Asian Games Jadi Ajang Pesta Rakyat yang Mengubah Budaya Kita

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Asian Games 2018 berakhir hari ini. Semakin mendekati penutupan, masyarakat Indonesia tampak semakin antusias. Gelora Bung Karno (GBK) semakin hari semakin sesak. Tempat-tempat penjualan suvenir resmi menjadi ajang perburuan massal yang menyita energi dan emosi. Nyatanya, ajang Asian Games 2018 sukses menjadi pesta rakyat semua golongan.

Dalam seminggu terakhir, saya datang ke GBK sebanyak 3 kali. Senin 27 Agustus 2018 dari pagi sampai siang, Rabu 29 Agustus 2018 malam hari, dan Jumat 31 Agustus 2018 dari sore sampai malam hari. Berdasarkan pengalaman saya tersebut, saya semakin yakin kalau ajang Asian Games menjadi sebuah pesta rakyat yang bebas dari urusan politik, agama, ras, dan lainnya. Semua orang bersatu dalam sebuah gelanggang olah raga terbesar di Indonesia untuk bersuka cita.

Banyak di antara kami bukan datang untuk menonton pertandingan di dalam venue. Kami hanya ingin merasakan energi sportifitas dan toleransi di bawah obor Asian Games yang menerangi kami semua tanpa membeda-bedakan. Siapa pun yang bertanding di area nonton bersama di layar lebar, tidak lagi penting. Kami semua bersorak-sorai sambil memukul-muluk balon yang dibagikan oleh para sponsor yang mendirikan booth di area GBK.

Orang dewasa maupun anak-anak membaur dalam beragam permainan walau tidak saling kenal. Ada yang mencoba permainan balon raksasa dan egrang. Sedangkan anak-anak tenggelam dalam permainan plosotan balon dan loncat-loncatan di area trampoline. Gelak tawa dan teriakan mereka membahana tanpa lelah. Rombongan lainnya ada yang menikmati konser musik dan berburu hadiah di beberapa booth.

Apapun aktifitas kami, satu hal yang tidak terlewatkan adalah foto. Baik menggunakan kamera profesional maupun dari hp. Baik foto suasana, maupun foto diri sendiri dan rombongan. Satu hal yang ingin mereka katakan, “Kami hadir di sini untuk menjadi bagian dari sejarah Indonesia dan sejarah dunia.” Sejarah itu kini terekam dalam foto dan video yang kami buat.

Sekali lagi, apa yang kami lakukan di sini tidak dikumpulkan oleh politik. Kami tidak peduli ini hasil kerja keras pemerintah Jokowi, tidak peduli penyumbang terbanyak emas dari Silat yang dikomandoi oleh Prabowo. Kami ingin bergembira, bersorak-sorai, dan berbangga menjadi tuan rumah perhelatan olah raga terbesar di Asia. Kami ingin tunjukkan ke dunia, bahwa kami senang dengan kehadiran delegasi olah raga dari banyak negara. Kami akan tetap mendukung kalian semua saat bertanding walau tidak ada wakil Indonesia. Kami hadir di semua venue, baik di GBK, Velodrome, Pacuan Kuda Pulomas, Padepokan Pencak Silat di TMII, Pondok Indah, Kawasan Parahlayangan di Puncak, Ancol, sampai Jakabaring Sport City di Palembang.

Budaya yang Berubah

Perhelatan sebesar Asian Games membuat banyak orang berkumpul di GBK. Alhasil antrian tidak bisa dihindari untuk setiap aktifitas. Mulai dari naik angkutan umum seperti Transjakarta, kita harus antri. Ini adalah pilihan terbaik yang kami pilih, karena naik mobil pribadi menjadi pilihan terburuk karena akan terjebak kemacetan akut. Setelah turun di halte GBK, kami juga antri jalan di Jembatan Penyeberangan Orang yang penuh luar biasa. Untuk masuk kawasan GBK, perlu antri membeli gelang tiket. Saat masuk juga harus antri untuk pemeriksaan barang bawaan. Saat sampai di dalam kawasan GBK pun kita harus antri.

Mau makan antri, minum antri, foto di spot favorit antri, photo booth antri, mau ke toilet pun antri. Antrian yang paling fenomenal yang juga kami rasakan adalah antri membeli souvenir di Super Store. Sebelum dibuka saja sudah antri 2 jam, saat di dalam antri membayar yang bisa memakan waktu 1 jam sendiri. Itu pun belum tentu mendapatkan souvenir yang kita inginkan, karena sudah kehabisan.

Selama 3 hari datang ke GBK, mulai dari suasana yang terbilang lengah sampai sangat padat, kami merasakan ada satu hal yang berbeda. Percaya tidak percaya, area GBK terbilang bersih. Tidak terlihat sampah tersebar di mana-mana. Memang ada sampah, tetapi sangat minim. Ini sebuah prestasi, mengingat predikat kita yang sangat buruk terkait dengan membuah sampah di tempatnya. Bukan sudah rahasia lagi, setiap ada acara  dan orang banyak berkumpul, pasti setelah itu sampah berserakan di mana-mana.

Apakah itu karena ada banyak petugas kebersihan? Saya memang melihat petugas kebersihan, tetapi tidak banyak dan tidak sering lalu lalang. Bahkan saya tidak melihat petugas kebersihan memungut sampah, yang saya lihat mereka sedang membawa kantongan sampah yang sudah penuh untuk dikumpulkan di satu tempat.

Perhelatan besar seperti Asian Games tampaknya mendorong kita untuk mengubah budaya kita dalam hal antri dan membuang sampah pada tempatnya. Tidak hanya bersuka ria dan sorak sorai tetapi juga menyadari bahwa kita sedang disorot dunia. Oleh karena itu, kita terdorong untuk membangun budaya antri dan budaya bersih. Dan nyatanya, kita bisa melakukan itu semua.

Fenomena juga diamati Harian Kompas hari ini, Minggu 2 September 2018, yang menulis, “Budaya antri terlihat di halte bus dan loket tiket, selain kesadaran membuang sampah di tempatnya.” Selanjutnya, Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games Indonesia 2018 (Inasgoc) Erick Thohir mengatakan, “Kalau ada edukasi kepada masyarakat, pada akhirnya sikap berubah. Itulah yang terjadi selama Asian Games. Sikap seperti inilah yang harus dipertahakan.”

Apa yang kita rasakan bersama ini dan capaian budaya seperti ini patut kita apreasiasi, karena rata-rata ada 100.000 orang berkumpul di GBK setiap harinya selama penyelenggaraan Asian Games. Ini bukan jumlah sendikit apalagi tidak hanya berjalan satu atau dua hari saja. Untuk itu mari kita pertahankan dan terus ditingkatkan karena inilah cara kita menghargai diri kita sendiri, bangga pada bangsa sendiri, dan pada akhirnya memperkuat persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia.

Modal besar ini penting untuk menjaga optimisme dan persatuan saat tahun politik untuk jangka pendek. Sedangkan jangka panjangnya, ini menjadi momentum bagi kita untuk mempersiapkan diri bertarung memperebutkan posisi tuan rumah Olimpiade tahun 2032.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply