Jembatan Holtekamp, Infrastruktur yang Membanggakan itu Ada di Papua

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Di era saat ini, tidak boleh lagi ada yang berpikir bahwa Pemerintah Indonesia menganaktirikan wilayah timur dalam pembangunan. Jangan sampai ada negara tetangga yang masih punya anggapan bahwa Pulau Papua hanya diambil kekayaan alamnya tetapi masyarakatnya tidak diperhatikan.

Tanah Papua sekarang sudah jauh lebih maju. Infrastruktur telah dibangun secara masif, menyeluruh dan menyentuh banyak bidang. Bahkan, satu di antaranya menyedot perhatian internasional.

Infrastruktur yang dimaksud adalah Jembatan Holtekamp. Ada banyak keistimewaan jembatan yang terletak di Kota Jayapura, Provinsi Papua ini. Satu yang pertama adalah, soal metode pembangunannya yang dilakukan di dua tempat berbeda secara serentak. Pertama dibangun di Jayapura untuk konstruksi kaki jembatan, kedua di Surabaya untuk membangun bentang jembatan yakni di PT PAL.

“Memang ini bukan yang pertama di dunia, tetapi dari segi pengiriman bentang dari Surabaya ke Jayapura, ini adalah jarak terjauh yang pernah dilakukan di mana pun,” kata Irfan Hidayat, Pejabat Pembuatan Komitmen Jembatan Holtekamp saat penulis menghubunginya melalui telepon, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, metode ini diputuskan karena ada beberapa pertimbangan. Pertama, ada keterbatasan alat di Jayapura. Kedua, jika dilakukan dengan metode yang biasa, yaitu dikerjakan per segmen, maka ada risiko kegagalan karena potensi gempa. Memang gempa yang biasanya terjadi tidak besar tetapi sering. Selain itu, pembangunan jembatan dengan bentang yang panjang memerlukan lahan yang luas. Konsekuensinya adalah lahan di sekitar pembangunan jembatan akan terdampak dan tentu kehilangan keasriannya.

Dengan membangun di 2 lokasi terpisah, lanjut Irfan, maka risiko kegagalan akibat gempa dapat dihindari. Selain itu, lingkungan alam tetap terjaga kelestariannya, kualitas baja yang dihasilkan sangat baik karena dikerjakan oleh PT. PAL yang terbiasa membuat kapal perang, dan terkahir dari segi waktu jauh lebih cepat. Ujungnya adalah biaya pembangunan jembatan bisa lebih murah dengan kualitas lebih baik.

Berkat inovasi anak negeri ini, Jembatan Holtekamp dapat menjadi rujukan untuk membangun jembatan lain di Indonesia. Khususnya, di daerah yang memiliki tantangan serupa dengan Jayapura. Tidak harus menunggu lama, nyatanya metode ini sudah diterapkan pada pembangunan Jembatan Kali Kuto di ruas Tol Batang-Semarang, Jawa Tengah.

Jembatan dengan desain yang indah ini, perakitannya akan dilakukan di tiga tempat berbeda, yakni di Serang, Tangerang, dan Pasuruan. Jembatan sepanjang 100 meter tersebut terdiri dari 6 jalur, tiga jalur arah kiri dan tiga jalur arah kanan. Pinggir jembatan akan diberi tali penyangga dari kawat besar.

Spesifikasi jembatan
Jembatan Holtekamp memiliki panjang 1.328 m, terdiri dari panjang jembatan utama 433 m, dan jembatan pendekat sepanjang 895 m. Untuk aksesnya dibangun 400 m jalan ke jembatan pendekat arah Hamadi dan 7.410 m arah Holtekamp.

Jembatan ini terdiri dari dua bentang utama dengan pelengkung baja. Masing-masing panjang bentangan 150 m, tinggi 20 m, dan berat 2.000 ton. Konstruksi baja itu dibuat secara utuh di PT PAL Indonesia, di Surabaya. Pengiriman bentang utama pertama dilakukan pada 3 Desember 2017, dilepas oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan tiba tanggal 21 Desember 2017. Sedangkan bentang kedua dikirim tanggal 17 Desember 2017 dan tiba tanggal 2 Januari 2018.

Kedua bentang dikirim dengan menggunakan kapal dan menempuh perjalanan sejauh 3.200 km. Tantangan utama dalam lifting kedua bentang, selain beban adalah kondisi cuaca, arus air, dan angin.

Rute yang diambil saat pengiriman adalah menyisir perairan dekat pantai, dari Selat Madura ke Jeneponto di Sulawesi Selatan, mendekati Pulau Selayar, Baubau di Sulawesi Tenggara, melintasi Laut Banda menyebrang ke Pulau Buru. Setelah itu, kapal menuju ke Sorong dan tiba di tujuan akhir Jayapura. Atas capaian tersebut, Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI memberikan penghargaan rekor MURI sebagai “Pengiriman Rangka Jembatan Baja Terberat (2.200 ton) dan Terpanjang (112 meter) melalui jarak tempuh 3.200 Km di Indonesia.”

Pembangunan jembatan dibiayai oleh APBN melalui Kementerian PUPR, sementara Pemerintah Provinsi Papua mendanai akses jalan pendekat dari arah Holtekamp, dan Pemerintah Kota Jayapura membangun jalan pendekat dari arah Hamadi.

Dalam rangka memenuhi spesifikasi mutu jembatan, material pembangunan jembatan ini sebagian didatangkan dari Bitung seperti batu pecah. Hal ini dikarenakan untuk mendapatkan mutu beton K500 yang membutuhkan keausan (tingkat kehancurannya) tidak boleh lebih dari 20 persen.

Biaya pembangunan bentang utama jembatan adalah sebesar Rp 943 miliar yang dikerjakan oleh konsorsium kontraktor PT. PP sebagai pimpinan, PT Hutama Karya dan PT Nindya Karya.

Dinantikan masyarakat Jayapura
Untuk saat ini, Jembatan Holtekamp belum selesai. Perkembangannya sangat positif, karena ditargetkan pada akhir tahun ini jembatan sudah selesai dikerjakan. Namun demikian, menurut penuturan Irfan, sudah banyak warga yang merindukan untuk bisa memanfaatkan Jembatan Holtekamp. “Dalam kesempatan mengisi acara-acara pameran, banyak masyarakat Jayapura merindukan kapan jembatan ini jadi.”

Kerinduan masyarakat tersebut bisa dimaklumi karena bisa mendorong pengembangan wilayah Kota Jayapura ke arah Timur. Ini penting karena Kota Jayapura sudah padat, harga tanah juga sangat mahal. Salah satu daerah yang memiliki potensi pusat kota baru adalah Koya, namun karena lokasinya di sebelah Timur dari Jayapura maka aksesnya harus memutari Teluk Youtefa.

“Dengan adanya Jembatan Holtekamp, akan memangkas waktu 1 sampai 1,5 jam ke Koya dan Perbatasan (PLBN Skouw). Tanah di sini datar dan relatif murah,” ujar Irfan.

Keberadaan Jembatan Holtekamp juga akan mendorong pusat ekonomi baru di perbatasan. Pemerintah tidak ingin membangun Pos Lintas Batas Negara hanya untuk gagah-gagahan, tetapi harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan sehingga pendekatannya tidak hanya soal keamanan tetapi juga kesejahteraan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi yang bergerak ke Timur juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Jika Jembatan Holtekamp tidak dibangun, maka pembangunan dan sebaran penduduk akan bergerak ke arah Barat karena aksesnya lebih dekat dengan Jayapura. Masalahnya, wilayah tersebut adalah daerah hulu yang menjadi sumber mata air.

“Jika hal ini dibiarkan sangat berisiko merusak hutan sebagai wilayah tangkapan air bagi keberlanjutan Kota Jayapura. Kota akan terancam dari kekeringan dan bencana alam seperti tanah longsor dan banjir,” ungkap Irfan.

Akhirnya ia pun berharap, supaya semua rencana dan perhitungan yang dilakukan dalam membangun Jembatan Holtekamp dapat berjalan dengan dengan baik. Pihaknya pun terus melakukan evaluasi dan kerja sama dengan Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) supaya jembatan nantinya dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan memberi jaminan keselamatan, keamanan, kesejahteraan, kenyamanan, dan tentu mendorong potensi wisata karena pemandangan di area jembatan sangat indah.

*) Salah satu tulisan di Buletin Bina Marga Vol. 17/ 2018.  Buletin milik Ditjen Bina Marga, Kementerian PUPR dibuat oleh saya dalam tim PT. Media Artha Pratama

bul bina marga 17 low (5)-1

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply