Bermula Dari Lantunan Musik Gereja, 8 Tahun Kemudian Ia Baru Memilih Katolik

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Matahari baru saja keluar dari peraduannya. Kika sekeluarga bergegas menuju masjid terdekat. Walau masih mengantuk, ia sebagai anak SMP sudah paham kalau shalat id pada Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah alias sangat dianjurkan.

Kika ikuti semua tahapan shalat. Umumnya, shalat id dilaksanakan dalam dua rakaat secara berjamaah. Setelah itu ada khotbah. Namun demikian, ia justru mendengar lagu-lagu pujian yang berasal dari sebuah gereja. Suara itu terdengar sayup, tetapi ia menikmatinya di tengah menjalani shalat.

Peristiwa itu membuat Kika gelisah. Malam terasa panjang. Bahkan saat tertidur pun, pujian itu terasa begitu nyata. Gelisah karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Yang dirasakan gadis kelahiran Surakarta itu adalah rasa damai di hati. Rasa itu pulalah yang ia rasakan saat bersekolah di SMP Katolik. Selain mengikuti pelajaran Agama Katolik, dia juga terlibat dalam koor, Misa Jumat Pertama, bahkan Misa Rabu Abu.

Lulus SMP, Kika memutuskan untuk mengikuti pelajaran agama Katolik di kelas saat SMA. Tepat di usia 17 tahun, ia memilih Katolik sebagai agamanya. Pilihan yang tidak mudah dan berisiko untuk seorang anak yang masih tergantung pada orang tua. Namun demikian, ia tidak pernah merasa menyesal telah memeluk agama yang dianut sejak kecil. Bahkan, tetap menghormati agama yang tetap dipeluk oleh orang tua dan keluarganya itu.

Wujud dari keputusannya menjadi Katolik, baru sebatas pergi ke gereja. Bungsu dari dua bersaudara ini pun baru benar-benar mengikuti kursus persiapan menjadi Katolik atau ketekumenat setelah 8 tahun kemudian, saat umurnya 25 tahun. Selama waktu itu, ia terus bergumul dengan kehendak Tuhan atas dirinya. Internet menjadi sumber utama untuk mencari tahu seputar kekatolikan, selain buku dan sharing dengan para romo atau suster.

Urusan pergi ke gereja juga tidak mudah. Uang jajan yang tidak banyak serta letak gereja yang cukup jauh membuat Kika hanya beribadah saat Natal dan Paskah. Lama-lama, ia bisa misa sebulan sekali, lalu dua bulan sekali. Dan pada akhirnya setiap minggu ia bisa ikut merayakan ekaristi.

Selama 8 tahun merasakan kehendak Tuhan, Kika tidak hanya mendapat pemahaman dari apa yang dipelajari. Justru, ia semakin jatuh cinta pada Yesus karena apa yang ia temukan dalam teks mewujud nyata dalam perilaku orang Katolik yang ada di sekitarnya.

Selama belajar di sekolah Katolik, ia tidak pernah mendengar ada romo, bruder, atau suster yang dalam pengajaran atau khotbahnya menjelekkan agama lain. Saat kali pertama menyatakan diri sebagai Katolik di SMA, romo yang ia ajak konsultasi tidak serta merta mau “membabtisnya.”

Ia terus merasakan apa yang Tuhan kehendaki pada hidupnya melalui banyak peristiwa hidup dan perjumpaan dengan orang di sekitarnya. Motivasi awal menjadi Katolik yang hanya sebatas mendengar alunan musik gereja yang mengguncang hati, selama 8 tahun ia memurnikan panggilannya dengan mempertebal pengetahuan. Saat usianya genap 25 tahun, setelah menjadi katekumen secara pribadi selama 6 bulan, ia dibabtis. Kini nama lengkapnya adalah Monica Teresa Siska Atmaningrum. Pada tahun 2017, setahun kemudian, ia menerima Sakramen Krisma di Gereja Santo Stefanus Cilandak, Jakarta.

***

Kisah panggilan Kika menjadi murid Yesus terjadi dengan cara yang sangat manusiawi. Campur tangan Allah tidak selalu ditunjukkan dalam sebuah peristiwa hidup atau alam yang spektakuler. Keterlibatan Allah yang seperti ini pun juga terjadi dalam diri keempat romo yang tengah merayakan Pesta Perak Imamatnya, yakni: Romo Aegidius Warsito, SCJ; Romo Alexander Sapto Dwi Handoko, SCJ; Romo Donatus Kusmartono, SCJ; Romo Johanes Juliwan Maslim, SCJ.

Para romo yang tergabung dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) ini, mengungkapkan bagaimana Allah menyapa mereka melalui peristiwa yang sangat sederhana. Peristiwa itu menjadi awal ketertarikan mereka untuk menjadi romo.

Romo Aegi, sapaan Romo Aegidius Warsito SCJ, merasakan hatinya terusik saat (alm) Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ berbicara padanya, “Egi, saya sudah tua dan paroki ini butuh orang yang bisa menggantikan saya. Kalau tidak ada orang yang masuk seminari, lalu siapa yang akan meneruskan paroki ini?” Padahal monsinyur tidak secara eksplisit meminta Romo Aegi untuk mengikuti jejaknya.

Kemudian ada Romo Sapto, yang tertarik menjadi romo karena saat kecil sering diboncengi naik motor oleh romo yang bertugas di stasinya, Stasi Santa Maria Diangkat ke Surga, Dalem, Prambanan, Jawa Tengah. Baginya, orang yang mengendarai motor tampak keren dan berwibawa. Itulah mengapa ia ingin menempuh pendidikan romo supaya bisa naik motor ke mana-mana.

Romo Kusmartono dan Romo Juliwan ternyata memiliki pengalaman serupa tentang ketertarikan menjadi romo. Romo Kusmartono sejak kecil sering menjalin interaksi dengan para romo SCJ. Rumahnya yang terletak di samping Gereja Stasi Muntilan, Kalirejo Lampung, menjadi tempat istirahat romo entah bermalam, menikmati makan, ngopi, atau sekadar “meluruskan punggung” sebelum merayakan ekaristi atau sebelum menuju ke stasi berikutnya. Terakhir adalah Romo Juliwan yang terpukau dengan sosok romo yang tampak anggun nan berwibawa saat mengenakan jubah.

Kisah Allah yang menyapa keempat romo dan Kika, mengungkapkan bahwa Allah tetap hadir dalam kehidupan kita. Ia menyatakan diri-Nya dan berkarya di dalam hidup kita. Keyakinan ini berlandas pada peristiwa kelahiran Yesus yang diimani sebagai peristiwa inkarnasi atau penjelmaan Allah di tengah kehidupan manusia.

Santo Yohanes di dalam injilnya mengungkapkan bahwa Firman yang adalah Allah telah menjadi manusia dan hidup di antara manusia (Yoh 1:1, 14). Kemudian ditegaskan kembali oleh Santo Paulus saat ia menuliskan bahwa Allah telah mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia dalam kerendahan dan ketaatan hingga mati di kayu salib (Flp 2:7-8).

Kini Yesus telah bangkit dan naik ke surga. Lalu bagaimana kita mengimani inkarnasi Allah itu dalam hidup keberimanan kita saat ini? Inkarnasi Allah masih bisa kita rasakan saat ini, karena Inkarnasi-Nya tidak sebatas Allah yang menjadi manusia. Inkarnasi Allah ditunjukkan dengan Allah Bapa yang berkarya melalui Roh Kudus bersama Sang Putera di tengah manusia dalam konteks sejarah keselamatan Allah.

Kehadiran Allah dalam sejarah manusia tampak dari penggenapan dari kehendak-Nya. Lihatlah bagaimana Yesus yang adalah penjelmaan Allah, selalu menekankan bahwa kehadiran-Nya adalah untuk melaksanakan kehendak Bapa. Jadi, siapapun yang melaksanakan kehendak Allah, maka ia adalah inkarnasi Allah.

Para romo yang ada di tengah-tengah kita dalam sukacita ulang tahun imamat ke-25 ini, telah menyerahkan dirinya untuk melakukan kehendak Allah. Mereka mengikrarkan seluruh hidupnya dipakai sebagai inkarnasi Allah di tengah umat dan dunia. Itulah mengapa mereka sedari awal telah memilih Ecce Venio sebagai pedoman imamat. “Sungguh Aku datang, untuk melakukan kehendakMu, ya AllahKu” (Ibrani 10:7).

Dalam kehidupan nyata, kehendak Allah itu tidak mudah untuk diketahui. Sekalipun kita telah setuju untuk mengikuti Dia dalam sapaan pertama. Tapi dalam perjalanan kita selalu bertanya apakah yang saya jalani ini benar kehendak-Nya atau bukan. Kisah Kika menunjukkan bahwa selama 8 tahun dia mencari kehendak-Nya, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk dibaptis. Para romo juga terus bergulat dalam panggilannya selama bertahun-tahun di biara, dalam doa, studi, dan di setiap perutusannya. Dalam pergulatan itu, tidak sedikit teman-teman mereka pada akhirnya memilih untuk mundur dari panggilan menjadi romo.

Setelah jadi romo pun, pergulatan mencari kehendak Tuhan nyatanya tidak berhenti. Salah satu kisah yang diungkap dalam buku ini adalah bagaimana ada romo yang tidak pernah membayangkan dirinya harus dipenjara. Bahkan, dia tinggal dalam satu sel dengan pembunuh keji. Padahal, beberapa waktu sebelum dipenjara dia membantu seorang umat supaya tidak dipenjara. Kasus yang dialami umat tersebut mirip dengan yang menjerat dirinya.

Dalam malam sunyi di balik penjara, dirinya berontak, menyesal, tidak bisa menerima kenyataan, bahkan marah kepada Tuhan. “Kenapa, Tuhan? Kenapa saya harus mengalami semua ini, kalau saya sudah setia dan selalu menghayati imamat saya dari hari ke hari? Apa yang Kau inginkan? Apa”

Mencari kehendak Allah itu seumpama kita mencari alasan mengapa kita jatuh cinta pada pasangan kita. Tuhan yang menyapa kita, awalnya membuat kita jatuh cinta. Namun tidak cukup jika kita hanya berhenti pada perasaan jatuh cinta pada lantunan lagu gerejani, pada motor romo, atau pada jubah romo, tetapi kita harus mencari alasan mengapa kita jatuh cinta. Itulah proses di mana iman kita mencari pengertian atau istilahnya “faith seeking understanding.”

Iman kepada Yesus terkait erat dengan akal budi, sebagaimana tertulis dalam Yesaya 7:9, “Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan memahami.” Kita membutuhkan pengetahuan dan kebenaran, karena tanpa keduanya kita tidak dapat berdiri teguh dan berjalan ke depan. Iman tanpa kebenaran tidak menyelamatkan, tidak memberikan pijakan yang pasti, bahkan jatuh pada fanatisme sempit yang bisa bermuara pada tindakan anarkis. Jadi tidak benar bahwa ada yang beranggapan bahwa iman hanya menawarkan ketidakpastian, ilusi dan khayalan karena tidak ilmiah. Iman kerap dipandang jauh dari akal budi yang dijunjung tinggi oleh masyarakat modern.

Romo Juliwan mengungkap dalam salah satu refleksinya tentang pelayanannya di negara Kanada. Umat Katolik di sana, termasuk yang tergabung dalam Umat Katolik Indonesia, beberapa di antaranya meninggalkan Gereja. Ada juga yang memilih untuk tidak beragama. Dari sisi pemerintah, kegiatan aborsi dan pernikahan sesama jenis yang sangat ditentang oleh Tradisi Katolik, justru dilegalkan. Di dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak anak-anak muda lebih memilih hidup sendiri ketimbang menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis. Mereka lebih nyaman memelihara anjing daripada masuk dalam hidup perkawinan.

Inilah realitas yang harus dihadapi oleh kita semua. Tantangan bagi romo dan umat dalam menghayati hidup berimannya di tengah dunia yang serba digital ini. Utamanya adalah Orang Muda Katolik (OMK), kaum milenial zaman now, yang sangat dekat dengan kemajuan zaman. Perjuangan mendampingi OMK dibagikan oleh Romo Kusmartono. Menurutnya, justru OMK sejak awal mula telah dipilih Allah sebagai inkarnasi-Nya.

Allah telah memilih Ishak, Musa, Yosua, Samuel, Daud, Yosia, Yeremia, Ruth, Yudith, dan Ester untuk terlibat dalam karya keselamatan. Inkarnasi-Nya kemudian semakin memuncak saat ia memilih Bunda Maria yang muda belia dan tentu Yesus sendiri. Allah memilih untuk bekerja sama dengan OMK, karena Ia sadar ada potensi besar dalam diri OMK. Tidak hanya punya energi yang banyak, tapi juga punya kemampuan hati dan nalar yang bagus dalam menangkap kehendak-Nya. Tinggal bagaimana kita mampu mendampingi mereka. Kika, dalam sharingnya, tampak jelas bahwa generasi milenial mampu bekerja sama dengan Tuhan dalam menyebarkan cinta-Nya pada dunia.

Menjalani panggilan sebagai murid Yesus, entah itu sebagai romo atau klerus maupun awam khususnya OMK, sebagai biarawan maupun biarawati, tidak pernah berhenti. Inkarnasi Allah terus berjalan sepanjang sejarah manusia. Sepanjang waktu itu pula kita membuka hati untuk mencari, merasakan, dan melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki. Dengan hati yang terbuka, marilah kita selalu mengundang Yesus yang telah datang ke dunia untuk juga datang dan meraja di hati kita masing-masing.

Kehendak-Nya hanya diketahui dari buah-buah Roh. Jika benar adalah kehendak Tuhan, maka yang kita alami adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 22-23). Itulah kiranya yang dirasakan oleh keempat gembala kita ini dan Kika.

Sebagai ungkapan syukur atas perayaan iman ini, para Romo Dehonian ini akan membagikan sebagian kisah hidup mereka. Pengalaman yang sangat manusiawi. Tetapi dalam terang iman, pengalaman tersebut menjadi sarana Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Semoga dengan membacanya, hati kita semakin peka dan terbuka akan kehendak Tuhan yang berbicara dalam setiap pengalaman hidup kita masing-masing. Sehingga, kita dimampukan menjadi nabi cinta kasih dan pelayan perdamaian di tengah keluarga, masyarakat, dan dunia.

*) Tulisan ini menjadi “Catatan Penulis” dalam buku saya yang berjudul “Saat Generasi Zaman Now Menggugat Kehadiran Tuhan. Kisah Inspiratif 4 Romo yang Mensyukuri 25 Tahun Imamat,” November 2018.

FA COVER ok

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.
http://www.fransalchemist.com

Leave a Reply