Milenial Ini Telah 3 Tahun Mengusung Budaya Indonesia di Cafenya

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Siapa bilang milenial tidak bisa berbuat apapun untuk bangsa? Bahkan ada sebagian yang nyinyir kalau milenial hanya menjadi beban, kurang tough dan sukanya hura-hura. Dua anak milenial berikut ini, Kyle Kusumo (21) dan Kane Kusumo (19), membuktikan bahwa generasinya mampu mandiri bahkan memberi sumbangsih bagi Negara Indonesia.

Kedua bersaudara kandung ini memilih bisnis cafe untuk belajar mandiri. Namun mereka tidak memilih cafe kekinian yang memboyong menu dan konsep western atau eastern ala Korea/ Jepang. Seakan melawan tren, mereka justru mengangkat “Bangga Indonesia” untuk mewarnai seluruh cafe yang diberi merek “Tantular Cafe.”

“Dinamai Tantular karena terinspirasi nama sastrawan legendaris Empu Tantular. Salah satu bukunya (mencantumkan konsep) Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian menjadi semboyan negara kita,” kata Kyle saat memperkenalkan lokasi cafenya yang baru di Jakarta, 23 Februari 2019.

Pecel Keraton yang rasanya enak sekali

Tidak hanya nama yang sangat Indonesia, tetapi interiornya pun dilengkapi ragam karya seni lokal. Ada lukisan Soekarno, kerajinan khas Indonesia, dan salah satu pojok favorit adalah lukisan dinding yang menampilkan Candi Borobudur. Ruangannya sangat nyaman karena dibuat begitu tropis, khas negara kita yang dilewati garis katulistiwa. Bagaimana dengan menunya?

“Mama suka masak masakan nusantara. Papa asli Solo juga suka ngajak kulineran. Makanya ngembangin menu-menu selera nusantara,” papar Kane yang diamini oleh Kyle.

Baca Juga: Dua Anak SMA Ini Bangun Idealisme Kebangsaan Melalui Kafe

Alhasil lahirlah menu andalan, seperti Bubur Manado, Soto Kwali, Pecel Keraton, Rawon Setan, Nasi Uduk Banten, Nasi Goreng Kampung, Mie Gulai, dan masih banyak lagi. Untuk minuman ada Therapy Juice, aneka teh dan kopi. Namun uniknya, mereka tidak meninggalkan menu kekinian seperti Roti Panggang dan kopi artisan yang diberi merek Ora Turu.

Beberapa di antaranya adalah kreasi mereka. Karena pada dasarnya mereka suka masak dan punya kegemaran terhadap kopi. Namun demikian, untuk menjaga keotentikan rasanya mereka mendatangkan koki dari asal menunya berasal. “Kami mendatangkan beberapa koki dari tempat asal menu khas tersebut. (Untuk) menu Soto Kwali (misalnya), dibuat oleh koki yang kami datangkan dari Solo langsung,” tutur Kyle.

Apa yang dilakukan oleh Kyle dan Kane patut dicontoh. Apalagi kalau kita merujuk pada survei yang diluncurkan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tentang “Orientasi Sosial, Ekonomi dan Politik Generasi Milenial”, Periode 23-30 Agustus 2017. Mereka yang disurvei adalah generasi milenial dengan rentang umur 17-29 tahun dan non milenial dengan umur di atas 30 tahun.

Inilah menu andalah kopi mereka: Kopi Ora Turu dan Ice Cube Coffee

Saat survei, responden ditanya soal kesulitan yang dialami saat ini. Terdapat perbedaan pandangan mengenai kesulitan bagi milenial dan non-milenial. Milenial merasakan terbatasnya lapangan pekerjaan, dan non-milenial mengatakan tingginya harga sembako.

Hasil survei CSIS

Walau sulit, nyatanya Kyle dan Kane sudah berani untuk mulai membuka usaha. Bahkan, Tantular Cafe yang mereka kelola ini sudah berjalan 3 tahun. Dalam masa itu, cafe yang awalnya terletak di Taman Kedoya Baru Residence sudah bisa balik modal. Namun karena sekarang pindah ke Jalan Pesanggrahan 10G Jakarta Barat, uang modal itu dipinjam lagi untuk mulai di tempat baru. “Uang modalnya tidak jadi dikembalikan ke orang tua. Dipinjam lagi untuk buka di sini,” ujar Kyle.

Bisnis kuliner yang mereka jalankan ini juga memberi sumbangsih bagi kemajuan bangsa. Sebab, kuliner adalah salah satu dari 16 sub sektor di bawah naungan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), yang memberikan kontribusi yang cukup besar, yaitu 30% dari total pendapatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sub sektor ini berkontribusi 41,4 persen dari total kontribusi perekonomian kreatif Rp 922 triliun pada 2016. Jumlah tersebut merupakan yang paling tinggi dibandingkan 16 sub sektor lain di Bekraf RI.

Tidak Meninggalkan Pendidikan

Ketika Kyle dan Kane akan memulai bisnis ini, penulis sedikit tahu sejarahnya. Di awal, mereka berdua sempat ingin meninggalkan bangku sekolah dan fokus di bisnis. Hal ini sempat membuat orang tuanya galau. Namun, mereka pun diijinkan dan difasilitasi untuk membuka Tantular Cafe.

Dalam perjalanan, pada akhirnya mereka berdua menyadari arti penting pendidikan. Oleh karenanya, saat ini Kyle tengah mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Multimedia Nusantara. Sedangkan Kane memilih jurusan Marketing di Bina Nusantara University.

Bagian depan Tantular Cafe yang terletak di
Jalan Pesanggrahan No.10G, RT.2/RW.9, Kembangan, Jakarta Barat.

Pilihan jurusan ini turut mempengaruhi tugas dan tanggung jawab mereka di cafe. Kyle bertanggung jawab pada konsep cafe, desain, hingga pengembangan bisnis. “Saya sendiri, setiap harinya datang ke cafe untuk mengontrol operasional cafe, karena kuliah saya dekat dengan lokasi cafe. Termasuk update menu, marketing, dan pemilihan human resources, juga menjadi tanggung jawab saya,” Kane melanjutkan.

Di tempat baru yang merupakan ruko empat lantai, akan dikembangkan bisnis lain di luar cafe. Lantai satu dengan kapasitas 50 orang untuk cafe dan ragam acara. Sedangkan tiga lantai lainnya, akan dikembangkan untuk co-working space, entertainment, dan games center. “Rencananya, kami juga akan mengembangkan bisnis clothing line, catering, hingga inginnya ekspansi dengan menambah gerai baru di daerah Bali,” ungkap Kyle.

Mengikuti tren ekonomi digital, Tantular Cafe pun memberikan kemudahan pembayaran. Uang elektronik seperti T-Cash, Ovo, hingga Go-Pay bisa dipakai. Bahkan ada banyak promo menyertaikan. “Kami juga sudah bekerja sama dengan layanan Grab-Food dan Go-Food untuk menjangkau konsumen yang tidak sempat datang ke sini,” pungkas Kyle.


Ingin tahu tempatnya kayak apa dan testimoni menunya bisa lihat di link video ini. Kalau saya sih tetap Bubur Manado. Bisa loh rasanya tidak berubah sejak 3 tahun lalu.
Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply