Menyikapi Ceramah UAS dengan Keteladanan Bunda Maria

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Jagat media sosial dihebohkan oleh ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) yang menyinggung umat kristen, baik Protestan maupun Katolik. Salib yang begitu dihormati oleh umat kristen menjadi bahan olok-oloknya, bahkan dianggap tempat bersemayamnya jin kafir.

Awalnya saya tidak tahu tentang kisah viral ini. Pada 17 Agustus 2019, saya mengecek Instagram. Di laman Ustadz Permadi Arya alias Abu Janda, saya membaca “Saya cuma ingin angkat topi salut buat kalian umat Nasrani. Dirgahayu Indonesia ke-74.” Di postingan selanjutya ia mengatakan, “Wahai umat Kristiani, maafkan saudara kami yg belum memahami hakikat agama, masih meyakini Tuhan Maha Melaknat, Tuhan Maha Membenci, Tuhan Maha Memerangi. Akibat belum memahami hakikat tertinggi agama.. yakni: Puncak Agama adalah Cinta. Tuhan Maha Mencintai, Tuhan Maha Asyik, Tuhan Maha Santuy. Dirgahayu Indonesia ke-74.”

Kontan saya bertanya, “Emang ada apa sih?” Barulah saya tahu, postingan Permadi terkait dengan pelecehan UAS terhadap salib yang mendapat tempat istimewa dalam kehidupan kristiani. Mau tidak mau, saya mencari video yang menampilkan ceramah UAS itu.

Sejujurnya, saya marah saat mendengar pernyataan-pernyataan UAS. Namun hanya sesaat, selebihnya saya merasa kasihan. Hari gini masih ada orang yang berpikiran sempit, menganggap diri paling benar dan merendahkan pihak lain, serta mengikat pengikutnya dengan menyebar kebencian.

Baca Juga: Saat Iman Pada Yesus Menyinggung PLN Dan Sebatang Pohon

Saya lega bahwa ada banyak pihak yang memberi dukungan pada umat kristen. Salah satunya adalah Permadi. Dari beberapa netizen yang mengomentari postingan Permadi, saya semakin sadar bahwa UAS hanya kerikil dalam perjuangan memerdekan Indonesia dari perilaku SARA. Bahkan tidak sedikit yang menunjukkan kekagumannya pada kami umat kristen yang bisa sabar, tidak tertarik untuk “ribut”, bahkan mampu menjadikan peristiwa ini untuk memperdalam iman.

Menurut saya, umat kristen bisa bersikap demikian pertama-tama karena keteladan Tuhan Yesus sendiri. Ia begitu konsisten memperkenalkan dan mempraktikkan keutaman cinta kasih sampai pada titik penghabisan. CintaNya pada manusia membawa dia mati tragis di kayu salib. PesanNya pada kami para pengikutnya adalah meneruskan ajaran dan praktik hidup mengasihi Tuhan dan sesama. Cinta kita pada Tuhan harus sejalan dengan perilaku penuh kasih pada sesama.

Orang pertama dan utama yang menjalankan perintah Yesus ini tidak lain adalah Bunda Maria, ibuNya. Maria adalah anggota Gereja yang pertama, yang hidup mendengarkan dan melaksanakan firman Tuhan dengan sempurna, sehingga rencana Tuhan dapat terlaksana. Oleh ketaatan dan persetujuan Maria-lah, Allah dapat mengutus Kristus PuteraNya ke dunia. 

Cinta Bunda Maria pada Yesus sangat besar. Ia menerima Yesus dari awal walau ia tahu ada banyak risiko yang dihadapinya. Ketaantannya pada perintah Tuhan, membuatnya harus menerima bahwa dirinya mengandung Yesus tanpa suami dan tidak dari hubungan badan. Walau hatinya bingung dan penuh keraguan, toh Maria menerimanya dengan penuh iklas.

Yesus lahir dan besar dengan penuh kasih sayang dari Maria dan Yosef. Ia dijaga dan dididik dengan baik. Itulah mengapa Maria dan suaminya begitu gusar saat Yesus hilang di tengah perjalanan pulang dari sensus penduduk. Mereka pun kembali ke Yerusalem demi Yesus, suatu perjalanan jauh yang tidak mudah. Ternyata Yesus yang saat itu berumur 12 tahun sedang berada di Bait Allah bersama para guru. Melihat orang tuanya cemas, Yesus malah berkata, “Mengapa kamu mencari Aku?”

Baca Juga: Paskah, Pilpres, Dan Game Of Thrones

Pada umum 30 tahun Yesus keluar rumah untuk mengajar dan mengumpulkan murid. Tiga tahun berikutnya terjadilah tragedi. Singkat cerita keberadaan Yesus dengan ajaran dan kelompok muridnya membuat gerah tokoh umat dan agama Yahudi. Yesus pun dituduh menista Tuhan, diadili, dan akhirnya dihukum mati.

Hati Maria pasti ngilu mendengar nasib puteranya. Hidupnya terasa hancur ketika Maria harus menyaksikan Yesus begitu tersiksa di sepanjang jalan salib. Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Maria saat Puteranya mati di palang penghinaan. Hina karena siapa saja yang disalib dianggap orang terkutuk. Para penjahat keji yang tidak pantas mendapat pengampunan pasti hidupnya berakhir di salib. Itulah mengapa, sampai saat ini saya sulit sekali membayangkan apa yang Maria pikirkan dan rasakan saat dirinya membopong jenasah Yesus sesaat diturunkan dari salib. Kini peristiwa itu dikenal dengan sebutan “pieta.”

Kisah hidup Maria ini membuat kita tidak berlebihan kalau meyakini bahwa dirinya adalah sosok anggota Gereja yang pertama. Tidak hanya menyandang anggota pertama, tetapi hidup Maria penuh keteladanan, taat pada perintah Tuhan, mendidik Yesus dan mendampingi Yesus dengan setia sampai kematianNya. Maka tak mengerankan jika sejak awal, Gereja telah menghormati Bunda Maria, dan meyakini bahwa ia telah berada di Surga.  

Keyakinan iman Gereja akan Maria yang diangkat ke surga terus dihidupi sampai pada akhirnya Paus Pius XII pada 1 November 1950 merumuskannya dalam dogma. “…dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi” (Munificentissimus Deus, 44).

Tahun 2019 ini, Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dirayakan pada hari Minggu, 18 Agustus 2019. Hari inilah kita merayakan iman bahwa Bunda Maria diangkat ke surga jiwa dan badannya. Bagi saya, hari raya ini datang di waktu yang tepat saat umat kristen diuji oleh pernyataan kontroversi UAS.

Ada banyak cobaan, kesedihan, ujian dan perkara yang Maria hadapi selama mengemban panggilan sebagai Bunda Allah. Menghadapi itu semua, Maria tetap tekun dan setia menjalankan perintah Tuhan untuk melayani Tuhan, mendampingi Yesus sampai akhir hayat, dan menjalin hubungan intim dengan Tuhan. Kedalaman relasi Maria dengan Tuhan itu ditunjukkan dengan menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya (Lih. Luk 2:51; Luk 2:34-35; Luk 2:51). Pastilah, Maria terus ‘menyimpan segala perkara’ di dalam hatinya, sampai ia dapat tegak berdiri di kaki salib Yesus, mempersembahkan buah hatinya demi memenuhi rencana Keselamatan Allah Bapa.

Baca Juga: Melihat Kampanye Terakhir Dalam Perspektif Minggu Palma

Sikap Maria inilah kiranya yang sebaiknya kita teladani saat menyikapi pernyataan UAS. Tidak perlu emosi berlebihan, apalagi membalas menghujat. Jangan pula membangun stigma negatif terhadap saudara-saudara muslim kita, karena UAS hanya oknum. Lebih baik kita simpan perkara ini, merenungkannya, dan bawa dalam doa.

Salib yang dihinakan, memang hina sejak awal mula. Tetapi berkat Maria, kita melihat salib sebagai lambang kesetiaan pada Sang Putera. Setia mengikuti hidup Yesus sejak dilahirkan, tumbuh dewasa dan berhikmat, menyebarkan kabar baik, disiksa sebagaimana dalam kisah jalan salib, sampai pada akhirnya wafat dan bangkit. Semoga, pernyataan UAS yang kontroversi ini membuat kita terlecut semakin mencintai salib Sang Putera dalam kebersamaan dengan Sang Bunda, kita berziarah bersama menuju Rumah Bapa.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply