Survei SAP: Gegara Ongkir, Pembeli Online Jadi Kabur

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Belanja online memang tengah marak dewasa ini. Namun para pembeli akan mengurungkan niatnya membeli ketika barang yang ditawarkan masih ditambahkan ongkos kirim yang relatif tinggi atau proses pembeliannya yang rumit.

Inilah salah satu hasil survei yang dilakukan SAP Consumer Propensity StudySurvei sendiri dilakukan terhadap 1.000 konsumer Amerika Serikat terkait kebiasaan mereka saat berbelanja online.

“Survei mengindikasikan bahwa para pembeli senang dengan kepraktisan berbelanja online, namun jika merasa biaya pengirim lebih tinggi dari yang diharapkan atau proses pengembalian yang bertele-tele, dengan cepat mengubah pemikiran tersebut,” kata Chris Hauca selaku Head of Strategy, SAP Commerce Cloud, dalam SAP News.

Para pembeli ini, sebanyak 62 persen akan meninggalkan belanja mereka di keranjang karena biaya pengiriman. Oleh karena itu, baik dipertimbangkan bahwa para penjual pakaian online bisa menggratiskan ongkos kirim.

Selain itu, hasil survei juga menunjukkan bahwa para pembeli cenderung membandingkan dua produk yang mirip dari toko online berbeda. Ada 47 persen pembeli di Amerika cenderung menginginkan perbandingan ini. Dari jumlah tersebut 40 persen di antaranya memutuskan untuk mengisi keranjang belanja mereka, setelah melakukan perbandingan harga dan spesifikasi pakaian.

Hasil sirvei lainnya teryata cukup mengejutkan. Tujuh dari sepuluh konsumen di Negeri Paman Sam tersebut membeli produk-produk fashion secara online namun juga mendambakan pengalaman bertransaksi secara langsung yang ditawarkan oleh retailer, seperti fitting room.

Oleh karena itu, satu dari tiga pelanggan percaya bahwa pelayanan toko online akan meningkat kalau memiliki toko fisik. Para pelanggan ini tidak masalah membeli pakaian secara online, tetapi akan tambah srek jika mereka dapat mencoba mengenakan pakaian yang mereka ingin beli.

Apakah Anda juga setuju dengan hasil survei di Amerika ini?

Seorang desainer muda, Patricia Andriani menjajal peruntungan bisnis fashion dimulai dari penjualan online. Dengan mengusung brand dari namanya sendiri, Patricia juga sadar bahwa penjualan dan promosi langsung juga diperlukan, maka dia menyelenggarakan fashion show. (Foto: Dokpri)
Seorang desainer muda, Patricia Andriani menjajal peruntungan bisnis fashion dimulai dari penjualan online. Dengan mengusung brand dari namanya sendiri, Patricia juga sadar bahwa penjualan dan promosi langsung juga diperlukan, maka dia menyelenggarakan fashion show. (Foto: Dokpri)
Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply