Tips Membuat Cashback Bisa Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan 

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Generasi milenial nyaman belanja menggunakan gedget. Gaya dan dapat cashback. Benarkah kebiasaan ini membuat kita bangkrut?

Pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo memiliki pola yang unik, karena mengusung 2 isu sekaligus. Pertama adalah infrastruktur dan kedua milenial. Keduanya tampak tampil secara terpisah. Media dan lawan politik senang mengaitkan infrastruktur dengan beban utang kita yang besar. Sedangkan isu milenial menjadi semacam berita ringan untuk melihat gaya Jokowi, begitu presiden akrap dipanggil, sebagai presiden gaul yang kerap menggunakan sneakers, jaket bombers, atau tampil gaya saat mengendarai motor chopper. Menurut saya, infrastruktur dan milenial dirajut bersama dalam satu busana.

Infrastruktur digenjot karena menjadi sarana kemajuan. Tidak ada negara maju yang lemah dalam infrastruktur, begitu pula tidak ada negara berkembang yang naik tingkat tanpa mewujudkan konektivitas. Tanpa kita sadari, infrastruktur ini dibuat berdarah-darah demi pelaku kemajuan itu sendiri, yang tidak lain adalah kaum milenial Indonesia. Itulah mengapa, Jokowi dengan gayanya ingin merangkul kaum milenial untuk mau digerakkan maju seiring dengan pembangunan yang dilakukan pemerintah.

Saya yakin, Jokowi mungkin awalnya agak gerah harus berlagak seperti anak muda gaul. Namun ini harus dilakukan. Bahkan, seorang Ma’ruf Amin yang telah berumur 76 tahun pun rela “dipandang sinis” oleh sebagian orang karena ikut bergaya kekinian. Baik Jokowi maupun Ma’ruf, yang telah terpilih menjadi pemimpin Indonesia untuk 5 tahun ke depan, sama-sama menyadari bahwa pembangunan fisik akan mubasir jika pelaku utama kemajuan bangsa tidak memiliki wawasan, kegigihan, dan cita-cita untuk maju.

Mengapa milenial dianggap sebagai subyek utama kemajuan bangsa Indonesia? IDN Research Institute dalam rilis surveinya bersama Alvara Research Center, mengungkap bahwa saat ini ada 63 juta kaum milenial dari sekitar 265 juta total penduduk Indonesia dengan usia 20 – 35 tahun. Dalam laporan ini, IDN Research Institute mengelompokkan generasi milenial menjadi dua, Junior Milenial dan Senior Milenial. Junior Milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1991-1998 dan Senior Milenial adalah mereka yang lahir di antara tahun 1983-1990. Menurut kelompok umur, penduduk milenial berusia 20-35 mencapai 24%, yaitu 63,4 juta dari penduduk kategori usia produktif (14-64 tahun) yang jumlahnya adalah 179,1 juta jiwa (67,6%). Jumlah yang cukup signifikan untuk mengubah atau menentukan masa depan Indonesia.

Survei Indonesia Millenial Report 2019 yang dirilis IDN Research Institute bersama Alvara Research Center (Dok: IDN)

Survei Perilaku Ekonomi Milenial

Ada banyak sisi menarik dari perilaku milenial. Bisa dari pilihan brand, aktivitas di media sosial, ketertarikan pada agama, pernikahan, sampai soal politik. Namun saya akan khusus melihat dari sudut pandang ekonomi, yakni bagaimana pilihan kaum milenial terhadap investasi dan perencanaan  keuangan.

Berdasarkan laporan bertajuk Indonesia Millenial Report 2019 yang dirilis IDN Research Institute, tercatat bahwa hanya 10,7% dari pendapatan yang ditabung oleh milenial. Sedangkan 51,1% pendapatan habis untuk kebutuhan bulanan para milenial dan kebutuhan hiburan (8,0%). Survei ini juga memaparkan bahwa minat generasi milenial terhadap investasi masih rendah dengan persentase hanya sebesar 2%.

Hasil senada juga didapatkan dari survei bertema “The Future of Money” yang dirilis Luno tahun 2019. Luno yang dalam risetnya bekerja sama dengan Dalia Research, mendapatkan data bahwa sekitar 69% dari generasi milenial Indonesia tidak memiliki strategi investasi. Sebanyak 44% milenial Indonesia hanya berinvestasi sekali dalam satu atau dua tahun. Sebanyak 20%di antaranya bahkan tidak berinvestasi. Mereka lebih memilih menabung (50%) dibandingkan berinvestasi. Survei ini dilakukan terhadap 7.000 responden yang tersebar di benua Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara.

Dari dua survei ini, bisa dikatakan generasi milenial kita memiliki kecenderungan konsumtif yang cukup tinggi. Pendapatan bulanan mayoritas habis untuk konsumsi. Anggaran konsumsi itu mayoritas dalam bentuk cashless, yakni kartu debit (64,2%), e-wallet (21,9%) dan e-money (11,5%). Yang menarik, mobile banking dan internet banking sudah mulai ditinggalkan. Artinya, terlihat kecenderungan perilaku transaksi keuangan milenial yang lebih nyaman bertransaksi secara digital atau gadget payment.

Survei Indonesia Millenial Report 2019 yang dirilis IDN Research Institute bersama Alvara Research Center (Dok: IDN)

Dalam perkembangan selanjutnya, simpanan kaum milenial dalam bentuk tabungan sebagaimana telah disebut sangat rentan tergerus. Pertama, yang sudah pasti bunga tabungan akan digerus oleh inflasi tahunan. Kedua, uang tabungan memiliki potensi beralih ke konsumsi berkat kemudahan transfer saat ini. Dengan mobile banking, uang tabungan bisa dengan cepat masuk ke beragam pembayaran digital seperti Gopay, Ovo, Link Aja, atau lainnya.

Hal ini diperkuat oleh survei dari perusahaan jasa keuangan konsumen yang berbasis di New York City, Bankrate, 29% milenial membeli kopi setidaknya 3 kali setiap minggunya, 54% makan di luar 3 kali bahkan lebih setiap minggunya. Hal yang lebih buruk lagi adalah hasil survei yang menyatakan bahwa 60% milenial tidak melakukan perencanaan keuangan.

Risiko Sistemik Mulai dari Hal Kecil

Ragam survei dari banyak lembaga di atas cukup bagi kita untuk belajar. Jika ingin membawa Indonesia maju, harus ada perbaikan perilaku ekonomi dari generasi milenial seiring dengan pembangunan infrastruktur yang masif. Jangan pernah bermimpi, Indonesia sebagai sebuah negara akan maju dan berketahanan, jika mayoritas warganya yang adalah milenial tidak mampu mengelola uang pribadinya.

Kita sebagai seorang pribadi bisa mengalami krisis keuangan, bahkan bersifat sistemik. Uang bulanan yang kita dapatkan harus mampu dikelola dengan baik, benar dan bijaksana. Ada banyak sumber yang bisa kita pakai untuk menjadi pedoman membagi pendapatan bulanan. Saya cenderung untuk memakai pola 40-30-20-10.

Ketika gaji diterima, langsung sisihkan 40 persennya untuk kebutuhan bulanan. Yang masuk di sini adalah uang makan, transportasi, tagihan listrik dan air, iuran kebersihan dan keamanan, pulsa baik pra maupun pasca bayar, serta kebutuhan rutin lainnya. Yang perlu dicatat, di sini tidak ada alokasi cicilan utang.

Berikutnya 30% dari pendapatan dialokasikan untuk cicilan. Walau ada porsi cicilan sebaiknya pergunakan untuk yang produktif, misalnya menyicil rumah. Selain itu, yang masuk di sini adalah cicilan kendaraan, perabotan rumah tangga atau hal lainnya. Ingat, porsinya jangan lebih dari 30%. Kurang dari itu tentu lebih baik.

Lalu untuk 20% berikutnya kita alokasikan tabungan. Tabungan tidak hanya berbentuk tabungan bank, tetapi alokasikan juga ke asuransi atau beragam bentuk investasi. Uang yang kita maksudkan untuk tabungan sebaiknya dibedakan dengan tabungan yang isinya uang untuk kebutuhan sehari-hari. Sebisa mungkin uang tabungan tidak memiliki ATM atau akses mobile banking.

Infografis bagaimana tips menjaga supaya sistem keuangan kita tidak mengalami krisis akibat perilaku konsumtif yang berujung pada lilitan hutang (Sumber: Tirto.id)

Terakhir dan tidak boleh dilupakan adalah 10% untuk dana amal. Menurut saya ini sangat penting masuk dalam perencanaan, supaya tidak ada kesan bahwa kita membantu orang lain nanti kalau ada sisanya. Atau nunggu kita kaya dulu baru bantu orang.

Pola 40-30-20-10 bukanlah patokan utama atau satu-satunya panduan. Ada banyak pembagian lainnya, tetapi yang jelas untuk keuangan yang sehat untuk masa sekarang dan masa depan adalah porsi kebutuhan harian tidak mendominasi pendapatan. Atau porsi hutang atau cicilan tidak melebihi 30%. Bagaimana jika yang terjadi tidak ideal? Atau orang suka bilang, “Itu di atas kertas bro, kenyataannya hidup tidak semudah itu, Fergusoooo!”

Menurut saya, di saat sebagian besar pendapatan dialokasikan ke kebutuhan bulanan/ rutin/ bersifat konsumtif maka jaminan hidup ke depan semakin tidak jelas. Inilah lonceng awal terjadinya krisis ekonomi yang bersifat pribadi. Krisis ini akan bertambah parah ketika terjadi hal-hal terduga dan kita tidak punya asuransi atau dana cadangan. Jalan pikir singkat yang dilakukan untuk menutup kebutuhan adalah hutang. Hutang saudara dan teman sudah, selanjutnya bisa jatuh pada godaan pinjaman online.

Di sinilah, krisis keuangan pribadi itu mulai bersifat sistemik. Di saat seseorang yang mengalami krisis keuangan karena terjebak hutang, maka krisis tersebut menjalar ke sektor lain. Banyak kisah nyata yang menunjukkan, krisis yang awalnya kecil lamban laut berdampak sistemik karena terlilit hutang, sampai harus kehilangan pekerjaan, kehilangan properti, bahkan berimbas ke masalah pribadi misalnya ribut dengan keluarga yang berujung pada perceraian.

Dalam konteks yang lebih luas, krisis keuangan yang terjadi dalam diri kita atau keluarga kita memiliki dampak yang luar biasa untuk sebuah negara. Pengalaman negara kita, menunjukkan bagaimana krisis ekonomi 1998 dan 2008 lalu mengguncang sistem perekonomian kita. Saat itu, ekonomi kita tampak baik-baik saja, maka tidak heran banyak orang kaget saat krisis datang. Akibatnya banyak orang panik sampai terjadi rush money, dan pada akhirnya bersifat sistemik atau merambat ke krisis bidang lainnya termasuk mengguncang geopolitik.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Juda Agung, krisis keuangan atau ekonomi bisa digambarkan seperti peristiwa kecelakaan di jalan raya yang menyebabkan kemacetan di mana-mana. BI bertugas untuk mengawasi sistem lalu lintas secara keseluruhan supaya tetap berjalan teratur, tidak macet. Jika macet maka dibuatlah sejumlah kebijakan makroprudensial, yakni seluruh upaya yang dilakukan untuk menjaga lalu lintas kembali lancar atau  menjaga stabilitas sistem keuangan.  

Baca Juga: Mengenal Secara Sederhana, Apa Itu Kebijakan Makroprudensial

Jika pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi, masih dari Judo dalam kesempatan Nangkring Bersama Bank Indonesia di Jakarta 26 Juni 2019, maka direm dengan pengetatan moneter melalui penaikan suku bunga acuan. Akibat langsungnya adalah permintaan kredit akan melambat. Langkah ini perlu dilakukan untuk menekan pertumbuhan yang bersifat konsumtif atau yang ditopang oleh kredit perumahan dan kendaraan, karena bisa mengancam stabilitas sistem keuangan, jika tiba-tiba terjadi krisis keuangan.

Bagaimana jika ekonomi sedang lesu? Itulah yang terjadi saat ini. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan ekspor, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dari 6% ke 5,75%. Penurunan BI rate ini disertai penurunan deposit facility 25 bps menjadi 5% dan lending facility 25 bps menjadi 6,50%. Menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, langkah tersebut ditempuh dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada semester II/2019 yang ditargetkan mencapai 5,2% (yoy) pada semester II. (Sumber).

Cara Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan

Saya sepakat ada korelasi krisis keuangan pribadi atau keluarga dengan krisis ekonomi negara. Walau sebagian orang bilang lebay! Tetapi menurut saya, krisis sebuah negara pasti buntut dari perilaku individu-individu. Jika kita ingin negara lepas atau jauh dari potensi terjadinya krisis ekonomi, maka pertanyaan bukan apa yang telah negara lakukan atau BI kerjakan, tetapi apa yang saya perbuat sebagai bentuk sumbangsih nyata?

Tidak muluk-muluk, yang sudah dan masih saya lakukan sekarang adalah belajar tiap hari mengelola pendapatan saya supaya tidak mengalami krisis. Jika BI menjaga stabilitas sistem keuangan kita dengan kebijakan makroprudensial, maka saya menjaga supaya keuangan saya tidak jebol dengan mikroprudensial.

Mikro jelas bahwa skala ekonomi saya kecil (sekali) dibandingkan keuangan negara. Namun yang penting di sini adalah kata “prudent.” Dari rujukan literasi, prudent menunjukkan arti bijaksana, hati-hati, dan hemat. Jadi mengelola dan menggunakan uang, sekalipun uang pribadi dari keringat sendiri, harus bijaksana, hati-hati, dan hemat.

Berapun uang yang diterima, kalau tidak prudent maka hilang saja tanpa jejak. Dan hantu krisis keuangan tengah mengintai. Panduan yang saya pakai adalah 40-30-20-10 seperti di atas. Ketika saya menerima gaji, sekitar 40% saya pakai untuk makan, bensin motor, tagihan listrik dan air, iuran kebersihan dan keamanan, pulsa dan paket data.  

Berikutnya 30% dari pendapatan saya berikan ke isteri untuk cicilan rumah dan saat ini sedang mencicil handphone isteri. Lalu untuk 20% saya alokasikan ke asuransi kesehatan. Kemudian, isteri dan saya memiliki 1 rekening khusus tabungan yang tidak bisa diakses melalui ATM atau mobile banking. Masing-masing dari kami menyisihkan sekitar 20%, setelah dipotong asuransi, untuk ditabung di rekening tersebut. Prioritas tabungan itu adalah untuk dana darurat.   

Sekitar 10% terakhir digunakan untuk amal yang bentuknya bisa bermacam-macam. Yang pasti adalah untuk kolekte di gereja, diberikan tiap kali mengikuti Perayaan Ekaristi. Saya juga memasukkan di bagian ini adalah top up pulsa dan paket data untuk orang tua saya yang tinggal di Palembang, Sumatera Selatan.

Di luar 40-30-20-10, ada hal lain yang juga sangat penting tetapi tidak ada di ilmu ekonomi. Hal itu adalah “mensyukuri” apa yang kita dapat. Menurut saya, syukur adalah prasyarat sebelum menerapkan perencanaan keuangan supaya bisa berjalan dengan hati senang. Tanpa rasa syukur, berapapun yang kita dapat, akan berasa kurang sehingga hidup pun penuh beban.

Baca Juga: Dulu Takut, Sekarang Saya Ketagihan Berutang

Berdasarkan kriteria IDN Research Institute, saya masuk dalam golongan senior milenial. Walau berada di ujung usia milenial, tapi saya tidak mau gagap dalam teknologi. Saya mau belajar dan mencari tahu teknologi yang kerap dipakai milenial. Maka dari pengalaman, saya mengakui bahwa godaan terbesar yang berpotensi menguras pendapatan tanpa disadari adalah gaya hidup konsumtif, seperti ngafe. Kedua, kecenderungan cashless karena merasa lebih nyaman bertransaksi secara digital atau gadget payment.

Terkait hal ini, saya belajar bagaimana bersikap prudent (bijaksana, hati-hati, hemat) sebagai usaha menjaga stabilitas sistem keuangan kita. Kalau mau tetap gaya tapi tidak mau mengalami krisis keuangan, salah satu caranya adalah memanfaatkan tren cashback. Caranya, tiap kali menerima gaji, kita langsung potong sebagian kecil untuk anggaran jajan. Misalnya tiap bulan kita menghabiskan Rp500ribu untuk jajan. Uang itu kita jadikan dalam bentuk digital, entah di Gopay, Ovo Cash, Link Aja, atau yang lainnya. Tetapi, kita tidak setorkan Rp500rb ke vendor uang digital itu. Kita hanya setor Rp450rb setelah dipotong 10%, yang adalah asumsi potensi cahsback terkecil. Jadi uang jajan kita tetap Rp500ribu walau cuman keluar uang Rp450ribu. Bisa gaya, tetapi hemat! Tapi catat ya, cara ini hanya untuk kita yang pasti jajan. Kalau tidak pernah jajan atau jarang jajan, maka jangan pernah menggunakan iming-iming cashback atau promo, karena ini hanya godaan untuk menciptakan kebutuhan baru.

Saya sendiri berani memotong jatah jajan sampai 30%. Artinya, kalau jatah saya sebulan Rp500ribu, maka uang gaji yang saya setorkan ke vendor uang digital sebanyak Rp350ribu saja. Dari mana saya mendapatkan Rp150ribu? Apakah saya merasa yakin bahwa cashback akan selalu diberikan sebesar 30%? Tidak! Saya tetap berasumsi cashback dari tempat jajan sebesar 10%, sisanya saya dapatkan dari cashback pembayaran rutin yang saya lakukan secara online. Misalnya, cashback dari membayar TV kabel, berbagai tagihan seperti listrik, air, telepon pasca bayar, dan tagihan lainnya. Dengan jalan ini, pengeluaran terbesar saya, yakni 40% untuk kebutuhan bulanan, bisa “dimanfaatkan” untuk mensubsidi jajan saya yang bisa dikatakan “pemborosan bulanan.” Inilah cara saya berpartisipasi menjaga stabilitas sistem keuangan.

Akhirnya saya mau katakan, pemerintah sudah susah payah membangun pondasi ekonomi melalui infratruktur, sudah menjaga ekonomi tetap stabil dan terus tumbuh melalui makroprudensial sekalipun harus berhutang untuk pembangunan, semuanya seakan memberikan karpet merah bagi kaum milenial guna mewujudkan negara indonesia yang maju.  

Tentu, cita-cita menjadi negara maju tidak datang begitu saja. Kaum milenial tidak otomatis berhasil menjadikan Indonesia disegani di hadapan negara lain saat bonus demografi itu datang. Kaum milenial, seperti saya, harus sama-sama menyadari bahwa kita adalah pelaku utama dalam menentukan arah masa depan negara kita. Ada banyak cara yang dilakukan, namun satu yang sederhana adalah mempraktikkan mikroprudensial di kehidupan kita atau keluarga.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply