Gigih Lawan Human Trafficking, Pastor Paschal Diganjar Penghargaan LPSK

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang banyak terkait perlindungan warga negaranya dari ancaman perdagangan manusia (human trafficking) dan pekerja migran. Ribuan orang telah menjadi korban. Namun tidak banyak yang peduli.

Pemerintah kerap dipandang masih kurang serius, karena disinyalir ada beberapa oknum yang bermain dalam bisnis kotor ini. Maka peran gerakan kemasyarakatan terus didorong keterlibatannya.

Berdasarkan data International Organization for Migration (IOM), di tahun 2015-2017 setidaknya 8.876 warga kita telah menjadi korban perdagangan manusia.

Sama memprihatikannya dengan data dari United Nations Children’s Fund (Unicef). Di mana ada 100.000 perempuan dan anak di Indonesia diperdagangkan untuk tujuan eksploitasi seksual setiap tahunnya.

Baca Juga: Ibu Kota Baru Dalam Refleksi Jembatan Suramadu Dan JSS

Dari sisi pemerintah, data ini tidak ditampik. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Susana Yembise mengakui tindak pidana perdagangan orang (TPPO) sulit untuk diberantas. Karena menurutnya ada keterlibatan dari oknum pejabat.

Maka tidak heran banyak korban dari praktik TPPO, khususnya dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Salah satu kota yang disoroti sebagai pusat TPPO adalah Batam, Kepulauan Riau. Menurut Yohana, Batam jadi tempat TPPO terbesar kedua setelah Papua. Yang mengejutkan, Batam yang menjadi pintu gerbang untuk keluar negeri ternyata memiliki angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tinggi.

Kondisi sosial kemasyarakatan di Batam ini ternyata menarik nurani seorang Pastor Katolik bernama Chrisanctus Paschalis Saturnus Esong (39). Sejak ia ditahbiskan 9 tahun lalu, Paschalis setia mendampingi para korban perdagangan orang dan pekerja migran Indonesia di Batam.

Romo Paschal (kedua dari kiri) bersama beberapa orang di tengah acara penerimaan penghargaan dari LPSK di Jakarta, 28 Agustus 2019 | Foto Dokumentasi Romo Paschal

Mereka hidup dalam situasi traumatik, ketakutan, dan kekerasan. Tidak sedikit perempuan yang menjadi korban juga didapati hamil tanpa ayah yang jelas.

Lebih dari itu, sebagai seorang pastor yang sering mendengarkan keluh kesah umat, Paschal yang lahir di Dabo Singkep pada 9 April 1980, kerap berhadapan dengan permasalah sosial. Tidak hanya korban TPPO, tetapi korban penggusuran, kekerasan dalam masyarakat maupun KDRT.

Paschalis sudah sejak 2013, menjabat Ketua KKPPMP (Komisi Keadilan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau) untuk Keuskupan Pangkalpinang. “KKPPMP sendiri adalah salah satu sub bidang pelayanan dalam Gereja Katolik yang bergerak di ranah kemasyarakatan, sesuai dengan namanya komisi ini berhubungan dengan persoalan ketidakadilan dan perdamian.

Termasuk di dalamnya adalah persoalan buruh migran yang rentan terhadap perdagangan orang dan bahaya lain yang dapat ditimbulkan karena migrasi,” kata Paschal pada penulis, 29 Agustus 2019.

Jabatan ini tidak mengubah apapun. Ia seperti biasa memberikan advokasi pada para korban dengan konsisten. Sikap ini membawa dia tak gentar terhadap godaan uang suap yang ditawarkan pelaku kejahatan perdagangan manusia.

Menolak uang yang tidak sedikit itu, justru mengantarkan Paschal pada rentetan ancaman. Mulai dari teror mengarah pada dirinya, ancaman pembunuhan dan yang paling nyata adalah dilaporkan balik ke pihak berwajib.

Baca Juga: Jokowi-Prabowo, Yuk Nonton “A Knight’s Tale”!

Fenomena ini menunjukkan bahwa TPPO adalah bisnis kejahatan yang menggiurkan, sampai-sampai pelakunya berani mengancam seorang pastor, menggoda oknum pejabat, berani menawarkan uang suap yang banyak, dan terus berjalan sampai sekarang.

Keteguhan sikap, hati, dan pikiran Paschal dalam mendampingi para korban TPPO membuatnya diganjar penghargaan. Dalam rangka HUT Ke-11, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memberikan penghargaan kepada mereka yang dinilai telah mendukung pekerjaan LPSK, khususnya yang selama 11 tahun ini berupaya memberikan layanan perlindungan dan bantuan kepada saksi dan korban, terutama kepada korban tindak pidana perdagangan orang dalam proses peradilan pidana. Paschal adalah salah satu penerima penghargaan tersebut.

Dengan rendah hati, Paschal mengaku apa yang ia lakukan bukanlah hal istimewa. Sebelum dirinya, sudah ada beberapa pastor di Batam yang menjalankan tugas seperti dirinya. “Siapapun bisa melakukan pekerjaan seperti ini,” tuturnya merendah.

Ia berpandangan, penghargaan yang diterimanya ini sebagai hasil pergumulan yang panjang KKPPMP Kepulauan Riau (Batam) Keuskupan Pangkalpinang dalam memperjuangkan keadilan.

“Oleh karena itu terima kasih buat semua yang bersama saya memperjuangkan keadilan dengan totalitas, loyalitas dan tanpa batas bagi semua korban perdagangan orang. Jalan masih panjang, pekerjaan ini tidak pernah usai. Penghargaan ini adalah semangat buat kita tidak pernah berhenti memperjuangkan keadilan,” ungkap Paschal.

Pekerjaan Iman

Menjadi seorang pastor seperti Paschal sebenarnya dekat dengan zona nyaman. Sebagai seorang pemimpin agama yang dihormati umatnya, tentu pelayanan yang dijalaninya tidak harus sampai mempertaruhkan nyawa. Namun panggilan hidup Pascal tidak umum, sehingga membuat banyak orang bertanya kepadanya, mengapa mau bekerja seperti ini?

“Menurut saya, apa yang saya lakukan adalah pekerjaan iman. Iman untuk melihat Yesus yang saya imani dalam penderitaan orang lain, dan membawa mereka untuk mengalami pengalaman rohani bahwa Tuhan ada bersama mereka,” Paschal menjelaskan.

Istilah pekerjaan iman, membuat Paschal yang ditahbiskan 28 Mei 2010 itu memberikan penjelasan lebih jauh. Dua kata yang tampak enak dan megah didengar, tetapi menuntut aplikasi yang nyata.

Dalam menjalankan setiap tugasnya di KKPPMP, Paschal menempatkan diri sebagai seorang yang mengimani Tuhan Yesus, junjungannya. Sosok Yesus yang dihayatinya adalah Tuhan yang berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan dunia dari dosa.

Baca Juga: Cinta Ibu Frans Seda Pada Pancasila Melalui Wastra Indonesia

Ia rela meninggalkan “zona nyaman” di surga untuk ikut terlibat dalam dinamika manusia dan dunia, bahkan mau menderita dan wafat di palang hina.

“Iman tanpa perbuatan itu omong kosong. Yesus saja mau meninggalkan surga untuk dunia. Kita juga apalagi para pastor, dipanggil menjadi terang dan garam dunia. Sudah saatnya kita tidak hanya menjadi pewarta Firman tapi juga pelaksana Firman,” tegas Paschal.

Saat dikonfirmasi kalau begitu Paschal termasuk pastor unik karena mau “melepas jubah” untuk turun membantu masyarakat yang menderita TPPO, lagi-lagi dia menepis.

Menurutnya, Semua pastor punya tugas dan pelayanannya masing masing, sehingga banyak pastor yang seperti dirinya tapi tidak banyak yang terekspos. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi nyata dari apa yang kita yakini atau imani.

Yakni memberikan pertolongan, kedamaian, pengertian, kesejukan kepada siapa yang menderita, terkhusus dalam hal ini adalah para korban TPPO. Karena semua pekerjaan seperti ini muaranya hanya satu, demi kemuliaan nama Tuhan yang kita junjung.

“Yang terpenting, bagi kami para pastor mohon doa dari umat agar selalu setia dalam pelayanan dan panggilan,” tutup Paschal penuh harap.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply