Perceraian Bisa Rusak Panggilan Menjadi “Terang dan Garam Dunia”

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Saat aktris, aktor, politisi, anak raja atau ratu, pokoknya orang terkenal (baca: tokoh publik) menjalin kasih sampai menikah maka tampak bagaimana gempitanya semesta. Mereka pun mempersiapkannya tidak main-main. Uang miliaran pun tidak ada artinya untuk menjadikan hari mereka bak Raja-Ratu sehari, atau paling tidak seminggu.

Tapi tahukah kalian, di balik sorak-sorai itu ada beberapa di antara kami bergumam, “Mau tahan berapa lama sih perkawinan atau jalinan kasih kalian?” Yang lain berkata, “Apakah mereka juga akan seperti yang lain, berakhir dengan perceraian?” atau yang sinis akan nyinyir berkata, “Halah, paling juga cerai!”

Fenemona ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa perkawinan bukan soal urusan privat. Ada makna sosial di dalam perkawinan. Artinya, perkawinan melibatkan paling tidak dua keluarga besar dari mereka yang menikah.

Kedua, peristiwa perkawinan memberikan pengaruh kepada masyarakat atau orang lain. Di sinilah kita bisa mengerti, saat tokoh publik menikah ada kehebohan di masyarakat. Sampai ada istilah “hari patah hati nasional,” atau ungkapan sejenis lainnya.

Bagaimana jika ternyata mereka pada akhirnya ada yang berakhir pada perceraian? Sama saja. Perhatian publik pun akan tersedot. Karena pada umumnya perceraian ditutupi dengan kelambu “maaf ini urusan privat,” maka banyak masyarakat akan berspekulasi mengapa percerain itu terjadi.

Ada banyak ungkapan yang terlontar maupun di dalam hati, “Duh sedih rasanya melihat mereka seperti ini,” atau “mungkin ini yang terbaik untuk mereka,” atau “Tukan bener…” yang ditakutkan adalah “Mereka yang tampak romantis dan jadi panutan saja cerai, kenapa kita gak cerai saja?”

Ungkapan yang terakhir tidak bisa kita pungkiri. Apalagi di saat perkawinan, misalnya dalam perkawinan katolik, mereka diberkati oleh Uskup. Tidak cukup dengan 1 uskup, ada beberapa uskup yang datang dari beberapa daerah dan beberapa pastor bertindak sebagai konselebran (mendampingi pemimpin pemberkatan perkawinan) di altar suci. Perkawinan pun diselenggarakan di katedral, ribuan tamu, dan resepsi di tempat mewah.

Kalau sudah seperti ini, aktris – aktor – tokoh publik, tidak bisa ngeles dengan mengatakan, “Saya itu manusia biasa.” Atau “Saya punya sisi pribadi, tolong jangan campuri.” Gak bisa seperti itu, karena kalian adalah tokoh publik.

Kalian menjadi sorotan. Apalagi saat perkawinan kalian memperlihatkan kepada publik kalau kalian itu berbeda, bisa dilihat dari siapa yang memberkati perkawinan, siapa yang menjadi saksi, siapa tamu undangan yang datang, tempat perkawinannya, biaya perkawinan, dan tentu ada banyak doa-doa yang dipersembahkan kepada kalian dari para penggemar.

Jadi apakah tokoh publik tidak boleh bercerai? Atau tidak boleh punya privasi? Saya tidak mengatakan hal itu. Tetapi jangan lari dari unsur sosial yang senyatanya melekat pada diri kita semua.

Namun, unsur sosial itu semakin tinggi dan besar pengaruhnya jika melekat pada seorang tokoh publik. Jadi, karena kalian itu istimewa maka berpikirlah dan merenunglah lebih lama dan lebih dalam sebelum melangsungkan perkawinan, berpikirlah dan merenunglah lebih lama dan lebih dalam sebelum memutuskan tali perkawinan.

Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, karena unsur sosial itu sudah disebut dalam tradisi kristen sebagai “garam dan terang dunia.” Kita semua dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia, namun garam itu lebih memberi rasa dan terang itu lebih menyinari dunia jika melekat pada tokoh publik.

Perceraian bisa membuat garam menjadi tawar dan dian menjadi padam. Apakah kita akan mengasinkan garam yang sudah tawar? Tentu tidak. Garam seperti itu akan dibuang dan diinjak orang.

Dian yang padam, akan membuat banyak orang kehilangan arah. Tokoh publik yang padam karena perceraian akan membuat banyak yang mencintainya akan kehilangan arah, pegangan, dan mungkin menjadi apatis dalam menghadapi hidup.

Jangan sampai mereka berkata, “Dia yang kita cintai dan tampaknya memberikan panutan ternyata cerai-cerai juga, mengapa kita harus mempertahankan perkawinan?” Apalagi panutan itu terikat perkawinan kristen yang satu ciri menonjolnya tidak terceraikan, “Karena apa yang telah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply