Puisi | Di Balik Kesunyian Makam

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Ayunan langkah senyap melewati berderet nisan
Kabut senja menambah kesan sunyi berdebu
Tidak ada lagi semarak kehidupan
Hanya lidah terbelit kelu

Masih kudengar teriak lantang kalian
Mengobarkan semangat atau justru penanda akhir kehidupan
Mundur bukanlah pilihan, sekadar pamit mengenakan sarung
Tak pernah terpikir, ada secangkir kopi yang menanti kepulangan

Sepotong sunyi tertinggal di makam ini
Satu sama lain tampak tak berbeda
Walau di sana ada militer dan sipil Belanda
Bahkan beberapa di antaranya adalah pahlawan kami

Perjuangan pahlawan kami, terpatri dalam prasasti Ereveld Ancol
Berkalung sepi ditinggal gulungan zaman
Terisolir di antara makam bangsa lain
Abadi dalam sebuah kenangan Perang Dunia Kedua

Perjuangan kalian memang telah usai
Tapi di balik pagar, ada semarak kemerdekaan
Kami menolak sunyi
Hadir memberikan makna dalam karya

Akhirnya, pekik merdeka memecah keheningan makam
Jiwa para pejuang, bangkit memberi pacu
Sekali maju, hanya cita yang dituju
Demi Indonesia maju

Kisah kami baru dimulai
Bersimpuh pada pertiwi
Berbisik dalam sunyi
“Merah-putihkan jiwa raga kami.”

Ancol
19.8.2019

Baca Juga: Puisi: Arti Sebuah Perjalanan

Baca Juga: Menyapa-Mu Dalam Puspa Pesona

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply