Qlue Yang Ditinggal Oleh Jakarta, Kini Dapat Kucuran Dana Dan Dipakai Instansi Lain

Qlue, DKIJakarta, smartcity, AniesBaswedan, SandiagaUno, Ahok, RamaRaditya, VentureCapital, Telkom, MDIVentures, GlobalDigitalPrimaVenture, ArtificialIntelligence, TheInternetofThings, IoT
Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Sebuah aplikasi media sosial bernama Qlue sempat menjadi andalan Pemda DKI Jakarta dan warganya dalam mendukung smart city. Namun, di era Gubernur Anies Baswedan, aplikasi ini mulai ditinggalkan. Uniknya, saat era Ibu Kota berakhir, Qlue dipercaya Pemda lain dan Swasta. Bahkan kini perusahaan besutan Rama Raditya diguyur dana melimpah.

Belum lama ini, Qlue mengumumkan bahwa pihaknya telah mendapatkan suntikan dana dari Venture Capital (VC) milik Telkom melalui MDI Ventures, dimana pendanaan ini dipimpin oleh Global Digital Prima (GDP) Venture. Qlue akan memanfaatkan dana ini untuk memperkuat sumber daya manusia supaya lebih banyak ahli di bidang teknologi dan bisnis. Mereka diarahkan untuk mengembangkan produk Artificial Intelligence (AI) dan The Internet of Things (IoT). Harapannya Qlue dapat meningkatkan layanan solusi smart city yang ditawarkan kepada setiap klien.

“Misi kami sejak awal adalah untuk mengakselerasi perubahan positif di dunia, dan kami ingin bersinergi sebanyak-banyaknya dengan mitra usaha yang memiliki kesamaan misi,” kata Rama Raditya, Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Qlue, mengomentari sokongan dana ke perusahannya.

Menurut Rama, Telkom akan banyak membantu Qlue dalam memperkuat skalabilitas pemerintahan dan BUMN di tengah transformasi digital di Indonesia. Hal ini terkait dengan usaha pemerintah kita yang ingin menuju Industri 4.0. “Sedangkan GDP Venture, sudah sejak lama membantu kami dalam membangun bisnis Qlue agar lebih maju dan berkelanjutan. Kami sangat terhormat dan bersyukur dapat menjalin kerja sama dengan MDI Ventures, GDP Venture dan Prasetia dalam perjalanan kami memberikan kemajuan bagi Indonesia,” lanjutnya.

Sudah kita ketahui bersama, Qlue didirikan pada tahun 2014 di Jakarta. Sejak saat itu, Qlue langsung menjalin kolaborasi dengan Pemda DKI Jakarta untuk menerapkan konsep Smart City pertama di Indonesia. Selama 4 tahun bekerja dengan Jakarta, hasil positif banyak dipetik baik dari sisi pemerintah daerah maupun masyarakat sebagai end users. Buktinya, Qlue berhasil membantu mengurangi potensi titik banjir hingga 94%, meningkatkan kinerja pemerintah sebesar 61,4%, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah sebesar 47%. Sebagai hasil dari pencapaian ini, Qlue telah menerima banyak penghargaan, termasuk Finalis Startup World Cup, Pendukung SDGs No.16 oleh JCIM, dan pemenang Global Smart City Contest oleh World Smart City Organization di London, Inggris. 

Saat Qlue Ditinggalkan
Ganti pemimpin, kebijakan pun berubah. Hal ini juga terjadi di Jakarta saat tapuk kekuasaan jatuh di tangah duet Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Tirto dalam ulasannya pada 12 Februari 2018, menunjukkan laporan masyarakat melalui Qlue perlahan mengalami penurunan.

Berdasarkan data Jakarta Smart City, pada November 2016, ada 36.058 laporan masyarakat. Laporan ini di antaranya terkait sampah (7.444), pelanggaran (5.518), parkir liar (4.572), fasilitas umum (3.850), dan kemacetan (1.853). Dari total pengaduan itu, 41 persen ditindaklanjuti oleh pemerintah, 41 persen proses, dan 18 persen menunggu. 

Pada Desember 2016, ada 28.901 laporan, di antaranya sampah (7.189), pelanggaran (4.197), parkir liar (4.217), fasilitas umum (2.986), dan kemacetan (1.037). Dari total pengaduan ini, 44 persen ditindaklanjuti, 40 persen proses, dan 16 persen menunggu. Rerata waktu penyelesaian 8-9 jam. Di era penjabat Gubernur Soni Sumarsono, jumlah pengaduan masyarakat menurun. 

Jumlah penurunan ini terjadi di era Anies Bawesdan. Pada November 2017, ada 12.405 laporan, di antaranya sampah (2.524), fasilitas umum (1.884), parkir liar (1.774), iklan liar (1.429), dan pelanggaran (1.029). Dari total pengaduan ini 57 persen ditindaklanjuti, 22 persen koordinasi, 14 persen proses, 6 persen menunggu, dan 1 persen disposisi. 

Pada Desember 2017, ada 10.759 laporan termasuk sampah (2.221), iklan liar (1.618), fasilitas umum (1.502), parkir liar (1.224), dan pelanggaran (815). Dari total pengaduan ini 58 persen ditindaklanjuti, 20 persen kordinasi, 13 persen proses, 8 persen menunggu, dan 1 persen disposisi. Rerata waktu penyelesaian laporan mencapai 72 jam. 

Pertanyaan mengapa Qlue tidak laku lagi usai Ahok lengser tidak pernah terjawab sampai sekarang. Apakah karena masyarakat tidak lagi percaya dengan Pemda DKI lantaran banyak laporan melalui Qlue tidak ditanggapi, atau alasan lain. Kita tidak tahu karena tidak ada kajian. Yang jelas, Anies dan Sandiaga sepakat untuk tidak memprioritaskan Qlue dan menggantinya dengan konsep “beride.” Konsep ini intinya lebih mengedepankan lahirnya ide dan mengubah pola pelayanan. Masyarakat yang kini diajak berpartisipasi, tidak melulu dilayani.

Qlue Dipercaya Instansi dan Swasta
Apapun alasan yang mendukung lengsernya Qlue di Jakarta, faktanya kini Qlue dipercaya oleh lebih dari 15 Kota, 10 Pengembang Properti, 17 Departemen Kepolisian Daerah, dan 5 Lembaga Pemerintah untuk memberikan berbagai solusi Smart City yang memenuhi kebutuhan unik mereka. Qlue bahkan tidak hanya berkantor di Jakarta, tetapi punya kantor lain di BSD Tangerang dan Bali. “Kami merekrut talenta terbaik dari seluruh penjuru negeri untuk memberikan solusi dan layanan terbaik untuk mencapai tujuan mitra bisnis kami,” ungkap Rama.

Sebagai gambaran bagaimana kerja sama Qlue dengan dunia usaha seperti ditunjukkanya saat bermitra dengan Township Alam Sutera. Mereka meluncurkan aplikasi untuk pelaporan warga yang dinamai eTown. Aplikasi tersebut disediakan untuk memudahkan komunikasi antara warga dan pihak Township Management Alam Sutera dengan mengadopsi layanan Qluster dari Qlue yang memang dirancang untuk warga yang tinggal di kluster dalam sebuah kawasan perkotaan. Perusahaan lain yang turut didukung Qlue adalah Agung Sedayu, Intiland, Sentul, Metland, dan Ciputra Group.

Baik MDI Ventures maupun GDP Venture tidak mungkin sembarangan mempercayakan dana besar kepada Qlue, kalau tidak memiliki rekam kerja yang baik. Sekalipun tidak lagi jadi andalan di DKI Jakarta. CEO MDI Ventures Nicko Widjaja mengatakan di Dailysocial, “Kami sudah mengenal Qlue sejak awal perusahaan tersebut berdiri, dan kami menilai bahwa Qlue selalu memiliki pola pikir disruptif dan inovatif.”

Hal senada di kesempatan yang sama, CEO GDP Venture Martin Hartono, melihat Qlue memiliki solusi smart city yang juga memiliki visi dan misi yang sama, karena dinilai mampu terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar, tidak hanya pemerintahan namun juga korporasi. “Kemampuan Qlue untuk menyediakan command center dan pengelolaan smart city berbasis teknologi dan data merupakan salah satu pilar penting menuju masa depan bangsa Indonesia.”

Facebooktwitterby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply