti ini upahnya seperti buruh, tetapi enaknya saya tidak perlu cari kerja. Pembeli datang sendiri. Saya bersyukur sekali,” ungkap Kano.

Aerli menyadari perlu terobosan untuk memperkenalkan kekayaan budaya ini. Salah satu langkah yang mungkin kita tidak membayangkan adalah mengajari menari topeng dan membuat topeng. Bahkan para narapidana tersebut, dengan izin khusus, tampil di hadapan kami. “Kami ingin memanusiakan manusia,” ujar Aerli.

Rombongan SKK Migas, saya di antaranya, mengabadikan momen istimewa di Sanggar Tari Mimi Rasinah, Indramayu Jawa Barat, 16 November 2018.

Tari Topeng tidak lagi melenggok di Istana Kerajaan. Juga tidak tampil keliling kampung menjual kesenian. Kini Tari Topeng membentuk sebuah komunitas yang di dalamnya terdiri banyak manusia yang saling mendukung, merawat warisan budaya, menjaga tradisi, memberikan rejeki dan harapan di masa depan, serta memperkuat identitas. Termasuk di dalamnya adalah dunia usaha seperti Pertamina yang memberikan bantuan dan dorongan moral bagi semua anggota komunitas.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply