Qlue Hadir di Kupang, Akankah Lepas dari Predikat Kota Terkotor?

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Qlue, aplikasi pelaporan warga, secara resmi hadir di Kota Kupang. Kehadirannya diharapkan tidak hanya membawa dampak perubahan dari sisi penerapan teknologi, tetapi juga perilaku masyarakat.

“Dengan platform Qlue, Pemerintah Kota Kupang dapat semakin cepat menerima laporan warga serta memetakan potensi permasalahan yang ada di kota tersebut dalam satu dashboard,” kata Rama Raditya, Founder and Chief Executive Officer Qlue, saat seremoni peluncuran Qlue di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), 22 Agustus 2019.

Menurut Rama, semua data yang terkumpul dalam dashboard akan memudahkan Pemerintah Kota Kupang untuk merumuskan kebijakan dalam pembangunan kota. Qlue yang hadir dengan tagline “Berani Berubah,” menyediakan platform berbasis Artificial Intelligence (kecerdasan buatan/AI), Internet of Things (IoT), serta integrase data yang bertujuan meningkatkan produktivitas kerja dan efisiensi dalam menangani permasalahan kota.

Salah satu masalah kota yang harus segera ditangani adalah soal sampah. Di awal tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merilis hasil survei tahun 2018 di mana Kota Kupang dikategorikan sebagai salah satu “kota terkotor” di Indonesia.

Baca Juga: Di Tengah Debat “Unicorn,” Ada Start Up Lokal Raih Penghargaan Internasional

Walikota Kupang, Jefri Riwu Koren tentu gerah dengan masalah ini. Apalagi selain Kupang ada Labuan Bajo yang mendapat predikat serupa. Jefri yang menjabat tepat 2 tahun lalu ini ingin wilayahnya menjadi terdepan dalam pembenahan sehingga dapat diikuti daerah lain di wilayah NTT. Sehingga NTT lebih siap menjadi destinasi wisata berstandar internasional.“

Kami menargetkan pengguna aplikasi Qlue di Kota Kupang mencapai 22 ribu pengguna dengan jumlah laporan masyarakat yang masuk melalui Qlue mencapai 30 ribu laporan hingga akhir tahun. Untuk itu, saya berharap dan mengajak seluruh masyarakat kota Kupang untuk dapat memanfaatkan dengan baik Qlue dalam mewujudkan Kupang Smart City,” ujar Jefri.

Semua laporan masyarakat, ia melanjutkan, akan ditindaklanjuti oleh tim Quick Response dari tujuh Organisasi Perangkat Daerah, yaitu Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, Satpol PP, Dinas Kesehatan, dan Dinas Kebakaran. Untuk tahap awal, Pemerintah Kota Kupang telah menyiapkan 200 orang tim Quick Response untuk menindaklanjuti seluruh laporan masyarakat dan akan terus berkembang menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

Baca Juga: Qlue Membuat Gotong Royong Relevan Di Tengah Ekonomi Digital

Seluruh laporan masyarakat akan masuk ke dalam Dashboard Kupang Smart City yang dioperasikan oleh Pemerintah Kota Kupang dan secara otomatis diteruskan kepada tim operasional di lapangan untuk ditindaklanjuti. Laporan masyarakat yang masuk juga akan menjadi data yang berharga bagi Pemerintah Kota Kupang, untuk menghasilkan berbagai rekomendasi kebijakan pembangunan kota.

Untuk itu, Jefri mengajak warga untuk dapat berpartisipasi aktif melaporkan berbagai masalah lingkungan dan sosial. Mulai dari masalah sampah, lampu dan rambu lalu lintas yang rusak, kemacetan, pelanggaran lalu lintas, parkir liar, tunawisma/ pengemis, fasilitas anak, orang hilang, pedagang kaki lima liar, pelanggaran bangunan, iklan liar, permintaan fogging DBD, masalah kesehatan hingga laporan kebakaran.

Baca Juga: Walau Diminati Negara Lain, Qlue Fokus Jadikan Indonesia Sebagai Smart Nation

Namun demikian, secanggih apapun teknologi dan sebagus apapun pemimpin, tidak akan membawa perubahan jika tidak ada partisipasi aktif dari warganya. Sadar akan hal tersebut, sejak beberapa waktu lalu Jefri mengampanyekan kepada seluruh warganya untuk berubah.

Puncaknya terjadi saat ini dalam rangkaian “Festival Ayo Berubah!”. Festival ini adalah gebrakan terbaru dari Pemerintah Kota Kupang yang mengajak masyarakat untuk bergerak secara kolaboratif dalam mewujudkan Kota Kupang yang modern, mandiri, dan cerdas.

“Melalui kampanye ‘Ayo Berubah!’, kami mengajak dan mengedukasi masyarakat Kupang untuk berubah ke arah positif dan memberikan pemahaman bahwa masyarakat bukan lagi menjadi objek, tapi harus menjadi subjek pembangunan,” tutur Jefri.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply