“Enak Kalian Ada Go Food, Gak Seperti di Holland”

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Kedatangan tamu kerap kami anggap sebagai berkah. Sebisa mungkin kami berikan yang terbaik. Apalagi kali ini, keluarga kami kedatangan tamu dari Negeri Belanda. Tante Grace kami memanggilnya, adik dari ibu mertua saya.

Walau sudah puluhan tahun menjadi Warga Negara Belanda, tapi kecintaannya pada makanan Indonesia tidak pernah hilang. Selain suka makan, ia juga mahir dalam memasak. Khususnya masakan Indonesia. Tidak heran, tiap kali pulang ke Indonesia dengan tujuan khusus tertentu, kami sudah hafal agenda utamanya tetap makan makanan Indonesia dan berburu kuliner nusantara untuk dibawa ke Belanda.

Kali ini, ia datang atas undangan salah satu saudara kami yang menikahkan anaknya. Selama hampir sebulan di Jakarta pada Mei 2018, sederet makanan sudah dilahap. Mulai dari asinan sayur, gado-gado, sate ayam, sate babi, sampai berbagai jajanan pasar seperti kue lumpur, cente manis, kue jongkong, nagasari, bakcang, dan masih banyak lagi. Belum lagi makanan dengan merk tertentu yang sebisa mungkin disantap sebelum meninggalkan tanah air.

Meskipun demikian, waktu 1 bulan terbilang singkat. Karena tidak semua waktu diisi dengan berburu panganan. Mumpung di Indonesia, ia berkunjung ke beberapa kota untuk bertemu saudara atau untuk jalan-jalan. Alhasil, ada satu makanan khas Indonesia yang nyaris tidak sempat dinikmati. Apalagi kalau bukan Masakan Padang. Masalahnya, Tante Grace sudah cocok dengan Rumah Makan Padang Karya Bundo yang ada di Sunter. Jadi kami tidak bisa sekalian pergi ke mana, lalu mampir makan masakan Padang yang dilewati.

Mengingat kepulangan Tante yang tinggal 2 hari lagi, kami pun gelisah. Jangan sampai ia tidak sempat menikmati Masakan Padang, apalagi saat datang ke Indonesia sebelum ini, dari Bandara Soekarno Hatta ia ingin diantarkan langsung ke Rumah Makan Padang Karya Bundo. Karena takut Tante tidak keburu menikmati hidangan khas Padang, maka kami putuskan memanfaatkan aplikasi Go Food.

Dalam hitungan menit, apa yang Tante ingin makan sudah sampai ke rumah. Ada 3 ikan bakar, 1 limpa, 1 ayam bakar, 5 rendang, 1 babat, dan tentu lengkap dengan sayur serta sambal hijaunya. Senang rasanya melihat senyum bahagia Tante. Siang itu dahaga rindunya pada kuliner andalan Indonesia yang telah mendunia itu telah terpuaskan. Kami makan bersama, Tante dan Kakaknya (mertua saya) makan ikan, isteri makan ayam bakar, dan saya sendiri makan limpa. Saya masih punya 1 ikan yang akan di makan lain waktu. Sedangkan 1 bungkus berisi rendang dan limpa akan dibawa ke Belanda.

Jangan heran. Tante punya banyak stok makanan Indonesia di kulkasnya. Sebagian besar diisi saat dia pulang ke Indonesia. Ia tidak segan membawa ikan asin jambal, cumi asin, terasi bakar, timun, jeruk limo, bahkan pernah suatu waktu membawa 2 buah kelapa kopyor.

Akhirnya, waktu kepulangan Tante telah tiba. Hari itu, masih ada banyak komunikasi yang kami jalin sebelum benar-benar ia masuk ke ruang boarding menjelang tengah malam. Ada satu komunikasi yang membuat saya terperangah. Tiba-tiba Tante mengomentari pemesanan makanan Padang melalu aplikasi Go Food. “Enak Kalian Ada Go Food, Gak Seperti di Holland,” kata Tante.

Lalu ia menceritakan kalau di Belanda, tidak ada aplikasi seperti ini. Tidak semua makanan yang ingin ia makan, apalagi makanan Indonesia ada di kotanya. Ia sendiri tinggal di Uithoorn. Saya lupa makanan apa, yang kalau ia ingin makan harus berkendara ke Amsterdam yang jaraknya lebih kurang 25 km. Makanya ia merasa kalau kami beruntung tinggal di Indonesia, sudah makanannya enak dan beragam, untuk mendapatkannya pun sudah sangat gampang. Rasanya kami semakin bangga dan cinta dengan kuliner Indonesia.

Tante pun terbang. Setelah sampai tujuan, kami pun saling bertukar kabar. Syukurlah, semua dalam keadaan sehat dan semua bawaan dari Indonesia selamat sampai ke kulkasnya. Namun, tidak lama berselang, mertua saya kaget saat memeriksa kulkas. Ia menemukan bungkusan plastik yang ternyata isinya adalah rendang dan babat.

Astaga! Ternyata yang dibawa Tante ke Belanda “cuman” ikan bakar yang tercebur di dalam kuah masakan padang lengkap dengan sayur dan sambal ijo. “Aduh, kalian ini bagaimana. Tante sudah membayangkan mau makan rendang dengan timun yang dibawa dari Indonesia,” seru Tante yang membuat kami yang mendengarnya tertawa geli.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply