Batik Tiga Negeri: Pewarnaan dari 3 Kota, Seharga 2 Sapi, sampai Merah Darah Ayam

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Hari semakin senja, badan terasa begitu lepek. Apalagi seharian perjalanan dari Jakarta, belum juga melepas lelah. Ditambah dengan udara kersang khas Pantura. Sisa energi yang ada, dipakai untuk menyalurkan rasa penasaran pada Batik Lasem di Tiongkok Kecil Heritage, Lasem, Jawa Tengah.

Batik sendiri telah menjadi identitas asli Indonesia. Bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Yang menarik, Batik Lasem sangat kental dengan sentuhan budaya Tiongkok. 

Hal ini tidak mengherankan, karena menurut catatan National Geographic Indonesia, pada abad 19 sampai awal abad 20 Lasem menjadi tempat jumlah etnis Tionghoa terbesar ketiga setelah Batavia dan Semarang. Nenek moyang mereka datang dari pesisir pantai selatan Tiongkok yakni Fujian dan Guangdong. 

Sejarah yang dicatatkan kembali oleh National Geographic Indonesia, menyebutkan teknik membatik di Lasem diperkenalkan pada abad ke-15 oleh Si Putri Campa, istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Cheng He (1405-1433).

Dalam perkembangannya, batik menjadi industri paling maju setelah candu. Puncak kejayaan batik sekitar 1860-an, yang mana banyak orang Tionghoa mendirikan perusahaan batik, yang memperkerjakan 2.000-an pekerja untuk proses artistik dan 4.000-an pekerja untuk proses lainnya. Kain Batik Lasem bahkan diekspor ke Singapura dan Sri Lanka.

Batik Lasem dari sisi industri mengalami pasang-surut. Tetapi dari sisi identitas, semakin terjal melangkah dalam derap zaman, identitasnya justru semakin nyata. 

Baca Juga: Tragis! Catatan Sejarah Klenteng Tertua Di Jawa Justru Ada Di Belanda

Batik telah membuktikan bahwa dirinya sudah menjadi simbol perpaduan budaya, jejak sejarah peradaban, kerukunan dan persatuan bangsa, toleransi tiada batas, yang semuanya mengarah pada jati diri Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seorang pemandu di Tiongkok Kecil Heritage menjelaskan panjang lebar tentang Batik Lasem. Sayang saya lupa namanya. Sebelum masuk ke area penginapan Oemah Batik Lasem yang menjadi pusat Tiongkok Kecil Heritage, kami melewati semacam lorong yang berisi koleksi kain batik tulis yang dibuat oleh para sesepuh pembatik di Lasem. Di sinilah kami dijelaskan motif-motif khas Batik Lasem sekaligus makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

Motif Batik Tulis Lasem
Batik Lasem Motif Beras Utah atau bahasa Indonesianya beras tumpah/tercecer. Warna biru soga dan hitam dari motif ini saling berpadu indah memancarkan keteduhan dan ketentraman hati. 

Mengangkat motif beras menandakan bahwa sejak dulu negara kita terkenal dengan pertanian. Produk agraria menjadi salah satu tolok ukur kemakmuran yang sekaligus menjadi doa bagi siapa saja yang memakai batik dengan motif ini.

Batik Lasem Motif Gunung Ringgit adalah salah satu motif klasik. Makna motif ini adalah kekayaan yang dilambangkan dengan ringgit dan kekayaan itu menggunung atau berlimpah. Bisa jadi, ide awal dari penciptaan motif ini adalah refleksi dari asa untuk menjadi kaya raya atau memiliki harta berlimpah.

Batik Lasem Motif Sinografi atau motif berupa Kaligrafi Mandarin yang biasanya berupa kata-kata bijak warisan budaya Tiongkok. Motif ini menjadi bukti nyata betapa indahnya pembauran budaya Jawa dan Tiongkok di Lasem. 

Umumnya, kalimat bijak dalam motif ini bertemakan kemakmuran/rezeki, perdamaian di rumah tangga maupuan dunia, persaudaraan, kebahagiaan dan lain sebagainya.

Batik Lasem Motif Gringsing atau sisik ikan. Motif ini menunjukkan bagaimana Lasem yang berada di pesisir pantai utara Jawa yang mana banyak penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Makna lain dari motif batik ini adalah menolak bala atau kesialan dalam hidup. Hal ini merujuk pada arti kata “Gring” yang berarti “Sakit,” dan “Sing” yang bermakna “Tidak.” Jadi dapat diartikan “Tidak Sakit.”

Batik Lasem Motif Krecak atau Kricak. Krecak adalah pecahan batu kali yang dipakai untuk pembuatan jalan. Motif ini dipakai terkait dengan pembuatan Jalan Pos Deandels oleh Gubernur Belanda Herman Willem Deandels yang berkuasa di Hindia Belanda, antara tahun 1808-1811. 

Jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Pantura itu, telah banyak memakan korban jiwa selama proses pembangunannya. Itulah mengapa, motif krecak menjadi simbol perlawanan rakyat Lasem, namun secara elegan dibalut dalam keindahan seni.

Baca Juga: Mau Ngeteng Ke Karimunjawa, Ikuti Perjalanan Kami!

Tajamnya peluru Belanda dilawan dengan bentangan budaya yang mengangkat martabat penduduk pribumi sekaligus memanusiawikan manusia dalam egalitarian, kemakmuran, dan perdamaian.

Batik Lasem Motif Motif Naga yang kali ini memiliki simbolisasi perjalanan spiritual. Dalam tradisi Tiongkok, naga adalah salah satu dari empat makhluk spiritual penjaga empat penjuru angin yang mendapat penghormatan tertinggi. 

Naga Tiongkok digambarkan sebagai ular berukuran raksasa, lengkap dengan tanduk dan cakar, sehingga berbeda dengan naga-naga versi lainnya. Naga dianggap sebagai simbol kekuatan alam, khususnya angin topan.

Batik Lasem Motif Sekar Jagad. Motif yang berkembang sejak abad ke-18 ini, aslinya berasal dari daerah Yogyakarta dan Solo. Sekar Jagad diambil dari kata Belanda “Kar” yang berarti “Peta” dan kata Jawa “Jagad” yang punya arti “Dunia.” 

Dengan demikian, motif ini ingin menunjukkan keanekaragaman, baik yang terdapat di Indonesia maupun seluruh dunia. Hal itu tampak dari ragam warna yang ditampilkan. Sungguh cantik, indah, memesona walau dibuat dari warna yang berbeda-beda.

Terakhir adalah Batik Lasem Tiga Negeri. Bisa dikatakan, inilah salah satu masterpiece dalam dunia pembatikan. Bagaimana tidak, konon banyak pembatik percaya, yang disampaikan berdasarkan budaya tutur, tiap warna yang ada di kain batik ini dilakukan di 3 daerah berbeda. 

Warna biru dibatik di Pekalongan, warna coklat sogan di Solo, dan untuk warna merah di Lasem. Melihat prosesnya yang panjang, teknik yang rumit, nilai historis yang tinggi, maka tidak heran Batik Tiga Negeri dihargai tinggi. Berikutnya akan dibahas khusus terkait Batik Tiga Negeri ini.

Batik Tiga Negeri
Menurut pemandu di Tiongkok Kecil Heritage, Batik Tiga Negeri diambil dari 3 filosofi warna yakni biru, coklat dan merah. Dulu, kalau orang Pekalongan atau Solo mau mewarnai batik mereka dengan warna merah, maka setelah diberi warna biru di Pekalongan atau coklat di Solo baru dibawa ke Lasem. “Jadi, yang bisa memiliki Batik Tiga Negeri itu cuman para bangsawan, karena dulu 1 lembar kain Batik Tiga Negeri setara dengan sapi dua.”

Tapi tidak hanya itu, ia melanjutkan, tingginya harga Batik Tiga Negeri karena perjalanan mewarnainya jauh dan proses pembuatannya yang lama. Setidaknya ada 3 kali pencelupan pewarnaan. 

Sehingga semakin lama dicuci, kain batik ini bukan semakin pudar tetapi akan semakin lemes dan warnanya lebih cerah. “Pembuatan (batik ini) paling cepat 3 bulan. Kita sendiri kalau mau mendapatkan batik tiga negeri, sekarang bulan 5 berarti sudah harus pesan dari Januari.”

Berdasarkan keterangan yang dipasang di poster Oemah Batik Lasem, tertulis rute perjalanan kain batik tiga negeri. Untuk rute Pekalongan menuju Solo, diduga menggunakan akses Jalan Raya Pos sampai Semarang, lalu dilanjutkan jalan raya antarkota. 

Lalu rute Lasem menuju Pekalongan aksesnya adalah menggunakan Jalan Raya Pos dan jalur kereta api. Sedangkan dari Solo menuju Lasem juga menggunakan jalan raya dan kereta api.

Sejak awal mula, batik telah menjadi salah satu entitas bisnis. Tidak mengherankan, perusahaan batik mulai menjamur di Lasem, Pekalongan, dan Solo. Sejarah mencatat, dulu jumlah pengusaha batik di Lasem ada 120 orang yang kesemuanya adalah keturunan Tionghoa. Sedangkan di Pekalongan ada 1.195 orang. 

Sekitar 90 persen di antaranya adalah orang Jawa, sedangkan lainnya adalah pengusaha batik dari keturunan Tionghoa, Arab dan Eropa. Dan terakhir di Solo, ada 387 orang yang kira-kira 60 persen keturunan Jawa, sekitar 15 persen dari keturunan Tionghoa, 24 persen keturunan Arab, dan 1 persen dari keterunan Eropa.

Tanda nama pada kain Batik Tiga Negeri di kota-kota utamanya memiliki kekhasan. Lasem membubuhkan cap tinta bak di pinggir kainnya. Di Solo, Keluarga Tjoa membatik tanda nama sang nyonya dengan nama suami. Di Pekalongan, tanda nama menggunakan nama si empunya batik generasi pertama.

Warna-warna Batik Tiga Negeri merupakan khasanah tiga warna dari tiga daerah yang mengedepankan pewarnaan alami, sekalipun pewarna sintetis sudah muncul di Eropa sejak abad 19. Warna merah dari pembatik Lasem, berasal dari ekstrak akar pohon mengkudu (pace) yang dicampur dengan minyak jarak. 

Warna merah ini tidak lepas dari representasi warna khas keturunan Tionghoa yang saat itu menjadi penduduk mayoritas di Lasem. Bagi mereka, sebagaimana dikutip dari The World of Chinese, merah antusiasme, semangat, keberuntungan, dan kebahagiaan.

Namun tiap pembatik di Lasem membawa ciri warna merahnya sendiri-sendiri. Bahkan ada yang meyakini warna merah darah ayam. “Ada yang (motif) sinografi, yang pake warna merah darah ayam.” 

Dari pemiliknya hanya beberapa, salah satunya Bapak Sigit. Dia adalah masternya pembatik di Lasem. “Warna merah darahnya tidak ada di tempat lain,” tutur sang pemandu.

Kemudian, warna biru dari Pekalongan adalah hasil dari fermentasi tumbuhan indigofera. Biru menjadi tren warna Eropa sejak abad 18. Maka tidak heran, ada sumber yang mengatakan bahwa indigofera dibawa oleh bangsa Eropa ke Indonesia. 

Dari sisi religius, biru berhubungan erat dengan representasi figur Bunda Maria dalam tradisi Katolik. Makna biru merupakan simbol kepercayaan, kedamaian, ketenangan, dan berasosiasi dengan warna maskulin, walaupun warna biru juga bermakna kesedihan.

Terakhir adalah warna coklat soga dari Solo. Disebut soga karena warna coklat yang dihasilkan berasal dari ekstrak warna pohon soga. Warna ini merupakan representasi warna filosofi budaya Jawa yang menghangatkan, memberikan ketenangan, dan penuh semangat kebersamaan.

Seorang peneliti asal Belanda, Harman C. Veldhuisen dalam bukunya Batik Belanda 1840-1940: Dutch Influence in Batik from Java, History and Stories (1993) menambahkan keistimewaan Batik Tiga Negeri dari sisi motifnya. 

Batik Tiga Negeri memiliki kombinasi motif pesisir dan pedalaman. Ia banyak menggunakan motif buketan, flora, fauna (ragam khas Cina, Belanda, Jawa) yang populer di pesisir utara Jawa. Bahkan pada akhir tahun 1800an tersebut, Batik Tiga Negeri terpengaruh oleh motif gaya Art Nouveau.

Art Nouveau adalah gerakan seni dekoratif dan arsitektur yang lahir dan berpusat di Eropa Barat. Gerakan ini dimulai pada tahun 1880an sebagai reaksi menentang penekanan sejarah pada karya-karya seni pertengahan abad ke-19. Art Nouveau telah sukses diadaptasi ke berbagai jenis seni dekoratif, termasuk furnitur, perhiasan, desain buku, hingga ilustrasi. 

Lestarikan Batik Tiga Negeri
Sejak ditetapkannya Hari Batik pada 2 Oktober 2009, batik telah menjadi simbol persatuan yang merekatkan bangsa Indonesia yang sangat beragam. Dulu, kita bisa menilai strata sosial orang dari pakaian yang ia kenakan. Namun sekarang, dengan memakain baju batik tidak ada lagi pembedaan tersebut.

Semua orang bisa memakai batik, mulai dari Presiden sampai anak sekolah. Orang kaya maupun sederhana, juga bisa memakai batik dengan rasa bangga. Karena batik telah menjadi identitas bangsa. Oleh karena itu, kita ikut bangga saat dalam forum internasional banyak kelapa negara dan pejabat dari negara lain menggunakan baju batik.

Dalam konteks ini, saya kembali katakan bahwa Batik Tiga Negeri selama ratusan tahun telah membuktikan bahwa dirinya sudah menjadi simbol perpaduan budaya, jejak sejarah peradaban, kerukunan dan persatuan bangsa, toleransi tiada batas yang semuanya mengarah pada jati diri Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Membuat Batik Tiga Negeri tak ubah membangun bangsa ini. Selembar kain batik yang banyak dikagumi orang ini, dibuat dari banyak orang dengan latarbelakang, budaya, agama, strata sosial, dan suku yang berbeda-beda. Mereka masing-masing dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni membuat satu buah kain dengan kualitas prima. 

Untuk itu tidak ada jalan lain, satu sama lain harus saling menghormati dalam perbedaan, rendah hati, tidak menganggap orang lain lebih rendah, memberikan kepercayaan dan harapan bahwa kain yang ingin dihasilkan bersama bisa terwujud.

Ikut mewarisi Batik Tiga Negeri berarti turut mewarisi harga berharga bangsa Indonesia, yakni Bhineka Tungga Ika. Mencintai Batik Tiga Negeri berarti turut menjaga persatuan dalam kehidupan sehari-hari baik di keluarga dan masyarakat. 

Dan membeli Batik Tiga Negeri pada dasarnya turut memelihara nilai-nilai persatuan dan kekayaan bangsa kita, sekaligus keinginan saya yang belum terpenuhi.

Video perjalanan singkat saya ke Lasem yang berhasil merekam jejak masyur Batik Tiga Negeri dan Motif Batik Lasem yang sangat filosofis.
Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply