Ramen Ichiran, Sensasi Makan Seperti di Perpustakaan

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Pengalaman traveling tidak pernah selesai untuk diceritakan. Ada saja pengalaman yang membekas. Baik menyenangkan maupun tidak, jejak wisata kita selalu indah jika diletakkan di tempat yang pas di dalam relung hati kita. Itulah yang juga saya alami saat makan ramen di tempat asalnya. Jepang!

Perjalanan 10 hari di Jepang 2 tahun lalu, memang tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Untungnya salah satu agenda wajibnya adalah menyantap ramen di Kedai Ichiran. Salah satu kedai ramen tersohor di Negeri Sakura tersebut.

Baca juga: Apa Yang Ditawarkan Jepang Juga Ada di Jakarta

Sehari sebelum mengakhiri wisata Jepang, kami bertiga bersama isteri dan kakaknya menuju kedai tersebut. Dari Hotel Sunroute Plaza Shinjuku kami jalan kaki sekitar 750 meter.

Menunggu Ramen Ichiran yang legendaris di bilik kasir. Udah laper, kedinginan, masih nunggu pula. Tapi yang ditunggu memang juos gandos!

Tidak terlalu jauh, tetapi semalamam Jepang diguyur hujan. Pagi itu pun cuaca mendung dengan gerimis mewarnai perjalanan kami. Rasa dingin yang mulai menusuk semakin perut keroncongan membayangkan kuah ramen panas nan menyegarkan. Tapi ada daya, inginnya cepat sampai tetapi karena berbekal Google Maps, alhasih kami sempat nyasar.

Ketika sampai, kami sempat tidak terlalu yakin bahwa kami telah sampai di depan kedai. Karena penampilan dari luar tidak tampak seperti restoran. Ternyata, untuk sampai ke tempat makannya kami mesti menuruni tangga kayu yang cukup sempit dilalui 2 orang.

Ini loh pilihan menunya di Kedai Ramen Ichiran di Shinjuku, Jepang

Sudah masuk pun tidak bisa langsung duduk dan makan. Harap maklum, ini restoran sudah terkenal di tingkat lokal sampai wisatawan mancanegara. Hal pertama yang dilakukan adalah membeli tiket makan dari mesin yang akan kita jumpai saat menuruni tangga.

Selanjutnya adalah memilih menu. Nah ini memang kesulitan umum kalau kita mau makan di Jepang. Tidak semua ada gambar, kalaupun ada tetap tidak jelas isinya apa saja. Sudah gitu, tidak jarang semua menu hanya ditulis dalam huruf kanji. Belum lagi, kalau teman kita yang muslim pasti lebih kesulitan untuk memastikan kehalalan makanan. Namun, di sini menu sudah ada gambar dan terlulis dalam bahasa Inggris, Korea, Mandarin, dan tentunya Jepang. Konon kabarnya, menu andalan Ichiran adalah “Tennen Tonkotsu Ramen.” Saya sendiri lupa pesan apa. Mungkin karena saking laparnya, jadi tidak peduli selain melahap habis hidangan.

Berdasarkan literatur yang saya baca, tonkotsu ramen adalah mi ramen dengan kuah yang terbuat dari kaldu tulang babi yang dimasak di dalam suhu dan tekanan tinggi dalam waktu lama. Alhasih, warna kuah berwana putih susu dengan kandungan kolagen alami babi. Kedai Ichiran mengklaim kalau kuahnya ini adalah kuah ramen pertama di dunia dengan kandungan lemak trans 0% yang aman bagi kesehatan.

Ruang Semedi

Tiket sudah dibeli, menu sudah dipilih, tapi kursinya penuh. Nunggu deh. Selama nunggu, kami tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Ruang makannya berada di balik tirai korden yang berjarak satu langkah di depan kami yang menunggu.

Inilah ruang semedi di Kedai Ramen Ichiran yang membuat kita konsentrasi rasa. Suasana yang terbangun pun seperti kita sedang berada di perpustakaan.

Selang berapa waktu, ada yang sudah kelar. Saat menyibakkan tirai, langkah kaki otomatis melambat. Mata menyapu ke tiap sudut ruangan. “Ini kok bukan kayak restoran. Tetapi lebih mirip loket karcis,” gumam saya.

Tidak hanya itu, antar pengunjung yang makan pun dipisahkan oleh skat. Seolah-seolah, saya tidak boleh melirik tetangga makan atau memesan menu apa. Yang aneh lagi, saat duduk di meja masih tidak ada makanan dan di depan saya gambarannya seperti loket yang sedang tutup. “Lah, ini terus makannya bagaimana? Pelayannya datang dari mana untuk memberikan pesanan saya,” kembali saya bertanya-tanya dalam hati.

“Kreeeeekkk…” bunyi tutup kayu bergeser. Ternyata “Loket” sudah buka. Dari lubang “tiket” itu pelayannya nongol dan menyajikan tiap pesanan saya. Ada semangkok mie yang di dalamnya sudah ada irisan tipis daging babi lengkap dengan daun bawang. Lalu ada 1 mongkok berisi irisan daging babi, jamur yang diiris memanjang dan rumput laut. Masih ada satu mangkok kecil berisi telor rebus.

Kurang kenyang? Tenang, kita bisa tambah lagi dengan pencet tombol. Yuks, nyicipin Ramen Ichiran kalau lagi wisata ke Jepang.

Sebelumnya, kita telah diminta untuk memilih karakteristik menu yang kita pilih. Ada beberapa tingkatan untuk kekentalan kuah, kekenyalan mi, dan mau tidak pedas atau pedas sekali. Jika malas berpikir, kita bisa memilih menu favorit kepada pelayannya.

Lalu apa fungsinya “konter kasir” ini? Ternyata konsep yang diusung Kedai Ramen Ichiran tidak sembarangan. Mereka ingin setiap pengunjung dapat menikmati menu yang mereka sajikan tanpa gangguan dari apapun dan siapapun. Itulah mengapa mereka menyebutnya “tempat duduk konsentrasi rasa.” Makan di sini layaknya kita sedang berada di perpustakaan. Hening, sunyi, dan tekun dalam menikmati tiap sendokan yang masuk ke mulut.

Kuah yang tadi dijabarkan, benar adanya. Rasanya paripurna. Bentuknya kari tetapi tidak enek dan jauh dari rasa amis. Bagi pencinta makanan babi, ini memberi kesan berbeda dengan tingkat rasa yang tidak terkatakan. Kuah pun tandas tak bersisa.

Baca juga: Kedai Kopi Apek, Cerminan Budaya Indonesia Yang Mengharamkan Terorisme

Untuk mienya kecil dan lurus seperti rambut, atau orang sering menyebutnya angel hair. Enak sekali dimulut dengan tingkat kekenyalan yang pas. Saya memilih yang tidak terlalu kenyal. Kalau Sari, isteri saya, memilih yang lebih kenyal seperti karet.

Sedangkan daging, jamur dan rumput laut rasanya enak sesuai dengan standarnya. Namun, topping yang berbeda adalah telurnya. Sejak awal datang ke Jepang, telur ayam di sana memang beda. Teksturnya lembut, kuning telurnya berwarna merah sehingga membuat selera makan bertambah. Yang cukup membuat heran adalah rasa kuning telurnya tidak seret. Ingin rasanya membawa telur Jepang ke Indonesia. Eh, kebetulan telur punya Sari gak dimakan karena kekeyangan. Jadilah telur itu saya bawa dan baru dimakan di pesawat.

Menu Ichiran Ramen Shinjuku Jepang yang saya santap. Oishiiiiii…

Ohya, bagaimana kalau mau nambah? Tenang, kedai sudah meyediakan mekanismenya. Istilahnya kae-dama bagi kita yang ingin tambah menu. Kae-dama adalah mi tambahan, tanpa kuah dan topping. Kalau seporsi kae-dama terlalu banyak, bisa juga pesan setengah kae-dama atau “han kae-dama.” Selain itu, kita juga bisa pesan tambahan menu lainnya melalui pelayan, tanpa harus kembali ke mesin penjual tiket makan.

Kesan pertama yang begitu menggoda. Alhasil, sebelum meninggalkan kedai kami membeli Ramen Ichiran dalam bentuk instan atau kemasan. Tidak ingin meninggalkan rasa rindu itu terlalu lama, jadi bisa menyedunya sendiri saat di Indonesia.

Bagi teman-teman yang muslim, kabarnya sudah ada kedai ramen ichiran yang menyediakan menu halal loh. Jadi tidak perlu khawatir untuk traveling ke Jepang.

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply