Prabowo, Mesias, dan Natal

pilpres2019, prabowo, jokowi, ratuadil, natal, mesias, kandidat
Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Indonesia sudah semakin dekat dalam hajatan pemilu. Walau tidak hanya memilih Presiden Republik Indonesia, namun tampaknya Pilpres paling serius menyita perhatian publik. Bahkan, semakin menuju 17 April 2019, kedua calon presiden berserta barisan pendukungnya tidak lelah melempar banyak isu demi menarik pendukung.

Kalau kita perhatian bersama, Kubu Jokowi maupun Probowo, kandidat Presiden RI, memiliki pendekatan yang berbeda. Beberapa pengamat menyebut, Jokowi konsisten membawa hawa optimisme dalam membangun Indonesia ke depan. Sedangkan Prabowo juga konsisten melemparkan isu-isu bernada pesimis dalam menilai Indonesia saat ini. Namun yang perlu dicatat, walau keduanya memilih jalan berbeda tetapi tujuannya sama. Mereka sama-sama ingin menjadi Presiden RI.

Di sinilah letak olah ramu strategi dalam memenangkan sebuah kompetisi. Tujuannya sama tetapi jalan yang ditempuh berbeda. Sejauh masih dalam koridor hukum sah saja. Tapi yang orang banyak lupa adalah, sah secara hukum tetapi belum tentu memenuhi unsur kelayakan.

Dari kedua calon presiden (capres) ini saya tertarik membahas strategi yang diterapkan Prabowo. Cukup lama saya merenungkan langkah yang diambil capres nomor 02 ini. Cukup menarik untuk diamati, dipahami, lalu membagikannya dalam tulisan ini. Tujuannya, saya berharap tiap kali ada lemparan strategi baik dari Kubu Prabowo maupun Jokowi kita jangan langsung kalut. Tetap tenang, pahami, lalu “ya biasa itu..”

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan beberapa pernyataan Prabowo sebagai bagian dari strateginya. Saya katakan seperti itu karena dilakukan secara konsisten. Saya mulai dari pernyataan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030 yang ditanyangkan Gerindra TV dalam channel Youtube pada 22 Maret 2018.

Lalu pada Oktober 2018, Prabowo mengatakan bahwa sistem ekonomi Indonesia saat ini melebihi neo-liberal dan bodoh. Masih di bulan yang sama ia mengatakan, “Kalian tidak tampang orang kaya. Tampang kalian ya tampang Boyolali ini. Betul?” tanya Prabowo pada 30 Oktober 2018 yang sempat membuat sebagian masyarakat Boyolali tersinggung.

Kemudian dalam satu kesempatan, Prabowo mengklaim kalau dirinya menjadi Presiden maka Indonesia tidak akan melakukan impor. “Saya bersaksi, kalau saya menerima amanat bangsa Indonesia, saya akan membuat Indonesia berdiri di kaki sendiri. Kita tak perlu impor saudara-saudara. Kita harus mampu swasembada pangan. Tidak perlu kirim Rp 3 miliar lebih untuk bayar bahan bakar,” katanya pada 4 November 2018.

Masih di bulan yang sama, Prabowo menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia cenderung menjadi tukang ojek setelah lulus SD atau SMA. Tentu ia memiliki alasan tersendiri mengapa melempar pernyataan itu. “Ada meme yang menunjukkan bahwa perjalanan karir pemuda Indonesia setelah lulus sekolah dari SD sampai SMA akan menjadi tukang ojek,” katanya pada 21 November 2018.

Isu nasional sudah, ekonomi juga sudah, bahas generasi muda yang katanya menjadi potensi suara yang besar juga sudah, kini Prabowo mengangkat isu lingkungan. “United Nations (UN) memprediksi bahwa air dari Tanjung Priok di 2025 akan sampai di (Hotel) Kempinski, di Grand Hyatt. Air dari Tanjung Priok akan sampai Bundaran HI, permukaan air terus naik lima sentimeter setiap tahun,” katanya, 21 November 2018.

Prabowo pun menyebut BUMN kita bangkrut. “Kita lihat BUMN kebanggaan kita, satu-satu hancur, bangkrut, tanya saja Garuda pilot-pilotnya, tanya Pertamina, PLN, tanya pabrik milik negara, elit itu tak perlu kau kagumi. Aku tahu satu-satu, lagaknya saja itu,” ujar Prabowo saat bertemu relawan di Roemah Djoeang Jakarta, 6 Januari 2019.

Yang terakhir, Prabowo masih membawa gaya dan konten yang sama saat Pidato Kebangsaan dan Visi Misi Indonesia Menang di JCC Senayan Jakarta, 14 Januari 2019. Kembali ia menyoroti kondisi Indonesia yang menurutnya salah urus. Ia berpendapat, Indonesia sebagai negara besar tidak mampu sampai pada ketahanan pangan karena cadangan beras hanya bertahan 3 minggu. Lalu cadangan bahan bakar hanya bisa bertahan 20 hari.

Konsep Ratu Adil

Kalau saya cermati, secara sederhana Prabowo ingin mengatakan bahwa kondisi Indonesia saat ini berada dalam masa keterpurukan. Semakin lama akan semakin tenggelam dan pada akhirnya “tinggal dalam kenangan.” Hal itu terjadi karena kezoliman pemimpin yang ada saat ini.

Opini Prabowo menjadi semacam propaganda untuk menciptakan perspektif dalam masyarakat bahwa, sudah saatnya Indonesia membutuhkan pemimpin baru. Seorang pemimpin yang akan membawa rakyat Indonesia pada zaman keemasan, di mana tidak ada impor, asing tidak masuk ke Indonesia, terwujudnya swasembada pangan, sampai pada membangun tanpa hutang sedikitpun.

Kalau dipikir jernih, memang tampak apa yang ditawarkan hanya mimpi dan tidak punya landasan. Tetapi, dalam perspektif logika berpikirnya Prabowo, saya bisa memakluminya. Harapan yang muluk-muluk, menjadi “masuk akal” dan “menjual” bagi rakyat yang telah “dijejali” dengan propaganda bahwa hidup mereka saat ini menderita, susah, hanya bisa membeli tempe setebal ATM, tidak bisa beli apa-apa di pasar dengan yang Rp. 50,000, dan seterusnya.

Publik yang diwakili media tampak riuh dengan lontaran Prabowo dan timnya. Tentu ini menjadi berita yang menjual. Tapi bagi saya, apa yang disampaikannya tampak biasa saja. Hal pertama yang membuat biasa saja, karena ini bukan hal baru. Saya teringat pada salah satu tradisi Kejawen yang berkembang di Budaya Jawa.

Dalam tradisi yang berkembang sebelum terbentuknya Republik ini, ada yang dinamakan konsep “Ratu Adil.” Ada dua tokoh dalam sejarah kejawen yang tidak bisa dilepaskan dari “Ratu Adil, yakni Prabu Jayabaya dan Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Jayabaya yang terkenal dengan ramalannya itu, adalah seorang raja Kediri yang memerintah sekitar 1135-1157. Ia meramalkan bahwa Nusantara akan dilanda bencana alam yang dahsyat, masyarakat mengalami ketidakadilan, orang baik tertindas sedangkan yang berkuasa berlaku sewenang-wenang, dan lainnya.

Namun, masa itu akan berakhir saat Sang Ratu Adil atau Satria Piningit hadir. Saat itulah, Nusantara akan memasuki zaman keemasan. Rakyat makmur dan sejahtera. Pemimpinnya berlaku adil dan disegani oleh dunia.

Hal senada juga diungkap oleh Ranggawarsita yang hidup pada tahun 1802-1875. Sebagai seorang pujangga dari tradisi Kejawen, ia akrab dengan istilah Ratu Adil atau Satria Piningit. Menurutnya, Sang Ratu Adil akan menjadi penyelamat di tengah kemerosotan di berbagi dimensi, ekonomi, kekuasaan, moral, sampai ragam praktik ketidakadilan.

Apa yang disampaikan Ranggawarsita bukanlah ramalan seperti Jayabaya. Dalam Serat Kalatidha, ia menawarkan ajaran kehidupan. Saat menghadapi Kalatidha yang berarti zaman edan, ia ingin memberi wejangan bagaimana kita menyikapinya. Dalam seratnya, ia mengatakan sebaiknya kita “eling lan waspada” saat menghadapi ketidakpastian atau keragu-raguan. Dalam bab 9-12, ia menyarakankan kita untuk selalu beriktiar, berdoa, dekat dan mohon ampun kepada Tuhan.

Perspektif Mesias

Konsep Ratu Adil yang disajikan oleh Jayabaya dan Ranggawarsita menjadi semacam jawaban di tengah zaman atau keadaan yang tidak baik. Di tengah kemiskinan, ketidakadilan, ketidakjelasan hidup, kesengsaraan, dan penderitaan dalam tekanan penjajah, masyarakat diberikan harapan bahwa hidup mereka akan berubah saat Sang Ratu Adil datang sebagai penyelamat.

Siapakah Sang Ratu Adil itu? Tidak ada yang tahu. Setiap orang bisa saja mengklaim dirinya sebagai penyelamat. Namun yang perlu diingat, konsep seperti ini tidak menjadi monopoli orang Jawa. Banyak suku lain, baik di Indonesia maupun belahan dunia lain juga meyakini konsep ini. Bahkan, dalam arti tertentu, Ratu Adil juga ada di tradisi Kristen.

Belum lama ini umat kristen merayakan Hari Raya Natal. Bahkan, rangkaian perayaan kelahiran Yesus itu baru berakhir kemarin Minggu, 13 Januari 2018 dalam Peringatan Pembabtisan Yesus. Berdasarkan kajian Alkitab, kelahiran Yesus membuat resah penguasa saat itu yakni Herodes Agung, seorang raja boneka Romawi.

Dalam tradisi Israel, Yesus dianggap sebagai mesias yang akan membebaskan Bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Kelahirannya telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama, “Sebab seorang anak telah lahir bagi kita, seorang putra telah diberikan kepada kita. Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan orang menyebut dia: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besarlah kekuasaannya dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas tahta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkan kerajaannya itu dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini,” Yesaya 9:6-7.

Hidup Yesus yang cemerlang dalam memberi pangajaran, dekat dengan Tuhan, membuat banyak mujizat, dan memiliki banyak pengikut semakin meyakinkan bangsa Israel bahwa Dialah Mesias yang dijanjikan Tuhan untuk menyelamatkan mereka dari penderitaan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Itulah mengapa Yesus kerap disebut juga sebagai Raja.

Namun demikian, harapan mesianik mereka sirna. Apa yang mereka harapkan dari Yesus musnah seiring dengan kematiannya yang hina di kayu salib. Bagi pengikut Yesus, yang disebut sebagai Kristen, meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang membawa pembaruan hidup rohani bukan fisik. Ia adalah Raja Rohani bukan raja duniawi. Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan jiwa-jiwa supaya kembali ke jalan yang benar menuju cita-cita surgawi.

Saya mengangkat kisah Yesus ini semata ingin menunjukkan bahwa dalam agama besar pun konsep Ratu Adil juga ada. Dengan ciri yang juga serupa dengan yang ada dalam tradisi Kejawen. Memang, ada beberapa prinsip yang sangat berbeda di antaranya, namun selalu ada harapan dan penghiburan bagi kelompok masyarakat yang sedang dalam penderitaan. Semakin lama dan dalam derita itu dirasakan, harapan akan sosok penyelamat juga semakin besar.

Menuju Pemilu 2019

Indonesia saat ini masih jauh dari sejahtera. Apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dalam rumusan Pancasila dan UUD 1945 memang masih belum diwujudkan secara keseluruhan. Namun demikian, Indonesia bukanlah negara yang hancur, auto pilot, atau benar-benar tidak ada harapan. Apa yang dilakukan para pemimpin negara ini sudah benar untuk mengantar kita pada kemajuan, namun cara dan pendekatannya yang berbeda.

Namun kalau Prabowo sepakat dengan kondisi Indonesia saat ini, dia tidak punya amunisi. Untuk itulah, ia menciptakan opini dan propaganda untuk meyakinkan semua orang bahwa kita saat ini masuk dalam Zaman Kalatidha atau Zaman Edan. Maka dilontarkanlah opini-opini yang saya sebut di atas.

Ia tidak peduli, opininya menimbulkan kontroversi, karena ia membutuhkannya untuk memberikan legitimasi bahwa Indonesia layak menantikan seorang sosok Ratu Adil. Ujung-ujungnya, ia pun mengatakan bahwa “Sayalah Ratu Adil yang kalian nantikan. Sayalah yang akan membawa kalian semua untuk keluar dari Zaman Kalatidha ini menuju Indonesia makmur dan sejahtera.”

Dengan melihat Prabowo dalam perspektif Ratu Adil, baik Kejawen maupun tradisi Kristen, maka apa yang menjadi kontroversi itu jadinya biasa-biasa saja. Jangan kita ikut gaduh. Biarlah media gaduh karena memang begitulah cara mereka bekerja. Tapi kita sebagai masyarakat dan juga pembaca media, jangan mudah untuk terprovokasi. Apalagi sampai mengumpat dan mungkin stres sendiri.

Mari kita sambut hajatan pemilu 2019 ini dengan sukacita dan optimisme. Banggalah menjadi bagian dari sejarah, di mana pemilu kali ini menjadi paling rumit di dunia. Jika kita merasa ada “kegilaan” dalam proses pemilu seperti misalnya ada pengerusakan makam atau malah memindahkan makam karena beda pilihan, maka ikutilah saran Ranggawarsita dan Nabi Isa. Yakni untuk eling lan waspada, berserah dalam doa hanya kepada Tuhan.

Tunjukkan bahwa kita bisa menyukseskannya, sekalipun kita berbeda pilihan, terdiri dari banyak suku dan agama. Tapi tetap bersatu padu demi cita-cita bersama, mewujudkan Bangsa Indonesia maju, sejahtera, adil, dan disegani dunia internasional.

Tulisan ini juga ada di sini.

Foto: Pontas.Id

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply