Melihat Kampanye Terakhir dalam Perspektif Minggu Palma

Merayakan Minggu Palma di Cebu Metropolitan Cathedral, Filipina, 8 April 2017.
Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Bagi umat Katolik, hari ini menjadi peringatan Minggu Palma. Artinya, minggu depan adalah Minggu Paskah, sebuah perayaan paling besar dalam kalender liturgi. Secara kebetulan, hari ini juga negara kita menutup kampanye sebelum pada 17 April 2019 Pemilu dilaksanakan. 

Saya melihat, peristiwa Minggu Palma dapat direfleksikan untuk melihat siapa yang cocok menjadi pemimpin bagi bangsa sebesar Indonesia.

Minggu Palma adalah perayaan untuk mengenang masuknya Isa Almasih ke kota Yerusalem. Masyarakat kota menyambut-Nya dengan penuh sukacita sambil melambai-lambaikan daun palma. 

Daun ini merupakan simbol kemenangan, dan ketika dilambaikan berarti sebagai pujian serta kemuliaan. Dia diperlakukan demikian, karena Isa Almasih dipandang sebagai pemimpin dan raja.

Baca Juga: Refleksi Paskah: Mencintai Hingga Terluka

Namun, semuanya berakhir tragis. Minggu dielukan, tapi hari Jumatnya Isa Almasih dihujat oleh orang yang sama. Hari ini mereka memuji Isa Almasih, beberapa hari kemudian mereka pun dengan entengnya berteriak, “Salibkan Dia!” Inilah yang terjadi dalam perayaan Jumat Agung, yang tahun ini dirayakan 19 April 2019.

Isa Almasih menjadi role model bagi pemimpin. Ia tetap konsisten berpegang pada apa yang diyakininya benar, sekalipun para pendukungnya berubah pikiran. Keteguhan-Nya tentu membawa konsekuensi, yakni difitnah sehingga Ia pun dijatuhi hukuman salib yang sangat keji.

Sama-sama Merasa Difitnah
Para calon presiden dan wakil presiden yang akan berkompetisi pada Pemilu 17 April 2019, sama-sama merasa difitnah. Capres 01 merasa difitnah karena dituduh sebagai orang PKI. Lalu, jika pasangan Jokowi-Maruf Amin terpilih maka Kementerian Agama akan dibubarkan, pelajaran agama dilarang, hingga legalisasi zina.

Tak ketinggalan. Capres 02 pun merasa ada pihak-pihak yang menyudutkan mereka. Prabowo mengaku kerap dituduh sebagai orang Kristen. Kemudian ada opini yang dipandang salah, jika Prabowo-Sandi terpilih maka radikalisme dan fundementalisme akan menguasai Indonesia.

Baca Juga: Prabowo, Mesias, Dan Natal

Kedua belah pihak, kompak menampik isu yang menyerang mereka. Semuanya adalah fitnah dan hoaks. Lalu bagaimana kita sebagai rakyat yang akan mencoblos, menyikapi fenomena ini?

Di hari terakhir kampanye ini, 13 April 2019, Capres-Cawapres 01 menutup dengan Rapat Umum Rakyat Konser Putih Bersatu di Gelora Bung Karno. Sedangkan Capres-Cawapres 02 menutup kampanye akbar di Alun-alun Kota Tangerang, Banten. Kedua pasangan akhirnya bertemu di debat pamungkas.

Narasi yang dilontarkan keduanya tampak sama dan konsisten. Capres-Cawapres 01 tetap pada jargon untuk menjadi negara yang besar kita harus penuh optimisme, tidak mudah menyerah, selalu bersyukur dan terus bekerja keras. 

Baca Juga: Pejabat Harus Punya Spiritualitas Mengatakan Tidak

Sedangkan Capres-Cawapres 02, menawarkan diri sebagai solusi setelah sebelumnya terus memaparkan narasi bahwa situasi Indonesia saat ini dalam keadaan susah, tidak mampu, lemah dan istilah lainnya.

Konsistensi yang ditawarkan oleh kedua capres semakin membuat kita yakin, seperti apa calon pemimpin yang akan kita pilih. 

Bahkan, selama kampanye berlangsung kita tidak hanya melihat bagaimana narasi yang mereka sampaikan, tetapi juga melihat pembawaan diri mereka, bahasa tubuh, emosi, dan tutur katanya.

Belajar Dari Minggu Palma
Peristiwa Minggu Palma menjadi refleksi bagi kita untuk melihat bagaimana sosok pemimpin yang ideal. Tidak bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Isa Almasih dikhianati oleh pendukungnya. 

Pada saat yang sama, mereka bisa memuji sekaligus menjerumuskannya dalam kematian keji. Tetapi, Ia tetap setia membawa kabar kebenaran, tetap tenang, sabar, dan konsisten pada amanah yang Ia terima.

Jokowi pernah mengalaminya. Bagaimana mantan menterinya yang dinilai kurang berprestasi, kini berpaling melawannya. Dari pihak 02, dulu Ali Mochtar Ngabalin adalah juru bicara yang kerap pasang badan untuk Prabowo. Tetapi kini, Ngabalin berdiri di sisi Jokowi. 

Bahkan Ahok yang kini minta dipanggil BTP pun mengalaminya. Dalam survei, terbukti bahwa sebagian besar penduduk DKI Jakarta mengakui kinerjanya yang bagus. Tetapi mereka tidak mau memilihnya. Akhirnya Ahok kalah, bahkan berakhir di penjara. Inilah ironi pemimpin.

Bagi saya, ini adalah dinamika menjadi seorang pemimpin. Siapa saja yang ingin menjadi pemimpin, atau mengklaim diri sebagai pemimpin, harus memiliki sifat rendah hati. 

Baca Juga: Bahayanya Perselingkuhan Agama Dengan Politik

Lapang dada atas segala dinamika kehidupan atau politik yang terjadi. Mengedepankan sikap optimisme bahwa misi – idealisme – amanah yang ia bawa dapat tercapai, bukan justru menghancurkannya dengan sikap diri yang tidak baik.

Jadi, siapa yang menjadi pemimpin pilihan kalian pada Rabu, 17 April 2019? Siapa pun yang kalian pilih, ingat bahwa kita pun sebenarnya adalah pemimpin. Pemimpin dalam keluarga, perusahaan, organisasi, atau setidaknya menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri. 

Maka jika kita menghayati diri sebagai pemimpin, maka kita pun seyogianya memiliki kerendahan hati dan lapang dada terhadap dinamika yang akan terjadi setelah pencoblosan. Kita harus siap, apakah pilihan kita akan menjadi Presiden, atau kalah.

Siap untuk menang dan juga siap untuk kalah. Siapa pun yang menang, kita adalah sama-sama bangsa Indonesia yang ingin menatap masa depan yang lebih cerah. 

Dan yang penting, jika kita menyebut diri pemimpin, maka kita harus ambil bagian dalam cita-cita bangsa ini. Maka jangan golput! Gunakan hak pilih kita dengan baik dan benar.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply