Saat Iman Pada Yesus Menyinggung PLN dan Sebatang Pohon

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Mati listrik yang melanda Jakarta, Banten, dan Jabar pada Minggu lalu membuat geger jagat maya dunia. Otak dan hati semakin gerah karena masalahnya sepele, tinggi pohon yang alpa dipangkas. Presiden Jokowi pun turun gunung. Bahkan, Yesus ikut bersuara melalui bacaan Injil hari ini.

Presiden mendatangi Kantor Pusat PLN sehari pacsa blackout, Senin 5 Agustus 2019. Ekspresi Presiden tampak geram mendengar penjelasan direksi PLN yang dipimpin Plt Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani. Bibirnya cemberut, keningnya berkerut penuh amarah, dan tangannya gemas menahan luapan emosi.

“Pertanyaan saya, Bapak, Ibu, semuanya kan orang pintar-pintar, apalagi urusan listrik kan sudah bertahun-tahun. Apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkukasi kalau akan ada kejadian-kejadian sehingga kita tahu sebelumnya. Kok tahu-tahu drop,” kata Presiden. Pada akhirnya.

Saat nonton televisi, saya tahu Presiden sepertinya menyindir dengan memakai diksi “orang pintar-pintar.” Tetapi sindiran itu mendapat makna dalam setelah membaca pendapat Ahli Bahasa dan Sastra Jawa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Sahid Teguh Widodo.

Sahid yang bertutur dalam laman Kompascom, yakin bahwa pernyataan Presiden tersebut mencerminkan budaya Jawa. Menurutnya, Jawa itu tempatnya hal-hal semu atau tidak jelas, tapi untuk keperluan yang sangat jelas. Artinya sesuatu yang jelas itu diumpamakan menggunakan kata-kata yang lain, yang sifatnya kadang malah justru indah, tapi sebenarnya untuk memukul.

Dalam konsepsi Jawa Tradisional, Sahid melanjutkan, ‘wong pinter itu memiliki beberapa arti. Pertama, orang yang sepuh (matang), orang yang ono babagan sak kabehe (segala sesuatu ada di dia). Kedua, wong kang ngerti sak durunging winaras (mengetahui segala hal sebelum terjadi). Artinya, orang pintar bisa membaca tanda-tanda sebelum terjadinya sesuatu sehingga dapat melakukan tindakan antisipatif untuk menghindari sesuatu yang fatal.

Mengetahui sesuatu sebelum terjadi bukan menunjuk pada profesi paranormal atau dukun. Wong pinter itu orang yang memiliki keutamaan eling lan waspodo (ingat dan waspada), tunduk, takluk, dan sami’na wa ato’na (mendengar dan patuh) dalam tugas-tugasnya.

Hari ini, Tuhan Yesus juga berharap kita menjadi wong pinter. Setidaknya berharap kita mejadi wong pinter, supaya tiap saat selalu eling lan waspodo dan sami’na wa ato’na kepada perintahNya dan terhadap tanggung jawabnya dalam keluarga-pekerjaan-lingkungan.

“Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” (Luk 12:37-40).  

Sabda Yesus tersebut mengingatkan kita untuk berjaga-jaga dan bersiap-siap karena kita tidak tahu kapan Anak Manusia datang. Artinya kita tidak pernah tahu kapan kiamat akan datang, maka bersiaplah untuk selalu menjalankan perintah-perintahNya.

Kiamat tidak berarti akhir zaman. Kiamat bisa berarti kematian kita, yang memang tidak pernah kita ketahui kapan waktunya. Oleh karena itu, kita dihimbau untuk menjadi wong pinter dengan mengantisipasi sebelum kematian itu datang.

Baca Juga: Paskah, Pilpres, Dan Game Of Thrones

Baca Juga: Teladan Sang Buddha, Bekal Hidup Berbangsa Menghadapi Tahun Politik

Baca Juga: Ramai Isu Sertifikasi Pemuka Agama, Bagaimana Dengan Gereja Katolik?

Caranya bagaimana? Caranya mencontoh sikap Abraham yang ditunjukkan sebagai wong pinter sebagaimana dikisahkan dalam bacaan kedua, Ibr 11:1-2.8-19. Dalam iman kepercayaan kita, wong pinter adalah orang yang melandaskan hidupnya pada iman. Berserah pada kehendak Tuhan semata. “Saudara-saudara, iman adalah dasar dari segala yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman, Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya” (Ibr 11:1-2.8)   

Perhatikan, “Saudara-saudara, iman adalah dasar dari segala yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat.” Wong pinter itu selalu eling lan waspodo terhadap segala sesuatu yang tidak kita lihat, tidak kita ketahui, sesuatu yang belum terjadi tetapi pasti suatu saat terjadi.

Sebagai pengikut Yesus, kita dipanggil untuk menjadi wong pinter yang selalu bersandar pada iman akan Tuhan Yesus. Sebelum kiamat datang, kita diminta berjaga-jaga dengan berbuat kasih pada sesama, berdoa, membaca kitab suci. Jangan sampai kita terlena, dan tetiba listrik kita padam. Dan konyolnya, matinya listrik kita karena perbuatan/ peristiwa konyol, yakni lupa memangkas pohon!

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply