Biografi T Soedadi dan Tien Soedadi Bagian 2

Facebooktwittergoogle_plusinstagramby feather

Pengantar

Tidak banyak orang memandang penting sebuah proses. Kita cenderung terkesima dengan hasil yang diterima orang lain. Atau bahkan menganggap wajar capaian orang lain, karena ia memang sudah ditakdirkan demikian. Namun kami menyadari, di balik sebuah prestasi selalu ada proses yang tidak banyak orang tahu. Ada pergulatan fisik, batin, bahkan sampai ke pergulatan iman yang terjadi dalam balutan kehidupan.

Perayaan 50 Tahun Perkawinan orang tua kami, Tarcisius Soedadi dan Maria Magdalena Sri Koestini, menjadi momentum untuk melihat perjalanan hidup keluarga kami. Bisa dikatakan, perayaan ini sebagai sebuah retret agung guna merefleksikan bagaimana campur tangan Tuhan selama 50 tahun perkawinan orang tua kami. Supaya kami tidak hanya bisa berkata, “Hebat ya mereka bisa sampai pesta emas, kita bisa gak ya?” atau “Bapak-Ibu memang hebat, sudah berbuat ini, itu, dan seterusnya..” atau mungkin “Hei orang tua kita sudah 50 tahun perkawinan loh, yuks kita bikin pesta!”

Untuk itu kami anak-anaknya, Christina Maria Sri Indiarti (Titien) – Bernadette Maria Sri Indah Dwi Lestari (Detty) – Katharina Maria Sri Indriani (Rina), bersepakat untuk merajut benang-benang kehidupan yang telah dipintal dalam ketekunan Bapak-Ibu selama 50 tahun hidup berkeluarga. Kami bertanya kembali ke Bapak-Ibu bagaimana hidup mereka, kami yang telah sibuk mengurusi hidup dan keluarga masing-masing akhirnya kembali bercengkerama menangkap memori kebersamaan dengan Bapak-Ibu, dan tanpa sadar momen ini semakin mempererat relasi di antara kami.

Supaya momentum ini tidak menguap hilang dalam seremoni, kami dibantu sepupu kami, Fransiskus Agung Setiawan (Wawan), berupaya menenun pintalan benang kehidupan Bapak-Ibu menjadi sebuah kain hidup. Sebuah kain sederhana yang bisa kami perlihatkan kepada siapa saja, minimal kepada anak-anak kami, cucu, keluarga besar, dan mungkin kepada siapa saja yang tertarik melihat, meraba, atau bahkan sekadar mencoba melilitkan kain tersebut ke badannya. Inilah kain tersebut, sebuah sharing yang kami tuliskan di buku ini.

Bukan untuk menggurui. Bukan pula untuk mengajari. Apalagi bermaksud untuk pamer. Kain yang berhasil kami tenun ini kini kami pajang dan kami bentangkan, sehingga siapa saja bisa melihat dan menilainya. Keterbukaan ini awal dari kami untuk berbagi pengalaman, berbagi kehidupan. Siapa saja bisa belajar, bisa mengikuti, bisa mengkritik, atau bahkan bisa pula mengabaikannya.

Karena kain yang motifnya dipintal berdasarkan pengalaman hidup kami, tentu tidak selalu cocok dipakai oleh semua orang. Jika dipotong dan dijahit menjadi pakaian, juga tidak bisa dipaksakan pas untuk semua orang. Sebagai sebuah gambaran tentang kain hidup kami ini, maka ada ornamen kain batik di banyak perayaan 50 tahun perkawinan Bapak-Ibu. Termasuk di cover buku ini.

Sedikit menukil cover buku. Motif batik dengan sedikit modifikasi desain grafis ini bernama Motif Batik Sidomulyo. Motif dari zaman Mataram Kartasura ini memiliki arti “jadi atau terus menerus” (Sido) dan “mulia” (Mulyo). Kain batik dengan motif Sidomulyo biasa dipakai oleh mempelai baik pria maupun wanita pada saat upacara perkawinan. Namun kami yakin, filosofi kain ini terus membalut dalam kehidupan perkawinan Bapak-Ibu kami sehingga terus memperjuangkan hidup yang mulia, di hadapan Allah maupun di hadapan manusia.

Tuhan Yesus mengajarkan, hidup mulia hanya bisa dicapai jika mampu melawan hawa nafsu daging dan mengikuti keinginan Roh. Inilah hawa nafsu itu, “Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya,” (Gal 5:18-21).

Sidomulyo bukanlah akhir dan sesuatu yang mutlak telah kami miliki. Sidomulyo ini, sebagaimana kain yang telah kami bentangkan ini, menjadi sebuah doa. Doa bagi Bapak-Ibu, bagi kami anak-anak dan cucu-cucunya, dan bagi kita semua. Kita berdoa, semoga kita semua bisa mengikuti keinginan Roh dan menghasilkan buah-buah Roh seperti “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” (Gal 5:23-25). *

Facebooktwittergoogle_plusby feather
wawan
Pribadi sederhana yang ingin terus belajar di bidang komunikasi. Dimulai dari menulis, fotografi, media relations, kadang-kadang menggambar, sampai mengadakan acara komunikasi seperti berbagai lomba dan pelatihan jurnalistik/ fotografi.

Leave a Reply