Cafe Teras Wangun, Berasa Nongkrong di Atas Gunung

teraswangun, cafeteraswangunsentul, cafeteraswangun, cafekekiniandisentul, cafeinstagramable, cafedisentul, wisataalam, tempatmakanngehits
Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Bogor soalah tidak pernah habis menghadirkan sensasi pengurai ketegangan hidup. Tuntutan pekerjaan membuat kita butuh menarik diri sejenak dari rutinitas demi menyeimbangkan hidup. Tetapi, demi tuntutan zaman, kita juga perlu memuaskan kebutuhan untuk eksis di media sosial. Saya kira, kriteria itu ada di Teras Wangun. Tempat hang out baru di daerah Sentul, Kabupaten Bogor.

Nama Teras Wangun awalnya masih asing, sampai saya melihat foto-foto kakak saya di Instagram. Dalam hati bergumam, kok tempatnya tampak nyaman, segar, dikelilingi pemandangan yang indah dengan hamparan hutan, pegunungan dan aliran sungai yang sangat alami. Kebayang nih, bagaimana saya ada di sana.

Nasi Liwet Teras Wangun yang Mantul

Yang membuat saya terpacu untuk datang ke Teras Wangun adalah tempatnya di Sentul. Sepintas, saya berpikir, kan Sentul tidak jauh dari rumah saya yang berada di Cimahpar, Bogor Utara. Maka diputuskan pada akhir pekan ini kami, bersama isteri, datang ke sana.

Saat yang ditunggu pun tiba. Sabtu, 16 Februari 2018 kami putuskan untuk pergi. Jarak dari rumah ternyata memang tidak terlalu jauh. Ada 3 jalur alternatif menuju ke sana. Paling dekat berjarak 17,3 km atau 42 hanya 42 menit berkendara dengan mobil. Dari Cimahpar lewat Jalan Bukit Sentul arah ke Sentul City. Jalannya tidak terlalu bagus, karena ada di beberapa titik berlobang dan tergenang air. Pada masim hujan seperti saat ini jalan yang menghubungkan Kota Bogor – Sentul City ini memang kerap berlobang.

Baca juga: Dua Anak SMA Ini Bangun Idealisme Kebangsaan Melalui Kafe

Jika teman-teman datang dari Kota Bogor (Bogor Tengah) atau Jakarta bisa masuk ke Sentul City melalui Tol Jagorawi, keluar di Pintu Tol Sentul Selatan. Ketika sudah berada di Sentul City, dengan infrastruktur jalan yang sangat baik, kita mengarah ke Jalan Gunung Pancar melalui Jalan MH. Thamrin, lalu Jalan Siliwangi, Jalan Bali Raya, lalu Jalan Raya Jungle Land Avenue.

Jalan Gunung Pancar berada di sebelah kanan di sebuah persimpangan menuju tempat wisaya Jungle Land. Jadi bagi teman-teman yang pernah ke Jungle Land, maka daerah menuju Teras Wangun cukup familiar. Yang berbeda adalah saat kita memasuki Jalan Gunung Pancar. Jalan yang lebar saat melewati Sentul City, kita akan melewati jalan kampung.

Baca juga: Kedai Kopi Apek, Cerminan Budaya Indonesia Yang Mengharamkan Terorisme

Baru juga melewati 100 meter, kami sudah distop karena sebagian jalan dipakai untuk tamu kondangan. Ya itulah sensasi kalau kita lewat jalan kampung. Mesti pelan-pelan, hati-hati karena bukan wilayah kita, dan sebisa mungkin memberi sumbangan jika ada pak ogah. Dalam perjalanan kami, ada 2 titik jalan sedikit ambles dan “dijaga” oleh beberapa pemuda. Jangan pelit untuk membuka jendela mobil dan memberikan sedikit uang untuk mereka.

Area terbuka di bagian atas yang bisa dipake untuk permainan,
api unggun, atau gardu pandang

Setelah masuk ke Jalan Gunung Pancar, perjalanan kita tinggal 5,6 km. Suasana kampung sudah sangat terasa. Keindahan Teras Wangun yang berada di Kampung Wangun Landeuh, Desa Karang Tengah, Kec. Babakan Madang, Sentul, sudah kami rasakan. Selain melewati rumah penduduk, kami tidak jarang dimanjakan persawahan di sebelah kanan dengan gugusan pepohonan rindang. Sedangkan di sisi kiri, kami ditemani aliran sungai dengan air yang cukup deras berlatar gugusan gunung dan perbukitan.

Namun, kita mesti waspada. Jalan relatif sempit, karena pas untuk 2 buah mobil. Kemudian di beberapa titik ada peringatan longsor. Jalan sudah bagus karena diaspal halus. Hanya saja ada 2 titik jalan yang amblas, sehingga kendaraan harus jalan bergantian. Menurut informasi, kerusakan ini merupakan imbas dari hujan yang turun sangat deras sehari sebelumnya.

Open Air Cafe. Enak sekali untuk nyantai, makan,
bahkan ada yang memanfaatkannya untuk belajar.

Setelah melalui perjalanan yang nyaris terus mendaki, akhirnya kami sampai di tempat yang memiliki tagline “Relax in Perfect Harmony.” Kesan pertama, tempat ini sangat terawat. Tempat wisata di daerah pegunungan, tantangan utamanya adalah udara yang lembab. Namun, jejak-jejak kelembaban seperti jalan yang licin tidak kami temui. Yang ada, jalan setapak yang dibuat dari susunan batu kali tidak licin dan aman untuk dilalui siapa saja.

Saat masuk, kami langsung diarahkan untuk membayar tiket masuk sebesar Rp. 50,000. Uang ini bisa ditukar makanan. Makan besarnya seharga tiket masuk, seperti Paket Nasi Liwet, Nasi Goreng, dan Nasi Rawon. Tapi kalau mau memilih makanan ringan, tidak masalah. Kalau makanan yang kita pilih melebihi harga tiket maka kita perlu membayar kelebihannya.

Karena datang sudah kelaparan, kami langsung pilih 2 paket nasi liwet. Nasinya wuenak banget. Yang paling nendang adalah sayur asem dan ikan asinnya. Kami punya standar tinggi untuk sayur asem yakni sayur asem yang disajikan oleh Restoran Lombok Ijo yang ada di Yogyakarta. Kabarnya, restoran ini membuka cabang di Cirebon. Nah, rasa sayur asem di Teras Wangun ini mirip dengan yang kami rasakan di Lombok Ijo. Sedangkan ikan asinnya memiliki rasa karamel, tapi tidak meninggalkan rasa asin. Saya sendiri bingung bagaimana mengolah ikan asin ini sehinggi memiliki rasa yang sangat khas. Sedangkan kelengkapan nasi liwet lainnya sih standar, seperti nasi dibungkus daun pisang, ayam goreng bumbi kuning, tahu, tempe, lalapan dan sambal.

Ada dua tempat makan yang ditawarkan. Keduanya memberikan pemandangan lepas ke arah pegubungan yang sangat indah dan menyejukkan. Rasa makanan kita terasa sangat istimewa. Apalagi kalau memilih di atas, yang mereka sebut “Open Air Cafe.” Di sini kita berada di puncak tertinggi untuk melihat landskap pegunungan, sehingga pandangan kita tanpa halangan. Selain itu, udara yang kita rasakan juga berasa segar sekali. Kami beruntung karena cuacanya cerah. Kalau datang pas hujan, tampaknya kita akan kena tampias curah hujan.

Aula dan lapangan yang sangat cocok untuk ragam kegiatan bersama.

Setelah makan, kami berkeliling. Ada banyak spot foto yang ditawarkan. Pokoknya yang suka selfie, butuh tempat eksis kekinian, atau mencari bahan untuk “memberi makan” para netizen, pasti puas deh. Yang menarik, Teras Wangun menyediakan sebuah aula lengkap dengan lapangan yang cukup luas bagi kita yang hendak mengdakan gathering, training, meeting, garden party, bahkan camping. Area lapangan ini, dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan. Saat menyadari keindahan alam itu, saya tercekat, mungkin inilah yang membuat daerah rumah saya “kecipratan” udara sejuknya.

Menurut Hanley Oey, manajer Teras Wangun, untuk kita yang ingin mengadakan gathering biayanya Rp. 175,000/ packs. Namun biaya ini hanya sampai Maret 2019 loh. Kabarnya, mulai April harganya akan naik. Dengan biaya itu, kita akan mendapatkan 2 kali coffee break, 1 kali makan siang, fasilitas aula dan lapangan plus karoke. Jika membutuhkan jasa event organizer yang menyediakan MC atau permainan, ia juga bisa menyediakan vendornya. Jika ingin bermain di sungai, juga ada vendor yang menyediakan fasiliatas kayak.

Nyantai dulu aahhhh…

Ada satu daya tarik lainnya yaitu main-main di sungai dan Curug Leuwih Asih. Tempatnya tinggal turun saja dari arah lapangan. Sayang, karena sudah sore, kami tidak berani untuk turun. Namun, dari atas lapangan saja kami sudah melihat gemuruh gulungan air yang sangat menyejukkan hati. Lain kali, kami pasti basah-basahan.

Secara umum, tempat ini sangat direkomendasikan bagi kita yang kerap dikejar atau mengejar deadline. Tempatnya yang tidak jauh dari Jakarta atau Bogor, sangat ideal bagi kita yang ingin kabur sejenak untuk mencerap energi baru. Jadi, nunggu apalagi. Keburu harganya nanti naik loh, hehehe

Saksikan keseruan kami di Teras Wangun,
cafe ngehits dengan pemandangan mantul di Sentul

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply