Media Asing Ini Selipkan Potensi Penghalang Indonesia Jadi Tuan Rumah Olimpiade

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Gelaran Asian Games 2018 telah usai. Beragam pujian royal diberikan, baik melalui media nasional maupun luar negeri. Hanya sedikit saja yang memilih untuk nyinyir. Namun demikian, ada satu media yang menyelipkan pesan berharga bagi Indonesia. Apalagi jika memang kita ingin menjadi negara Asia Tenggara yang kali pertama ditunjuk sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

Media Singapura, Channel News Asia, menuliskan, “Meskipun terdapat keluhan soal polusi udara, kondisi lalu lintas dan pembunuhan ekstra yudisial yang dilakukan kepolisian, semua venue rampung tepat waktu dan hampir semua pertandingan dan event berlangsung lancar. Asian Games 2018 tiba di Indonesia setelah SEA Games 2011 yang dipenuhi kasus korupsi dan keterlambatan – dan ini mungkin akan mampu menempatkan Indonesia di barisan calon tuan rumah untuk turnamen terakbar sejagad, Olimpiade,” sebagaimana dikutip dari sini.

Penggalan kalimat bernada minor itu bisa saja tidak terbaca. Karena dari 665 kata dalam artikel tersebut, kasus korupsi yang membayangi SEA Games 2011 di Indonesia itu mungkin hanya menyita 1 persen saja. Namun demikian, kita tidak boleh meremehkan hal ini. Kenapa?

Olahraga tidak sekadar mengolah badan untuk mendapatkan medali. Olahraga tidak untuk ramai-ramai bak pasar malam. Olahraga pada dirinya sendiri mengusung nilai kejujuran, sportivitas, ketekunan, kegigihan, kerja keras, pantang menyerah, dan selalu “terbakar” untuk menjadi nomor satu.

Maka tidak berlebihan jika Presiden RI pertama mengatakan, “Revolusi olahraga demi mengharumkan nama bangsa. Olahraga adalah bagian dari revolusi multikompleks bangsa ini,” ujar Soekarno di tahun 1963.

Semangat Bung Karno ini tidak bisa dilepaskan dari perhelatan Asian Games ke-4 di Indonesia tahun 1962. Semangat itu pula yang diteruskan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo saat Asian Games 2018.

“Asian Games bukan hanya terbatas pertandingan olahraga, tetapi juga mengusung harga diri bangsa.” Ucapan Presiden Soekarno pada pembukaan Asian Games IV di Jakarta, 56 tahun lalu ini, masih relevan saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games XVIII tahun 2018, 52 hari lagi,” twit Jokowi pada akun Twitter resminya pada 25 Juni 2018.

Ada banyak yang membuat sebuah bangsa dinilai rendah oleh negara lain. Satu di antaranya adalah soal kasus korupsi. Maka tidak berlebihan jika Channel News Asia memberi garis merah di tulisannya yang sebagian besar memuji setinggi langit penyelenggaraan Asian Games 2018. Apalagi, Singapura yang menjadi basis media tersebut menjadi negara terbersih di Asia Tenggara.

Lembaga Transparency International yang berbasis di Jerman dalam rilis Indeks persepsi korupsi 2017 menyebutkan, Indonesia berada di peringkat ke-96 bersama Brasil, Kolombia, Panama, Peru, Thailand, dan Zambia.

Di Asia Tenggara Indonesia berada di bawah Singapura (6), Brunei Darussalam (32), Malaysia (62), dan bahkan Timor Leste (91). Di bawah Indonesia terdapat Filipina (111), Myanmar (130), Laos (135), dan Kamboja (161).

Walau sukses di Asian Games 2018, Channel News Asia mengingatkan bahwa kita pernah terpuruk di tahun 2011 saat kasus korupsi mencoreng muka bangsa saat menjadi tuan rumah SEA Games.

Para negara peserta SEA Games turut memantau perkembangan persiapan SEA Games di Indonesia. Termasuk soal kasus dugaan suap Wisma Atlet. Indonesia pun ditertawakan karena kasus ini.

“Ini telepon, email saya bunyi terus. Mereka menanyakan Mr. Djoko apa yang terjadi di Indonesia. Ini jadi bahan tertawaan,” kata Deputi I Indonesian SEA Games OC Djoko Pramono kala itu sebagaimana direkam oleh Detikcom, 14 Mei 2011.

Sekadar mengingatkan, terkait kasus wisma atlet, KPK menangkap tangan Sekretaris Kemenpora Wafid Muharam, Manajer Marketing PT Duta Graha Indah M El Idris, dan Mindo Rosalina Manulang yang berperan sebagai broker.

Kasus ini sebenarnya tidak mengejutkan. Ada banyak acara besar terkait olahraga rentan dengan bancakan korupsi. Tentu kita masih ingat dengan kasus Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sarana Olahraga Nasional (P3SON).

Proyek yang berada di Hambalang  itu, setelah diaudit BPK telah merugikan negara sebanyak Rp706 miliar, sebagaimana disebut oleh CNN Indonesia, 31 Maret 2016.

Bahkan, Asian Games 2018 pun sempat tersengat oleh kasus korupsi. Polda Metro Jaya menetapkan Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Indonesia (KOI), Doddy Iswandi dan Bendahara KOI, Anjas Rivai, sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam korupsi dana sosialisasi Asian Games 2018 terkait kegiatan Road Carvanal Asian Games 2018 yang berlangsung di kota Surabaya pada Desember 2015. (Kompas.com, 23 Desember 2016).

Dalam proses selanjutnya Pemerintah Indonesia dan INASGOC beserta pihak terkait bersinergi untuk menutup berbagai celah tindak pidana korupsi demi suksesnya Asian Games.

Hasilnya seperti yang sudah kita ketahui bersama. Semoga, pasca Asian Games 2018 ini semua venue dan fasilitas pendukungnya tetap aman dari kasus korupsi, sehingga kita benar-benar merasakan sukses besar dalam ajang olahraga terbesar di Asia ini.

Kita berharap, momen Asian Games tidak hanya menjadi momentum kebangkitan olahraga kita. Lebih dari itu, semoga ke depan kita menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang bebas dari korupsi demi menggapai Indonesia yang lebih sejahtera dan berkeadilan sosial.

Asian Games dapat menjadi pondasi untuk itu, sekaligus pondasi menuju tuan rumah Olimpiade 2032.

“Oleh karenanya, Asian Games telah memberikan pondasi yang kuat bagi Indonesia untuk menjadi kandidat tuan rumah Olimpiade. Selamat Indonesia, dan selamat datang dalam menjadi kandidat untuk Olimpiade 2032,” ujar Presiden International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach yang berkunjung ke Istana Bogor, Sabtu, 1 September 2018 sebagaimana dikutip Kompas.com.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply