Disebut dalam Debat, Ternyata Hari Ini B100 Diluncurkan untuk Dunia

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather


Istilah Biodiesel B100 akan terus terasa asing jika Capres 01 tidak menyebutnya dalam sesi debat. Apalagi, B100 disebut dalam dua kali kesempatan debat. Saya pikir, bahan bakar murni dari minyak nabati ini hanya “jualan” di masa kampanye. Tetapi, hari ini, B100 itu siap untuk diujicobakan.

“Ini adalah arahan Bapak Presiden, agar B100 bisa kita rebut. Ini adalah salah satu bentuk perlawanan kita untuk melawan black campaign yang dilakukan Eropa terhadap CPO kita. Dan Sekaligus mengangkat kesejahteraan petani-petani kita,” kata Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP, Menteri Pertanian RI saat meluncurkan secara resmi uji coba perdana produk Biodiesel B100 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin 15 April 2019.



Menteri Pertanian RI, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP., meresmikan launching B100 di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta (15/4/2019).

Menurut Arman, uji coba ini adalah yang pertama di dunia. Bahan bakar biodiesel B100 murni menggunakan bahan nabati yakni crude palm oil (CPO). Ada banyak keunggulan B100, salah satunya adalah ramah lingkungan karena kita tidak lagi mengandalkan bahan bakar minyak. Juga tidak mengeluarkan asap. “Ini adalah energi masa depan untuk dunia, tidak hanya Indonesia,” ungkap Arman.

B100 diklaim memiliki efisiensi lebih baik dari bahan bakar solar. Kendaraan yang menggunakan B100 akan menempuh sekitar 13,1 km/ liter. Sedangkan menggunakan solar, hanya 9,6 km/ liter. Selain itu, biaya per kilometernya pun lebih rendah. Bahan bakar B100 hanya menghabiskan sekitar Rp700/ km, sedangkan solar Rp1000/ km. “Hemat sekitar 25 persen (jika menggunakan B100),” tutur Arman.

Baca Juga: Qlue Membuat Gotong Royong Relevan Di Tengah Ekonomi Digital

Kehadiran B100 tidak tiba-tiba. Ternyata, sejak diberi perintah Presiden sekitar 2 tahun lalu, Kementerian Pertanian bekerja dalam diam. Selama waktu itu, Badan Litbang Kementerian Pertanian mengadakan penelitian dan uji coba. Ada 10 mobil yang berhasil diujicobakan menggunakan B100. “Ada 10 mobil (yang berhasil) kita uji coba, yang kilometernya (saat ini) mencapai 6000 km. Sehingga hari ini kita mencoba lagi dengan menambah 50 mobil. Ini tahap uji coba,” kata Arman.

Kemudian ia menggambarkan bagaimana peran B100 dalam mewujudkan ketahanan energi. Saat ini, kebutuhan solar Indonesia sekitar 16 juta kiloliter. Sekitar 6 juta kiloliternya kita sudah penuhi dari B20, sisanya solar dari impor. Ke depan, Arman berharap impor terhadap solar terus dikurangi secara bertahap seiring dengan kemantapan kita menggunakan B100. “Artinya nantinya akan menghemat devisi kurang lebih 150 triliun rupiah.”

Tidak hanya itu, selain ramah lingkungan dan efisien, B100 memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan pendapatan petani sawit kita. Apalagi produksi CPO kita sudah mencapai 41,6 juta ton. Pada kurun waktu 2014 — 2018, produksi CPO meningkat 29,5 persen setiap tahunnya. “Ke depannya kita sudah tidak akan tergantung lagi dengan BBM impor,” terang Amran.

Bagaimana dengan kritik dari pelaku otomotif yang mengatakan bahan bakar biodiesel ini tidak ramah pada gasket karet-karet seal, hose, dan memerlukan teknologi water separator? “Menurut saya, produsen (otomotif) harus menyesuaikannya. Ke depan, kita uji coba, insya Allah khusus untuk traktor, roda 2 maupun 4, kita sudah minta agar produsen traktor harus bersiap dengan B100,” ungkap Arman.

Sebagai catatan, sebelum berhasil mengembangkan B100, Indonesia telah berhasil mengembangkan B20 menuju B30. Selama kurun waktu 2014-2018, perkembangan B20 yang kerap disebut biosolar di Indonesia pun cukup pesat. Pada 2018 produksi B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12% dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter.

B20 berarti 20 persen biodiesel dicampur dengan 80 persen solar, B90 berarti 90 persen biodiesel dengan 10 persen solar, dan B100 artinya murni biodiesel. Nah, biodiesel sendiri merupakan salah satu dari tiga bahan bakar nabati, dan dapat digunakan sebagai energi alternatif bahan bakar minyak jenis diesel atau solar.

Untuk mengingatkan, istilah B100 mulai mencuat ke publik karena disebut Jokowi saat debat kedua capres sektor energi pada 17 Februari 2019. “Biodiesel akan kami kerjakan, kami teruskan dari B20 ke B100,” ujar Jokowi kala itu.

Kemudian pada debat kelima, 13 April 2019, calon wakil presiden Sandiaga Uno mengatakan bahwa pihaknya akan setop impor untuk energi, yakni dengan membangun biofuel. Menanggapi itu, Jokowi kembali mengatakan bahwa pemerintah sudah sampai ke B20, sebentar lagi B50, dan B100.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply