Ramai Isu Sertifikasi Pemuka Agama, Bagaimana dengan Gereja Katolik?

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Pasca teror bom di Surabaya, kita dihadapkan pada isu sertifikasi penceramah agama, pemuka agama, atau istilah lain sejenisnya. Tujuannya supaya tidak ada ajaran yang disampaikan kepada umat yang berunsur memecah belah persatuan Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia. Isu tersebut membuat saya bertanya diri, apakah di agamaku ada sertifikasi seperti itu?

Sertifikasi dalam sebuah istilah tampaknya tidak pernah saya dengar, tapi kalau merujuk pada sebuah makna, maka sertifikasi di agama Katolik ada.

Sertifikasi, yang dalam hal ini, memiliki makna proses, maka pemimpin agama katolik yang disebut dengan Imam atau Pastor atau Romo atau Pater, telah mendapat sertifikat sebagai Pengajar, Pengudus, dan Pemimpin karena sudah lulus pendidikan khusus.

Untuk menjadi Pastor, seseorang minimal harus menyelesaikan 10 tahun jenjang pendidikan: 2 tahun masa Novisiat untuk mengolah batin dan hidup rohani, 4 tahun pendidikan Filsafat dan Teologi, 1 tahun semacam praktik kerja lapangan, 1 atau 2 tahun semacam pendidikan profesi, 1 tahun kembali praktik kerja lapangan sebelum pada akhirnya ditahbiskan atau dilantik menjadi Pastor. Proses ini bisa lebih lama tergantung dari kebijakan tempat pendidikan atau kondisi calon Pastor tersebut.

Dalam tiap jenjang pendidikan ini, tiap angkatan saya pastikan tidak akan bertambah. Tiap tahun, anggota tiap angkatan pasti berkurang, entah mundur atau dimundurkan dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Inilah proses alami untuk memunculkan pemimpin agama yang benar-benar terpilih dan siap diterjunkan ke tengah-tengah umat dan dunia.

Apakah setelah lulus, mereka dilepas begitu saja?

Jawabannya tidak. Mereka tetap dipantau dan wajib mengikuti pelatihan/ kursus yang dilakukan secara periodik.

Contoh pelatihan itu bertujuk “Studi Imam Muda” yang diwajibkan pada para Pastor yang umur tahbisannya di bawah 5 tahun.

Atau juga ada “Studi Imam Madya” untuk usia tahbisan yang lebih senior. Bahkan ada program pendampingan untuk para pastor yang memasuki usia lansia.

Pendidikan yang ketat dan berkelanjutan tersebut untuk menjaga profesionalitas pemimpin agama katolik.

Kita mungkin pernah mendengar ada Pastor yang ahli di bidang matematika, biologi, sejarah, antropologi, seni budaya, dan lain sebagainya.

Tetapi apapun keahlian Pastor tersebut mereka secara profesional adalah seorang Pemimpin Agama Katolik yang memiliki tugas untuk mengajar, menguduskan dan memimpin.

Oleh karena itu, hanya mereka yang telah tertahbislah yang berhak dan sah memberikan pengajaran dalam Perayaan Ekaristi/ Misa walaupun di tengah-tengah umat ada umat yang jauh lebih pintar.

Bahkan jika ada umat yang memiliki pengetahuan Kitab Suci atau Teologi lebih pintar dari Pastor, ia tetap tidak boleh berkotbah dalam perayaan Ekaristi.

Bagaimana jika ada seorang Pastor yang memberikan pengajaran yang kontroversial? Seluruh pemimpin agama katolik, mulai dari Pastor, Uskup, Kardinal, sampai ke Paus, terikat oleh prinsip pengajaran yang sama, yang berlandaskan pada iman akan Yesus Kristus dan Tradisi Gereja Perdana.

Sumber tertulisnya adalah dari Alkitab sendiri dan ajaran-ajaran dari Bapa-bapa Gereja serta ensiklik atau surat amanat Paus yang menjadi acuan semua umat Katolik di seluruh dunia.

Jika ada beda tafsir atas suatu bab atau ayat dalam Alkitab, atau ada ayat yang bertentangan satu sama lain dalam Alkitab, prinsipnya jelas. Jika ada “pertentangan” maka prinsip yang dipake adalah landasan atau ajaran utama dari Yesus Kristus yang menjadi Roh dari Alkitab, yakni Ajaran Kasih.

Oleh karena itu, tiap kali membaca Alkitab harus mempertimbangkan ikatan kalimatnya, perhatikan sudut pandang penulisnya, mempertimbangkan faktar sejarah dan kebudayaan saat ayat tersebut ditulis, membedakan kata kiasan dan harfiah, dan mengaju pada terjemahan Alkitab yang akurat.

Terjemahan Alkitab yang akurat pada umumnya berasal dari pemimpin agama katolik yang memang telah diberi kuasa Pengajaran.

Tetapi jika ada ayat Alkitab yang ingin dikontekstualkan dengan isu sekarang seperti isu aborsi, terorisme atau yang lainnya maka kita mengacu pada Magisterium.

Di dalam gereja katolik, khususnya Gereja Katolik Roma ada istilah Magisterium, yakni Sri Paus dan para Uskup yang dalam kebersamaan dengan Tuhan mendapat tugas untuk menginterpretasikan Sabda Tuhan. Apa yang diitepretasikan menjadi acuan bagi seluruh umat katolik di seluruh dunia.

Magisterium adalah kata bahasa Latin “magisterium” yang aslinya bermakna kantor presiden/pemimpin/direktur/pengawas atau yang lainnya (juga khususnya, walau jarang dipakai, kantor guru/pengajar/instruktur anak-anak muda) atau bermakna ajaran, instruksi atau nasihat.

Apa yang saya jabarkan di sini hanya sebagian kecil dari keseluruhan proses “sertifikasi” yang terjadi di dalam Gereja Katolik. Menurut saya, dalam konteks ini, “sertifikasi” penting untuk menjaga profesionalitas pemimpin agama.

Pemimpin agama katolik itu, sekali lagi, mendapat tugas untuk mengajar, menguduskan dan memimpin. Tugas ini amat sangat berat, karena harus ada keselarasan atas apa yang dikatakan dan diperbuat, harus sejalan antara yang diajarkan dengan yang dipikirkan. Intinya menjadi panutan luar dalam bagi umat serta siapa saja yang ditemui.

Apalagi ada tugas menguduskan. Kendati, sang pastor hanya sebagai perpanjangan tangan dari Tuhan untuk menguduskan umat, tetapi sang pastor sendiri memiliki ikatan moral untuk menjaga kekudusan diri dan hidupnya.

Dalam konteks tradisi Gereja Katolik, sertifikasi pemimpin agama saya pikir sangat penting untuk menjaga kesatuan ajaran, kesatuan umat, dan memberikan kepastian bahwa pokok ajaran agama bisa dijalankan dengan baik dan benar.

Contoh sederhananya, Yesus mengajarkan kasih universal sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan. Ajaran ini diteruskan kepada para pimimpin turun temurun, lalu diajarkan kepada umat. Maka umat pun menjalankan ajaran kasih itu, baik kepada dirinya sendiri, sesama tanpa memandang golongan SARA, bahkan alam semesta.

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply