Jokowi-Prabowo, Yuk Nonton “A Knight’s Tale”!

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Saya pikir dengan berakhirnya sidang MK terkait sengketa Pemilu Presiden 2019, maka lini berita diisi dengan konten yang menyegarkan, mengisi otak, dan memberikan banyak inspirasi kehidupan. Nyatanya, tetap tidak berubah!

Jam demi hari, narasi yang terus dibangun adalah rekonsiliasi antara Capres-Cawapres 01 dan 02 beserta dengan seluruh pendukungnya. Sekilas memang bagus dan positif untuk kembali merajut persatuan pasca pilpres. Namun demikian, saya kok melihat ada sisi lain yang abai kita cermati.
Ketika narasi yang dibangun adalah rekonsiliasi, tapi opini yang terus dilancarkan oleh kedua belah pihak adalah soal “ada pihak yang menghambat” terjadinya rekonsiliasi. Masing-masing pihak menuding, ada oknum tokoh yang berusaha untuk menghalangi terjadinya pertemuan antara Jokowi dan Prabowo.

Menurut saya, ini pendapat yang aneh. Karena menurut saya, seorang pemimpin sejati tidak akan pernah mau disetir oleh orang di sekitarnya. Pemimpin yang disegani adalah mereka yang memiliki visi-misi jelas, dedikasi, dan kehendak yang kuat dalam mewujudkan idealismenya. Kalau memang bangga menyebut dirinya pemimpin, apalagi menganggap diri pantas memimpin Indonesia, masak cuman mau ketemu sahabat saja merasa ragu dan mudah digiring oleh para pembisik. Apalagi mau membuat keputusan strategis yang melibatkan nasib seluruh rakyat Indonesia?

Ada film bagus yang menginspirasi bagi kita semua, khususnya yang bangga menyebut dirinya pemimpin. Judulnya A Knight’s Tale, yang kebetulan ditayangkan di televisi swasta beberapa hari lalu saat narasi rekonsiliasi ini masih hangat merebak.

Film ini berlatar cerita tentang permainan adu tombak di atas kuda yang sangat populer di Eropa sekitar abad ke-14. Disebutkan ada tokoh film bernama William Thatcher (Heath Ledger), bersama dua sahabatnya Wat dan Roland, yang menjadi pembantu dari seorang pemain adu tombak bernama Sir Ector.

Baca Juga: Paskah, Pilpres, Dan Game Of Thrones

Film ini berlatar cerita tentang permainan adu tombak di atas kuda yang sangat populer di Eropa sekitar abad ke-14. Disebutkan ada tokoh film bernama William Thatcher (Heath Ledger), bersama dua sahabatnya Wat dan Roland, yang menjadi pembantu dari seorang pemain adu tombak bernama Sir Ector.

Dalam salah satu pertandingan, Ector mendadak meninggal. Peristiwa ini menjadi bencana untuk ketiganya, karena dengan demikian mereka tidak memiliki pekerjaan. Didorong semangat memperbaiki nasib dan mencukupi kebutuhan, William menggantikan posisi Ector. Bahkan dirinya memalsukan identitasnya menjadi Sir Ulrich von Liechtenstein dari Gelderland.

Nama yang tampak embel-embel sebagai bangsawan ini menjadi syarat mengikuti perlombaan adu tombak yang memang dikhususkan untuk para bangsawan. Sedangkan William hanyalah rakyat jelata, putra seorang tukang memperbaiki atap. Dalam waktu singkat, Willliam hadir dalam satu pertandingan ke pertandingan lain dengan memenangkan banyak kejuaraan.

Sampai satu titik, ia bertemu dengan pujaan hatinya dan seorang rival dalam pertandingan. Adalah seorang putri bernama Jocelyn menaruh hati padanya. William pun tergila-gila padanya. Namun ada Count Adhemar, seorang rival dalam pertandingan yang sangat licik sekaligus mengincar Jocelyn sebagai pendamping hidupnya.

Ada 2 pertandingan yang menunjukkan bagaimana jiwa ksatria dan pemimpin sejati ada dalam diri William. Pertama, saat William dan Adhemar sama-sama harus menghadapi Sir Thomas Colville. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa lawan yang ada di depan mereka adalah Pangeran Edward, calon raja masa depan Inggris. Adhemar memilih untuk mundur karena takut melukai pengeran. Sedangkan William memilih untuk bertarung. Saat temannya bertanya mengapa ia memutuskan demikian, William menjawab, “Dia sudah mengetahui risikonya saat memutuskan untuk bertanding.” Hasil pertandingan, William dan Thomas imbang.

Kedua saat pertandingan internasional adu tombak yang diselenggarakan oleh Pangeran Edward di Inggris. Seperti telah diduga, peserta pertandingan menyisakan William dan Adhemar. Sebelum pertandingan puncak, William memutuskan untuk mengunjungi ayahnya yang telah buta dan tinggal sendirian di Cheapside, Inggris. Mereka telah 12 tahun tidak bertemu, sejak William diserahkan ke Sir Ector oleh ayahnya. Namun tanpa disadari, William diikuti oleh Adhemar. Identitas asli William pun terbongkar.

Baca Juga: Hati-Hati, Ada Sesat Pikir Dalam Isu People Power

Keesokan harinya, saat William sedang bersiap bertanding, Jocelyn menghampirinya. Inilah pertemuan pertama secara langsung. Sebelumnya hanya melihat di tribun kehormatan atau Jocelyn mengirimkan utusan perempuannya. Ada hal penting yang ingin disampaikannya sehingga ia memutuskan untuk datang sendiri.

Jocelyn memberitahu kalau Adhemar telah melaporkan identitas William kepada pihak berwenang. Kalau ia tetap berjalan ke area pertandingan maka petugas keamanan yang telah bersiaga akan menangkapnya. Hukuman pancung pun menanti William. Jocelyn bersama teman-teman William berniat meyakinkan William supaya kabur.

Ada Roland dan Wat yang telah menjadi sahabat lama nan setia bagi William. Ada Geoffrey Chaucer seorang teman dan penulis yang selalu memberikan perkenalan kepada khalayak siapa itu Sir Ulrich von Liechtenstein alias William sebelum pertandingan dimulai. Ada Kate si pembuat baju zirah William yang tidak pernah mau dibayar, dan tentu ada Jocelyn sang pujaan hati yang menginginkan William pergi. Bahkan Jocelyn berjanji, demi cinta ia akan meninggalkan istana dan hidup dalam gubuk bersama William jika ia mau pergi.

Namun demikian, William dengan gagah berjalan ke arena bertandingan. Ia menganggap dirinya adalah ksatria. Dan ksatria tidak akan mundur dari apa yang telah dijalaninya, apa yang diyakininya, dan apa yang telah menjadi tujuan hidupnya.

William pun dipenjara. Dalam terali besi itu, William kembali diejek oleh Adhemar yang mengatakan, “Sudah saya katakan. Kamu sudah ditimbang, telah diukur, dan hasilnya kamu berkekurangan.”

Kalimat ini sangat menyakitkan, menghina, dan merendakan martabat William, dan kita manusia secara umum. William tegar dan iklas menerimanya. Tapi ia tetap bangga dengan sikap ksatrianya. “Hatimu memang ksatria, tapi tidak di atas kertas,” kata Roland kepada William.

Menjelang William dipancung, Pangeran Edward datang. Rakyat yang riuh dan menghujat William dan teman-temannya yang berdiri di sampingnya, dibuat terdiam. William pun dilepaskan karena tekad pemimpin dan jiwa ksatria yang dimilikinya. Bahkan, Pangeran Edward secara resmi mengangkat William menjadi ksatria.

Pertandingan pun dilanjutkan. William bertanding melawan Adhemar. William takluk 2-0 karena Adhemar curang. Namun di pertandingan penentuan, William yang tidak mampu memakai baju zirah dan mengangkat tombak, berhasil menjungkalkan Adhemar dari kudanya. William juara di hadapan Jocelyn dan ayahnya.

Pesan kepemimpinan dan ksatrian William dalam film yang rilis tahun 2001 itu sungguh kental. Menurut saya, kalau memang Jokowibdan Prabowo adalah ksatria maka berjiwalah ksatria untuk saling bertemu tanpa mau disandera oleh para pembisik dan banyak kepentingan orang yang berada di sekitar mereka.

Jadilah seperti William yang meletakkan nasibnya dalam genggamannya sendiri. Walau dia telah diukur dan ditimbang oleh strata sosial yang berlaku di era feodal, ia tetap ingin mengubah nasibnya dengan keteguhan tekad. Ia pun memilih untuk memeluk idealismenya sebagai ksatria, walau orang-orang terdekatnya menyuruhnya untuk kabur. Bahkan ia menepis sang cinta demi berdiri di atas prinsip-prinsip ksatria dan pemimpin. 

Yang menarik, saat ia memilih menjadi ksatria ternyata ia tidak kehilangan para sahabat dan kekasihnya. Ia justru mendapatkan keduanya dengan kualitas relasi yang lebih tinggi.

Pertanyaanya, beranikah Jokowi-Prabowo menjadi ksatria dengan meninggalkan para pembisik termasuk mereka yang telah menyerahkan dukungan/hartanya kepada mereka?

Yakinkah Jokowi-Prabowo akan mendapatkan teman/ sahabat dan “kekasih” yang memiliki relasi jauh berkualitas ketika akhirnya memilih menjadi ksatria?

Pertemuan kalian bukan untuk mengangkat elektabilitas, tidak juga mendongkrak rating televisi, bahkan juga bukan (jika memang benar) untuk mengulur waktu demi tawar-tawaran deal kekuasaan.

Menurut saya, pertemuan kalian dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Jika kalian berpikir sebagai pemimpin, maka tanggalkan ego dan berpikirlah demi rakyat Indonesia yang merindukan persatuan, perdamaian, dan kesejahteraan. Maka bisa mencari makan dengan tenang kalau suasana terus tegang.

Pertemuan kalian yang hangat sebagai pemimpin dan ksatria akan mempermudah mewujudkan wacana, tidak ada lagi 01 dan 02, tidak ada lagi kampret dan cebong.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply