Indonesia Rawan Bencana, Inilah Arti Penting Profesi Antropolog Ragawi

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Indonesia ditakdirkan sebagai negara kaya dan subur. Namun di sisi lain, bumi pertiwi ini akrab dengan bencana alam karena berada pada garis ring of fire atau Cincin Api Pasifik. Bersama Selandia Baru dan Jepang, hampir seluruh daerah kita rawan terhadap gempa, tsunami, longsor, dan banjir.

Setelah gempa Lombok yang tahun ini tiga kali menggunjang, ada gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Kota Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018. Kemudian gempa juga terjadi di Sumba Timur dan Gunung Soputan di Sulawesi Utara meletus. Terakhir, Banten dan Lampung dihantam tsunami akibat erupsi Anak Gunung Krakatau, kemarin 22 Desember 2018.

Sebagai negara yang rawan bencana, menurut antropolog forensik Dr. Toetik Koesbardiati Indonesia dengan wilayah yang luas dan tersebar ditambah penduduknya 230 juta mestinya memiliki ahli antropologi ragawi yang cukup. Tetapi kita hanya memiliki ahli antropologi tidak lebih dari 10 orang.

Pada prinsipnya antropologi forensik adalah aplikasi dari bidang ilmu antropologi ragawi dan studi forensik (mediko-legal). Fokus kerja utama dari antropologi forensik adalah analisis sisa rangka manusia dengan latar belakang yang tidak diketahui. Tujuannya mengumpulkan sebanyaknya dan sedetail mungkin informasi tentang sisa rangka yang ditemukan serta lingkup kematiannya.

Ruang lingkup kerja antropologi forensik terbagi dua. Pertama lingkup tradisional, melakukan identifikasi sisa mayat dengan kondisi menyisakan rangka saja. Kedua, lingkup modern, di mana antropolog forensik melakukan analisis sisa mayat manusia dengan berbagai kondisi seperti masih memiliki jaringan lunak, pada tahap dekomposisi, terbakar, terpotong, atau kombinasi dari kondisi-kondisi tersebut. Maka tidak heran antropolog forensik masuk sebagai anggota tim Disaster Victim Identification (DVI) dan terlibat dalam identifikasi korban bencana massal. (Hal. 417).

Antropologi forensik, lanjut Toetik, baru mulai dikenal publik ketika terjadi kecelakaan kapal Senopati Nusantara pada tahun 2006. Selanjutnya, perannya semakin terdengar ketika terlibat dalam penanganan kecelakaan pesawat terbang AirAsia, Sukhoi, dan berbagai kasus kriminalitas perkara pembunuhan tertentu. “Ketika jenazah kembali ke keluarga, itulah bayaran tertinggi dan paling membahagiakan bagi kami,” tutur Toetik (Hal. 405-406).

Apa yang dikisahkan Toetik merupakan bagian dari buku biografi seorang antropolog ragawi berjudul “Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD. Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia.” Toetik tidak lain adalah salah satu dari tiga asisten Glinka di Jurusan Antropologi Fakultas FISIL Universitas Airlangga (Unair). Ia menggambarkan bagaimana jumlah ahli antropologi tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia dengan Polandia. Di sana, negara sebesar Jawa Timur dengan penduduk 38 juta itu, punya 120 profesor antropolog. Sementara Indonesia, hanya memiliki 2 profesor antropologi ragawi, yakni Prof Etty Indriati (dosen Universitas Atma Jaya Jakarta) dan Prof Myrtati Dyah Artaria. (Hal. 12)

Glinka sendiri yang lahir di Chorzow, Polandia, 7 Juni 1932, mengakui bahwa ilmu yang dikuasainya belum populer. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh anggapan banyak orang yang menyempitkan antropologi sebagai ilmu yang hanya mempelajari tulang, fosil, batu, suku terasing, bahkan perbintangan. Padahal ilmu ini memiliki variasi yang luas dan memiliki aplikasi pekerjaan yang luas. Sebut saja antropologi forensik, industri, militer, antropogeografi, membantu dokter dalam hal ini kedokteran forensik dalam menentukan jenis kelamin, ras, dan kelompok etnis korban kejahatan (Hal. 19).

Dari kacamata ilmu antropologi ragawi, Indonesia menjadi harta karun penelitian yang sangat penting bagi dunia. Jika seseorang ingin paleoantropolog hebat, maka ia harus datang ke Indonesia. Publikasi tentang temuan-temuan Indonesia sudah banyak dimuat di jurnal-jurnal dan majalah ilmiah internasional ternama, seperti NatureScienceScientific American, dan American Journal of Phisical Antropology. Hal tersebut dimungkinkan karena di negeri kita ditemukan banyak hominid tertua, salah satunya Pithecantropus mojokertensis atau homo erectus robustusI yang ditemukan di Mojokerto. Usianya mencapai lebih kurang 2 juta tahun yang lalu (Hal. 9).

Sudah memiliki alam yang kaya, budaya yang beragam, potensi penelitian terkait asal usul manusia juga sangat tinggi, membuat banyak orang asing mencintai Indonesia. Satu di antaranya adalah Glinka. Sama seperti para peserta Asian Games 2018 yang baru saja lewat, banyak orang asing begitu mengagumi bagaimana kita bisa menjadi sebuah negara dengan banyak suku, agama, ras dan golongan. Banyak negara yang diwakili kantor beritanya mengamini konsep Indonesia sebagai “Land of Diversity,” yang diangkat dalam perhelatan Asian Games.

Glinka yang menghembuskan nafas terakhirnya 30 Agustus 2018, atau 4 hari setelah peluncuran bukunya yang ditulis Bernada Rurit, mengabdikan ilmunya untuk mengkaji kekayaan Indonesia dalam teropong antropologi ragawi. Glinka merengkuh gelar doktor berkat desertasinya yang berjudul “Asal Mula Penduduk Pulau Palue Ditinjau dari Ukuran-ukuran Antropometri.” Melalui desertasi ini ia membuktikan bahwa budaya lisan tentang asal usul Pulau Palue yang berada terasing di utara Pulau Flores adalah benar. (hal. 56-57). Penduduk Palue mempunyai afiliasi dengan penduduk Tanjung Bunga (Flores Timur), Lio, dan Manggarai. Semuanya adalah populasi berasal dari Pulau Flores. (Hal. 68).

Setelah mendapat gelar doktor dengan summa cum laude, ia ingin meraih doktor habil. Pada tahun 1977, ia sukses meraih doktor habilitatus di Universitas Jagiellonian di Krakow, Polandia. Kampus ini salah satu yang terbaik di Polandia dan sudah berusia 670 tahun. Untuk mendapat gelar habil, ia meneliti hampir seluruh wilayah Indonesia dan mengolah data sample 200 orang per wilayah. Data yang dikumpulkan sangat bervariasi, mulai dari data antropometris sampai dengan data genealogi.

Kumpulan data tersebut untuk mengetahui migrasi penduduk Indonesia. Hasilnya, Glinka menarik kesimpulan umum bahwa penduduk Indonesia dapat dibagi atas tiga kelompok rasial: Protomalayid di Indonesia Timur, Deuteromalayid di Indonesia barat, dan Dayakid di Kalimantan, Jambi, dan Filipina utara.

Data-data etnogenesis – pembentukan, asal usul dan perkembangan suatu kelompok etnis – (terutama genetical markers), di samping berguna untuk mendeteksi afiliasi suatu populasi dengan populasi lain, bisa juga digunakan untuk mendeteksi trend penyakit-penyakit tertentu. Dari hasil-hasil penelitian diketahui bahwa penyakit-penyakit tertentu mempunyai hubungan dengan rasial.

Penelitian berbasis antropologi ragawi seperti ini sangat berguna dan aplikatif. Glinka mencontohkan di halaman 12, orang Indonesia dinilai kurang gizi karena badannya kecil. Lalu pemerintah melalui para ahli gizi mengkampanyekan minum susu. “Namun, ahli gizi tidak tahu bahwa 40 persen orang Indonesia tidak mampu mencerna laktosa (gula susu), maka terjadi sebagian besar anak mencret, sehingga terbentuk olokan empat sehat lima mencret.” Di Indonesia, orang percaya bahwa norma Amerika yang benar, padahal mereka dari populasi yang berbeda dengan kita. Dari hasil penelitiannya bersama Prof Myrta Artaria M.A.m Ph.D., tentang pertumbuhan anak di Malang, hasilnya ternyata berbeda. Anak Indonesia di atas angka normal.

Penelitian Glinka tentang etnogenesis ini membuat sosok Glinka penting untuk indonesia. Tujuan penelitiannya adalah mengklasifikasikan semua populasi di kawasan Indonesia untuk melihat hubungan kesamaan morfologis antropologis antarpopulasi di Indonesia. Dengan demikian, selanjutnya dapat ditarik kesimpulan mengenai asal-usul penduduk di wilayah Indonesia. Lebih jauh, dari hasil penelitian ini bisa ditentukan tipe morfologis yang khas untuk populasi Indonesia. (Hal. 71).

Hasil penelitian Glinka berada di antara Zwei-Schichten-Theorie sebagai hasil-hasil penelitian sebelumnya (de Zwaan, Coon, dan Jacob). dengan kata lain, Glinka menyumbangkan pemikiran baru mengenai etnogenesis di wilayah Indonesia. (Hal 73).

“Dari hasil sementara agak jelas bahwa pembagian warga negara Indonesia atas pribumi dan non pribumi salah dari segi hukum, politik, dan antropologi. Secara resmi kita anti-apartheid, tetapi di negeri sendiri kita mengotak-ngatakkan warga negara sendiri. Ini memberikan dasar untuk segala macam SARA. Jika kita mau menjadi konsekuen, maka yang dapat disebut pribumi itu hanya penduduk Indonesia timur bersifat negrid. Yang lain semua pendatang, bedanya hanya ada dalam waktu imigrasi,” kata Glinka (Bab “Dari Sejarah Penghunian Kawasan Indonesia,” hal. 389).

Bernada Rurit (kanan) bersama Mgr. Pius Riana Prapdi adalah uskup Keuskupan Ketapang  yang memegang buku  "Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD. Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia."
Bernada Rurit (kanan) bersama Mgr. Pius Riana Prapdi adalah uskup Keuskupan Ketapang yang memegang buku “Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD. Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia.”

Sangat Mencintai Indonesia

Glinka yang lulus Seminari Tinggi SVD di Pieniezno (Polandia) tahun 1957 ini, datang ke Indonesia sebagai misionaris Katolik dari Kongregasi Tarekat Sabda Allah (SVD) pada 27 Agustus 1965. Ia langsung bertugas di Ritapiret dan Ledalero. Keduanya di Pulau Flores. Di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret tugasnya menjadi pendamping frater (calon pastor). Sementara di Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero, dia mengajar juga calon pastor dengan ilmu yang dimilikinya, Filsafat Alam Hidup.

Karyanya di Flores terjadi dalam rentang waktu 1966 sampai 1985. Selanjutnya, sebagaimana dikisahkan di website Unair, dalam sebuah perjumpaan dengan Dr. drg. A. Adi Sukadana, ia diajak untuk bergabung di Unair. Setelah proses yang tidak mudah, maka tahun 1984 Glinka datang ke UNAIR. Saat itu, SK pembentukan Departemen Antropologi UNAIR sudah turun. Kemudian tahun 1985 Jurusan Antropologi FISIP UNAIR resmi dibuka.

“Selanjutnya bulan Juli 1985 saya pindah ke Surabaya sampai saat ini. Jadi saya tinggal di Surabaya sudah 30 tahun lebih,” tutur Glinka.

Setelah menjalani peran rutin sebagai Guru Besar dan pengembangan ilmu antropologi di Indonesia, khususnya selama 27 tahun di UNAIR, tahun 2012 Glinka minta pensiun karena keterbatasan fisik.

Sebagai biarawan dan pastor, Glinka taat pada tugas imamat, setia pada kaul ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Sementara sebagai ilmuwan, ia melayani orang di sekelilingnya, tidak pelit membagi ilmu, serta selalu ingin membuat orang maju. Ia ilmuwan yang melayani, ia pastor yang berilmu.

Tak kurang, sejak menjadi pengajar selama 19 tahun di Seminari Ledalero sudah 600 pastor merasakan tangan dinginnya. Sementara sejak mengajar 27 tahun di Universitas Airlangga, ia sudah melepas penuh bangga 1.000 antropolog, 14 doktor, dan 1 profesor. (Hal. 14)

Dari sini, sang penulis Rurit meyakini bahwa Glinka tidak memahami misionaris hanya dengan membatis orang, tetapi lebih untuk membangun pendidikan sebuah bangsa. Dari Chorzow ia mendarat di Flores, mendidik para frater yang kelak menggembalakan umat. Dari Flores ke Surabaya, ia mencetak para doktor dan sarjana untuk merintis ilmu antropologi ragawi agar berkembang pesat serta menjadi tuan rumah dalam meneliti warisan bangsa. Tak perlu diragukan lagi, Indonesia pantas merasa bangga telah memilikinya.

Dengan ragam capaian yang begitu banyak dan besar, layakkah kita menilai Glinka tidak nasionalis karena sampai meninggal tetap berbendera putih merah, bendera Polandia? Rurit memberi catatan khusus bagaimana kecintaannya terhadap budaya Indonesia. “Indonesia masakannya enak-enak dan banyak macamnya, saya heran restoran junkfood laku,” sembari mengernyitkan dahinya (hal. 25). Selama di Indonesia, Glinka mengaku tidak pernah sekali pun menjajal restoran junkfood. Kemudian dua halaman berikutnya dikisahkan bagaimana dirinya lekat dengan baju batik dan kain sarung.

Kisah Glinka senyatanya mengingatkan kita pada tokoh lain yang juga datang sebagai orang asing dan minoritas, tetapi memiliki rasa cinta yang luar biasa pada Indonesia. Rasa cinta yang ia curahkan dalam misi mengembangkan budaya dan pendidikan Indonesia. Pertama ada (alm) Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, SJ Biarawan dan pastor kelahiran Utrecht, Belanda itu adalah seorang pakar Sastra Jawa dan budayawan Indonesia.

Kedua ada Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. Biarawan dan pastor kelahiran 1936 itu sebelum menjadi WNI adalah warga negara Jerman. Saat ini, Franz Magnis telah dikenal sebagai tokoh budaya, filsuf dan cendikiawan sampai mendapat Bintang Mahaputra Utama pada 13 Agustus 2015 oleh Pemerintah RI atas jasa-jasa dia di bidang kebudayaan dan filsafat.

Tentu masih banyak contoh dari tokoh-tokoh lainnya. Yang ingin dihadirkan oleh Glinka dalam buku setebal 504 halaman ini adalah kita harus menyadari bahwa Indonesia adalah negara istimewa yang sangat kaya dari banyak sisi. Mari kita cintai, rawat, dan mengembangkannya dalam berbagai riset penelitian. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mencetak sebanyak-banyaknya antropolog ragawi di Indonesia. Karena ia yakin, melalui merekalah Indonesia bisa dijaga, dirawat, dan dikembangkan sampai menjadi negara yang maju dan mandiri.

Usahanya tidak sia-sia. Menjadi salah satu dari tiga begawan antropologi ragawi paling senior sebelum meninggal, Glinka telah berhasil memilih 3 asistennya untuk meneruskan estafet keilmuwan. Mereka adalah Prof. Myrta Artaria, Ph.D.; Dr. Toetik Koesbardiati; Dan Dr. Lucy Dyah Hendrawati. Dengan demikian, saat ini antropologi ragawi Unair telah memiliki 1 profesor dan 2 doktor. Perlahan akan berkembang besar. Apalagi jika gagasan menjadi departemen tersendiri akan membuahkan hasil. Di Indonesia, ilmu antropologi ragawi, satu-satunya hanya ada di Unair, Surabaya. Maka, menjadi tantangan tiga pendekar perempuan Prof Glinka inilah yang menjadi ujung tombak keberlangsungan antropologi ragawi.

Sepenuhnya Pastor, Sepenuhnya Ilmuwan

Membicarakan antropologi ragawi Indonesia memang tidak bisa lepas dari Prof. Dr. Teuku Jacob, Dr. drg. A. Adi Sukadana, dan tentu Prof. Dr. Habil Josef Glinka SVD yang kerap disebut tiga begawan antropologi ragawi. Namun, dari ketiganya, Rurit sebagai penulis tahu betul keistimewaan Glinka dibanding yang lain.

Glinka bukan sekadar cendikiawan dan peneliti hebat. Ia juga adalah seorang pastor, pemimpin umat agama Katolik. Untuk memahami status ganda Glinka, bahkan Rurit tidak segan tinggal di lingkungan biara yang menjadi tempat tinggal Glinka maupun tempat Glinka pernah berkarya. Ia tinggal di Biara Soverdi di Surabaya, Seminari Tinggi St. Petrus di Ritapiret, dan Seminari Tinggi St. Paulus di Ledalero. Bahkan, Rurit yang mantan wartawan Tempo dan Kompas TV itu bersikeras untuk datang ke Pulau Palue walau banyak yang menentang karena ada kemungkinan ombak tinggi.

Berkat pengalamannya menghayati hidup kebiaraan, Rurit semakin yakin status ganda yang dimiliki Glinka menjadikannya istimewa dibanding ilmuwan lainnya. Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam penulisannya adalah hubungan antara teologi (ilmu ketuhanan) yang ia hidupi dengan ilmu alam yang ia jalani. Apalagi bidang yang ia geluti adalah evolusi yang tentu bertolak belakang dengan Alkitab, yang salah satunya mengajarkan bahwa Adam adalah manusia pertama.

Evolusi adalah bagian dari ilmu alam yang berpangkal pada fakta dengan pendekatan induktif. Sedangkan Alkitab adalah buku rohani yang berlandas pada wahyu Allah. Pendekatannya pun deduktif. Keduanya adalah hal yang berbeda namun saling melengkapi. Jangan sampai kita membuat analisis di bidang ilmu pengetahuan tetapi kesimpulannya masuk ke agama. Begitu pula sebaliknya. (Bdk. Hal 79-89).

Dalam tradisi Gereja Katolik, Glinka tidak sendirian. Setidaknya ada 2 yang disinggung oleh Rurit yakni Pierre Teilhard de Chardin SJ (1881-1955) dan Gregor Mendel OSA (1822–1884) di halaman 5-6. Keduanya adalah biarawan sekaligus ilmuwan yang membawa perubahan spiritualitas sekaligus ilmu pengetahuan buat umat manusia pada abad ke-19 dan ke-20. Tielhard de Chardin, seorang pastor Jesuit asal Perancis, dikenal sebagai ahli kepurbakalaan (paleontologi). Ia juga menaruh minat besar pada evolusi makhluk hidup.

Sementara itu, Gregor Mendel seorang biarawan Augustian dikenal sebagai pendiri ilmu genetika. Dialah yang menelurkan Hukum Mendel, lantaran menunjukkan warisan biologis gen tertentu dari sifat-sifat dalam tanaman kacang ercis yang mengikuti pola-pola tertentu.

Status ganda Glinka yang juga poliglot ini masih relevan dengan sebagian kondisi Indonesia. Masih ada kelompok di masyarakat kita yang mencampuradukkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Apa yang tidak ada di kitab suci dianggap tidak ada atau salah. Lihatlah bagaimana soal perdebatan tentang dasar negara Pancasila dan fenemona bumi datar.

Kini Profesor Bioantropologi, Jurusan Antropologi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya itu telah berpulang dengan damai. Selama 53 tahun hidupnya diabdikan untuk Indonesia dan 33 tahun di antaranya secara total menghibahkan ilmunya untuk merintis, menumbuhkan dan mengembangkan ilmu antrolopogi ragawi di Unair. Ada 8 buku, 58 artikel ilmiah, 35 artikel populer dalam bahasa Polandia, Jerman, Indonesia, dan Inggris telah ia hasilkan.

Satu mimpinya, Indonesia akan memiliki banyak antropolog ragawi untuk menjaga, merawat dan memajukan bangsa Indonesia yang bhineka tetapi disatukan dalam dasar negara yang sama, Pancasila. Apalagi di dalam buku ini, telah dijabarkan apa saja implementasi ilmu antropologi ragawi di Indonesia.

Jangan takut dengan judul buku yang terkesan berat serta halaman yang tebal, karena bahasa yang disajikan Rurit sangat mengalir dan mudah dimengerti. Warisan hebat dari Glinka pun dipilah secara cerdas dalam beberapa bab, sehingga memudahkan dalam membaca. Semuanya ini dilakukan demi membuka cakrawala kepada sebanyak-banyaknya orang bahwa antropologi ragawi adalah ilmu yang menarik, menjanjikan untuk masa depan, kekinian, dan memberi kontribusi nyata bagi upaya merawat keberagamaan di Indonesia.

Selamat Jalan Romo Glinka, terima kasih atas dedikasimu yang total untuk Indonesia. Putih merah benderamu, tetapi hati dan hidup matimu ternyata merah putih!

Tulisan ini juga ada di sini.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply